Chapter 13

785 Words
Kedua tangan Fazra terlipat di depan d**a dengan mata yang tertuju ke arah Nia yang sedang berdiri sambil menunduk. "Lo minta maaf sama gue?" Nia mengangguk kecil. "Beresin dulu tuh tempat tidur gue." "Gila Lo ya, gue ikhlas minta maaf tapi Lo malah nyuruh gue beresin tempat tidur Lo." Kata Nia dengan ekspresi marah. "Kak Ia gak boleh malah!" Aya mendekati Fazra dan memeluk kaki Abangnya. "Ya udah kalo Lo gak mau, keluar sana. Gue males ribut sama Lo." Fazra menggendong Aya melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya. "Aya bantu Abang ya." Fazra meletakkan Aya di atas tempat tidurnya. Fazra lebih suka membereskan tempat tidur dengan tangannya sendiri. Ketika Fazra kabur kondisi kamarnya memang berantakan dan tidak sempat dibersihkan karena Fazra mengunci kamarnya dan membawa kunci tersebut bersamanya. Nia menatap malas Fazra yang sedang menyingkirkan bantal dan guling. "Abang." Reya datang dan berdiri di ambang pintu kamar Fazra. "Dipanggil Papi." Reya melangkah masuk dan berdiri di sebelah Nia. "Gak mau." Balas Fazra sambil merapikan seprai tempat tidurnya. "Kok gak mau? Papi mau ngomong lho, bentar aja." Fazra menggeleng. Alasan Fazra tidak mau bertemu dengan Ayahnya bukan karena masih kesal, tapi karena Fazra malas jika harus kembali menangis di depan Ayahnya. "Bentar aja, beneran deh bentar." Fazra menghela napas meletakkan bantal yang ia pegang lalu menatap Reya. "Abang gak mau kalo Papi sampe ngomong hal-hal yang bikin Abang sedih, apalagi sampe nangis." Kata Fazra sambil berlalu. Mata Nevan yang sedang tertutup langsung terbuka ketika mendengar suara pintu ruang kerjanya terbuka. Nevan menjauhkan tubuhnya yang bersandar di kursi saat melihat Fazra masuk. Nevan menatap anaknya yang sekarang sudah duduk di hadapannya tanpa menatapnya. "Papi mau minta..." "Gak usah minta maaf." Potong Fazra. Nevan mengangguk sekaligus berkomat-kamit di dalam hatinya karena baru kali ini Nevan dapat merasakan kecanggungan pada anaknya sendiri. "Kalo Abang mau apa-apa, bilang sama Papi." "Biasanya juga gitu." "Maksud Papi kalo Abang mau pergi kemana, bilang sama Papi biar Papi anter. Kalo Abang punya masalah jangan cuma cerita sama Mami, cerita sama Papi juga. Walaupun Papi gak bisa kasih solusi tapi Papi siap dengerin cerita Abang." "Abang kabur aja baru ngerti." Ucapan Fazra barusan sukses menohok hati Nevan. "Papi minta maaf." Fazra memperhatikan tangannya yang baru saja mengoyak ujung kertas kerja milik Nevan lalu memilin nya. Begitupun seterusnya. "Lakuin apapun yang Abang suka, Papi gak akan larang. Papi ini bukan cuma orang tua Abang, tapi Papi juga temen Abang. Kalo Papi punya salah sama Abang ngomong langsung ke Papi, biar Papi perbaiki kesalahan Papi sama Abang. Papi mohon, bener-bener mohon sama Abang, please don't run away again." Ucap Nevan terdengar lemah di telinga Fazra. Fazra yang mempunyai moto laki-laki sejati pantang menangis tiba-tiba saja mata nya berkaca-kaca akibat ucapan Ayahnya. Ketika Fazra bertengkar dengan Nia hingga badannya merah-merah, berkelahi dengan teman sekolahnya tidak pernah Fazra merasakan sedih apalagi sampai menangis. Dan hanya karena berbicara dengan Nevan mata Fazra sudah berkaca-kaca. "Oke?" Fazra mengangguk dengan kepala yang sedikit menunduk. Nevan beranjak dari duduknya. Air mata Fazra tumpah ketika merasakan tubuhnya dipeluk oleh Nevan. "Papi selalu pengen peluk Abang, tapi Papi mikir kalo Abang gak mau dipeluk sama Papi karena Abang itu udah mulai besar. Bang Zio sekarang udah gak mau dipeluk, katanya malu, Papi pikir Abang juga kayak Abang. Malu kalo dipeluk." Kepala Nevan tertunduk ketika mendengar suara tarikan ingus. Nevan tersenyum melihat Fazra yang ternyata sedang menangis. "Mau ngapain?" Anak kecil yang sedang membawa kantong plastik bening yang berisikan permen dan cokelat menatap Nia yang sedang berdiri di depan pintu. "Mau masuk." "Lima puluh ribu." Nia mengulurkan tangannya. "Memei gak ada duit." "Ya udah gak boleh masuk. Ini tuh rumahnya cantik, harus bayar kalo mau masuk." "Lumah Memei juga cantik." "Gak secantik rumah ini." Nia mengangkat wajahnya seolah menantang anak berumur tiga tahun. "Jelek." Gumam Memei sambil menatap ke arah tanaman yang ada di dekat jendela. "Apa? Ngomong apa tadi?" "Memei!" Seru Aya dari dalam rumah. "Kak Ia, gecel." Nia berbalik mendapati Aya yang sedang berada di mobilnya. Nia menggeser tubuhnya membiarkan Aya lewat sambil mengendarai mobil. "Memei macuk." Aya membuka pintu mobil bagian penumpang. "Oh, udah janjian duo bocil." Gumam Nia memperhatikan Memei yang sudah masuk ke dalam mobil. "Memei tulun." Ucap Aya sambil turun dari mobil. Memei turun dari mobil Aya. Setelah Memei turun Aya menarik bagian depan mobilnya dengan perlahan menurunkan mobilnya dari teras yang memiliki tangga sebanyak tiga anak tangga. Kemudian dua anak itu kembali masuk ke dalam mobil dan mulai berjalan-jalan mengelilingi air pancur sambil mereka berbicara. "Eh, Memei! Ntar bayar ya kalo udah selesai naik. Jangan tau nya numpang doang lho." Ucap Nia dari teras rumah. Aya dan Memei sama-sama menatap Nia. "Kakak kamu ngomong apa?" Tanya Memei sambil membuka bungkus permennya. "Aya gak tau." Jawab Aya menambah kecepatan mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD