Chapter 14

1220 Words
Entah sudah berapa kali Nia melirik Fazra yang hanya duduk diam sambil menonton televisi. Biasanya anak itu suka sekali mengganggu nya, sudah dua hari setelah Fazra kembali ke rumah Fazra tidak pernah mengganggu nya lagi. Fazra sedikit mendongak untuk menatap Ayahnya yang baru saja berdiri di depannya sambil mengulurkan sesuatu. "Handphone baru untuk Abang." Nevan tersenyum memberikan paper bag yang berisikan ponsel baru untuk Fazra. "Abang gak ada minta." Senyum Nevan sedikit memudar melihat sikap Fazra yang agak dingin semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. "Gak mungkin Abang gak ada handphone. Ntar kalo Abang mau main game gimana?" "Di PS." Selain bersikap agak dingin, Fazra juga mulai irit bicara. "Ambil ya, biar Papi atau Mami gampang nelfon Abang kalo Abang lagi ada di luar rumah." "Abang gak akan kabur lagi." "Tapi makasih." Lanjut Fazra mengambil paper bag yang Nevan pegang. Nevan tersenyum. "Untuk Nia mana?" Tanya Nia saat Nevan menatapnya. "Handphone kakak kan ada, masih bagus malah." "Tapi itu punya Fazra keluaran terbaru. Nia juga mau!" "Papi beliin Fazra handphone karena emang handphone Fazra udah hancur." "Jadi Papi udah mulai pilih kasih nih? Fazra sekarang anak kesayangan Papi? Terus Nia dilupain gitu?" Nevan langsung menggeleng. "Gak kayak gitu, Papi gak pilih kasih. Kakak, Abang tetep anak Papi, gak ada anak kesayangan. Papi sayang sama kalian." "Seharusnya Papi juga beliin Nia handphone! Masa si Fazra doang yang dibeliin. Gara-gara dia pernah kabur terus takut kabur lagi? Fazra tuh sengaja kabur biar dia dapet perhatian, biar apa yang dia minta langsung dikasih." "Buat Lo." Fazra menaruh paper bag nya di dekat Nia dan langsung pergi ke kamarnya. Nevan menghela napas menatap kepergian Fazra. Sungguh, Nevan sedih melihat Fazra perubahan sikap Fazra yang sekarang. Dingin, cuek, dan irit bicara. "Seharusnya kamu sadar, Fazra bersikap kayak gitu karena siapa, gara-gara apa." "Aku udah minta maaf." "Iya Fazra udah maafin kamu. Tapi tetep, Fazra gak akan bisa lupain apa yang udah kamu buat ke dia. Fazra tau Zio bukan anak kandung kita karena dia pernah denger kita bahas soal Zio. Fazra bilang ke aku, dia anak kandung diperlakuin kayak anak tiri dan Zio anak tiri diperlakuin kayak anak kandung." "Aku juga baru sadar kalo kamu emang lebih deket sama Zio, Nia, Aya. Kamu lebih banyak ngomong sama mereka. Kamu lebih perhatian ke Zio daripada ke Fazra. Seolah-olah kamu lupa kalo kita tuh punya satu anak lagi, Fazra." Lanjut Reya seraya melipat pakaian milik Aya. "Jadi aku harus gimana?" Nevan terlihat benar-benar lelah dan bingung. "Ya kamu deketin terus Fazra, ajak dia ngobrol. Aku biasanya kayak gitu sama Fazra, ajak dia ngobrol. Nanya seputar sekolah dia. Kalo kamu kan tau nya cuma bayar uang sekolah Fazra aja." Reya menatap Nevan yang hanya diam dengan kepala yang tertunduk serta wajah frustasi nya. "Aku bakal bantu kamu deket sama Fazra, gak usah sok sedih kayak gitu. Salahnya kamu juga gak inget sama anak sendiri. Gitu mau nambah satu lagi?" Tanya Reya sedikit menyindir suaminya. Nevan menggeleng lemah, rasanya Nevan sudah tidak mempunyai semangat lagi melihat sikap Fazra sekarang. "Pacal Aya ini." Aya menunjukkan photo card pacarnya pada Memei. Memei mengambil photo card tersebut dan mulai memperhatikan orang yang ada di foto. "Handsome, kan." Kata Aya dengan bangganya sambil makan kue kering yang ia ambil bersama Memei tanpa sepengetahuan siapapun. Memei mengangguk terus memperhatikan photo card yang ada di tangannya. "Memei gak punya pacal." "Punya!" Seru Memei tidak mau kalah. Anak tetangga satu itu memang tidak pernah mau terlihat kalah dan lemah. "Mana?" "Ini!" Memei menunjukkan photo card yang ia pegang. "Ih, itu pacal Aya." Memei langsung menyembunyikan tangannya di bekalang tubuhnya menatap kesal Aya. "Memei gak boleh ambil." Ucap Aya berusaha mengambil foto pacarnya tapi Memei malah mengelak dengan berjalan mundur kebelakang. "Memei pacal Aya!" Seru Aya sambil berlari mengejar Memei yang tengah berlari kencang ke arah pintu utama. "MEMEI!!" Pekik Nia dari tangga. Kecepatan lari Memei semakin kencang saat mendengar suara Nia. Nia memperhatikan Aya yang sedang berlari mengejar Memei. Nia ikut berlari mengejar Memei dan mempercepat larinya saat melihat Memei di teras rumahnya. "Nah loh! Kena kan!" Nia menangkap tubuh Memei yang sedang meronta. "Balikin foto nya!" Kata Nia karena tadi ia sempat mendengar teriakan Aya yang ingin meminta photo card yang Memei ambil. "Gak mau!" "Heh! Mau jadi penculik! Balikin gak? Ntar aku masukin ke kolam ikan itu, biar jadi makanan ikan. Mau?!" Nia menunjuk air pancur yang ada ikan nya. Memei mulai berhenti meronta. "Masih kecil udah jadi penculik aja." Nia mengambil photo card nya lalu memberikannya pada Aya. Aya langsung menyimpan photo card nya di dalam bajunya. "Ntar kalo udah gede!" "Awas ya kalo main ambil yang bukan barang Memei. Aku sentil ntar empedu nya." Bibir Memei mengerucut malas menatap Nia. "Udah sana pulang. Tidur siang! Kalo mau ke sini siapin uang delapan puluh juta." Memei menatap Aya. "Aku pulang! Kakak kamu jahat!" Memei melirik sinis Nia yang sedang membelalakkan mata. "Heh. Memei tuh yang jahat! Suka jahatin Aya! Enak aja bilangin gue jahat. Awas ya mulutnya, aku setrika biar kembali ke jalan yang bener, biar gak sembarang ngomong." Ucap Nia sambil memperhatikan Memei yang sudah keluar dari gerbang rumahnya. "Anak kecil jaman sekarang, mulut umur 3 taun kek umur berapa taun aja." "Aya! Mas..." Nia terdiam ketika melihat tidak ada Aya di dekatnya, anak itu sudah menghilang. "Mami, Mami. Mami kan orang Sunda teh, Nia ado di suruh bikin kalimat pake bahasa Sunda, kasih tau Nia, tulung tinulung." Reya menggelengkan kepala mendengar ucapan Nia, persis sekali seperti Nevan anak perempuannya itu. "Nih, bahasa Sunda nya yang ini apa?" Nia mendekatkan buku tulisnya pada Reya. "Teh itu artinya apa sih, Mi? Teh bukannya teh botol rosos, teh anget, teh dingin, teh wangi sari, teh celup?" Tanya Nia pada Reya yang sedang melihat bukunya. "Yang ini..." Reya tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Nia sedang menatap ke arah lain. Reya mengikuti arah tatapan Nia dan ternyata ada Nevan bersama Fazra yang sedang bermain play station. "Papi kok sama Fazra sih sekarang." Nia terlihat benar-benar kesal. "Kakak pernah liat Fazra main bareng sama Papi?" Nia menggeleng masih memperhatikan Nevan dan Fazra. "Kakak pernah liat Papi ngobrol sama Fazra?" Nia kembali menggeleng. "Kakak ngerasa gak kalo waktu Papi lebih banyak dihabisi sama kakak, bang Zio sama Aya." Nia menatap Reya dan mengangguk. Nia belum mengerti maksud dari ucapan Reya. "Ini saatnya Papi sama Fazra, saatnya Papi ngobrol, main, deket sama Fazra. Tanpa kakak sadari Fazra gak pernah deket sama Papi, gak pernah main sama Papi." Ekspresi wajah kesal Nia perlahan menghilang. "Sadar gak kalo Papi gak pernah berduaan sama Fazra, gak pernah main sama Fazra?" Nia diam memikirkan dan mengingat-ingat yang barusan Reya ucapkan. Nia menggeleng karena ternyata benar ia tidak pernah melihat Nevan bersama dengan Fazra, yang ada mereka selalu bersama-sama dan berkumpul bersama. "Fazra kabur dari rumah karena dia ngerasa gak diperhatiin sama Papi, Fazra pengen Papi perhatian ke Fazra kayak Papi perhatian sama kalian. Fazra deket sama Mami, tapi enggak sama Papi. Jadi Mami mohon sama Kakak, biarin untuk saat ini Papi sama Fazra, kasihan Fazra gak pernah sama Papi. Tapi kalo kakak mau ikut gabung sama mereka gak papa, malah bagus. Kakak gak sendirian, bukan cuma kakak aja yang butuh perhatian, Fazra juga butuh, bang Zio sama Aya juga butuh. Kalian sama-sama butuh perhatian, butuh kasih sayang dari Papi Mami." Ucap Reya sambil menatap Nevan dan Fazra dengan tangannya yang mengelus punggung Nia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD