HARPO tempat gaul anak-anak ngetop wheaton high. tempat itu hanya dua blok dari sekolah dan menyediakan burger, kentang goreng, serta saus cincinnati yang terkenal. setengah bagian depan kafe tampak seperti lobi bioskop tua. poster-poster komedian sinting zaman dulu seperti marx brothers, laurel and hardy, serta charlie chaplin tergantung di dinding. kursi-kursi bekas bioskop tua yang bersandaran tinggi telah diperbaiki dan ditutup kain pelapis usang merah tua. mesin popcorn klasik yang selalu meletup-letup menghiasi satu sudut sementara proyektor yang terus-menerus memutar potongan berita dan film bisu menghiasi sudut lain.
di bagian belakang harpo terdapat setengah lusin meja biliar yang berjajar di tengah ruangan. di satu sisi terpasang meja foosball dan meja hoki udara, dibatasi jajaran video games dan mesin pinball. sudut-sudut ruangan dipenuhi kursi-kursi bersandaran tinggi yang diterangi cahaya lampu redup. banyak pasangan pernah bertengkar atau bahkan berbaikan di sAna.
Queen berdiri di trotoar di luar kafe dan menatap beberapa murid yang sedang menyesap coke dan makan kentang goreng lewat jendela kaca. biasanya ia tidak mau datang ke harpo karena tempat
itu kelewat penuh dengan gosip dan terlalu ramai. reyhan tidak kelihatan. Queen bergidik ketika terlintas di pikirannya untuk mencari cowok itu di bagián belakang kafe.
"mengerikan, ya?" sebuah suara bergumam ditelinganya.
Queen kaget. reyhan berdiri di sampingnya dan seperti biasa cowok itu mengenakan topi dan dasi kecil. "ngapain kau?" Queen tersentak.
"mencarimu," jawab reyhan nyengir lebar. "aku lega nggak harus bersusah payah mencarimu diruang game."
mata Queen mengerjap heran. "itu lucu. aku baru saja berpikir begitu."
reyhan memasukkan satu tangannya ke saku dan bersandar pada tiang tanda parkir. "sebenarnyaa aku nggak suka harpo, tapi cuma ini yang terpikir
olehku untuk tempat bertemu."
"jadi kita nggak perlu masuk ke sAna?" tanya Queen.
reyhan menatapp Queen penuh perhatian. "kau nggak perlu melakukan apa pun."
Queen berpikir inilah saat yang sangat tepat untuk memberitahu reyhan tentang surat yang salah alamat itu.
tapi Queen tidak mengatakan apa pun.
"kayaknya kita sependapat harpo bukan tempat asyik untuk ketemu," lanjut reyhan. "boleh aku menyarankan tempat lain?"
mungkin gaya bicara reyhan yang formal yang membuat Queen terpesona. atau mungkin karena ada kesempatan untuk menemukan kafe atau restoran baru yang asyik. apa pun alasannya, ada sesuatu yang membuat Queen mengiyakan ajakan
reyhan, padahal ia tahu seharusnya ia menolak.
"tapi aku nggak bisa lama-lama," tambah Queen, mencoba mencari alasan. "aku ada, hmm, tugas kelas musik."
"nggak pa-pa." reyhan mulai melangkah di trotoar, menjauh dari harpo dan toko-toko di dekat situ. "ayo."
ketika Queen berjalan membisu di samping reyhan, suara di kepalanya menjerit-jerit, "bilang padanya! bilang sekarang, sebelum terlambat!" tapi Queen tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
setelah mereka berjalan sejauh satu setengah blok, reyhan berhenti di jalan kecil yang memisahkan dua gedung batu bata. "kita ambil jalan pintas saja," katanya. "kalau kau nggak keberatan."
"aku nggak keberatan," kata Queen sopan. hati kecilnya berteriak, " pasti kau keberatan! katakan padanya ini hanya kesalahan, supaya masalah cepat selesai!"
Queen mengikuti langkah reyhan ke gang yang menyempit karena sebagian jalan masuknya terhalang tempat sampah besar warna hijau dan beberapa tempat sampah penyok.
"aku pasti pernah lewat sini ratusan kali," aku Queen. "tapi nggak pernah terpikir untuk mengambil jalan ini." la melompati genangan air dan menunduk untuk menghindari tali jemuran yang menjuntai di sepanjang gang.
"aku suka jalan di gang seperti ini," kata reyhan. "kau bisa tahu rahasia gedung-gedung. contohnya"-ia menunjuk tangga besi darurat karatan yang dipenuhi pot bunga di atas mereka-"mrs. sara jensen tinggal di sana. umurnya 85 tahun. dia
menanam bunga-bunga itu di serambi-itulah istilah yang dia gunakan-untuk dibawa ke pasien-pasien di erie medical center."
Queen menengadah. la dapat melihat langit biru membentang di antara dua gedung itu. "kau pasti setuju kalau aku bilang bunga-bunga itu kurang mendapat sinar matahari," katanya.
"hanya bunga-bunga sara yang mampu tumbuh dengan kondisi seperti itu," kata reyhan. "tangannya panas'."
Queen menoleh untuk memandang reyhan. cowok ini penuh.. perhatian.
reyhan menatapnya tajam. "tapi pasti ada yang bilang itu karena pupuk kandang yang dia dapatkan dari kebun binatang cincinnati," katanya sungguh- sungguh. "tapi aku lebih percaya itu karena dia memperlakukan tumbuh-tumbuhan itu dengan istimewa."
Queen melihat mata cokelat reyhan yang hangat berkilat-kilat. la sangat baik hati!
"trus apa lagi yang bisa kauceritakan tentang jalan kecil ini?" Queen memandang berkeliling. seakan-akan mencari rumah baru.
"yah, pasti ada gadis kecil yang tinggal di dekat sini." reyhan menunjuk sepeda roda tiga yang tergeletak di dasar tangga darurat. "kalau bukan gadis kecil, berarti hobbit," tambahnya. la membungkuk dan memungut cincin tirai dari kuningan yang tergeletak di tanah.
tawa Queen meledak. "kau agak aneh, reyhan." kening reyhan berkerut. "aneh dalam arti bagus atau nggak nih?"
Queen bersedekap dan mengawasi reyhan. tak diragukan lagi reyhan memang manis. tapi ia berbeda. bukan hanya gaya berpakaiannya, tapi juga caranya memandang dunia.
"mungkin sedikit dari keduanya," kata Queen akhirnya.
"yah, paling-paling jawaban seperti itu yang bisa kuharapkan, karena kita belum terlalu saling mengenal," kata reyhan sambil menyentuh topinya.
mereka terus melangkah. kemudian Queen berkata, "boleh aku bertanya?"
"hanya kalau aku juga boleh bertanya preyhanu," jawab reyhan seolah sedang memulai suatu permainan.
"topimu," Queen mengangguk ke topi reyhan. "kenapa kau selalu memakainya?"
"ada yang bilang supaya pikiranku tidak berlarian ke mana-mana, " kata reyhan sambil mengangkat topi, kemudian menjatuhkannya lagi. "tapi sebenarnya aku suka saja."
dari mana kaudapat topi itu? tanya Queen.
"itu lebih dari satu pertanyaan," ujar reyhan, "tapi aku akan menjawabnya. orangtuaku bercerai waktu aku berumur lima tahun dan aku pindah dari rumah kami yang besar di cleveland ke apartemen kecil di pinggiran cincinnati ini. apartemen kami sudah dilengkapi perabot rumah tangga seperti tempat tidur, sofa, meja, dua kursi, dan satu topi."
"topi itu tertinggal di apartemenmu?" tanya
Queen.
reyhan mengangguk. "di kamar ibuku ada tempat tidur, tapi di kamarku hanya ada topi ini. sejak itu aku tahu akulah yang beruntung. lbuku boleh saja mendapat tempat tidur, tapi aku mendapat topi ini. aku memakainya dan tidur di sofa."
Queen senang membayangkan anak laki-laki kecil memakai piama di atas sofa dengan topi kebesaran di kepala. "manis sekali," katanya sambil menatap topi reyhan dengan pandangan baru. "kebanyakan orang nggak bisa membawa-bawa selimut kesayangan mereka, tapi kau bisa memakainya ke mana-mana."
"tepat sekali." reyhan meraih tangan Queen untuk membantunya melewati tumpukan barang rongsok yang menutup ujung gang. "aku sudah menduga kau akan berpikir begitu."
mereka keluar dari gang dan melangkah ke atas trotoar di seberang sebuah taman mungil. taman itu berbentuk kotak dan sangat rapi. rumputnya dipotong apik. di sana ada satu lampu jalan dan bangku taman yang terbuat dari besi tempa. Queen terenyak. "aku nggak pernah tahu ada taman di sini! indah sekali."
reyhan berlari menyeberang jalan dan melompat ke atas bangku taman. "nah, tempat ini lebih baik daripada harpo, kan?"
"banget," kata Queen yang ikut berlari menyusul reyhan."tadinya kupikir kita mau ke restoran."
"aku nggak pernah menyebut restoran," koreksi reyhan. "aku bilang kita pergi ke tempat berbeda. tapi kalau kau lapar dan kepingin makan, mungkin kita bisa mengetuk salah satu pintu itu dan meminta sandwich."
reyhan melambaikan tangan ke arah gedung-gedung berbentuk serupa yang mengelilingi taman mungil itu. kemudian ia melompat turun dari bangku taman, bermaksud menyeberang.
"nggak usah!" seru Queen seraya menarik tangan reyhan.
reyhan berputar dan menangkap pinggang Queen supaya mereka tidak bertabrakan. sesaat mereka berdiri sangat dekat, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. tubuh reyhan wangi. bukan wangi parfum, melainkan segar dan bersih.
"sabun," gumam Queen.
"kaubilang sabun?" tanya reyhan, tangannya masih di pinggang Queen.
mata Queen membesar ngeri. la tidak sadar telah mengucapkan kata itu keras-keras. "aku sedang berpikir kau wangi sabun," katanya sambil mundur dengan malu.
"jadi tadi kau... membaui aku, ya?" mata reyhan berkilat-kilat senang.
"ya. mak...maksudku nggak! maksudku, nggak sengaja," Queen tergagap. kejadian ini aneh banget. tadi ia siap mengucapkan selamat tinggal selamanya kepada reyhan, tapi detik berikut mereka malah berdiri berdekatan dengan wajah hanya berjarak delapan senti seperti ini. lututnya lemas. la memandang sekeliling taman, berharap ada tempat untuk bersembunyi.
"bunga kacapiring." kata reyhan sambil melangkah ke depan Queen sehingga kegugupan cewek itu lenyap
"apa?" tanya Queen.
"kau wangi bunga kacapiring," kata reyhan lugas.
"nah, kurasa soal ini sudah jelas. sekarang., maukah kau duduk sebentar?" la memberi isyarat ke arah rumput di tengah-tengah taman.
Queen menarik jamnya dari saku untuk melihat waktu. tali jamnya rusak setahun yang lalu tapi ia menyukai bentuk jam itu, jadi ia menyimpannya di saku jins. "aku benar-benar harus pergi."
eh. kau belum boleh pergi." kata reyhan. "aku belum bertanya."
"oh ya, benar." Queen berlutut di atas rumput.
"ayo, tanyakan saja." la menahan napas, berharap reyhan takkan menanyakan hal-hal seperti, "apa yang membuatmu akhinya mau menulis surat padaku? atau, "kapan kau mulai memperhatikan aku?" atau apa pun yang memaksanya untuk berbohong.
reyhan berlutut di depannya sambil mengelus-elus dagu dengan satu tangan, mencoba berkonsentrasi akhirnya ia bertanya, "kalau kau bisa memilih antara hidup mewah tapi hanya bisa tinggal di satu tempat, dengan hidup penuh petualangan tapi nggak punya uang, kau pilih yang mana?"
pertanyaan reyhan sangat mengejutkan sehingga tawa Queen meledak. "kupikir kau akan menanyakan sesuatu yang pribadi."
reyhan mengangkat bahu. "ini pertanyaan tentang apa rencanamu untuk menjalani kehidupan ini. memangnya ada yang lebih pribadi dari itu?"
Queen mencabut rumput di depannya. "yah, kalau itu maksudmu, kayaknya aku akan memilih kehidupan dengan banyak petualangan tapi nggak punya uang, meskipun aku tahu hidup bakal berat kalau
kita miskin. seperti ibuku. dia kadang-kadang punya uang dan kadang-kadang nggak, sehingga kami harus puas makan makaroni dengan keju saja."
"nah, kenapa kau memilih hidup penuh petualangan, bukan hidup yang aman?" tanya reyhan sambil mengeluarkan bolpoin hitam dan notes spiral kecil dari saku. la memiringkan kepala layaknya wartawan yang menanti jawaban dari Queen.
"aku pernah membaca perkataan helen keller bahwa hidup adalah petualangan penuh tantangan, dan tanpa itu nggak berarti apa-apa," jawab Queen. "menurutku hidup tidak berarti jika kita hanya tinggal di satu tempat, walaupun punya banyak uang."
ketika Queen bicara, reyhan mencoret-coret notes kecilnya.
"kau sedang mencatat, ya?" tanya Queen. "apakah ini kuis kepribadian?"
"aku memang sedang mencatat, tapi bukan dalam bentuk kata-kata," jawab reyhan. la mengangkat buku itu supaya Queen bisa melihat. ternyata reyhan membuat sketsa gambar Queen sedang berlutut di rumput. kepalanya miring ke satu sisi, sedang memusatkan pikiran.
"hebat sekali," kata Queen kagum. "kau penuh kejutan, reyhan lockhart."
"kita semua begitu." reyhan menyobek kertas itu dan melipatnya. "contohnya kau, tiba-tiba mengirimiku surat."
Queen menarik napas dalam-dalam. ini saat yang tepat untuk memberitahu reyhan apa yang sebenarnya terjadi. tapi Queen tak bisa melakukannya. la malah berdiri dan membersihkan rumput dari lutut jinsnya. "sebenarnya surat itu hanya tantangan yang harus kulakukan." Queen memberi tekanan pada kata "tantangan" lebih daripada seharusnya. "hanya kegilaan sesaat, sungguh."
reyhan berdiri dan berkata serius, "hal-hal seperti itu yang membuat dunia ini menarik." la meraih tangan Queen dan menaruh kertas bergambar yang dilipat jadi bentuk burung ke telapak tangan cewek itu. "nah, bolehkah aku mengantarmu ke mana pun kau harus pergi?"
Queen menatap kertas berbentuk burung di tangan-nya dengan penuh perhatian. reyhan memang aneh. caranya bicara dan bertingkah laku berbeda dengan cowok-cowok yang pernah Queen kenal.
apakah itu bagus? Queen tidak tahu.
reyhan melambai-lambaikan tangan di depan wajah Queen. "ha-lo? bukankah kau harus pergi"
Queen menengadah terkejut. "oh ya, benar. kita kembali ke harpo?"
baru saja ia akan melangkah ke jalan sempit yang tadi mereka lalui, reyhan menarik sikunya. "jangan pernah berjalan mundur. kita harus selalu maju." reyhan nyengir. lalu katanya lagi. "nah, izinkan aku memperlihatkan preyhanu bramble lane." reyhan melepas topinya dan memberi isyarat ke sisi jalan di seberang taman. "kita akan melewatinya."
"aku tahu bramble lane," jawab Queen. "lbuku berhasil menjual rumah di sana bulan mei lalu. di pinggir jalannya ada pohon-pohon ceri yang sangat indah di musim semi."
"pohon-pohon itu memang sangat indah," kata reyhan setuju ketika mereka berjalan di sepanjang trotoar yang dinaungi dahan-dahan pohon rindang. "bahkan saat musim gugur seperti sekarang ketika daun-daunnya masih ada. tapi yang ingin kuperlihatkan preyhanu ada di sebelah kanan sana."
mereka melewati rumah-rumah bergaya cape cod. halaman rumputnya dipotong sangat rapi. kemudian reyhan berbelok dan memandu Queen ke arah pondok kecil berwarna kuning. halaman berumput di bagian depan yang dibatasi pagar besi
putih dipenuhi bunga liar. reyhan berjalan penuh percaya diri mengelilingi sisi rumah menuju halaman belakang.
"kau tahu siapa yang tinggal di sini?" bisik Queen sambil mengikuti reyhan.
"nggak," reyhan balas berbisik. "memangnya siapa?"
Queen yang tampak gugup berjalan ke arah serambi muka untuk melihat apakah ada orang yang melihat dari jendela. "memangnya pemilik pondok ini nggak marah kalau melihat kita?"
"kita lihat saja nanti," reyhan balas berbisik. "tapi apa pun yang terjadi kita nggak bakal rugi kok."
bagian belakang pondok kecil itu merupakan hutan mungil penuh bebatuan, bunga-bunga liar, pohon, dan sungai kecil. di antara bebatuan dan pohon-pohon bertebaran patung kurcaci yang dicat warna-warni.
Queen menyatukan tangannya dan menarik napas senang. "aku nggak pernah menyangka ada tempat seperti ini di sini! kok kau bisa tahu sih?
"dulu aku bekerja sebagai loper koran," jelas reyhan. "suatu hari aku melempar koran terlalu kuat ke halaman rumah keluarga hansons"-ia menunjuk rumah besar berwarna abu-abu putih di sebelah kanan dengan ibu jarinya" dan koran itu masuk kehalaman belakang pondok ini. ketika aku hendak mengambil koran itu kembali, aku menemukan hutan ini. menakjubkan, ya?"
"aku kepingin tahu kisah kurcaci-kurcaci itu," Queen tertawa kecil. "mereka si tujuh kurcaci, ya? dan patung gadis yang duduk di bangku sedang memberi makan burung-burung itu pasti snow white."
reyhan mengangguk. "mungkin sekali. menurutku kurcaci yang memakai kacamata namanya doc. biasanya dia berdiri dekat pagar, tapi kayaknya hari ini dia kepingin berada di dekat sungai."
Queen tersentak. "ada yang memindahkan kurcaci-kurcaci itu setiap hari?"
reyhan mengangkat satu jari. "aku nggak bilang begitu, tapi posisi mereka selalu berubah. terserah kau menyimpulkannya bagaimana."
mereka mendengar suara pintu ditutup di dalam rumah kuning tersebut, dan reyhan menarik tangan Queen. "itu pertanda kita harus pergi."
sambil membungkuk di bawah jendela besar, mereka melangkah terburu-buru ke depan rumah kuning itu dan menyeberang. mereka berlari sambil menengadah karena tertawa terbahak-bahak. reyhan menyiulkan lagu heigh-ho!, dan mereka ketawa lebih keras.
mereka kembali ke ohio avenue dengan berlari, dan terus berlari menuju harpo. keduanya terenyak di sisi bangunan kafe sambil terkekeh-kekeh.
Queen tidak pernah menikmati jalan-jalan di seputar blok seperti hari ini. la hendak memberitahu reyhan hal itu ketika suara yang sudah ia kenal memotong.
"Queen! di sini kau rupanya," kata Ana. "aku dan lucy mencarimu ke mana-mana!"
nada suara Ana yang tajam seketika menghentikan tawa Queen. "kenapa? ada apa? aku lupa sesuatu. ya?"
"ya! kencanmu! astaga!'" kata Ana sambil menatap Queen penuh arti.
kening Queen berkerut. "kencan?"
Ana memutar bola mata dan memberi isyarat dengan kepala ke arah reyhan. "lupa, ya? kau kan bilang supaya aku mengingatkanmu kau ada janji malam ini?" Ana menekankan kata-kata "janji" dan "malam ini".
Queen sadar Ana sedang mencoba membantunya lepas dari reyhan. padahal temannya itu justru membuatnya malu.
reyhan segera menyadari apa yang terjadi. "oke deh, trims, Queen," katanya cepat. "aku senang hari ini. sampai ketemu, ya" la memiringkan topinya dan melangkah ke jalan.
"tunggu!" Queen bermaksud mengejar reyhan, tapi Ana menarik lengan bajunya.
"Queen!" desis Ana. "jangan kejar cowok itu. aku kan sedang membantumu melepaskan diri darinya, ingat?
"kau nggak perlu sekasar itu!" Queen balas mendesis. la berbalik untuk melambai, tapi reyhan sudah tidak kelihatan. ia melangkah ke ohio avenue dan mencari sepanjang jalan.
"kok dia bisa begitu, ya?" gumam Queen. "baru saja dia di sini, sekarang sudah hilang." la menjentikkan jarinya. "begitu saja."
Ana mengangkat bahu. "itu kan yang kau mau?
Queen tidak menjawab. kejadian sore ini membuat pikirannya kacau. la tidak tahu apa yang ia mau.
"aku nggak suka membohongi orang," Queen bersungut-sungut."aku kan nggak punya kencan malam ini."
"tapi besok ada," Ana mengingatkannya. "pergi denganku ke atomic café. jadi kau nggak benar-benar berbohong. hanya memanipulasi kebenaran sedikit."
"bukan begitu... reyhan cowok baik." Queen menggigit ujung kukunya dan memandang ke arah reyhan menghilang. "mudah-mudahan dia nggak marah.'"
kening Ana berkerut. "kau sudah bilang padanya surat itu salah kirim, kan?"
"nggak juga." Queen meringis dan menunggu Ana berteriak padanya dan memang benar.
"apa?! kaubiarkan dia mengira surat itu memang ditulis untuknya?" Ana menepuk kepalanya sendiri dan berjalan mondar-mandir di depan harpo. "kacau. tunggu sampai lucy mendengar ini."
Queen menyentuh bahu temannya. "jangan membesar-besarkan masalah ini, Ana. tadi nggak ada kesempatan untuk memberitahunya. tapi akhir mingggu ini aku akan meneleponnya."
"harus," kata Ana sambil menggerak-gerakkan jarinya ke arah Queen. "karena semakin kau menundanya, akan semakin sakit hatinya nanti."
tiba-tiba Queen dan. Ana merasa sedang diawasi. pelan mereka menoleh ke arah harpo. Courtney Kass dan Caitlin Winters sedang berdiri di dekat jendela dengan beberapa cewek tukang gosip dari wheaton high. mereka tampak sangat senang menonton Queen dan Ana adu mulut.
Queen menjulurkan lidah ke arah mereka. Ana juga, lalu mereka cekikikaan.
"aku harus pergi sekarang," kata Queen sambil menyeka air mata karena terlalu banyak ketawa. "hari ini sangat menyenangkan, tapi aku punya banyak tugas malam ini."
"ingat ya, jam delapan besok di atomic café, kata Ana. ia menaruh kelingkingnya di mulut dan jempolnya di telinga sebagai . Isyarat menelepon, sambil berkata, "dan jangan lupa menelepon kau-tahu-siapa!"