SETENGAH jam kemudian Reyhan dan Queen masih berputar-putar di seputar Blake Avenue. Queen ingat nama jalan rumah Joe seperti nama pohon, dan band cowok itu berlatih di studio belakang rumah. Tapi ia tidak ingat nomor rumahnya, atau persisnya nama jalan itu.
"lvy itu nama pohon bukan?" tanya Reyhan ketika mereka melewati lvy Street menuju utara di Blake Avenue.
"Bukan," erang Queen. "Nama jalannya bukan lvy. Juga bukan Elm, atau Maple, atau Oak." la menggeleng-geleng."Aduuh! Kok aku bisa lupa nama jalannya sih!"
"Kenapa tidak kautelepon saja dia?" tanya Reyhan sambil berbelok ke Cincinnati Boulevard yang memanjang dari utara ke selatan. "Pasti dia tahu alamatnya sendiri."
Queen tidak mau menelepon Joe dari HP-nya alhadapan Reyhan karena itu pasti bakal sangat memalukan. Tapi ia sudah kehabisan waktu. la harus mengambil tindakan. HP itu ada di saku luar tas gtarnya. Queen bermaksud mengambilnya, tapi ragu-ragu. Pertama-tama, ia harus menelepon lntormasi untuk mencari tahu nomor telepon Joe. Dengan begitu Reyhan bakal tahu ia hendak bertemu siapa. Karena itu Queen memutuskan mencari telepon umum saja.
Tak lama kemudian mereka melewati toko kecil di pojok jalan. Ada telepon umum di depan toko itu. Queen hendak meminta Reyhan berhenti ketika cowok itu membaca sebuah tulisan keras-keras, "Sycamore."
"Itu dia!" seru Queen. "Dia tinggal di Sycamore. Belok!"
"Aku tahu jalan ini," kata Reyhan sambil berbelok ke kanan. Di tepi jalan berjajar pohon-pohon sycamore dan rumah-rumah tua. Rumah nomor berapa?"
"A-aku nggak ingat," kata Queen terus terang
Tapi ada studio kecil di belakang rumahnya."
Rumah keempat punya pondok di bagian belakang. Queen menepuk bahu Reyhan. "Berhenti di sini. Mungkin yang ini."
"Nggak mungkin," kata Reyhan tanpa memperlambat laju mobil. "Itu rumah Joe Strauss."
"Berhenti!" jerit Queen. "Aku menmang mau ke rumahnya."
Reyhan memperlambat mobil dan berbelok ke halaman. la menghentikan mobil kemudian menatap Queen. "Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku kenal Joe. Yang aku nggak tahu dia punya kelompok belajar."
Sebenanya bukan.. bukan kelompok belajar,"
kata Queen tergagap. la bisa merasakan panas menjalar dari leher ke wajahnya ketika tahu kebohongannya terungkap. "Aku bilang begitu karena aku merasanggak enak pada Miss Perkins dan yang lain. Tapi kami memang mau belajar musik. Joe memintaku bermain dengan mereka hari ini. "
Ekspresi Reyhan menunjukkan ia tahu Joe bukan teman biasa bagi Queen.
"Aku mengerti," akhirnya Reyhan berkata. Ia memutar mobil dan menyetirnya kembali ke arah rumah Joe. Mereka tidak bicara. Queen merasa sangat tidak enak. Ia telah berbohong dan sekarang semua terasa canggung.
"Reyhan, terima kasih telah mengajakku piknik. Dan pikniknya sangat menyenangkan," kata Queen sambil keluar dari mobil. la mengambil gitarnya di belakang, kemudian berlari ke sisi kanan mobil. "Aku serius. Aku sangat menyukai keluargamu, dan duniamu yang aneh dan sinting itu."
Perlahan senyum tersungging di bibir Reyhan. Kemudian jarinya menyentuh ujung hidung Queen. "Aku telah menunggu begitu lama, gumam Reyhan. "Dan tiba-tiba-kau ada di hadapanku."
Queen berdiri di pinggir trotoar dan mengawasi Reyhan pergi. Kata-katanya sederhana dan manis, Queen kepingin mendengar lebih banyak. Sayang ia harus latihan. Lagi pula ia sudah terlambat lebih dari satu jam.
Band Side Effects sedang asyik memainkan lagu berjudul White Noise ketika Queen masuk ke pondok yang sudah diubah jadi studio rekaman. Dindingnya dilapisi busa kedap suara. Poster-poster konser terpasang di seluruh dinding, termasuk langit-langit. Satu bagian dinding tertutup poster-poster grup band rock seperti The Who dan The Clash, termasuk toto Jimi Hendrix yang ditandatangani. Empat gitar tergantung di bagian dinding lain di samping berbagai kabel dan dawai gitar.
Sebuah panel penyelaras suara dengan dua komputer memenuhi satu sudut ruangan. Mereka mengambil posisi di depan alat itu: drum Mac Halloway di belakang, Joe dan pemain bass-Charlie Riddle-berdiri di depan dua mikrofon yang menghadap pintu masuk. Speaker berjajar di belakang masing-masing mikrofon dan kotak digital Effects berserakan di kaki para pemain gitar di atas lantai berkarpet.
Queen berdiri sopan di depan pintu dan mendengarkan band itu sampai selesai. Joe melompar, Tangan kanannya berputar dengan indah untuk melakukan petikan terakhir tepat ketika lututnya
menyentuh lantai.
Queen bertepuk tangan sangat keras, terlalu keras sampai-sampai ia merasa kayak orang d***u. Ketika Queen berhenti bertepuk tangan Charlie tertawa. "Hei, akhirnya dia datang juga! Berantakan banget!" la memberi isyarat dengan jempolnya ke arah Joe yang asyik menyetel gitar. Joe sama sekali tidak menoleh ke arah Queen. "Dia sudah mulai khawatir."
Mac Halloway memutar stik drumnya sambil berkata, "Ya, Joe mengira kau nggak bakal datang."
Queen meringis. Berarti cowok itu menunggunya.
"Sori, Joe," kata Queen. "Tadi aku harus pergi ke acara makan siang, trus aku lupa alamatmu dan, yah..." Queen tidak mau menambah datar kebohongannya, jadi ia hanya mengangkat bahu. "Memang aku salah."
"Hei, nggak pa-pa," kata Joe yang akhirnya menoleh kepada Queen. la memainkan sepenggal irama blues. "Yang penting kau datang juga. Sekarang kita bisa nge-jam serius."
"Ya, betul." Queen cepat-cepat membuka tas gitar. Tapi ristleting tas itu macet. Lalu ketika Queen menarik gitarnya keluar dari tas, leher gitar itu mengenai waJan Queen. Queen mengangkat gitarnya, tapi kemudian
menggerutu, "Ya ampun. Aku salah membawa gitar."
Rupanya ia membawa gitar akustik yang sudan usang. Nggak mungkin ia memakainya untuk bermain dengan Side effects. "Aku nggak sempat pulang tadi," katanya sambil cekikikan gugup. "Kalian pasti mengira aku t***l karena membawa gitar seperti ini kemari."
Tolol sih nggak," Joe tertawa kecil. "Mungkin konyol lebih tepat." la berjalan ke tempat gitar-gitar tergantung di dinding dan menarik gitar listrik double Cutaway yang mengilat dengan lapisan kaitnya yang hitam mengilap. "Nah, coba yang ini."
Gibson SG." Queen memasang tali gitar di bahu. Kemudian jemarinya menyusuri leher gitar. "Cantik sekali," katanya sambil mengangguk-angguk.
Queen tidak melihat Joe Sudah memasangkan satu mikrofon lagi untuknya. Ketika berjalan menuju mikrofon Joe, Queen tersandung kabel mikrofon yang baru dipasang Joe. mikrofon itu tumbang dan
Suara berdengung yang memekakkan terdengar dari speaker Kustom PA yang sangat besar. Queen menutup telinganya dan melolong, "Maaf. Maaf."
Sementara Charlie cepat-cepat mengecilkan volume PA tersebut, Joe menegakkan mikrofon kembali.
"Sumpah, aku nggak biasanya begini," kata Queen. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak cekikikan, tapi tidak bisa. Ia terlalu gugup. "Mungkin otakku kurang oksigen, atau semacamnya."
Queen berharap mereka melempar lelucon atau melakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa diterimatapi mereka diam saja. Queen merasa kayak semut di bawah kaca pembesar yang dipegang Mac dan Charlie. Dan mereka mengawasinya
menggeliat-geliut.
Joe menepuk bahu Queen. "Tenang saja, Queen. Kita hanya kumpul-kumpul sambil main musik kok."
Kalau itu benar, kenapa ia merasa sangat tidak nyaman? Queen ingat nasihat Reyhan dan menarik napas doalam-dalam. Tapi kayaknya itu tidak menolong. Joe memainkan nada awal White Noise, lagu yang baru saja dimainkan band itu. Queen berusaha ambil bagian, tapi ia kelewat gugup. Ketika tiba giliran solo, Joe memetik delapan bar pertama kemudian mengangguk kepada Queen untuk masuk, tapi cewek itu ragu-ragu. la melihat Charlie memutar mata ke arah Mac.
Queen yakin mereka pasti menganggapnya pecundang. Keningnya. berminyak karena belum mandi. Bulir-bulir keringat karena gelisah bercucuran dari ketiaknya. Semakin ia memikirkan tentang keningnya yang berminyak dan ketiaknyc yang berkeringat, ia semakin kepingin kabur dari situ.
Tiba-tiba ada nada lain meningkahi permainan musik mereka. Lagu tilm Barney: I love you, you love me. Dan celakanya, lagu itu datang dari HP yang Queen simpan di tas gitar. Queen berusaha mengabaikannya, tapi Charlie dan Joe berhenti untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal.
"Ya ampun! Itu HP-ku." Queen melepas gitar dan berusaha menyandarkannya di sembarang tempat supaya tidak jatuh. "Sebentar, aku angkat dulu."
Queen merogoh saku tas gitarnya sambil menjelaskan, "Kakakku yang memilih lagu ini. Sebagai lelucon. la menarik HP itu dan keluar pondok untuk mengangkatnya. Sambil berjalan ia terus menggerutu pelan, "Akan kubunuh kau, Nick. Kemudian giliran penelepon ini yang akan kubunuh, setelah itu aku akan bunuh diri." Queen menaruh HP kecil berwarna ungu itu di telinganya. "Apa?" bentaknya.
Selama beberapa saat si penelepon tidak menjawab. Tapi akhirnya Ana berkata, "Queen? Kau kenapa?"
Kemarahan Queen langsung sirna. "Tolong aku, Ana! Aku sedang di rumah Joe dan aku harus pergi dari sinil!"
"Tunggu! Coba ulangi," potong Ana. "Katamu kau sedang di rumah Joe?"
"Ya!"
"Seharusnya bagus dong. Itu yang kau mau, kan?"
"Bukan." Queen menutup HP dengan tangan dan merunduk di bawah pagar tanaman, berusaha berdiri aln sejauh mungkin dari pintu pondok. "Nggak sesuai narapan. Aku t***l, nggak bisa nyanyi. Nggak bisa main musik. Aku terus-terusan tersandung."
"Sedikit kecanggungan membuatmu tampak manis."
"Nggak sama sekali, percaya deh. Mac dan
Charlie memandangku seolah-olah aku cewek sinting yang mengganggu latihan mereka."
"Jangan pedulikan mereka," kata Ana. "Bagaimana pendapat Joe?"
"Entahlah, aku nggak pernah tahu apa yang dia pikirkan. Dia itu susah banget ditebak." Queen kembali melangkah ke pondok dan mengintip lewat jendela. Joe sedang berdiri di depan mikrofon, memainkan lagu solo dengan gitarnya. Matanya tertutup, wajahnya menengadah. "Lihat saja, dia
asyik bermain gitar. Aku nggak yakin dia tahu aku sudah nggak ada di dalam."
"Kau pakai baju apa?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Ini pertanyaan penting," jawab Ana. "Mungkin pilihan bajumu salah, membuat dia kurang tertarik."
Queen melihat celana terusan yang dipakainya. Yah, memang baju ini nggak menarik, tapi kayaknya Joe nggak peduli. la mengawasi Joe melatih beberapa gaya panggung, memutar lengan, dan melompat tinggi di udara. "Kalaupun aku telanjang dia tetap saja nggak bakal peduli," katanya.
Ana bersiul pelan. "Wah! Parah betul."
"Memang." desis Queen. "Ana, ini panggilan darurat. Selamatkan aku!"
Aku segera datang," kata Ana. "Kucari dulu kunci mobilku dan memoleskan sedikit make-up."
"Tunggu!" teriak Queen ke telepon. "Kau kan nggak tahu alamat Zhepyr."
Dia tinggal di Sycamore Way," kata Ana.
"Kok kau tahu?" tanya Queen.
"Hei! Bukan kau saja yang pernah naksir dia," kata Ana. "Waktu mendapat SIM, aku lewat di depan rumahnya setiap hari selama sebulan penuh."
"Apa?" Queen terenyak. "Kok kau nggak pernah cerita."
"Banyak hal yang belum kuceritakan kepadamu," jawab Ana. "Tunggu aku sepuluh menit."
Queen menutup telepon dan memberanikan diri kembali ke studio. Bermain musik dengan Side Effects seharusnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi justru seperti mimpi buruk. la cuma ingin pergi dari situ.
Pintu pondok terbuka dan kepala Joe muncul. "Kau boleh masuk lagi kalau mau."
Queen tetap berdiri di bawah pagar tanaman.
"Nggak usah," katanya sambil menggeleng. "Aku lebih suka di sini."
Joe melangkah ke serambi kecil di depan studio. Pintu kasa pondok tertutup di belakangnya. "Kita bisa main lagu lain," Joe mengusulkan.
Queen nyengir. "Rasanya bakal sama saja. Mungkin lebih baik aku mencoba lain waktu saja."
Queen terkejut melihat wajah Joe yang tampak kecewa. "Yah, kalau itu maumu..." la memasukkan tangan ke saku jins. "Nggak pa-pa."
"Trims, Joe," kata Queen sambil sedikit beranjak dari naungan pagar tanaman. "Aku akan pergi setelah kau memberikan gitar dan hidung badutku."
Kali ini Joe mengejutkannya dengan ketawa sangat keras. "Itulah yang aku suka darimu," kata Joe sambil menggeleng-geleng kagum. "Kau lucu!"
Mulut Queen ternganga. Ketika ia mengira dirinya tak punya kesempatan lagi mendapatkan Joe cowok itu malah memberinya pujian yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan musik. Hari ini benar-benar penuh kejutan.