"SIAP atau tidak, aku masuk!" sebuah suara terdengar dari suatu tempat di dekat pintu studio garasi.
Queen menutup kepala dengan bantal dan menyembunyikan wajahnya di sofa. "Jangan menjerit. Ini tengah malam."
Jempol kakinya menyembul dari balik selimut biru yang sudah pudar. April menariknya dengan keras dan berkata, "Sudah hampir siang. Kau harus bangun."
"Aduh!" Queen menendang-nendang tangan adiknya dengan kedua kaki. "Memangnya kenapa?"
"Temanmu datang," jawab April.
"Apa?" Queen menyingkirkan bantal dari kepalanya dan mengintip jam di meja di samping sofa. "Ini hari apa?"
Suara cowok yang menjawab, "Minggu."
Reyhan Lockhart berdiri di samping April, di ujung sofa.
"Reyhan?" Queen terduduk tegak. Rambutnya yang kusut menutup wajah. Matanya bengkak. Kaus tidur sobek-sobek yang ia ambil dari tumpukan baju kotor benar-benar nggak cocok dengan celana pendek
boxer-nya.
April dan Reyhan menatap Queen serius. "Sudah ku bilang dia pasti berantakan," kata April.
Reyhan mengangguk. "Aku pernah melihat yang lebih buruk dari ini."
"Aaahhhh!" Queen menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan menjerit,
"April! Kubunuh kau nanti!"
Kepala ibu Queen muncul di ruangan. "Kenapa kalian berteriak-teriak?"
"Mom!" jawab Queen dari bawah selimut. "April mengajok Reyhan masuk ke sini padahal aku belum berpakaian."
Tapi Mrs. Chandler tidak membelanya. "Cepatlah ganti baju. Kami akan menghibur Reyhan di dapur."
"Trims, Mrs. Chandler," Queen menderngar Reyhan menjawab. "Tapi aku sudah cukup terhibur."
"Keluar!'" pekik Queen. "Semuanya. Termasuk kau, Reyhan Lockhart!"
"Oke, pasukan," Mrs. Chandler berkata.
"Kalian dengar itu. Pertunjukan selesai."
Queen tetap diam di balik selimut, menunggu mereka keluar dari garasi dan kembali ke rumah. la mendengar Mom memarahi adiknya, "April, mudah-mudahan Queen tidak membalasmu saat kau besar
nanti.."
"Mom!" protes April. "Nggak mungkin itu terjadi padaku, karena aku pasti akan ingat waktu. Dan juga nggak akan bangun kesiangan. Apalagi tidur di sofa jorok seperti itu."
Pintu tertutup dan Queen membuka selimut perlahan-lahan. la menyesal telah menyetujui pergi piknik hari ini. Banyak yang terjadi sesudah percakapannya di telepon dengan Reyhan semalam.
la mengenyakkan tubuh kembali ke sofa, mengingat-ingat kejadian semalam di Atomic Café. Setelah Queen bernyanyi bareng Joe, grup band itu mengundangnya bergabung saat istirahat. Beberapa orang berhenti di mejanya untuk memberi pujian. Mereka bahkan mengusulkan agar ia bergabung dengan band itu. Joe tidak mengiyakan ataupun menolak ide itu. Ketika tiba waktunya untuk tampil kembali, Joe mengucapkan selamat tinggal dan berjanji akan meneleponnya.
Teman-teman Queen sama gembiranya. Andyn dan Brain, yang menurut anggapan Queen sudah menjadi pasangan kekasih, terus memeluknya. Ana pun
terus memberitahU orang-orang bahwa, "Queen hebat!"
Ketika Queen mengantar Ana pulang, merekap membuka kap mobil dan bernyanyi lagu Big Trouble Ahead keras-keras sepanjang jalan. Queen sangat
bergairah sehingga tidak bisa tidur. la pergi ke studio dan bemain gitar kemudian membuat rekaman untuk lagu audisi The Battle of the Bands yang akhirnya selesai pukul dua pagi. la menarik selimut dan
tertidur di sofa.
"Aku nggak kepingin pergi piknik," erang Queen sambil bergolek di sofa. "Kenapa aku harus pergi piknik?" la terhuyung-huyung ke cermin bulat yang tergantung di dinding samping mesin cuci, dan terenyak. la tampak lebih buruk dari sangkaannya semula. Maskaranya luntur sehingga bagian bawah matanya hitam legam dan rambutnya kusut.
"Kau harus mandi," katanya pada bayangan di cermin. Tapi nanti Reyhan akan menunggu kelewat lama dan ia pergi piknik dengan rambut basah. Queen memutuskan tak jadi mandi. la akan berganti baju saja dan langsung pergi agar pikniknya cepat
selesai.
Queen membasuh wajahnya di bak cuci. Kemudian ia menyambar pakaian dalam dari tumpukan baju yang dilipat di atas pengering dan menarik celana garis-garis terusan dari kotak bertanda SUMBANGAN.
la memakai kaus konser Donnas berwarna merah muda.
"Sisir!" gumam Queen soambil mencari di bawah Sofa dan di dalam ranselnya. "Kenapa Ssuah sekali menemukan sisir?"
Akhirnya ia menemukannya di rak di atas mesin cuci. Rambutnya terlalu kusut untuk disisir sehingga Queen menarik dan mengikatnya dengan bandana. Ia melengkapi penampilannya dengan Doc Martens.
"Nah!" katanya sambil menatap bayangannya. "Selesai."
la terlihat seperti gadis petani dengan mata merah karena kecapekan. Tapi hanya ini yang bisa Reyhan dapatkan setelah mendobrak masuk ke dalam studionya saat ia masih tidur. Kalau ini terjadi
pada cewek-cewek lain, seperti Ana, pasti seumur hidup mereka nggak bakal mau bicara lagi dengan cowok yang melakukan itu pada mereka
Ketika Queen masuk ke dapur, ia terkejut melihat Reyhan, ibunya, dan Nick, kakaknya, duduk di meja dapur bermain Slapjack. Reyhan bertindak sebagai pembagi kartu, sementara Mom dan Nick melempar
dan menumpuk kartu secepat Reyhan membaginya. Setiap kemenangan selalu ditandai dengan "Dapat!" atau "Punyaku!"
Queen bersandar di bingkai pintu dan mengawasi mereka takjub. Pertama, ia tidak pernah melihat ibu dan kakaknya main kartu. la bahkan tidak tahu mereka bisa bermain Slapjack. Kedua, Reyhan belum
pernah mengenal mereka tapi ia diperlakukan layaknya anggota keluarga.
"Reyhan!" panggil Queen. "Maaf aku-"
"Nggak bisa ngomong sekarang," Reyhan memotong ucapan Queen. "Harus konsentrasi."
lbu Queen mengempaskan tangannya ke atas Jack hati dan berteriak, "Punyaku! Ambil jus jeruk dari kulkas, Queen. Aku membuatnya tadi pagi."
Queen mengangkat bahu dan melakukan perintah Mom. Ia menuang minuman untuk dirinya sendiri dan bersandar di meja tinggi dapur sambil mengawasi Reyhan yang sangat ahli membagi kartu. Topinya terpasang miring di keningnya. Ketika permainan selesai Nick mengangkat kedua tinjunya penuh kemenangan. "Akulah sang pemenang dan juara Slapjack tak tertandingi."
"Tak tertandingi?" ulang Reyhan sambil membereskan kartu dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. "Sepertinya akulah pemegang titel itu!"
"Coba buktikan," kata Nick, siap bermain lagi.
Queen menaruh gelas jus ke meja. "Enak saja. Aku bangun bukan untuk menonton kalian main kartu. Lagi pula, itu kartu siapa sih?"
Reyhan mengangkat topinya. "Aku selalu membawanya ke mana-mana. Kau nggak tahu kapan ada kesempatan bermain Gin Rummy atau Slapjack.
Mrs. Chandler menepuk bahu Reyhan dan berkata kepada Queen, "Aku suka anak ini. Dia boleh datang ke rumah kita kapan saja.
"Trims, Kit," kata Reyhan, memanggil Mrs: Chandler dengan menyebut nama depannya. la menaruh kartu ke dalam saku. "Lain waktu kita coba bermain
sesuatu yang lebih sulit, seperti Go Fish."
"Setujul" jawab Kit.
"Omong-omong," kata Reyhan sambil mendorong kursinya dan berdiri, "aku dan Queen ada janji dengan sekelompok orang yang sangat istimewa hari ini."
Queen meringis. "Aku lupa akan bertemu teman-temanmu. Kupikir kita hanya akan pergi piknik." la menunjuk celana terusannya. "Apa aku harus ganti?"
Reyhan menatap wajah Queen, memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri tapi sedikit pun tidak memandang pakaian yang dikenakan cewek itu. Akhirnya ia berkata, "Nggak perlu. Aku suka kau apa adanya."
Queen menggeleng sambil tertawa kecil. "Bukan, yang kumaksud bajuku."
"Oh, bajumu." Reyhan menatap celana terusan Queen. "Nyaman dipakai, nggak?"
"Ya," jawab Queen.
"Kalau begitu nggak perlu ganti," kata Reyhan sambil tersenyum hangat. la mengangkat satu jarinya. "Tapi kau janji akan membawa gitarmu."
"Oh, iya." Queen berlari kembali ke garasi untuk mengambil gitar akustiknya. Gitar itu tersimpan dalam tas bertali, sehingga ia bisa membawanya seperti ransel. la kembali ke dapur tepat saat telepon
berdering.
"Kalau itu Mike Mullins bertanya tentang si jelek," Kit Chandler berteriak kepada semua, "bilang aku nggak ada."
"Si jelek?" Ulang Reyhan.
Queen mendengar kakaknya menjelaskan kepada Reyhan sementara telepon terus berdering, "Maksud Mom gudang tua di ujung Erie Avenue. Mom sedang mencoba menjualnya. Tapi gudang itu Sangat jelek sehingga tak seorang pun kepingin membelnya."
Akhirnya April yang mengangkat telepon. "Queen!" ia berteriak sangat keras. "Ada cowok bernama Joe mau bicara denganmu."
Queen menarik telepon sampai ke lorong di luar. dapur supaya tidak terdengar yang lain. Tapi sayang Reyhan dan keluarganya sedang di dapur karena Reyhan bersiap untuk pamit. Jadi mereka menyaksikan seluruh pembicaraan Queen dengan Joe.
Queen mencoba berbicara singkat-singkat dan tidak jelas.
"Queen, bisa nggak kau datang dan bermain dengan bandku?" tanya Joe dengan suara parau.
"Bisa," jawab Queen kaku. la tak mungkin bersikap penuh semangat karena empat orang sedang mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.
"Hari ini jam empat?" tanya Joe.
"Oke," jawab Queen sopan.
"Bagus," jawab Joe. la berhenti sejenak.
"Kau tahu rumahku?"
"Nggak," jawab Queen. "Bisa beritahu aku?"
Queen merasa kayak orang d***u. la tidak sedang memegang kertas tapi ia juga nggak kepingin meminta seseorang mengambilkannya. la takut keluarganya tahu ia sedang membuat janji dengan cowok lain sementara Reyhan berdiri satu meter darinya Saat ini.
"Di Sycamore Way 357," kata Joe. "Kami ada di studio, di belakang rumah."
"Oke," kata Queen. Kemudian tambahnya, "Trims, ya. Sampai nanti."
"Oke." Sepertinya Joe sedikit bingung karena Queen agak kurang bersemangat. "Jam empat."
"Sampai jumpa," kata Queen. la menutup telepon dan menyodorkannya kembali kepada April.
"Sampai jumpa?" ulang April. "Aku saja nggak pernah bilang begitu."
April benar. Hanya Mom yang menggunakan kata "Sampai jumpa." Itu karena Mom sering kali harus buru-buru menyelesaikan pembicaraan di telepon.
Queen melirik jam. Pukul 12.45. Tiga jam dari sekarang ia akan bermain musik dengan Side Effects!
Queen melirik Reyhan yang sedang menatap wajahnya penuh perhatian. Apakah Reyhan bisa membaca pikirannya? Queen berharap tidak, karena Reyhan sebenarnya cowok baik. Hanya saja waktunya nggak tepat.
"Maaf, Reyhan," kata Queen. "Urusan pekerjaan."
"Nggak pa-pa," jawab Reyhan ketika mereka berjalan menuju pintu depan. "Urusan seperti itu bisa jadi penting." la menoleh dan melambai kepada keluarga Queen. "Kit! Menyenangkan bisa bertemu Anda. Nick, jangan terlalu senang dengan gelar kejuaraan. Dan April-T.T.F.N!"
"T.T.F.N2" ulang April bingung.
"Ta ta for now -selamat tinggal!" kata Adoam tersenyumn.
Ketika mereka sudah di luar rumah, Queen mencari-cari minivan Dodge milik Reyhan. Tapi tidak ada mobil diparkir di halaman rumah. Yang ada hanya sepeda tandem, disampirkan di pintu garasi. Sepeda
tandem itu sudah tua dan cat hijau di bagian bempernya sudah pudar. Ada keranjang anyaman putih disetel dekat setang. Keranjang ifu penuh perlengkapan piknik.
"Semoga kau bisa naik sepeda," kata Reyhan sambil mendorong sepeda itu ke depan Queen. "Karena pedal-pedal itu harus dikayuh."
Queen cekikikan sambil naik ke jok sepeda dan mengatur tas gitar di punggungnya. Setelah itu ia memegang setang. "Sudah lama aku kepingin naik sepeda seperti ini," katanya. "Dapat dari mána?"
"Punya Vivian, temanku," kata Reyhan sambil melompat ke jok depan. "Menurut dia sepeda ini paling cocok untuk piknik."
"Vivian?" ulang Queen. Nama yang kuno.
"Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya,"
kata Reyhan nyengir. "Sudah siap?"
Queen menelan ludah dengan susah payah. la sedikit khawatir naik sepeda dengan Reyhan seperti ini di tempat umum. Tapi ia sangat kepingin mencoba sepeda itu. "Siap."
Reyhan mengayuh pedalnya. Mereka pun berangkat. Queen mengayuh pedal sambil menyamakan gerakan Reyhan. Ketika tiba di ujung Ash dan Elm mereka berbelok.sedikit terlalu lebar. Queen berusaha mengikuti gerakan Reyhan ia membungkuk ketika
Reyhan membungkuk dan duduk tegak sewaktu Reyhan duduk tegak. Dengan cepat mereka bisa bergerak seirama.
"Wah, kita bisa!" seru Reyhan.
"Asyik, ya!" Queen menengadah, menikmati angin dingin yang menerpa wajahnya.
"Asyik hanya untuk para amatir," kata Reyhan sambil membungkuk dan mengayuh pedal lebih cepat.
"Kita di sini untuk berpetualang!"
Mereka mengambil jalan pintas melalui rumah-rumah tetangga Queen. Tak lama kemudian mereka sampai di tepi Swedenburg Park. Mereka melewati
orang-orang yang sedang joging, ibu-ibu yang mendorong kereta bayi, dan pengendara sepeda lainnya. Semua orang yang mereka lewati tersenyum dan melambai. Queen berteriak, "Selamat siang!"
atau, "Apa kabar!"
Mereka bersepeda melewati taman bermain dan kolam renang umum yang tutup musim itu. Tadinya Queen yakin mereka akan berhenti di bangku piknik, tapi Reyhan terus mengayuh. la mengarahkan sepeda ke sisi paling jauh taman, tempat air terjun yang mengalir ke kolam kecil penuh bebek Amerika Utara, itik jantan, dan sepasang angsa. Air terjun itu sendiri dikelilingi batu besar abu-abu.
"Kau suka tempat ini?" tanya Reyhan melalui bahunya.
"Suka sekali," jawab Queen. "Dan aku juga sangat lapar."
Ketika ia mengatakan itu, Queen baru sadar dirinya kelaparan. la belum makan sejak semalam.
Menghentikan sepeda tandem lebih sulit daripada mulai menjalankannya. "Hitungan ketiga," Reyhan memberi perintah, "kita rem dan melompat."
Tapi ketika ia baru menghitung sampai dua tanpa sengaja Reyhan menarik rem terlalu kuat. Sepeda itu terhuyung-huyung dan mereka melompat tidak bersamaan. Sepeda jatuh dengan suara gaduh ke satu
sisi dan mereka terlempar ke rumput. Queen berhasil memegangi tas gitar sebelum menyentuh tanah. Gitarnya jatuh dengan selamat di tanah dan ia berguling-guling ke bawah bukit sambil cekikikan.
Ketika berhenti berguling, Queen mengambil kesempatan untuk menarik napas. la berbaring nyaman di rumput sambil mengawasi awan putih yang berarak
di langit. Reyhan-dengan bahu bersentuhan dengan bahu Queen-pasti melakukan hal yang sama karena tiba-tiba ia berkata, "Gajah. Yang itu mirip gajah."
la menunjuk kumpulan awan putih berbentuk bola dengan belalai panjang putih. '"Aku lihat," jerit Queen. Awan lain lewat. Queen berkata, "Mr. Phelps, guru Seni. Kau lihat, kan? Itu rambut kribo dan hidung runcingnya."
"Hebat!" jawab Reyhan. "Aku bahkan bisa melihat t**i lalat di pipinya."
Queen menoleh untuk melihat Reyhan, dan Reyhan pun berbuat yang sama. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Lucu, Queen tidak merasa
terganggu dengan hal ini. la mengawasi wajah itu dengan santai, seperti yang ia lakukan pada arak-arakan awan sebelumnya. la melihat ada lingkaran
gelap di sekitar mata cokelat Reyhan. Hidungnya benar-benar mancung dan bagus, dengan bitik-bintik kecil di ujungnya. Tanpa sadar Queen memikirkan bibir Reyhan: bibir itu sangat menggoda untuk dicium.
Reyhan juga melamun. Tatapannya menyusuri lengkung alis Queen, turun ke pipi kemudian bibirnya, dan kembali ke mata Queen lagi.
Queen sadar mungkin ia akan sangat senang jika Reyhan menciumnya saat itu. la menahan napas, bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Akhirnya Reyhan berkata. "Vivian," gumamnya.
Queen mengerjap terkejut. "Siapa Vivian?"
Reyhan bangun dan bertelekan pada satu siku, kemudian menunjuk ke belakang Queen. "Wanita yang sedang memutari kolam."
Queen menoleh kemudian duduk. Seorang wanita bertubuh besar, berambut putih, dan memakai celana pendek untuk mendaki, serta sepatu bot mendatangi mereka. Di belakangnya tampak empat orang berusia senja. Satu laki-laki membawa dua kursi kemping, yang lain berjalan dibantu tongkat rotan. Seorang wanita menenteng keranjang anyaman untuk piknik, seorang lagi membawa payung.
"Mereka mau apa?" tanya Queen.
Reyhan melambai pada kelompok orang tua itu dan berkata, "Mereka akan bergabung bersama kita untuk makan siang."