"Kak Ia."
"Sssttt." Nia menaruh telunjuknya di bibir menyuruh Aya untuk diam.
"Kamu juga pikirin Fazra, Fazra itu anak kamu. Enak kamu nyuruh orang ngawasin Fazra, Fazra itu masih kelas 2 SMP, mas. Kalo di jalan dia kenapa-napa gimana? Aku udah bilang ayo susul Fazra tapi kamu malah nyuruh orang lain. Dimana sih pikiran kamu biarin anak kamu sendiri di jalanan kayak gitu?!"
Nia menatap Zio yang baru saja tiba di lantai atas sambil menatap ke arah pintu kamar orang tuanya.
Zio beralih menatap Nia dan Aya yang sedang duduk di sofa.
Aya memeluk lengan Nia saat mendengar suara ibunya yang terdengar cukup keras.
"Mami sama Papi kenapa, Nia?" Zio berjongkok di depan Nia.
"Fazra pergi, gak tau kemana. Tadi sempet ketemu di jalan sama Mami Papi. Kayaknya Fazra lagi marah soal kemaren, waktu Papi bentak Fazra. Mami bilang sama Papi untuk nyusul Fazra tapi Papi malah nyuruh orang lain. Mami marah."
Terdengar suara helaan napas dari Zio.
Zio ikut duduk di sebelah Aya memeluk adiknya.
"Abang."
Zio menunduk menatap Aya.
"Mami malah."
"Enggak, Mami gak marah. Jangan takut, ada Abang sama kak Ia." Zio tersenyum sambil mengelus lengan Aya.
"Kamu cari dimana Fazra sekarang! Ini udah malem, kepala aku sampe sakit mikirin dimana anak aku, lagi sama siapa, apa anak aku udah makan atau belum."
Zio dapat merasakan pelukan Aya mengerat setelah mendengar suara Reya tadi. Zio yang sedang menatap ke arah lantai menoleh ke arah Nia.
Nia sedang menangis, terdengar dari suara isakan kecil dari gadis itu.
Zio memindahkan Aya ke pangkuannya mendekati Nia menarik adiknya itu ke dalam pelukannya.
"Ini kenapa gue pake minggat segala, jadi ribet sendiri kan." Fazra membuka bungkus roti yang baru saja ia beli di minimarket dan memakan roti tersebut di depan minimarket.
Fazra yang baru saja mengunyah menoleh ke kiri dimana ada seorang anak laki-laki yang memiliki tinggi badan sedada nya tengah menatapnya dengan baju yang kotor serta compang-camping.
Fazra terlihat jijik namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak membuat sang anak tersinggung.
"Laper." Katanya sambil menunjuk roti milik Fazra.
Fazra menatap rotinya yang baru sekali ia gigit.
"Gue juga gak ada makanan lagi."
"Tapi aku laper." Katanya dengan memelas.
Fazra menatap rotinya lalu menatap anak itu.
"Ya udah." Fazra memberikan rotinya.
Anak tersebut langsung tersenyum sumringah.
"Makasih." Katanya sebelum pergi berlari.
Fazra menghela napas dengan kedua tangan yang berada di pinggangnya.
"Kemana coba gue." Gumam Fazra memperhatikan kendaraan yang lewat.
"Gue minggat aja gak dicariin. Segitu gak pentingnya gue di keluarga gue sendiri?" Fazra tertawa getir.
"Hape ancur, duit kagak ada, gak dicariin keluarga. Fix, otw jadi gelandangan gue."
Fazra menguap mulai merasa kantuk, ia pun menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh.
Fazra menoleh kebelakang dimana pekerja minimarket mulai menutup minimarket tersebut.
Fazra pun melangkah pergi sambil sesekali menendang batu ataupun botol plastik yang menghalangi langkahnya.
Langkah kaki Fazra terhenti saat ia sudah berada di halte bus.
Fazra menatap kursi halte bus tersebut berpikir bahwa kursi itulah yang akan menjadi alas tidurnya.
"Ini gue beneran tidur di sini anjir? Kalo gue diculik gimana." Kata Fazra sambil duduk dan menaruh tas ranselnya di pangkuannya.
Fazra memeluk tas nya sambil memperhatikan kendaraan yang lewat dengan jumlah yang tidak banyak, jalanan mulai sunyi, dan jujur saja Fazra mulai takut.
"Mami." Gumam Fazra tiba-tiba saja teringat ibunya.
Dengan cepat tangan Fazra bergerak menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir, mungkin saat ia memanggil dan mengingat ibunya.
Fazra menaruh tas nya di ujung kursi, tanpa melepas sepatunya Fazra membaringkan tubuhnya.
Fazra menghela napas menaruh tangan kirinya di atas keningnya sambil menatap atap halte bus. Tak lama kedua mata Fazra terpejam karena rasa kantuk mulai menyelimutinya.
Kedua mata Fazra terbuka secara perlahan saat merasakan kaki nya di sentuh. Sentuhan tersebut terasa begitu dingin di kaki Fazra.
"HUAAAH!!!" Fazra terkejut bukan main, tubuhnya refleks mundur hingga menabrak pembatas halte.
Tubuh Fazra mulai bergetar ketika di hadapannya ada seorang anak gadis seumurannya tengah berdiri diam menatapnya dengan wajahnya yang pucat, tak lupa rambutnya yang hitam ikut tergerai.
"E-elo, Lo siapa?"
"Jangan duduk!" Seru Fazra saat gadis itu hendak duduk.
Gadis tersebut duduk menatap ke arah jalanan.
Ekspresi serta penampilan gadis itu sungguh membuat Fazra keringat dingin.
"Mami." Gumam Fazra memeluk erat-erat tas nya.
Tangan Fazra memeluk semakin erat lagi tas nya saat gadis itu menoleh.
"Gue bukan hantu."
Seketika rasa takut Fazra hilang, walaupun masih tersisa sedikit setidaknya Fazra merasa lega.
"Laki-laki kok penakut." Cibir nya kembali menatap ke arah jalanan.
"Jadi Lo siapa?"
"Ngapain Lo di sini? Gembel baru?"
Mata Fazra membulat.
"Gue bukan gembel, gue cuma lagi minggat dari rumah." Entah mengapa Fazra langsung berani melawan ucapan gadis itu dengan lantang.
Gadis tersebut tertawa meremehkan.
"Yang artinya bentar lagi Lo bakal jadi gelandangan."
"Enggak ya, gue cuma minggat dari rumah. Lo liat aja gue pasti bakal dicariin sama orang tua gue."
"Anak Mami."
Fazra berubah kesal.
"Lo siapa sih? Enteng bener tu mulut." Fazra menurunkan kedua kakinya dari kursi.
Mereka duduk berjauhan, sama-sama duduk di ujung kursi.
Fazra melirik gadis yang sekarang hanya diam saja. Diam nya gadis itu membuat rasa takut Fazra kembali muncul.
"Eh."
Gadis itu menoleh.
"Jangan noleh Lo! Serem tau." Aku Fazra. Wajah gadis itu yang pucat, rambutnya yang tergerai serta cara menoleh dengan gerakan yang lambat membuat Fazra bergidik ngeri.
Fazra refleks menutup perutnya yang sedang bunyi membuat gadis itu menoleh menatap perut Fazra.
"Malu-maluin anjir." Gumam Fazra terus menutupi perutnya.
"Ikut gue." Gadis tersebut beranjak berdiri.
"Gak mau!" Fazra menggeleng menatap ke arah jalanan.
"Lo mau culik gue kan?"
"Gue punya makanan."
Fazra diam.
Perlahan Fazra berdiri. Fazra sudah tidak tahan, dirinya benar-benar sangat lapar membutuhkan makanan, dan juga air.
"Awas lu nipu." Fazra menunjuk gadis itu dengan telunjuknya.
Tanpa mengucapkan apapun gadis berwajah pucat itu berjalan terlebih dahulu.
"Apaan nih." Fazra membolak-balikkan makanan yang ada di tangannya.
"Keras banget kek hidup." Lanjut Fazra.
"Rengginang."
"Lo mau bodoh-bodohin gue? Di rumah gue ada rengginang, warnanya cantik bersih, ini kenapa ada item-item nya gini sih."
"Lo anak orang kaya?"
"Iya." Jawab Fazra dengan cepat.
"Kok Lo ambil lagi sih?"
"Lo gak mau kan?"
"Gue gak ada bilang gak mau."
Gadis itu pun memberikan rengginang yang ia ambil pada Fazra.
"Jadi orang susah itu bukan mikirin gimana caranya bisa makan enak, tapi mikirin gimana caranya biar bertahan hidup." Kata Bianca sambil duduk di kursi rotan nya berhadapan dengan Fazra.
Fazra mengambilnya dan duduk di kursi rotan yang lain.
"Lo dengerin apa kata gue, siapa tau bentar lagi Lo bakal jadi gembel."
"Ini rumah Lo?" Fazra memperhatikan rumah berukuran kecil dan sangat sederhana. Tidak ada pilar kokoh seperti di rumahnya, tidak ada televisi, bahkan tidak ada sofa. Hanya ada tempat duduk berbahan rotan yang sudah reyok.
"Nama Lo siapa?"
"Lo mau nyantet gue ya?" Tanya Fazra balik.
"Salah gue nanya nama Lo?"
"Fazra."
Gadis itu diam. Memperhatikan Fazra.
"Nama Lo?"
"Bianca."
"Lo di rumah sendirian?"
"Sama Mama gue."
Fazra tidak akan bertanya soal Ayah gadis itu karena dengan ia menyebut ibunya saja sudah cukup meyakinkan Fazra bahwa Ayah Bianca tidak ada di sisi gadis itu.
"Nyokap Lo kemana?"
"Kerja."
Fazra menaikkan aslinya.
Tengah malam bekerja?
"Kerja apa?"
"Pelacur."
Fazra terkejut karena dengan mudahnya Bianca menyebutkan pekerjaan ibunya.
"Emm... Tadi Lo di halte ngapain?"
"Nungguin Mama gue."
"Kapan nyokap Lo pulang?"
Bianca menggeleng. "Gak tau, bisa tengah malem, subuh, atau gak pulang sama sekali."
Kunyahan mulut Fazra melambat mendengar betapa tegar nya anak seusia Bianca dalam menceritakan kehidupannya.
Fazra berdehem.
"Kalo bokap nyokap gue emang nyariin gue, Lo ikut gue aja."
Bianca mengerenyit.
"Lo jangan kepedean dulu ya, gue ngajak Lo bukan karena gue suka sama Lo. Masih kecil, gak boleh pacaran."
"Gue gak mikir sampe situ."
"Lo ngomong kenapa kadang irit kadang gak sih?"
"Kenapa Lo kabur dari rumah?"
Fazra menghela napas.
"Lo broken home?"
Fazra menggeleng.
"Enggak?"
"Gak tau maksudnya."
"Gue lagi kesel sama bokap gue." Lanjut Fazra.
"Selingkuh?"
"Ya gak lah! Ya, lagi kesel aja."
"Jadi cara ngilangin rasa kesel Lo, Lo kabur?"
"Lo gak ngerti gimana jadi gue."
"Lo lebih gak ngerti gimana jadi gue."
Fazra terdiam.
"Anak Mami sok-sokan kabur."
"Udah dua kali Lo bilang gue anak Mami."
"Emang Lo anak Mami."
"Gue bukan anak Mami!" Fazra mengacungkan telunjuk nya.
"Lo pikir gue gak denger di halte tadi Lo manggil Mami Lo?"
Fazra menurunkan telunjuknya.
Bianca beranjak dari duduknya masuk ke kamar dimana pintunya hanya tertutupi oleh kain.
Binaca keluar memberikan sarung pada Fazra.
"Lo boleh tidur di sini." Bianca memberikan sarung yang ia pegang.
Bianca kembali masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi.
Fazra mengambil gelas yang terletak di meja kecil yang ada di sampingnya lalu menenggak habis air putih yang rasanya sangat aneh menurutnya.
"Lo mau kemana?" Fazra mengikuti Bianca yang berjalan keluar rumah.
"Ngamen."
"Ngamen?" Fazra terlihat syok.
"Gue gak maksa Lo untuk ikut ngamen, gak usah kaget."
"Kalo gak ada Lo gue sama siapa?"
"Mana gue tau."
Fazra mendengus kesal.
"Eh, tungguin gue." Fazra buru-buru masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas nya.
"Ikut?"
Fazra mengangguk.
Kedua anak itu pun berjalan bersama-sama keluar dari gang.
Fazra mengikuti kemanapun Bianca melangkah. Ketika Bianca turun ke jalan raya dimana sedang terjadi lampu merah Fazra hanya memperhatikan Bianca dari pinggir jalan sambil sesekali melirik mobil yang mirip dengan mobil keluarganya untuk melihat plat nya.
"Dapet berapa?" Tanya Fazra saat Bianca menghampirinya bersamaan dengan lampu hijau yang sudah menyala.
"Lima ribu."
"Dikit amat, padahal tadi yang ngasih pada naik mobil semua. Curiga gue pasti mobil rentalan."
Bianca tidak menggubris Fazra melangkah meninggalkan Fazra yang masih mengoceh.
"Eh! Woy! Tunggu!" Fazra berdecak ketika baru menyadari bahwa dirinya ditinggal begitu saja.
"Tujuh ribu." Fazra memberikan uang hasil mengamen yang sudah ia hitung.
"Itu berapa?" Tanya Fazra.
"Lima belas ribu."
Bianca melipat dengan bagus uang hasil jerih payahnya dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
"Makasih udah mau bantuin."
"Itung-itung nambah pengalaman." Sahut Fazra sambil menatap ke arah jalanan yang sepi.
"Ini udah sore, Lo belum dicariin keluarga Lo."
Fazra menghela napas berbaring di atas rumput yang mereka duduki.
"Mungkin bener kata Lo, gue bakal jadi gembel."
Bianca tersenyum kecil.
Fazra memperhatikan Bianca. Bianca mempunyai wajah yang cantik, serta kulitnya yang putih, namun sayangnya pucat. Hidung Bianca juga cukup mancung, bulu matanya lentik. Fazra yakin jika Bianca dulu nya berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan.
"Lo gak mau ikut gue?"
"Ke rumah Lo?"
Fazra mengangguk.
"Enggak, kasihan Mama gue."
"Kalo gue jadi Lo gue bakal pergi jauh. Gue yakin nyokap Lo gak mikirin Lo lagi, yang ada dipikiran dia cuma gimana caranya dia bisa dapet uang."
Bianca tertawa kecil.
"Biar gimanapun dia yang udah ngelahirin gue. Gue hargai pendapat Lo, sayangnya gue gak tertarik."
"Jadi Lo gak mau ikut gue?"
"Ngapain gue ikut Lo sedangkan bentar lagi Lo bakal jadi gembel."
Fazra menghela napas panjang.
"Iya sih."
Bianca kembali tertawa kecil.
"ABANG!!"
Fazra terlonjak kaget dan langsung duduk ketika mendengar suara ibunya. Fazra mencari-cari dari mana suara itu berasal hingga Fazra melihat ibunya berlari ke arahnya.
Mata Fazra berkaca-kaca saat melihat ibunya.
"Mami." Fazra langsung berdiri.
Air mata Fazra tumpah saat dirinya dan Reya sudah berpelukan, ditambah lagi Fazra tidak kuasa mendengar suara tangis ibunya.
"Fazra kemana aja, nak?" Reya memeluk erat Fazra sambil menangis.
Fazra tidak menjawab karena ia sedang menahan tangisnya agar tidak kembali pecah. Fazra sungguh merindukan ibunya.
Tanpa melepaskan pelukannya Reya menatap Bianca yang sedang berdiri memperhatikan mereka.
"Ini Bianca, temen Abang. Abang tidur di rumah Bianca, Bianca juga ngasih Abang makan." Fazra memperkenalkan Bianca pada Reya.
Reya tersenyum dengan tatapan penuh terima kasih.
"Makasih, makasih banyak."
Bianca tersenyum seraya mengangguk.
Dengan posisi masih berpelukan Reya mengajak Bianca berbicara sedangkan Fazra melirik untuk mencari keberadaan Nevan, tidak ada Nevan, hanya Reya.
Fazra mengeratkan pelukannya sambil memperhatikan Bianca yang sedang berbicara dengan Reya.
"Abang."
Mereka menoleh ke arah pria dengan setelan kerja nya berdiri dibelakang Reya.
Fazra tidak dapat menahan tangisnya ketika dirinya dipeluk oleh Nevan. Fazra menangis tersedu-sedu saat Nevan memeluknya dengan erat.
"Maafin Papi yang belum bisa ngerti Abang, maaf Papi belum bisa jadi Ayah yang baik untuk Abang." Ucap Nevan sambil mengelus punggung Fazra.