Rumah Joe

1677 Words
NEESHA sampai di rumah Joe dua puluh menit kemudian dengan VW Bug hijau limaunya. TernyatabAna mengajak Andyn. Kedua cewek itu nggak sabar ingin mendengar cerita Queen. Queen duduk di kursi belakang dan menaruh gitarbdi sampingnya, kemudian bersandar sambil berpikir. la tidak mau memberitahu soal pikniknya bersama Adam. Andyn mungkin bakal mengerti, tapi Ana tidak. Jadi ia hanya menceritakan latihan musiknya dengan Joe yang penuh bencana tadi, bagaimana ia menjatuhkan mikroton dan mengejutkan semua orang. "Nah, ini bagian paling parah," kata Queen. "Aku menghitung kata yang diucapkan Joe padaku sejak aku datang sampai pergi. Jumlahnya hanya 35." "Tiga puluh lima!" cetus Ana. "Itu jumlah kata yang kucaapkan hanya dalam satu kalimat." "Kalau kau sih bisa sampai lima puluh," kata Andyn. "Enak saja. Aku nggak secerewet itu. "Ah, masa…" Mulut Ana menganga. "Queen? Kau dengar nggak Andyn mengataiku!" "Cukup, " kata Andyn sambil menoleh ke belakang. "Kita kan mau mendengar cerita Queen. Nah, bagamana caranya mendapatkan Joe kembali?" Queen mengerutkan kening. "Aku nggak pernah bilang akan kehilangan dia. Aku hanya merusak latihan kami dengan bandnya." Dengan gugup Andyn menggigiti bibir bawahnya. "Itu bisa jadi masalah, karena musik adalah dunia Joe. "Musik!" jerit Ana. "Queen bisa mendapatkan Joe kembali di The Battle of the Bands." "Apa katamu?" Queen memajukan tubuhnya di antara kursi depan. "Aku tidak sedang berusaha mendapatkan siapa pun." "Oh ya? Bagaimana dengan permainan Truth or Dare kita?" tantang Ana. "Bagaimana dengan suratmu?" "Kau nggak ingat ya, tukang pos mengantar suratnya ke orang yang salah" kata Queen sambil memukul bagian belakang kursi Andyn. Andyn berbalik. "Aku kan sudah minta maaf. Akunggak bermaksud memberi surat itu kepada siapa namanya Run?" Queen menggeleng. "Adam. Adam Lockhart." Andyn menjentikkan jarinya. "Betul. Cowok cakep yang aneh." "Bukan aneh," koreksi Queen. "Dia hanya berbeda. Dan sangat cakep." "Apa?" Ana menghentikan mobil mungilnya di pinggir jalan dengan suara berdecit. la mematikan mesin dan memasang rem tangan. "Aku nggak mau jalan kalau kau menggunakan istilah 'sangat cakep' untuk cowok siapa-pun-namanya itu." "Adam." Queen bersidekap dengan gaya menantang. "Namanya Adam." "Ya, Adam." Ana berputar di kursinya dan menatap Queen. "Oke, ceritakan." "Nggak ada yang harus kuceritakan," Queen berbohong untuk ketiga kalinya hari itu. Sekarang ia jadi pintar berbohong. "Oh, gitu ya. Apa kau sudah bilang kepada Adam bahwa surat itu Salah Alamat?" "Waktunya belum tepat," gumam Queen. Ana menyipitkan mata dan mempelajari wajah Queen. "Kayaknya dia tidak menceritakan semuanya kepada kita, Andyn. Bagaimana menurutmu?" "Kemarikan telapak tanganmu. Andyn memegang tangan kiri Queen dan membaliknya. "Sudah saatnya kita pakai alat pendeteksi kebohongan. Queen mengerang dan berusaha menarik, tangan nya lagi. "Aduh, nggak mau. Jangan berlagak jadi Madame Annda deh. Sejak kapan kau memulainya kelas tujuh?" "Betul" kata Ana sambil mengintip telapak tangan Queen dari balik bahu Andyn. "Dia bisa melihat dan bisa tahu semua hal. Dan sudah lama dia nggak membaca telapak tangan kita." Andyn menekan tangan Queen dan mempelajari garis-garisnya. Kemudian ia membalik tangan itu dan melihat garis-garis di kelingkingnya. "Menarik," gumam Andyn sambil membalik telapak Queen sekali lagi. "Sangat menarik." "Apa yang kaulihat?" tanya Queen, membungkuk ke depan. "Kasih tahu dong." "Yah, kabar baiknya kau akan jadi orang yang sangat terkenal dan kaya raya," kata Andyn. "Kau lihat dari mana? tanya Ana. "Aku nggak lihat ada tanda dolar di sana." Andyn menunjuk garis lurus yang memanjang ke bawah dari jari manis. "Garis yang dalam dan menyilang di dasar telapak ini artinya Queen bakal tenar karena bakatnya yang luar biasa." Ana mengintip tangan Queen. "Itu ya arti garis kecil mungil ini? LUar biasa," Andyn menggoyang-goyangkan ibu jari Queen. "Jempoinya kaku, yang berarti dia sedikit keras kepala dan suka tidak mau berterus terang." "Nah!" jerit Ana. "Betul, kan!" "Hei, jempolku nggak kaku kok," protes Queen. "Bisa kugoyang-goyang. Lihat, kan?" la memberi contoh dengan memutar ibu jarinya. "Dan aku nggak sekeras kepala itu." Ana mengangkat jempolnya. "Coba lihat punyaku." Andyn mencoba ibu jari Ana. "Hm-hmm. Seperti dugaanku." "Apa?" Ana tampak waswas. "Jempolmu sangat mudah digerakkan," kata Andyn. "Artinya kau orang yang spontan." Ana menaruh satu tangan di d**a dan mengerjap-ngerjapkan bulu matanya. "Spontan? Aku?" Queen tertawa. "Kau orang paling spontan yangpernah kukenal." Ana menyembunyikan tangannya di balik punggung dan berkgita kepada Andyn, "Coba ceritakan lebih banyak tentang Queen dan rahasia-rahasia yang dia sembunyikan dari kita." Andyn menelusuri garis dari pangkal ibU jari sampai jari-jari Queen. "Garis ini menyilang. Artinya dia dicintai dua cowok." "Kau serius ?" Queen mengangkat tangannya ke depan hidung. "Memang itu artinya atau kau hanya mengarang saja?" Madame Annda nggak pernah mengada-ada, Kata Andyn dengan logat gipsi yang kental. "Dia hanya mengatakan apa yang dilihatnya." Queen mempelajari telapak tangannya. Mungkinkah Joe dan Adam sama-sama menyukainya? la menyorongkan tangannya ke wajah Andyn. "Coba kaubaca bagaimana akhirnya nanti." Andyn mendecakkan lidah kemudian menggeleng. "Arti garis kecil di atas ini nggak terlalu bagus." "Kita mati?" jerit Queen Andyn tetawa. "Tentu saja kau nggak mati.Tapi salah satu cowok itu harus pergi. "Kau tahu dari mana?" tanya Ana. Tahu saja." Andyn menaruh satu tangan di pinggunya. Memangnya pernah cinta segitiga berakhir bahagia?" Ana berpikir sejenak. "Eh.. nggak pernah" "Betul," kata Andyn. "Nggak pernah. Nol." "Cinta segitiga," ulang Queen menelan ludah. "Menurutku kau mengambil kesimpulan terlalu jauh." la kan hanya pergi berpiknik dengan Adam dan latihan musik dengan Joe. Andyn mempelajari telapak tangan Queen sekali lagi, kemudian wajahnya cerah. "Garis nasibmu, garis kecil yang melintang dari pangkal telapak tangan ke arah atas ini, menunjukkan kau akan menemukan kebahagiaan yang tak diisangka-Sangka." Queen menyeringai. "Aku suka tuh." Kau memang jago meramal," gumam Ana sambil menggeleng kagum kepada Andyn. "Nggak diragukan lagi." Andyn membalik tangan Queen untuk melihat pergelangan tangannya. "Dan kau sangat sembrono." "Kok kau bisa tahu?" tanya Queen. "Lihat." Andyn menunjuk noda kuning di gelang manik-manik Queen. "Ada bekas tumpahan mustar disitu." Queen langsung menarik tangannya kembali. "Aku makan siang sambil piknik tadi. " "Kau piknik dengan Joe?" Ana terenyak. "Nggak juga," kata Queen. la merasa ibu jari" introvert nya berdenyut. "Aku, eh, makan dulu sebelum pergi ke rumahnya." "Hmm.." Ana menatap Queen tajam. "Coba kuulangi penatsiran telapak tanganmu. Queen suka tidak mau berterus terang dan keras kepala, dan ada dua cowok yang SUKa padanya-tapi salah satu dari mereka harus mundur." la melirik Andyn. "Kita tahu siapa yang harus mundur." Kemudian Ana menatap Queen. "Tapi peduli amat! Kau toh bakal kaya dan terkenal!" "Asyik!" Queen melayangkan dua tinjunya di udara dan tanpa sengaja menghantam kap mobil. "Aduh!" "Hei, hati-hati dong!" Ana mengingatkan. "Jangan khawatir, Ana," canda Andyn. Kalau mobilmu sampai rusak, dia bisa menggantinya. "Betul." Ana tersenyum lebar. "Nah, karena kau bakal jadi orang sangat kaya, berarti kau bisa membayariku ke acara dansa The Battle of the Bands." Queen menyorongkan telapak tangannya ke depan Ana. "Bicara saja pada telapak tanganku aku nggak dengar." Tiba-tiba Andyn memegang perutnya. "Kalian derngar nggak? Perutku keroncongan. Kita harus putar balik dan beli makanan di Cactus Jack's. Aku kepingin banget makan burger sayuran. Tapi jangan bilang Chris, ya. Dia sangat nggak suka makanan cepat saji." Ana menggeleng. "Aku nggak mau pergi ke mana-mana sampai Miss Jempol Kaku ini cerita pada kita tentang Adam Lockhart." "Oh, jadi sebenarnya kau tahu nama dia," kata Queen sambil menunjuk Ana penuh tuduhan. "Kau hanya berlagak." "Adam Lockhart selalu duduk di belakangku di kelas yang gurunya mempunyai aturan agar kami duduk berdasarkan abjad," jawab Ana. Kemudian ia meniru guru membacakan nama dari daftar absen: "Ana Kelly. Adam Lockhart. Sara Long." Queen bersandar di kursi belakang. "Lucu," katanya sambil berpikir-pikir. "Aku nggak pernah sekelas dengan Adam." Ana mengibaskan tangannya. "Memang nggak mungkin. Dua tahun pertama dia mengambil semua mata pelajaran persyaratan, seperti Pahat Logam dan Seni." "Apa lagi? tanya Queen, yang baru sadar baga mana bisa ia bertemu Adam di lorong sekolah jika anak itu menghabiskan waktunya di gedung seni. Ana mengangkat bahu. "Mana aku tahu Lagi pula, apa pedulimu? Adam bukan cowok yang cocok untukmu. Kau setuju, kan? Kenapa sih dia selalu pakai topi itu?" Karena Queen tidak segera menjawab, Ana mengulangi pernyataannya. "Kau dan Joe pasangan serasi. Ya, kan?" "Ya." Queen nggak kepingin berdebat dengan Ana. Ana selalu mengingatkannya pada bencana alam, seperti tsunami atau angin topan. Sekali memutuskan ia akan berpegang teguh pada keputusannya itu dan menumbangkan orang yang menentangnya. Lagi pula Queen kepingin nmenyimpan perasaannya pada Adam untuk dirinya sendiri. la tidak mau Ana dan Andyn memengaruhinya untuk melupakan Adam sebelum hubungan itu sendiri memiliki kesempatan untuk dimulai. "Makan!" erang Andyn dari kursi depan. "Aku perlu makan. Sekarang!" Raungan Andyn yang menyayat hati membuat Ana melupakan kisah cinta Queen sebentar, Andyn," seru Ana sambil menghidupkan mesin dan menginjak pedal gas kuat-kuar sampai ban mobilnya mengeluarkan bunyi decitan. "Kita ke Cactus Jack's." Mereka masuk jalur drive-through Cactus Jack's, kemudian menuju mal. tashion á la Carte sedang menggelar diskon dan Ana kepingin beli baju baru untuk dikenakan ke acara dansa The Battle of the Bands. Queen ikut saja tapi hanya setengah menyimak percakapan Ana dan Andyn tentang rencana mereka untuk malam dansa tersebut. Berjam-jam kemudian ketika Ana mengantar Queen pulang, Queen melihat sesuatu yang tidak diperhatikan Ana. Sehelai kertas ditempelkan di pintu depan rumahnya. Kertas itu dilipat dalam bentuk burung, jadi Queen tahu siapa yang menempelkannya di situ. Queen berdiri di depan pintu, menunggu sampai Ana dan Andyn pergi. Kemudian hati-hati ia membuka lipatan kertas berbentuk merpati putih kecil itu: Kepada Yang Berkepentingan: 1. Sejak kita pergi piknik a. aku nggak bisa berhenti memikirkanmu b. aku nggak bisa berhenti bersendawa (siapa sih yang bikinsandwich itu?) C. aku berhenti berpikir dan mulai bernyanyi 2.Waktu aku menurunkanmu di rumah Joe untuk latihan musik, aku a. bangga padamu b. cemburu pada Joe C. Derpikir untuk bergabung dengan band itu. Perlu pemain rebana? 3. Aku sadar kita belum saling mengenal. Aku kepingin a. mengenalmu lebih jauh b. sering-sening bertemu denganmu c. lebih sering lagi bertemu denganmu 4. Sebagai kelanjutan nomor 3, sedang apa kau a. saat ini? b. seumur hidupmu? C. saat makan siang hari Senin? Mau pergi denganku? Kalau kau bisa, aku tunggu di lapangan parkir Senin siang. Aku naik minivan biru dengan senyum menghiasi bibirku. Adam Queen melipat surat itu dan memasukkannya ke Saku. la harus berterus terang kepada Adam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia akan bertemu Adam sekali lagi, kemudian mengaku. Setelah itu apa pun yang terjadi terserah poada takdir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD