Chapter 15

1989 Words
"Bang." Zio yang sedang duduk di atas motor seraya memanaskan mesin motornya menoleh saat mendengar suara Fazra. "Kenapa?" "Fazra bareng Abang ya pergi sekolahnya." Zio mengerenyit. Karena tadi ia sempat mendengar ucapan Nevan yang ingin mengantar anak itu pergi sekolah. "Bukannya sama Papi?" "Gak boleh ya Fazra pergi bareng Abang?" "Ya boleh, boleh-boleh aja. Tapi Fazra udah bilang sama Papi mau pergi sama Abang?" Fazra mengangguk sambil naik ke atas motor Zio. "Fazra mana?" Tanya Nevan ketika baru tiba di ruang makan. "Pergi." Jawab Nia sambil mengunyah sarapannya. "Pergi?" "Pergi sekolah sama bang Zio." "Tapi tadi Papi udah bilang mau nganter. Uang jajan nya juga belum Papi kasih." Nia tidak menjawab asyik mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. "Fazra pulang sekolah jam berapa?" "Mana Nia tau, Nia sama Fazra kan beda sekolah." Nia dan Fazra memang tidak satu sekolah dikarenakan keduanya tidak mau masuk ke sekolah yang sama dengan alasan hanya akan membuat mereka ribut di sekolah jika keduanya bertemu. Jadilah Nevan memasukkan kedua anaknya ke sekolah yang berbeda. "Jam satu lewat." Sahut Reya keluar dari dapur sambil menggendong Aya. "Nanti kalo pak Anto udah dateng bilang ya yang jemput Fazra biar aku." Pesan Nevan pada Reya yang sedang menyuapi Aya makan. "Nia, cepet habisin sarapan nya biar Papi anter." Lanjut Nevan sambil memakai jas nya. "Papi pergi ya, princess. Jangan nakal di rumah." Ucap Nevan pada Aya lalu mencium anak bungsunya. Aya hanya mengangguk karena ia masih mengantuk sebab semalam ia tidur bersama Nia menghabiskan malam dengan menonton video bias mereka masing-masing. Kedua kaki Fazra mundur selangkah untuk menghindari sengatan sinar matahari di siang hari yang menerpa wajahnya. "Lo gak mau bareng gue, Zra?" "Lo duluan, supir gue jemput bentar lagi." Tolak Fazra saat temannya menawari tumpangan kepadanya. Fazra menoleh ke kiri untuk melihat penjual es kelapa, Fazra melangkahkan kakinya menuju penjual es kelapa karena ia merasa benar-benar haus akibat cuaca yang panas. "Bu, es kelapa nya satu." Kata Fazra sambil mengeluarkan uang dua puluh ribu dari saku seragamnya. Ketika Fazra sedang memperhatikan ke arah jalanan tanpa sengaja mata nya menangkap sosok gadis seumurannya yang sedang memperhatikan ke arah orang-orang yang memakai seragam sama seperti Fazra. "Bentar ya, Bu. Saya mau ke sana bentar." Fazra menunjuk ke arah gadis yang sekarang sudah menatapnya. "Oh iya." Fazra tersenyum mulai berjalan menyebrangi pasar yang tidak terlalu lebar seperti jalan raya pada umumnya. "Lo ngapain di sini?" "Ngemis." "Mana uang hasil ngemis Lo?" Bianca terdiam mengalihkan tatapannya. "Bohong Lo ya?" Bianca malah menatap malas Fazra. "Ih Lo apaan sih?!" Bianca memukul tangan Fazra yang berada di pergelangan tangannya. "Gue mau bales budi." "Sok iya Lo." "Bu, es kelapa nya tambah satu lagi ya." Ucap Fazra pada penjual es kelapa. "Oke dek." Fazra mengambil es kelapa miliknya dan memberikannya pada Bianca. "Gue gak haus." Bianca menatap es kelapa lalu menatap Fazra. "Bibir Lo kering noh, keliatan banget Lo kurang cairan yang artinya Lo butuh minum." Fazra mengambil tangan Bianca dan memberikan es kelapa yang ia pegang secara paksa. "Makasih ya dek." Kata ibu-ibu penjual es kelapa seraya memberikan kembalian pada Fazra. Fazra tersenyum menggeser tubuhnya agar ia dapat melihat lebih mudah mobil yang biasa menjemputnya. Sambil meminum es kelapa nya Fazra memperhatikan Bianca yang tidak kunjung meminum es kelapa yang ia berikan tadi. Tin! Tin! Fazra dan Bianca menoleh ketika mendengar suara klakson mobil. Fazra terdiam di tempat saat melihat yang menjemputnya adalah Nevan, bersama dengan Nia yang duduk di sebelah Nevan. Bianca menatap Fazra dimana ekspresi wajah Fazra sudah berubah sedikit muram. "Lo udah di jemput tuh, sana." Bianca hampir tersandung karena Fazra kembali menariknya secara tiba-tiba. Bianca sengaja menahan langkahnya ketika Fazra membawanya untuk masuk ke dalam mobil. "Lepasin gue." Bisik Bianca berusaha melepaskan tangannya. "Bianca ikut ke rumah." Ucap Fazra pada Nevan. Nevan tersenyum, "gak papa, biar Nia ada temennya." Nevan menatap Nia yang langsung menoleh dengan wajah yang berubah kesal. "Lo..." "Berisik." Fazra membuka pintu mobil mendorong kedua bahu Bianca untuk segera masuk ke dalam mobil. "Papi, tas Nia." Nevan yang baru keluar dari mobil langsung mengambil tas Nia yang Nia berikan kepadanya. Setelah itu Nia pergi masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Bianca. "Abang..." "Masuk duluan." Fazra masuk ke dalam rumah seraya mengajak Bianca. Ketika melewati Nevan Bianca melirik wajah Nevan yang terlihat sedih saat melihat sikap Fazra barusan. "Papi Lo belum selesai ngomong kok Lo langsung pergi gitu aja sih?" Tanya Bianca ketika sudah masuk ke dalam rumah mewah berukuran besar. "Gue mau ganti baju. Di situ ada adek gue yang paling kecil, Lo sama dia aja." Fazra menunjuk ke arah ruang keluarga dimana ada Aya yang sedang bermain boneka. Bianca memperhatikan Fazra yang sedang menaiki tangga dan beralih memperhatikan Aya. Aya berhenti bermain saat melihat orang asing berada di rumahnya. Sambil memegang bonekanya Aya mendekati Bianca. "Kakak ciapa?" Tanya Aya. "Aku Bianca." Jawab Bianca sambil tersenyum. Bianca pikir Aya akan bersikap acuh sama seperti Nia. "Aya." Aya mengulurkan tangan mungilnya. Bianca tertawa kecil membalas uluran tangan Aya. "Bianca." Aya tersenyum malu. "Mau main cama Aya?" Aya menunjukkan bonekanya. Bianca mengangguk. Aya menarik jemari Bianca membawa gadis itu ke ruang keluarga tempat dimana ia bermain. Bianca berhenti berjalan saat melihat Reya. Dengan sopan Bianca mengangguk sambil tersenyum. "Kamu, Bianca? Temen Fazra." "Iya Tante." Mata Reya sedikit membulat. "Ketemu sama Fazra lagi ya?" Bianca tersenyum. "Mami, Mami masak apa?" "Daging, punya kakak udah Mami pisah di mangkuk." Nia mengangguk berjalan ke arah dapur. "Kakak udah kenalan sama Bianca belum?" Sambil berjalan Nia mengangkat tangan kirinya dan melambaikannya. "Anak Tante yang itu emang agak payah, maaf ya." Ucap Reya pada Bianca yang sedang memperhatikan Nia. "Gak papa Tante." "Ayo main." Aya menarik-narik tangan Bianca. "Nanti main nya. Sekarang kita makan dulu." Reya membawa Aya ke gendongannya. "Bianca juga makan ya, kita makan bareng-bareng." Bianca langsung menggeleng. "Gak usah Tante, aku mau pulang kok." "Lho, kok pulang. Kan kamu baru sampe kan? Kita makan aja dulu, ayo." Reya merangkul Bianca membawa gadis itu ke ruang makan. "Gue pikir abis Papi Lo minta maaf Lo bakal lupain masalah yang ada." "Maafin gampang, ngelupainnya yang susah." "Lo sadar gak sih kalo Lo udah bersikap kurang ajar sama Papi Lo sendiri?" "Kurang ajarnya?" Tanya Fazra sambil memberi makan kelinci milik Zio. "Gue bisa liat Papi Lo lagi berusaha deket sama Lo. Tapi Lo malah kayak ngejauh gitu. Gue aja yang ngeliat sedih, apalagi Papi Lo." Fazra memilih mengabaikan ucapan Bianca. "Seharusnya Lo bersyukur punya orang tua yang lengkap." "Untuk apa bersyukur kalo yang sayang yang perhatian sama gue cuma nyokap gue sendiri?" Fazra menatap sekilas Bianca. "Lo boleh sakit hati, tapi gak boleh terus-terusan. Jujur gue kasihan liat Papi Lo. Mimpi apa dia bisa dicuekin sama anak sendiri?" Bianca tertawa kecil. Fazra duduk di atas rumput yang ada di belakang rumahnya sambil memperhatikan kelinci berwarna putih yang sedang makan. "Bukan cuma bokap gue, gue juga lagi berusaha deket sama bokap gue sendiri. Tapi rasanya bener-bener susah, gue malah jadi gelisah sendiri, bukannya tenang yang ada gue ngerasa canggung sama bokap gue." Fazra menatap Bianca. "Rasanya gak enak banget. Gue udah terlanjur mikir kalo gue cuma punya nyokap, karena bokap gue asyik sama tiga anaknya, Bi." "Tapi please, buka mata buka hati Lo untuk Papi Lo sendiri. Tugas anak itu bahagiain orang tua, bukan bikin orang tua sedih. Gue cuma punya Mama gue aja sekarang, rasanya juga gak enak banget. Gue dulu gak deket sama Papa gue, gue cuma tau minta duit. Tapi giliran Papa gue gak ada baru terasa, kalo gue udah jadi anak yang buruk buat dia. Jangan sampe Lo rasain apa yang gue rasain." Fazra menghela napas panjang sebelum tangannya membuka kenop pintu bercat putih dimana orang yang sedang ia cari berada di balik pintu tersebut. Fazra berdiri di ambang pintu ketika melihat Nevan menjatuhkan kepala diantara kedua tangannya yang terlipat di tepi meja kerja Ayahnya. Melihat Nevan seperti itu Fazra malah ingin keluar, namun hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus masuk menemui Ayahnya. Dengan perlahan Fazra masuk seraya menutup pintu. Fazra menelan ludahnya ketika ia sudah berdiri di depan Nevan dan Nevan belum menyadari kehadiran dirinya. "Pi?" Mendengar tidak ada sahutan dari Nevan Fazra yakin jika Ayahnya sedang tertidur. Fazra sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah Nevan yang menoleh ke arah kiri. Dan benar saja, kedua mata pria itu tertutup dengan rapat. Fazra tidak membuka suara lagi melainkan melangkah mundur. Ketika ia sudah berbalik suara Nevan mulai terdengar. "Abang." Fazra berbalik menatap Ayahnya yang sedang mengusap wajahnya. "Abang ke sini ada yang mau diomongin ke Papi?" Fazra mengangguk. Nevan tersenyum memajukan duduknya. "Apa?" Fazra kembali mendekat dan duduk di depan Nevan. "Kak Ia ngapain?" Nia yang sedang mendekatkan kupingnya di pintu ruang kerja Nevan terkejut mendengar suara Aya yang datang secara tiba-tiba. "Ih! Bikin kaget aja." Kata Nia sepelan mungkin. "Kak..." Nia langsung membekap mulut Aya karena menurutnya suara Aya terdengar agak kuat. "Sssttt, jangan berisik." Nia menaruh telunjuk di bibirnya. "Diem!" Aya mengangguk dengan mulutnya masih dibekap. Nia mengarahkan telunjuknya pada Aya seolah memberi peringatan pada anak itu. Nia kembali mendekatkan kupingnya di pintu ruang kerja nevan berharap bisa pembicaraan antara Nevan dan Fazra. Setelah mengetahui masalah yang Fazra alami, Nia menjadi lebih sering memperhatikan Fazra ataupun Nevan saat kedua laki-laki itu bertemu di meja makan ataupun saat berada di ruang keluarga. Nia menatap Aya yang juga melakukan hal yang sama seperti apa yang sedang ia lakukan. "Hari Jum'at ada study tour." "Oh ya, kemana?" "Bali." Nevan mengangguk. "Berapa hari Abang perginya?" Tanya Nevan. "Tiga hari." Nevan kembali mengangguk seraya berpikir ucapan apa yang akan ia keluarkan setelah ini. "Orang tuanya boleh ikut?" Pertanyaan Nevan sukses membuat Fazra yang sedang menatap ke arah meja langsung beralih menatap Nevan yang sedang tersenyum. "Abang udah SMP." Nevan tertawa. "Kan siapa tau orang tuanya boleh ikut. Kalo boleh Papi mau ikut." Fazra hanya menggeleng. "Gimana kalo libur sekolah nanti kita liburan. Abang mau nya kemana?" "Terserah Papi." Nevan mendekatkan tubuhnya ke tepi meja. "Abang lagi pengen apa? Bilang sama Papi." Ucap Nevan dengan penuh harapan dirinya bisa menjadi Ayah yang baik untuk Fazra yang belum pernah merasakan kasih sayang darinya. Mungkin Fazra pernah merasakannya, di waktu masih kecil dimana Fazra belum mengerti apa itu arti dari kasih sayang. Fazra menggeleng tanpa menatap Nevan. "Kalo Papi ini Mami, Papi yakin pasti Papi udah nangis." Nevan terkekeh. Fazra meremas kuku nya dengan kuat setelah mendengar ucapan Nevan barusan. "Maafin Papi ya." "Kalo boleh jujur sih Papi kangen liat Abang yang suka jahil sama Nia, suka gangguin Nia. Kalo tau kayak gini Papi gak akan pernah larang Abang gangguin Nia, gak akan pernah kasih hukuman kalo kalian berantem. Pokoknya Papi kangen liat Abang ribut sama Nia." "Kalo Abang mau kasih kesempatan buat Papi. Papi pengen banget lho bisa ngobrol sambil ketawa sama Abang, kayak Papi sama bang Zio, Nia, sama Aya. Papi sadar kalo semuanya udah telat, tapi Papi berharap kalo Abang mau kasih Papi kesempatan untuk Papi nunjukin rasa sayangnya Papi ke Abang." Inilah betapa bencinya Fazra jika harus berbicara berdua dengan Nevan. Rasa sedih nya langsung datang, hati nya sakit mendengar ucapan Nevan namun ego nya tetap saja terus mengingat bagaimana sikap dan perlakuan Nevan yang dapat dikatakan tidak adil itu. "Jujur Papi sendiri bingung gimana cara ungkapin rasa sayangnya Papi. Yang Papi tau cara ungkapin rasa sayang itu dipeluk, dicium. Tapi Papi yakin kalo Abang gak mau kayak gitu, apa yang harus Papi lakuin untuk Abang?" Tanya Nevan dengan nada rendah. Nevan memegang tangan Fazra yang saling bertautan di atas mejanya. "Abang sayang sama Papi?" Pertanyaan tersebut langsung membuat air mata Fazra menetes. Keluar nya pertanyaan seperti itu malah membuat Fazra merasa seperti anak yang tidak tahu di untung. "Abang?" Fazra mengangguk dengan kepala yang tertunduk. "Papi mohon, Abang jangan jauhin Papi, jangan cuek sama Papi. Lebih bagus Papi kehilangan uang sebanyak-banyaknya daripada Papi harus kehilangan perhatian anak Papi sendiri." Fazra ingin sekali menghapus air matanya yang mulai mengalir secara terus-menerus, namun kedua tangannya sedang dipegang oleh Nevan. "Abang mau kasih kesempatan untuk Papi nunjukin rasa sayangnya Papi ke Abang?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD