Makan Siang Kedua With Reyhan

1822 Words
"DARI mana saja kau?" sembur Ana seraya menghampiri Queen di pintu kiri mobil. Queen pura-pura tidak mendengar. "Kau sudah kenal Ana kan, Reyhan?" tanyanya kepada Reyhan. "Dia dipilih menjadi Ratu Judes oleh murid-murid Wheaton High." "Maaf, Reyhan," kata Ana sambil mengulurkan tangan melewati Queen untuk tos dengan Reyhan. "Aku agak terlalu bersemangat hari ini. Apa kabar?" "Sangat baik," jawab Reyhan. Andyn tiba-tiba muncul di Samping Ana dan menyorongkan wajahnya lewat jendela. "Hai, Reyhan. Kau kenal aku, kan-Andyn." "Tentu aku kenal kau," Kala Reyhan sambil mengangkat topinya sedikit. Ana menarik pintu mobil sampai terbuka dan kembali marah-marah. "Lima puluh lima menit terakhir ini aku dan Andyn mencari-carimu di seluruh sekolah. Kau dari mana?" Queen melompat keluar dari minivan dan menjawab lugu, "Aku dan Reyhan keluar makan siang." "Oh?" Ana mengangkat alisnya penuh makna. ia merendahkan sucara dan berbisik, "Kau sudah memberitahunya?" "Belum," jawab Queen tegas. la menutup pintu mobil dan segera mengganti topik pembicaraan. "Jadi. ada apa sih ribut-ribut?" "Yah, waktu kau menghilang tadi, Joe mencari-carimu," Ana menjelaskan. "Joe" Dengan panik Queen melirik Reyhan yang berjalan memutari mobil. "Dia mau apa?" "Dia mau kau bergabung dengan Side Effects." Mata Queen terbelalak terkejut, "Nggak mungkin!" Ana mengangguk. "Mungkin." "Itu sesuatu yang baik" tanya Reyhan. la memperhatikan Queen dengan sungguh-sungguh untuk melihat reaksi cewek itu. "Ya iyalah!" Ana berkacak pinggang dan menggoyang-goyangkan kepalanya. "Side Effects grup band paling bagus di Wheaton." "Aku tahu," kata Reyhan. "Tapi Queen bisa menyanyi solo. Dia cukup bagus." Ana menghela napas gusar. "Kalau Queen kepingin terpilih ikut kompetisi di The Battle of the Bands, dia harus…" "Aku sudah terpilih," kata Queen sambil menutup mulut temannya itu. "Mr. C memberitahuku sebelum makan siang tadi." "Apa?" seru Ana. "Aduh, Queen, hebat sekali!" la memeluk Queen erat-erat. Luar biasa! Andyn ikut memeluk Queen. Kemudian Andyn dan Ana menari memutari Queen sambil melantun, "Dialah pemenangnya, aku yakin, dia pemenangnya!" "Kurasa teman-temanmu ini harus sering-sering bergaul," Reyhan terbahak. "Mereka sangat pemalu." Queen tertawa bahagia. Dua sahabatnya itu memang terihat agak sinting. Ana bersepatu tinggi dengan rok mini ketat, sementara Andyn memakai rok tambal dan rompi beludru, menari-nari di lapangan parkir. Tiba-tiba Ana berhenti. "Bagaimana dengan tawaran Joe untuk bergabung dengan bandnya?" Queen menggeleng. "Kau terlalu membesar-besarkan. Dia belum bicara lagi denganku sejak latihan memalukan tempo hari." "Hei, aku mendengarnya langsung dari para Klingon yang mendapat berita dari Charlie Riddle sendiri," kata Ana. "Para Klingon" ulang Reyhan. "Itu sebutan Ana untuk lan Teal dan Morgan titer," Andyn menjelaskan. "Mereka fans berat Side Effects." "Nama yang bagus," kata Reyhan sambil tertawa kecil. "Kau akan bilang apa kalau dia memintamu? Ana bersikeras. Queen tidak tahu. la menatap Reyhan putus asa. "Aku heran kenapa Side Effects kepingin mengajakku bergabung." "Di luar fakta bahwa kau musisi dan penulis lagu handal?" Reyhan nyengir, lesung pipi muncul di pipi kanannya. "Mungkin Joe agak khawatir dengan pemilihan suara Jumat malam nanti. Grupnya sudah menang dua kali, Tapi apakan mereka akan menang untuk ketiga kalinya?" Reyhan mengangkat bahu. "Mungkin tidak. Mungkin orang sudah bosan mendengar lagu Big Trouble Ahead, walaupun Joe selalu bilang dia bisa menggunakan aransemen bagus." Mata Queen mengerjap terkejut. "Dia bilang begitu pReyhanu?" Reyhan mengangguk. "Ya. Kami teman lama. Sejak SMP." Queen tidak mengerti kenapa ia begitu terkejut. Tentu saja ia tahu Reyhan punya teman-teman lain yang seumur dengannya. Tapi tak pernah terpikir Joe adalah salah satunya. "Bahkan aku yang merancang logo band mereka," tambah Reyhan. "Jadi aku lumayan tahu musik Joe. Nggak susah menebak alasan dia kepingin kau bergabung." Andyn mengangguk. "Kalau Queen bermain bersama Side Effects, penampilan mereka bakal segar dan menarik-dan pasti akan memenangkan kompetisi." "Kesimpulan yang cemerlang, Watson!" kata Reyhan sambil menunjuk Andyn. "Side Effects membutuhkan Queen." Ana berkacak pinggang. "Apakah itu buruk? Queen dan Joe menyanyi bersama dengan sangat bagus di Atomic Caté. Semua orang tahu." "Tapi Queen juga penyanyi solo yang hebat," potong Andyn. Ketika ketiga temannya berunding tentang apa yang harus ia lakukan, Queen memejamkan mata dan mencoba berpikir. Kepalanya seperti berputar. Karena ia sekarang sudah mulai menulis lagu, Queen tak pernah berpikir untuk bergabung dengan band orang lain. la selalu membayangkan dirinya sebagai artis solo. Di sisi lain suaranya sangat bagus jika digabungkan dengan suara Joe. Tapi ia tidak bisa mengambil keputusan sekarang. Untung lonceng berbunyi, tanda istirahat makan siang usai. Mereka cepat-cepat kembali ke sekolah.Sebelum berpisah untuk menuju kelas masing-masing, Queen berterima kasih kepada Reyhan karena telah mengajaknya makan siang dan berjanji akan siap pukul empat hari Rabu. Reyhan akan menjemputnya. "Kalau-kalau kita nggak sempat ketemu sebelum hari Rabu," seru Queen sambil berjalan mundur di lorong. "Aku tidak sabar menunggu hari Rabu!" Reyhan balas berteriak, dengan gaya bahasanya yang resmi dan aneh. Setelah Queen melambai Ana berjalan di samping Reyhan dan berkata, "Aku temani sampai kelas Seni." Mr. C sudah di depan piano, sedang menganalisis nada-nada rumit ketika Queen masuk ke kelas Teori Musik. Biasanya Joe berada di dekat piano, tapi hari itu jelas sekali ia sedang menunggu Queen. "Bisa bicara sebentar?" bisiknya ketika Queen masuk kelas. "Tentu." Queen berusaha terdengar Santai, tapi ia bisa merasakan denyut adrenalin memompa tubuhnya. Joe memegang siku Queen dan menariknya ke belakang ruangan. la menemukan tempat sepi di antara gendang besar yang dibungkus penutup hitam dan xylophone. Queen menoleh untuk melihat isi kelas di belakangnya. Zan Teal dan Morgan titer sedang mengawasi setiap gerak-gerik Joe, kelihatan sekali mereka cemburu karena Queen mendapat perhatian khusus dari cowok itu. "Mr. C memberiku daftar pemain untuk The Battle of the Bands hari Jumat nanti," kata Joe sambil membuka lipatan kertas. "Nah, Mr. C telah mengatur supaya kita tampil berurutan di akhir acara." Ia menunjuk nama Queen yang tertulis di samping 19.30. dan Side Ettects di bawahnya pada pukul 19.45. "Kau tampil setelah The Phreeze," tambah Joe. "Band keren dari Cincinnati itu?" Joe mengangguk. "Aku tahu itu bakal berat bagimu. Mereka sangat bagus. Sulit menandingi mereka." Queen nyengir membayangkan dirinya bakal tampil setelah The Phreeze, grup band energik yang mampu menghidupkan penonton. "Karena itu aku mau bicara denganmu," kata Joe. "Daftar ini memberiku gagasan." la berdeham canggung. "Aku tahu ini agak terlambat, tapi aku menimbang-nimbang kalau kau bergabung dengan Side Effects, kita pasti bisa tampil sangat bagus. Bahkan The Phreeze nggak bakalan bisa menandingi kita." Queen terlalu bingung untuk menjawab. "Penampilan kita di Atomic Caté hari Sabtu waktu itu lumayan bagus, kan," tambah Joe. "Sayang kalau kita tidak mencobanya lagi. Kurasa kau akan memberi sentuhan baru dan segar ke dalam musik kami. Jadi, bagaimana menurutmu?" Queen tersenyum sangat lebar. "Reyhan benar! Side Effects memang membutuhkannya." Joe sedang mencoba merayunya supaya ia mau bergabung dengan mereka. "Joe, tawaranmu luar biasa," kata Queen penuh semangat. "Aku... aku benar-benar tersanjung." Tapi Queen tidak segera menyetujui tawaran Joe. Ia menatap lantai, mengingat-ingat bagaimana Reyhan dan Andyn mendorongnya untuk bermain solo. "Baiklah, anak-anak, silakan duduk," seru Mr. C dari belakang piano. "Coba pusatkan perhatian pada irama rumit yang berbeda-beda tapi berbunyi serempak dari Afrika Barat ini. Kita akan mencoba berlatih kemudian menuliskannya dalam notasi." "Coba kaupikirkan dulu," bisik Joe. "Nanti kita bicara lagi setelah kelas selesai." Queen tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun yang dikatakan Mr. C. la menaruh buku not balok di pangkuan dan dengan patuh menulis x sebagai tanda irama drum. Tapi pikirannya melayang-layang. la membayangkan perasaannya saat pertama kali memiliki gitar Strat palsu murahan yang memaksanya menekan jari sekuat tenaga untuk memetik dawainya. Pengorbanan Mom mengubah garasi menjadi studio supaya Queen bisa berlatih kapan saja. Ia ingat berdiri bejam-jam di depan kaca melatih seringai rock 'n' roll dengan mengenakan dasi Avril Lavigne. Atau saat ia menyemprot rambutnya dengan warna pirang platina supaya tampak seperti Gwen Stefani. la ingat Nick sering memintanya bermain musik ketika teman-teman kakaknya itu berkunjung ke rumah. Bahkan si angkuh April bilang ia suka gaya Queen. Sekarang, ketika mendapat kesempatan untuk dapat bersinar, sulit membayangkan ia harus berbagi tempat dengan orang lain. Terutama dengan band paling beken di daerah itu. la kepingin sekali tahu kemampuan dirinya sendiri dalam menghadapi penonton. Tanpa terasa kelas sudah berakhir. Sekali lagi Joe menunggunya di dekat pintu. Si duo Klingon, Morgan dan Zan, berdiri di lorong menunggu Joe untuk menyertainya pergi ke air mancur atau toilet atau ke mana pun cowok itu pergi. "Nah, bagaimana?" tanya Joe. Sudah kau pikirkan?" "Sudah," jawab Queen. "Aku sangat senang bisa sesekali tampil dengan kalian." la menarik napas dalam-dalam. "Tapi tidak kali ini. Jumat malam nanti aku kepingin tampil solo. Aku hanya kepingin melihat apakah aku bisa melakukannya." "Pasti kau bisa," kata Joe sambil menyibak rambut yang menutupi matanya. "Tapi nggak pa-pa. Mungkih lain waktu." Queen memasukkan tangan ke saku jins usangnya dan mengangguk. Joe juga memasukkan tangan nya ke dalam saku. la balas mengangguk. Akhirnya Queen bergerak hendak pergi dari situ. "Yah... kurasa sebaiknya kita pergi." gumamnya. Joe menyambar lengannya. "Eh, satu lagi. Tentang Jumat malam. Kita memang nggak harus tampil bersama. Tapi maukah kau pergi denganku? Sebagai teman kencanku?" Tubuh Queen membeku. Kakinya terangkat setengah. la telah memimpikannya selama tiga tahunvbahkan lebih lama dari itu jika musim panas sebelum kelas satu masuk hitungan. Dan sekarang saat Joe Strauss cowok impiannya itu mengajaknya pergi, perasaan Queen... hampa. la harus menghadapi kenyataan ini. Joe pemusik hebat dan tidak banyak tingkah. Tapi apakah jantungnya berdegup lebih kencang saat ia melihat cowok itu? Nggak. Apakah cowok itu menyenangkan? Nggak terlalu. Apakah Queen kepingin berkencan dengannya Nggak. Jawaban pertanyaannya yang terakhir menyadarkan Queen. Queen tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri disana tanpa menjawab. Akhirnya Joe melambaikan tangan di depan wajah Queen. "Hei, Queen! Nggak pa-pa kok kalau kau menolak ajakanku." "Bukan... bukan karena aku nggak mau pérgi denganmu," jawab Queen tergagap. "Hanya saja-" "Ada orang lain," Joe menyelesaikan kalimat. Queen. la memajukan tubuh dan menatap mata cewek itu. "Ya, aku bisa melihatnya di sana." Tiba-tiba semua jadi jelas. Memang ada orang lain. Dan orang itu adalah Reyhan. "Memang ada seseorang," akhirnya Queen berkata. "Ya!" "Aku kalah. Dia menang." kata Joe sambil mengangkat bahu. "Eh, tapi, kalau kita kepingin membentuk band bareng, mungkin lebih baik kita berteman saja." Queen tersenyum penuh terima kasih. "Aku senang kau bilang begitu." Segala kebingungan lenyap dari diri Queen. la tahu apa yang ia inginkan, dan siapaa yang ia inginkan! "Joe, sampai ketemu Jumat malam," kata Queen sambil melangkah ke pintu. "Dan setelah itu jika kau masih ingin aku bergabung dengan bandmu, kita bicarakan lagi, ya!" Setelah semua tampak jelas, Queen tidak sabar ingin segera menemui Reyhan. Ia ingin memberitahu keputusannya untuk tampil solo di The Batte of the Bands. la tahu Reyhan akan mendukungnya seratus persen. Yang jelas lebih mendukung dari pada Ana, yang mungkin bakal sangat terkejut dengan semua ini. Setelah sekolah usai Queen berlari keluar gedung dengan harapan bisa menemukan Reyhan sebelum pulang. la yang paling pertama keluar, tapi minivan Reyhan sudah tidak ada. Queen berdiri di pinggir jalan, heran bagaimana Reyhan bisa mendahuluinya ke lapangan parkir. Kemudian Queen mengangkat bahu. Nanti saja ia memberitahu Reyhan tentang kabar baiknya ini. la akan menelepon Reyhan nanti malam. Dan jika ia tidak bisa menghubungi Reyhan hari ini, toh mereka akan ketemu Rabu nanti. "Cihuuuuy!" Queen berlagak memainkan gitar, menyepakkan kakinya ke depan. "Hidup ini indah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD