KAU pasti Queen," seorang wanita berusia lanjut yang mengenakan setelan celana dan jaket rajut, serta syal bunga-bunga berteriak dari arah gerombolan orang-orang tua tersebut. Mereka mengitari pinggir kolam. "Aku Dolly."
Queen terkejut mengetahui para pengungsi dari rumah jompo itu akan ikut berpiknik bersama mereka. la mengangkat toangan dengan kaku dan balds berteriak, "Halo, Dolly!"
Tingkah Queen membuat empat orang lanjut usia itu tertawa, kemudian mereka mulai menyanyikan lagu kuno dari Broadway.
Reyhan menjelaskan, "Mereka suka geli setiap kali mendengar orang mengatakan itu."
"Dolly itu nenekmu?" bisik Queen.
"Oh, bukan," jawab Reyhan sambil meraih tangan Queen dan menariknya ke arah kelompok yang baru datang itu. "Dolly hanya teman. Waktu masih muda dia model terkenal. Karena itu dia kenal banyak artis menarik."
"Abad keberapa? tanya Queen dari ujung mulut.
"Akhir tahun 1940-an, setelah Perang Dunia Kedua," jawab Reyhan ketika mereka menghampiri Dolly untuk menyapanya. "Dia tinggal di Prancis Selatan, pernah menjadi model untuk Picasso dan dali. Ceritanya benar-benar menarik.
"Ayo, cepat" wanita bernama Vivian berteriak
kepada teman-temannya. "Nanti waktu makan siangnya habis. Satu, dua, tiga, empat! Satu, dua, tiga, empat!"
Vivian berjalan mundur seperti mayoret, mengangkat kaki tinggi-tinggi dengan gerakan cepat.
Reyhan tertawa kecil. "Viv pensiunan kolonel angkatan darat. Tapi dia belum bisa mengubah kebiasaan lama. Seperti kaulihat, dia masih suka memerintah orang-orang.
Mereka bergabung dengan kelompok itu di dekat air terjun. Reyhan memperkenalkan mereka. "Kau sudah mengenal Dolly, dan ini Vivian."
Vivian menjabat tangan Queen dengan kuat.
"Mari berjabat tangan, kata Vivian. "Teman
Reyhan temanku juga."
Setelah itu giliran laki-laki yang memakai setelan wol dan menggunakan tongkat berhias kuningan. Kaki kanannya pincang. la membungkuk kaku. "Aku George," katanya. "Senang berkenalan denganmu, Sayang.
Queen membalas anggukan George ketika Reyhan berbisik di telinganya, "Dulu George dosen Sejarah Seni."
Menyusul berikutnya seorang laki-laki bungkuk yang membawa sepasang kursi kemping. Ia menaruh kursi-kursi itu dan dengan canggung menarik mantelnya kemudian maju selangkah untuk menya-
lam Queen. "Encantada, señorita," katanya tersenyum cerah. "Namaku Alberto Martines. Kau cantik seperti kata Reyhan."
Queen menunjuk malu-malu celana terusannya yang lusuh. "Trims, Alberto, tapi ini bukan penampilan terbaikku."
Seorang wanita bertubuh langsing dan sangat jangkung maju. Kulitnya cokelat dan sangat keriput. Queen berkata dalam hati ia tidak pernah melihat kulit sekeriput itu seumur hidupnya. "Queen, perkenalkan ini Miss Perkins," kata Reyhan bangga. "Miss Perkins seorang nonagenarian."
"Apa? tanya Queen. bingung.
Dolly membuat corong dengan kedua tangannya di depan mulut dan berbisik, "itu berarti umurnya lebih dari sembilan puluh tahun, Sayang. Hebat, ya?"
Miss Perkins menaruh tangan Queen di atas telapaknya dan meletakkan tangannya yang satu lagi di atas tangan Queen. "Kata Reyhan kau musisi, ya, katanya lemah. "Aku sangat suka musik."
Queen tersenyum. "Aku main gitar. Kau bisa memainkan alat musik?"
Alberto yang menjawab. "Dia dulu pemain piano. Permainannya sangat indah."
Queen hendak bertanya mengapa Miss Perkins berhenti bermain piano, tapi trus ia melihat tangannya yang bengkok. Miss Perkins menderita radang sendi.
Reyhan menyatukan kedua tangannya. "Nah, semua sudah saling kenal. Bagaimana kalau kita makan? Kata Queen dia sudah kelaparan, dan itu bisa menjadi hal yang sangat mengerikan."
Queen memukul Reyhan main-main. "Jadi itu yang kudapatkan karena bersikap jujur?"
Queen membantu Reyhan membawa keranjang piknik dari sepeda. Reyhan membawa taplak meja.Mereka membentangkannya di depan batu-batu besar. Setelah itu Reyhan membantu Miss Perkins duduk di kursi kemping. Karena George juga tidak bisa duduk di tanah, ia duduk di kursi yang satu lagi.
Alberto yang umurnya padling muda dalam kelompok itu, duduk di tanah di samping Vivian dengan kaki disilangkan, sementara Dolly berlutut di samping Reyhan.
"Aku membuat sandwich salad ayam," Reyhan mengumumkan. "Karena aku tahu itu kesukaan Dolly dan Miss Perkins. Nah, coba kita lihat... Alberto vegetarian. Karena itu aku membuatkan sandwich keju." la menyodorkan roti lapis itu kepada Alberto,
kemudian memberi George salad buah.
"Terima kasih, Reyhan." George mengedijp ke arah Queen. "Aku sedang menjaga berat badanku."
Queen menerima sandwich yang disodorkan Reyhan dan segelas limun dari Vivian. Ini kencan teraneh seumur hidupnya. Sesaat ia berpikir mungkin ia masih tidur di sofa dan semua ini hanya mimpi aneh.
Ia menyesap limunnya kemudian bertanya, "Jadi, bagaimana kalian saling kenal?"
"Hyde Park Manor," jawab Vivian. "Di sanalah kami bertemu."
"Nggak semua, Vivie sayang," kata Dolly sambil mengunyah sandwich-nya dengan susah payah. "Kita bertemu George di Mountain Meadows."
Queen memiringkan kepala bingung.
"Hyde Park Manor adalah panti jompo," kata
Reyhan. "Mountain Meadows juga."
"Oh, begitu," kata Queen. "Tapi kok Reyhan bisa bergabung?"
"Oh, justru dialah inti kelompok ini," kata Miss
Perkins."Tahu tidak, Reyhan datang pada kami ketikadia belum berumur lima tahun."
"Ketika ibuku menjadi resepsionis di Hyde Park Manor," Reyhan menjelaskan. "Mom baru berumur 24 Saat dia dan ayahku bercerai, dan tidak mendapat pekerjaan di mana-mana. Mom putus asa. Lalu ada lowongan di Hyde Park Manor. Mom harus membawaku saat wawancara. Nah, waktu itulah aku bertemu Miss Perkins dan Alberto-"
Jangan lupakan aku," kata Dolly sambil mengayun-ayunkan syalnya. "Aku juga ada di sana."
Reyhan tertawa kecil. "Nggak ada yang bisa melupakan Anda, Dolly." la menyesap limunnya dan melanjutkan, "Nah, ibuku bertemu beberapa penghuni rumah jompo saat mau wawancara, dan mereka langsung menyukainya."
"Ibu Reyhan sangat menyenangkan," tambah Miss Perkins.Tapi Reyhan kecil bertopi lucu itu yang sebenarnya membuat kami jatuh hati."
Reyhan mengangkat topinya ke arah Miss Perkins. "Terima kasih, Miss P."
Ganti Dolly yang bercerita. "Kami memohon pihak manajemen untuk mempekerjakan Laura ibu Reyhan dan kami berjanji akan menjaga Reyhan saat dia bekerja. Dan kami betul-betul melakukannya."
Alberto membungkuk ke depan. "Kami menjalan kan tugas kami dengan sangat serius. Miss Perkins membuat jadwal dan kami mematuhinya. Miss Perkins mengajari Reyhan membaca dan aku mengajarinya bahasa Spanyol"
Dolly berpose layaknya model. "Dan aku yang mengenalkannya pada seni, musik, dan teater."
VIvian menepuk lutut Queen. "Waktu aku masuk ke Hyde Park Manor setahun kemudian, aku membernya Latihan fisik. Kami bermain bola, pergi mendaki dan, tentu saja, bermain"
"Golf," potong Reyhan. "Vivian bukan tipe orang yang suka menyombongkan diri, tapi dia juara angkatan darat Amerika Serikat selama lima tahun berturut-turut untuk kategori wanita. Dia berkeliling Amerika dan Eropa."
Wajah Vivian memerah karena senang. "Ah, Reyhan. Kau nggak perlu memberitahu Queen soal itu."
Reyhan melingkarkan tangannya di bahu Vivian. "Dia masih jago di lapangan golf. Aku harus berusaha sekeras mungkin untuk bisa menyamainya."
Queen membersihkan mulutnya dengan lap kertas yang diberikan Dolly lalu berkata, "Jadi kalian ber empat ini pengasuh Reyhan, ya?
Miss Perkins tertawa. "Sepertinya begitu."
Queen menoleh kepada George yang tidak bicara apa pun. "Kalau Anda bagaimana, George? Bagaimana Anda bisa akrab dengan mereka semua?"
"George guru seni kami," Reyhan menjelaskan.
"George yang memberi misi kepada Hyde Park."
"Kami menjadi artis-artis dunia," Dolly mengumumkan.
"Ayo, Dolly," gumam Miss Perkins. "Biarkan George yang bercerita."
George mengelus kumisnya, kemudian berkata,"Ketika para pengasuh Reyhan-seperti sebutanmu tadi-melihat Reyhan punya bakat seni, mereka mencari guru seni. Aku pernah mengajar melukis menggunakan cat air di Mountain Meadows, karena itu mereka mempekerjakan aku. Tak lama kemudian
aku menjadi pelatih seni tetap Reyhan."
"Dan pelatih seni untuk semua," tambah Dolly. "Kami mengambil kursus melukis dengan cat air."
"Kapankah itu? tanya Queen.
Reyhan menyipitkan sebelah matanya sambil berpikir. "Hmm... waktu aku berumur sepuluh tahun. Jadi, tujuh tahun yang lalu."
"Beberapa dari kalian suadah mengalami perkembangan setelah bertahun-tahun latihan," kata George. Queen memperhatikan bahwa George bersikap hati-hati dengan tidak menyebut nama seorangpun. George membungkuk lebih dekat ke arah Queen dan memberitahunya, "Ketika orang-orang
menyenangkan ini menjadi temanku, kami pikir sebaiknya aku pindah ke Manor. Maka aku pindah."
Miss Perkins menarik kantong kecil dari saku dan menyodorkannya kepada Reyhan. "Ada yang mau cokelat? Atau kue? la menarik kantong lain dari saku satunya. "Aku juga punya permen bebas gula, George."
"Miss Perkins selalu membawa cokelat dan kue di sakunya," bisik Reyhan keras di telinga Queen ketika Kantong-kantong kecil berisi makanan itu beredar. "Dia khawatir satu hari nanti kami terdampar di suatu tempat yang terlalu jauh dari toko makanan dan kami akan kelaparan."
Miss Perkins mengangguk tegas.. "Betul, Reyhan. Aku tidak percaya begitu saja dengan peradaban.
"Aku sangat suka cokelat," kata Dolly sambil menyodorkan kantong cokelat itu kepada Queen. "Di umurku sekarang ternyata hanya ada dua hal yang sangat kusukai: tertawa dan cokelat."
Queen mengambil sepotong cokelat dari dalam kantong dan memasukkannya ke mulut. "Hmm! Lezat," gumamnya. "Sepertinya aku baru menemukan hal baru untuk ku gandrungi."
Alberto menyikut. Reyhan dan berkata, "Ingat itu saat Valentine, Nak. Cokelat dan, tentu saja, bunga mawar."
"Mawar merah!" Dolly mendekap dadanya. "Rumahku biasanya penuh mawar merah yang dikirimm para pengagumku dulu."
Vivian mengedarkan kantong cokelat dan mengambil dua keping kue. "Aku selalu menyukai anyelir. Wangi dan tahan lama."
Queen masih belum percaya dirinya bisa menikmati kebersamaan dengan kelompok aneh ini sambil mengunyah cokelat dan minum limun. Malah ia merasa gembira. Rasa penasaran pun timbul dalam airnnya. Karena semakin ia mengenal Reyhan, sema-
Kin misterius saja cowok itu. Queen kepingin tahu lebih banyak tentang cowok tidak biasa ini.
"Jadi, Reyhan, kayaknya sebagian besar waktumu kauhabiskan di Hyde Park Manor," kata Queen sambil menuang limun lagi. "Nah, sebenarnya kau tinggal di mana?"
Reyhan melambai ke arah teman-temannya itu. "Bersama keluargaku."
Mata Queen mengerjap bingung. "Kau tinggal di panti jompo?"
"Reyhan penghuni termuda di Hyde Park Manor," kata Vivie. "Begini, jabatan ibu Reyhan naik dari sekretaris menjadi manajer ketika Reyhan masih di bangku SMP ."
"Kemudian beberapa tahun lalu manajemen memutuskan untuk menjual Manor," kata George, "itu berarti kami semua harus mencari tempat baru untuk tinggal."
"Dan ibu Reyhan akan kehilangan pekerjaan," kata Alberto.
"Dan kami akan kehilangan Reyhan," sambung Miss Perkins.
"Jadi kami mengumpulkan tabungan kami dan membeli bangunan itu," kata Vivian. "Laura tidak jadi kehilangan pekerjaan. Dia dan Reyhan malah pindah dari apartemen kecil mereka ke apartemen yang lebih besar di lantai tiga."
Queen menggeleng. "Cerita menakjubkan."
Dolly mencubit pipi Reyhan. "Dia anak menakjubkan."
Para pengasuh Reyhan menggigit cokelat atau kue masing-masing dan mengunyahnya dengan rasa puas sambil menatap Reyhan. Wajah-wajah keriput itu penuh rasa cinta yang tulus.
Queen memperhatikan wajah Reyhan. la bersandar pada siku sementara kakinya terjulur ke depan. Dengan rompi dan topi Reyhan tampak seperti anakk cowok tahun 1980-an. Cowok yang sangat seksi untuk saat itu!
George mengeluarkan buku gambar kecil seperti yang biasa Reyhan bawa dan mulai menggambar. Dolly berbisik, "Queen? Aku tahu kau pemusik, tapi kami semua ingin tahu apakah kau tertarik dengan seni publik?"
"Seni?" Queen balas berbisik.
Kelompok itu saling melempar pandang penuh arti. Akhirnya Reyhan berkata, "Apa kita beritahu saja proyek kita?"
Miss Perkins mengangguk tanda setuju.
"Aku harus mulai dari mana?" tanya Reyhan.
"Mulai dari awal," kata Miss Perkins tidak sabar. "Kalau kau sampai di akhir cerita, berhenti."
Mata Reyhan berkilat-kilat saat bicara. "Awalnya ini sebagai reaksi dari kepuTusan dewan kota untuk mempertahankan gedung-gedung tua di dekat jalan masuk tol."
"Kami yakin tempat itu bisa dipercantik," potong Dolly.
Vivian mengangkat bahu. "George sudah bertahun-tahun mengajari kami seni dan kami sudah menjadi tim sekarang. Kami pun pernah membuat lukisan dinding di Manor."
"Jadi masuk akal," Alberto memberi penjelasan," kalau tadinya kami membuat lukisan untuk keperluan pribadi, sekarang kami membuatnya untuk publik."
Queen benar-benar bingung. "Kalian membuat lukisan dinding?"
Reyhan mengangguk penuh semangat. "Hasilnya sudah banyak. Pertama kali kami melukis bintang-bintang dan planet-planet di gudang yang sekarang menjadi Atomic Caté."
"Nggak mungkin!" Queen tersentak.
"Kemudian kami melukis di toko obat yang runtuh di pusat kota."
"Dan minggu lalu?" bisik Queen kagum. "Garasi milik Ed?"
"Betul," kata Reyhan sambil menggerak-gerakkan alis.
"Kaliankah The Art Attack itu?" Queen terenyak.
Wajah kelima orang tua itu bersinar penuh kebanggaan.
"Ya, itulah kami," kata George. la membalik kertas dan menunjukkan sketsanya kepada Queen. Itu gambar mereka sedang berdiri di depan lukisan dinding terbaru mereka, yaitu jendela yang menghadap ke laut. la nmenulis kata-kata ART ATTACK dengan tulisan tangan yang cantik di kanan bawah.
Queen terkesan. "Ibuku bekerja di real estate, dan katanya lukisan kalian membuat nilai jual gedung-gedung itu naik."
"Yah, kuharap itu benar," kata Dolly. "Seni selalu membuat apa pun menjadi lebih berharga."
Vivian menarik guntingan koran dari sakunya. Guntingan koran itu memuat pabrik yang tutup di area dekat sungai. "Ini proyek kami selanjutnya. Maukah kau bergabung bersama kami?"
Queen mengerjap terkejut. "Aku? Tapi aku bukan pelukis."
Dolly membuat corong dengan tangannya dan berbisik keras. "Begitu juga Vivian. Karena itu dia menjadi pengawas."
"Betul," kata Vivian. "Menjadi pengawas adalah keahlianku. Sekarang aku bisa melakukannya tapi dalam bentuk lain."
Queen menatap Reyhan yang menunggu reaksinya. "Bisa berbahaya sih," Reyhan mengingatkan. "Karena kita masuk tanpa izin. Bahkan ada yang menyebut nya perusakan properti orang lain."
Queen membayangkan dirinya mengendap-endap di jalan-jalan kota Wheaton, lalu menyemprotkan cat di gedung-gedung tua, dan mengawasi arena
bersama Vivianini membuatnya tertawa keras. "Kayaknya menyenangkan," katanya. "Nakal tapi asyik
"Nah, jadi bagaimana?" tanya Dolly antusias.
"Kau ikut?"
Miss Perkins mengangkat tangan. "Ayolah Dolly, jangan menekan wanita muda ini. Nanti Queen juga akan tahu apakah dia mau bergabung dengan kita atau tidak."
Reyhan masih mengawasi wajah Queen dengan saksama, seolah mencari-cari sesuatu di sana. Lalu ia berkata, "Miss Perkins benar. Queen akan memberitahu kita." Ia menepukkan kedua tangannya seakan memberi tanda untuk mengubah subjek pembicaraan. "Nah, kau kan berjanji mau main musik."
Reyhan berdiri dan mengambilkan gitar Queen. Biasanya Queen sedikit canggung jika harus bermain musik di depan orang-orang baru, tapi entah kendpa ia yakin kali ini tidak. Queen menyetem gitarnya. Lalu ia memainkan lagu yang ia yakin semua orang tahu: You Are My Sunshine.
Mereka bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan. Alberto memiliki suara bariton yang kuat, dan Reyhan menyanyi dengan nada lebih tinggi. Selanjutnya Queen memainkan lagu Down the Valley dan Both Sides Now. Hampir semua mereka tidak tahu lagu Both Sides Now, tapi mereka bersikeras berpendapat lagu itu sangat bagus.
Sekarang mainkan lagu kesukaanmu," usul
Reyhan.
"Oke." Queen tersenyum kepada Reyhan dan berkata, "Biasanya aku memainkan lagu ciptaan orang lain, tapI hari ini aku membuat pengecualian. Lagu ini buatanku sendiri."
"Wah, kami merasa terhormat boleh mendengarnya," kata Reyhan berterus terang.
Kalau orang lain yang mengatakan itu pasti terdengar basi. Tapi Queen tahu Reyhan berkata tulus, sehingga ia tidak keberatan mendengarnya. Miss Perkins dan yang lain-lain mengangguk tanda setuju.
Queen memejamkan mata dan memilih lagu yang baru selesai ia tulis-Shoot the Moon. la memetik dawai dan menyanyikan lirik pertama.
"Di dalam hati ini, ada hasrat,
Hasrat untuk memberitahumu.
Di dalam hati ini, ada yang membara,
Ingin mengutarakan."
Ketika lagu berakhir, kelompok itu masih terdiam. Akhirnya Miss Perkins berkata pelan, "Indah sekali, Queen. Sangat indah."
Dolly mengangguk sambil menyeka air mata. "Semua yang indah pasti membuatku meangis. Iidak bisa kutahan."
"Aku mau mendengarmu bernyanyi sepanjang sore, Sayang," kata George. "Terima kasih."
Queen menaruh pemetik gitarnya di bawah dawai di bagian leher gitar. "Aku mau main beberapa lagu lagi untuk kalian, tapi aku ada janji jam tiga."
"Jam tiga?" Alberto melihat jam sakunya dan mengerutkan dahi. "Sekarang sudah hampir jam 15.30."
"Apa?" Queen segera bangkit. "Aku harus pergi. Ya ampun, aku harus pergi sekarang."
"Kenapa kau terburu-buru sekali? Kau mau kemana?" tanya Vivian.
"Aku harus ketemu seorang cowok," kata Queen sambil melompat berdiri. "Dan aku terlambat."
"Cowokl" Dolly terkesiap, ia memandang Reyhan.
"Maksudku aku harus ketemu beberapa orang." Queen mengoreksi dirinya sendiri karena melihat tatapan prihatin mereka, la menyilangkan dua jari di belakang punggung dan sedikit berbohong, "Hmm kelompok belajar"
"Jangan khawatir," kata Reyhan setelah berunding dengan Vivian. "Aku akan mengantarmu ke sana."
Queen bergegas menaruh kembali barang-barang ke dalam keranjang piknik dan membantu bersih-bersih, tapi ia terlalu gelisah. Sebagian dirinya sangat marah karena bakal terlambat ke rumah Joe, sebagian lagi tidak mau meninggalkan Reyhan. Situasi ini sangat membingungkan. untuk pertama kali sepanjang sore itu ia merasa malu dan canggung menghadapi Miss Perkins dan teman-temannya. Tiba-tiba Queen bicara tak henti-hentinya.
"Aku senang sekali, sangat senang." katanya sambil menyalami tangan mereka satu persatu. "Terimaa kasih untuk makan siangnya, dan maafkan aku harus pergi sekarang. dan aku sudah terlambat." la melinik jam Alberto sekali lagi. "Ya ampun! Aku benar-benar terlambat! Dan aku nggak tahu harus pergi dengan apa ke sana!"
Tin-tin!
Reyhan membunyikan kiakson miniVan yang ternyata selama ini diparkir di jalan dekat Swedenburg Park. "Ada yang memanggil taksi?" teriaknya lewat jendela sopir.
Queen benar-benar bingung sehingga tidak memperhatikan bahwa Reyhan Sudah pergi mengambil mobil. Sekarang ia malah berdiri diam ketika Reyhan lari mengambil gitar dan menaruhnya di belakang van. Rasanya tidak sopan meninggalkan kelompok itu begitu saja. "Reyhan, ini sangat kasar," bisiknya.
"Aku nggak enak."
Reyhan menatap mata Queen dan berkata sangat pelan. "Tarik napas. Semua baik-baik saja. Aku akan mengantarmu dan kembali ke siní untuk menjemput mereka. Sekarang lambaikan tangan pada teman-temanku itu. Mereka sangat menyukaimu."
Queen melakukan apa yang Reyhan suruh. la menarik napas dalam-dalam, memasang senyum lebar, dan melambai. "Sampai jumpa semua! teriaknya sambil duduk di sebelah Reyhan. "Sore yang sangat menyenangkan."
Reyhan meningkahinya dengan membunyikan klakson beberapa kali, lalu mereka berangkat. Queen menyandarkan kepala di sandaran kursi dan menarik napas dalam-dalam sekali lagi.
Selama beberapa saat Queen merasa bahagia dan tenang sambil mengawasi taman yang lenyap dari pandangan. Tapi ketika masuk ke Blake Avenue, ia tersentak, "Reyhan! Aku nggak ingat alamatnya. Aku nggak tahu kita harus ke mana!"