SAAT bel makan siang hari Senin Queen cepat-cepat pergi ke loker dan menjejalkan buku-bukunya di sana. la merasa seperti kriminal karena mengendap-endap seperti ini. Andyn dan Ana sama sekali tidak tahu kencannya dengan Reyhan. Ini rahasia Queen.
Dengan gugup Queen melirik lewat bahunya, karena tahu Ana bisa saja tiba-tiba muncul dan berteriak, "Bilang yang sebenarnya kepada Reyhan. Surat itu bukan untuknya!"
Tepat ketika Queen keluar dari gedung sekolah, terdengar suara mesin dihidupkan dalam barisan mobil di pinggir jalan dan Queen melompat. Suaranya kayak truk. Bagaimana kalau itu Joe? Apa yang bakal dipikirkannya kalau melihat Queen masuk ke mobil Reyhan Lockhart? Apakah itu akan memduainya kehilangan peluang untuk dekat dengan cowok itu dan bandnya?
Queen meniup poninya. "Yang benar saja," gerutunya pelan. "Joe selalu dikelilingi cewek-cewek. Jadi boleh dong aku pergi makan siang dengan cowok lain."
"Kau bicara sendirian?" sebuah suara berat terdengar di sampingnya.
"Mr. Cooper!" seru Queen kepada seorang laki-laki tinggi berkulit hitam yang berdiri di sebelahnya. "Aku tadi tidak melihat Anda."
"Aku kepingin menyampaikan berita baik ini secara langsung," kata Mr. Cooper sambil menarik kacamata hitamnya ke ujung hidung. "Kau terpilih ikut lomba sebagai pemain solo di The Battle of the Bands."
"Asyik!" Queen mengayunkan tinjunya ke udara. "Hebat sekali."
"Tidak diragukan lagi," kata Mr. Cooper. "Kaset demomu sangat bagus. Mampirlah di ruang musik nanti sore, aku akan memberitahu jadwalmu untuk lomba nanti." la memberi Queen tos, kemudian berjalan kembali ke arah gedung sekolah.
Mr. C benar-benar guru menyenangkan, pikir
Queen sambil mengawasi guru itu menjauh. "Duh, aku senang sekali!" seru Queen Sambil mengangkat kedua tinju di atas kepalanya.
Ketika itulah Reyhan menghentikan minivan-nya di Tepi jalan. la membuka jendela mobil dan berkata, "Coba kutebak-akulah raja dunia. Betul, kan"
Queen menatap Reyhan bingung.
"Dari tilm Titanic," Reyhan menjelaskan. "Leonardo Dicaprio mengangkat tangannya dan berteriak, 'Akulah raja dunia!' "
Kepala Queen tersentak ke belakang, ngakak. "Itulah yang kurasakan. Reyhan, aku punya berita luar biasa! Aku terpilih ikut The Battle of the Bands."
"Selamat! Ini harus dirayakan." Reyhan meraih pintu penumpang dan membukanya. "Ayo masuk."
Queen melompat masuk dan tidak mau membuang-buang waktu untuk mengkhawatirkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain. la tidak peduli
jika Andyn, Ana, atau Joe melihatnya. la sedang melayang ke langit ketujuh. Dan tak ada yang bisa merampas itu darinya!
Reyhan menyetir mobilnya keluar dari kawasan perumahan di seputar sekolah menuju pusat Wheaton. Ketika berbelok ke Calumet Avenue .menuju Hyde Park, diam-diam Queen mengawasinya. la sudah mulai terbiasa dengan pakaian Reyhan-kemeja putih rapi, dasi hitam, dan topi. Hari ini ia menambahkan rompi yang membuatnya tampak sangat menarik.
Queen memikirkan surat yang salah kirim itu. la tahu ini saat yang tepat untuk memberitahu Reyhan apa yang sebenamya tejadi. Tapi Reyhan sangat manis…. dan baik. Mana mungkin Queen menyakitinya Mungkin lebih baik Reyhan tidak pernah tahu surat itu suratkan untuknya?
Queen masih terus mempertimbangkan masalah itu ketika mereka berhenti di depan bangunan tua yang elok dan terbuat dari batu granit. Di bagian depan gedung ada tiga jendela melengkung, dan pintu depannya terpasang di tengah-tengah lengkungan. Patung-patung kecil dewa-dewi Yunani memenuhi ceruk dalam dinding di antara lengkungan-lengkungan itu. Sangat menawan tapi juga sangat ketinggalan zaman.
"Selamat datang di Hyde Park Manor," kata
Reyhan, berjalan di depan Queen menuju lobi. "Nama yang keren untuk tempat tua berangin ini."
Queen merasa terlempar ke masa lalu. Karpetnya yang sudah usang di beberapa tempat terbuat dari wol berpola indah dan berwarna merah tua. Dindingnya dilapisi kayu walnut gelap yang memberi kesan hangat. Meja resepsionis mewah diletakkan di seberang lift, di belakangnya ada ceruk-ceruk dalam dinding berbentuk kotak yang terbuat dari kayu. Masing-masing kotak diberi label nama penghuni. Beberapa kotak penuh majalah dan surat. Tanaman pakis dalam pot tembaga diletakkan di sekeliling lobi.
Reyhan masuk lewat pintu ayun ke ruang resepsionis dan menepuk bel di atas meja. "Ini tempat bekerjaku ," katanya. "Setiap sore dari jam 15.30 sampai jam 18.00."
"Sebagai pengangkut barang?" tanya Queen. Tangannya menelusSuri gambar lambang yang menghiasi pintu lift. "Atau sebagai penjaga pintu?"
Reyhan mengambil seragam merah marun yang tergantung di gantungan mantel kayu di belakang meja dan memakainya. Ada tanda pangkat keemasan di bahu dan jalinan renda di keliman lengan. Reyhan berpose, kemudian katanya, "Aku menjadi pengangkut barang, penjaga pintu, penerma tamu, operator telepon, tukang ledeng, dan-kalau diperlukan-pengantar piza juga." Kemudian ia melepaskan jaket seragam dan menggantungkannya kembali. "Tapi hari ini aku hanya seorang Reyhan Lockhart, cowok dengan sebuah misi: makan siang."
Reyhan melompati meja dan menekan tombol di samping lift. la nyengir ke arah Queen. "Kau siap ditraktir makan?"
Queen tersenyum. "Aku selalu siap ditraktir."
"Ayo kita naik Wonkavator ke ruang makan di
atap gedung," kata Reyhan.
Seperti mengerti perkataan Reyhan, lift mengeluarkan bunyi "ting", kemudian pintunya terbuka. Mereka melompat masuk dan Reyhan menekan tombol angka 5.
Ketika lift mendesing naik Reyhan bersandar santai al dinding sambil tersenyum kepada Queen. Queen berandar di seberang Reyhan dan balas tersenyum. Satu hal yang pasti: berkencan dengan Reyhan selalu penuh petualangan.
Ketika pintu litt terbuka Reyhan menjelaskan, "Kita sekarang berada di lantai teratas Hyde Park Manor." la memberi isyarat dengan tangannya ke arah lorong sempit. Di sana ada dua pintu apartemen bernomor 5A dan 58. "Ini tempat tinggal George dan Dolly. Mereka mendapat apartemen penthouse."
"Penthouse? Mewah sekali," kata Queen.
"Mungkin mewah kalau di titth Avenue New York. Tapi kalau di Hyde Park Manor, Wheaton, Ohio, 'penthouse' berarti lantai paling atas. Ayo." Reyhan meraih tangan Queen dan menariknya ke pintu besi berat di samping kiri lift. Di atas pintu tertempel pelat bertuliskan ARAH MENUJU ATAP. Di bawahnya tertulis dengan hurut lebih kecil, HATI-HATI: PINTU AKAN MENGUNCI OTOMATIS JIKA DITUTUP.
"Jangan takut," kata Reyhan. "Aku bawa kunci."
Mereka terus berpegangan tangan ketika menaiki tangga menuju atap. Queen harus mengakui cirinya senang berpegangan tangan dengan Reyhan seperti itu.
Mereka keluar ke atap gedung lewat pintu besi lain. Permukaan atap terbuat dari aspal dan kertaster. Ada empat cerobong asap tinggi dari batu bata dengan antena TV usang mencuat seperti rumput liar. Sebagian besar antena patan karena tertiup angin. Besi dan kabel-kabel antena menjuntai di satu sisi cerobong. Atap itu sendiri dikeliling!
tembok setinggi satu meter sebagai págar pelindung. Patung penyemprot air berbentuk burung pemangsa yang aneh bertengger di dinding setiap sudut gedung.
Sebuah meja kecil yang dihiasi taplak bercorak bunga-bunga model kuno terpasang di tengah-tengah. Kotak makan siang kanak-kanak diletakkan di
depan masing-masing kursi.
"Reyhan!" Queen menyatukan tangannya. "Kau yang mengatur semua ini?"
"Makan malam untuk dua orang," kata Reyhan.
Queen cepat-cepat memeriksa kotak-kotak makanan itu. "Kotak makan Batman itu boleh buatku, ya."
"Oh, tentu," jawab Reyhan dengan logat Prancis. la menarik kursi untuk Queen. "Apa pun untuk Anda, Mademoiselle."
"Merci beaucoup," jawab Queen, berusaha menggunakan logat Prancis nya yang terbaik. "Vous êtesun vrai gentil homme."
"Apalah artinya itu," canda Reyhan. la mengibaskan serbet kotak-kotak merah-putih dan menaruhnya di pangkuan Queen. Kemudian ia menarik kursinya sendiri dan duduk. "Kaulihat kan, betapa baiknya
aku?" katanya sambil membuka kotak makan plastiknya yang mengilap. "AKU nggak protes kau mendapat kotak makan Batman sementara aku mendapat Barbie."
"Aku nggak penah suka Barbie," aku Queen. "Waktu teman-temanku main boneka, aku bermain Ninja Turtle."
Reyhan menjentikkan jari. "Seharusnya aku tahu. Tapi pilihanku terbatas-Barbie atau Incredible Hulk. Tapi laki-Haki besar hijau itu membuatku takut."
"Dasar penakut!" canda Queen sambil mengintip isi kotak makan siangnya. Ada apel, Sandwich mentega kacang dan jeli, sekotak keripik jagung. dan sekotak s**u. "Makanan kesukaanku," gumamnya. "Sempurna."
"Mengingatkanku pada hari-hari bahagia di sekolah dasar," kata Reyhan sambil menyesap susunya. "Saat itu masalahmu hanyalah kepingin mendapat giliran pertama bermain ayunan, atau takut nggak terpilih untuk bermain kickball."
Queen menggigit sandwich dan mengunyah sambil berpikir. "Jadi, apa yang kau khawatirkan sekarang ini?"
Reyhan menjawab tanpa ragu-ragu. la menandakan setiap jawabannya dengan satu jari. "Pemanasan global, perdamaian dunia, kelas Sejarah Seni-ku, dan kau." Kemudian ia menggigit apel dan mengunyahnya beberapa saat. "Maksudku, kau sering mengganggu pikiranku--preoccupier."
"Memangnya ada istilah preoccupire?" tanya Queen cekikikan.
"Tentu saja," jawab Reyhan dengan tampang serius. "Ada di dalam kamus, seperti juga kata-kata hebat yang bersitat menjelaskan, seperti tantabulous dan Scrumdiddliumptious."
Queen menggigit apelnya. "Kalau aku, aku mengkhawatirkan masa depan. Contohnya, kita harus membuat keputusan yang tepat, dan hal-hal seperti itulah." Queen tak pernah menyadarinya sampai ia mengatakan hal itu. Kekhawatirannya bukan hanya tentang universitas dan karier, melainkan juga tentang kehidupan romantisnya.
"Aku selalu bilang, kita harus ambisius. Shoot to the moon," kata Reyhan sambil mendorong kursinya dan bersandar di pipa AC.
Queen berhenti mengunyah. Kata-kata Reyhan mirip dengan yang ditulisnya di batu Signature Hill. la jadi kepingin tahu apa pendapat "Madam Annda" mengenai hal ini.
"Itu yang sedang aku coba lakukan," tambah
Reyhan.
Queen mengangguk sambil melicinkan lipatan serbet di pangkuannya. "Kadang-kadang sulit melakukannya."
Reyhan membiarkan kursinya maju ke depan. "Miss Perkins selalu bilang, tidak mudah mendapatkan sesuatu yang berharga."
"Miss Perkins," ulang Queen. "Ada di mana dia sepertinya nggak ada orang di Hyde Park Manor?"
Reyhan melompat dari kursinya. "Untung kau mengingatkanku." la berlari ke patung burung di sudut utara gedung."Kemarilah, akan kuperlihatkan di mana mereka."
Sebuah teleskop dipasang di atas penyangga kaki tiga, di samping patung burung. Queen tidak melihat teleskop itu sesampainya di atap tadi. Reyhan mengintip lewat lensa, mengatur tombol tokus sebentar, dan memberikannya pada Queen. "Di sebelah sana. Lihat?"
Queen menutup satu mata dan mengintip ke dalam lensa dengan mata yang lain. "Aku melihat mobil-mobil dan gedung tua Woolworth."
"Luar biasa," kata Reyhan. "Ada yang lain?
"Orang-orang. Orang-orang tua, tambahnya. "Di lapangan parkir di depan gedung Woolworth."
"Ada yang kaukenal?"
"ltu George. Aku mengenali tongkatnya. Dan Miss Perkins. Dia sangat tinggi dan kurus. Alberto dan Dolly. Mereka membawa sesuatu. Seperti.. ember."
Kalau Vivian?" tanya Reyhan. "Di mana dia?"
Di pojok. Berjaga-jaga." Queen mengangkat kepala dan napasnya tersentak. "Art Attack. Mereka sedang membuat luukisan dinding lagi."
"Aku nggak tahu apa-apa Iho," kata Reyhan sampai dia mengangkat kedua tangannya dengan wajah tak berdosa yang dibuat-buat. "Yang aku tanu, mereka pergi ke taman untuk latihan melukis."
"Yang betul adalah mereka pergi ke lapangan parkir." Queen mengintip kembali ke dalam teleskop. "Ya ampun. Mereka melakukannya di Siang bolong."
"Terpaksa," kata Reyhan nyengir. "Seniman tua seperti mereka mana bisa melihat dalam gelap?"
"Ajak anjing penunjuk jalan saja," Queen terbahak. "Dia bisa menggonggong kalau mereka melukis keluar garis."
Reyhan tertawa sambil memutar teleskop ke arah lain. "Coba lihat. Ini mahakarya pertama kami."
Queen mengintip lewat teleskop lagi. Awalnya ia mengira Reyhan salah mengarahkan teleskop karena ia melihat daun pepohonan yang indah berguguran. Daun-daun keemasan yang halus berjatuhan di sekitarnya dan menutupi tanah hutan. Beberapa detik kemudian Queen menyadari bahwa daun-daun yang berjatuhan itu tidak bergerak. Lukisan dinding itu tampak seperti nyata. Keren banget," gumam Queen
"Nah, sekarang lihat ke arah timur," kata Reyhan sambil memutar bahu Queen ke kanan. Di dekat jalan bebas hambatan berdiri gedung Red Top Brewery yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai.
Pada dinding-dindingnya yang terbuat dari batu bata terlukis jendela bertirai serta pot bunga dan kucing di ambangnya. "ltu ide Dolly. Dia suka jendela."
Pelan Queen memutar teleskop. la melihat bulan dan bintang-bintang di Atomic Caté, kebun bunga di samping garasi, dan danau penuh perahu layar di samping supermarket. Queen melihat lukisan besar di mana-mana. "Reyhan! Aku bisa melihat semua lukisan dinding kalian dari sini. Rasanya seperti melihat galeri seni."
Reyhan menyentuh hidungnya dan menunjuk Queen. "Sama persis seperti ucapan Dolly. Galeri Seni Hyde Park."
Queen melipat tangannya dan bersandar di dinding atap sambil menyaksikan pemandangan di depannya. "Sebenarnya kota kita jadi. cantik karena lukisan kalian!"
Reyhan bersandar di samping Queen, berpangku tangan. "Aku kepingin terus berada di sini, tapi kita harus kembali." la menepuk jam tangannya. "ke Wheaton High."
Mereka merapikan kotak makan siang, kemudian Reyhan menyetir kembali ke sekolah. Ketika sampai di Ohio Avenue, mereka melewati Harpo's. Queen menaruh tangannya di atas dasbor. "Belok sini!" perintahnya. "Belok!"
Reyhan membelokkan mobil ke Bramble Lane. "Kemana?" Reyhan tanyanya tanpa mengedip.
"Ke tempat para kurcaci. Kita lihat Doc sedang apa," kata Queen. la menaikkan lengan baju putih. Reyhan yang kaku untuk melihat jam. "Lihat, kita masih punya waktu."
Reyhan memarkir mobilnya beberapa rumah dari pondok kuning mungil itu. "Jangan terlalu mencolok," jelasnya. Kemudian mereka berjalan santai. Setelah yakin tak ada orang yang melihat, mereka bergegas melintasi halaman menuju hutan kecil di belakang pondok. Queen sampai di sana lebih dulu.
"Reyhan! Lihat!" bisiknya sambil berlutut di ujung hutan. "Doc sudah pindah!"
Patung keramik orang kerdil berkacamata itu sudah tak lagi berdiri di dekat air terjun. Dia sudah pindah ke samping patung perunggu gadis yang duduk di bangku.
Reyhan berlutut di samping Queen. "Bertahun-tahun dia mengagumi Snow White dari jauh," bisiknya. "Sekarang Doc sudah bisa mengumpulkan keberanian untuk bicara padanya."
"Apa yang dikatakannya?" tanya Queen.
"Sebentar.." Reyhan mengelus dagunya dan bicara dengan suara berat, menirukan Doc. "Miss White, Aku tahu kau punya banyak pengagum dan aku hanyalah salah satu dari tujuh. Tapi akan ada pesta dansa di sekolahku dan aku sangat senang jika kau mau pergi denganku."
"Pesta dansa, ya? Queen memiringkan kepala memandang Reyhan. "Dan apa jawaban Snow White?"
Reyhan menoleh menatap Queen. "Dia bilang, tentu aku mau pergi denganmu. Dan setelah aku menang di The Battle of the Bands, aku milikmu."
Queen mengangkat sebelah alisnya. "Snow White benar-benar pede."
Reyhan mengangkat bahu. "Sudah sepantasnya." "Dia berbakat, cantik, dan.. aku sudah bilang berbakat, ya."
Pohon-pohon berdesir, Queen dan Reyhan merunduk di bawah pagar. "Apakah Doc mendengar suara kita?" bisik Queen.
"Kayaknya dia nggak peduli," sahut Reyhan sambil mengintip ke jeruji pagar. "Dia terlalu gugup. Snow White belum menjawab pertanyaannya."
Queen menghela napas dalam-dalam. Acara The Battle of the Bands tinggal beberapa hari lagi. la tak pernah berpikir untuk menghadiri acara dansanya. la terlalu sibuk memikirkan dirinya bermain musik di sana. "Snow White perlu waktu untuk memikirkan jawabannya, " kata Queen. "Dia mungkin terlalu gugup memikirkan kompetisí itu."
Reyhan mengangguk, kemudian meraih tangan Queen dan berkata, "Kalau begitu Doc ingin mengubah pertanyaannya. Maukah Miss White pergi tamasya melukis hari Rabu? Kira-kira jam empat?"
Queen berbisik, "Miss White mau banget."
"Doc senang," Reyhan balas berbisik.
Mereka diam tak bergerak, seperti dua patung di kebun kecil itu. Queen sulit bernapas karena wajah Reyhan hanya beberapa senti dari wajahnya. Dan pikirannya terus-menerus bertanya, Kenapa kau tidak menciumku?
Reyhan memajukan tubuh dan Queen memejamkanmata, menunggu.
"Grrr-guk-guk!" tiba-tiba suara gonggongan anjing pemburu dari sisi lain pagar terdengar seperti ledakan. Mereka menjerit dan terjengkang ke belakang.
Anjing itu berlari ke arah mereka dengan gonggongan semakin menggila.
Mereka berlari meninggalkan pagar memegangi perut sambil tertawa. Queen dan Reyhan masuk ke dalam minivan dan bergegas kembali ke sekolah. Tapi sebentar-sebentar tawa mereka meledak, mengingat The Hound of the Baskervilles yang tiba-tiba muncul di pagar.
Seharusnya itu menjadi kencan yang sempurna jika tidak ada sosok berbaju merah menunggu di lapangan parkir sekolah ketika mereka sampai.