Chapter 11

1345 Words
"Menurut gue bokap pilih kasih banget!" Fazra melemparkan anak panah berukuran kecil ke arah lingkaran yang ada di dinding kamarnya. "Yang selalu diperhatikan cuman Aya! Nia! Sama bang Zio!" Fazra melempar dengan geram anak panah tersebut hingga ada yang meleset ke dinding. "Emang apa yang gue minta dikasih, tapi gue juga pengen diperhatiin. Bukan sama nyokap doang, sama bokap juga." "Gue sering gangguin Nia supaya bokap merhatiin gue! Supaya bokap ngomong sama gue! Gue gangguin Nia karena gue pengen diperhatiin!" Fazra melempar semua anak panahnya hingga jatuh berserakan di lantai. Fazra berbaring terlungkup menenggelamkan wajahnya di bantal dengan satu tangan memeluk guling nya. "Abang." Wajah Fazra tenggelam semakin dalam saat mendengar suara lembut ibunya. "Mami boleh masuk?" Fazra hanya diam. "Mami masuk ya." Reya masuk ke kamar Fazra dan tidak lupa menutup pintu. "Abang kenapa di kamar? Makan yuk." Ajak Reya duduk di tepi tempat tidur Fazra dekat dengan anaknya. "Duluan." "Abang lagi ngambek sama Papi?" Fazra tidak menjawab. "Kan Abang tau tadi tuh kepala Papi lagi pusing, terus denger kalian teriak-teriak. Apalagi denger teriakannya Nia, kuat banget kan. Kepala Papi makin sakit dengernya." "Papi marah sama Abang." "Papi gak marah, biasanya juga kalo Abang sama Nia berantem Papi gak marah kan?" "Marah." Reya menghela napas. "Makan dulu yuk, ntar perutnya sakit lho." Kata Reya sambil mengelus punggung Fazra. Fazra menjauhkan wajahnya dari bantal dan duduk. "Duluan." Kata Fazra sambil menunduk dan memainkan ujung bantal nya. "Ntar kalo udah di meja makan Papi pasti ajak Abang ngomong." "Telat." Reya mengerenyit. "Telat kenapa?" Fazra menggeleng. "Jangan tertutup gitu dong sama Mami, Abang punya masalah? Cerita aja sama Mami." "Abang kayak gini aja Papi baru mau ngomong." "Kan Papi emang selalu ngomong sama Abang." "Kalo lagi ada perlunya aja." Sepertinya Reya tahu apa permasalahan yang sebenarnya. "Abang pengen ya ngobrol sama Papi?" "Udah males." Fazra kembali berbaring. "Abang gak boleh kayak gitu." "Papi yang gak boleh kayak gitu! Bang Zio, Nia, Aya, mereka deket sama Papi, bang Zio yang udah SMA gitu juga deket banget sama Papi. Papi rela anter jemput bang Zio. Sedangkan jemput Abang aja Papi gak pernah, jemput Abang kalo Abang emang lagi sama Nia. Waktu itu Abang ada futsal yang jemput Abang supir, bukan Papi, padahal Papi di rumah kan? Mereka semua deket sama Papi Mami, sedangkan Abang? Cuma deket sama Mami." "Kalo emang tadi kepala Papi makin pusing denger teriakkan Abang sama Nia kenapa cuma Abang yang dibentak? Apa karena Abang duluan yang buat masalah makanya Papi gak bentak Nia, karena Nia anak cewek jadi gak pantes dikasari. Takut Nia nya marah? Emang Abang gak bisa marah juga, Mi?" Mendengar ucapan Fazra entah mengapa Reya sedih mendengarnya. Setelah ia pikir-pikir, apa yang Fazra ucapakan benar. Nevan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aya ataupun Nia, kadang waktu senggang Nevan ia gunakan untuk menjemput Zio. "Abang anak kandung Papi diperlakuin kayak anak tiri. Bang Zio yang anak tiri diperlakuin kayak anak kandung." Raut wajah Reya berubah seketika. "Abang tau bang Zio bukan anak kandung Papi Mami." Ucap Fazra sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. "Mami makan duluan, jangan nunggu Abang. Abang juga gak mau Papi ke sini." Setelah berbicara seperti itu Fazra menutup pintu kamar mandi. "Fazra nya mana, Mi?" Tanya Zio ketika Reya datang menghampiri mereka. "Masih di kamar." Jawab Reya duduk di dekat Nevan. "Dia gak mau makan?" Tanya Nevan. "Mas." Reya menahan Nevan yang hendak pergi. "Nanti Fazra ke sini, kita makan duluan aja." Reya langsung mengambil piring Nevan dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Tiga puluh menit berlalu, Fazra tidak juga datang makan bersama mereka. Kursi yang ada di sebelah Nia yang merupakan kursi Fazra masih kosong. Meja makan pun sudah sunyi, Zio pergi ke kamarnya, Nia dan Aya asyik menonton video klip pacar mereka dengan menggunakan laptop sang Ayah dan Nevan Reya duduk di sofa ruang keluarga dekat dengan kedua anak perempuan mereka. "Kamu mau kemana?" "Ngambil makanan untuk Fazra, kan belum ada makan dia." Balas Reya berjalan ke arah dapur. Nevan beranjak mengikuti Reya. "Kamu mau ngapain?" Tanya Reya saat ia sudah membawakan makanan untuk Fazra. "Ya ngeliat Fazra." "Tumben." Sindir Reya melangkah terlebih dahulu. Reya mengatakan seperti itu karena Nevan memang jarang sekali ke kamar Fazra, yang sering membangunkan Fazra saja Reya atau Zio. Karena kalau Nia bukannya segera bergegas siap-siap untuk pergi sekolah yang ada mereka akan ribut. Sedangkan untuk Nevan pria itu lebih sering membangunkan Nia. "Abang, ini Mami nak." Reya mengetuk-ngetuk pintu kamar Fazra. Tak lama pintu terbuka. Ceklek. Blam!! Pintu yang baru terbuka kembali tertutup dengan keras. "Kenapa gitu ngeliat aku pintunya langsung di tutup? Fazra marah sama aku?" Reya menatap makanan yang ia bawa lalu menatap Nevan. "Fazra kaget denger kamu bentak dia tadi sore, mungkin sekarang Fazra takut sama kamu. Kamu turun aja kebawah liatin Aya. Besok-besok Fazra pasti lupa sama kejadian tadi sore." Reya mendorong tubuh Nevan dengan siku nya karena kedua tangannya memegang piring dan gelas. Saat Nevan sudah pergi Reya kembali mengetuk pintu kamar Fazra. "Abang, Papi udah pergi. Buka ya pintunya." "Bohong." Sahut Fazra dari dalam kamarnya. "Enggak, beneran udah pergi. Abang boleh marah sama Mami kalo emang Papi masih ada." Ucapan Reya barusan sukses membuat Fazra membuka pintunya. "Pegangan yang kuat ya, ntar jatoh." Aya mengangguk mengeratkan lingkaran kedua tangannya di pinggang Nia. Aya sedang duduk di bangku sepeda yang ada di belakang tepat duduk yang Nia duduki. Aya menaikkan kedua kakinya agar tidak terkena jari-jari sepeda. Aya terlihat menggemaskan dengan kaki yang dinaikkan, kedua tangan yang melingkar di pinggang Nia serta pipinya yang menempel di punggung Nia. Aya tertawa saat sepeda yang Nia bawa mulai jalan karena itu pertama kalinya Aya naik sepeda berukuran besar. Nia berhenti mengayuh sepedanya ketika melihat Fazra hendak lewat. Nia mengerenyit melihat Fazra langsung lewat begitu saja tanpa menggangu dirinya seperti biasanya, jelas-jelas tadi Fazra lewat di depannya dan tidak mungkin Fazra tidak menyadari kehadirannya. "Kenapa tu anak." "Ciapa?" Aya sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Nia dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Nia. "Anak kecil gak perlu tau." Balas Nia memperhatikan Fazra yang baru saja keluar dari gerbang dengan memakai tas. "Aya pindah." Nia membantu Aya turun dari sepeda. "Duduk di keranjang, kita mau intai si Fazra." Dengan susah payah Nia menaruh Aya di keranjang sepedanya, dan untungnya sangat pas untuk tubuh mungil Aya. "Nah kalo kayak gini kan aman." Ucap Nia setelah berhasil memindahkan Aya ke keranjang sepedanya. "Buset, kenapa di sini lu berat dek." Nia kesusahan untuk mengatur stang sepeda nya yang terasa begitu berat dengan adanya Aya di keranjang. "Ih, seluuuu." Kata Aya sambil tertawa saat sepeda Nia sudah kembali jalan. "Nah, itu dia." Nia mempercepat mengayuh sepedanya ketika masih dapat melihat Fazra walaupun dari kejauhan. Fazra menghela napas ketika mata nya tanpa sengaja melihat mobil milik Nevan. Tin! Tin! "Abang mau kemana?" Tanya Nevan. Fazra hanya menatap Nevan sekilas lalu kembali berjalan. "Itu Aya sama Nia?" Reya yang kebetulan ada di mobil menyipitkan mata untuk memastikan pengelihatannya. "Ini anak-anak pada mau kemana. Yang satu jalan, yang satu naik sepeda, yang satu di keranjang sepeda, yang satu nya lagi masih di sekolah." Gumam Nevan sambil membuka safety belt nya dan keluar dari mobil. "Eh, mau kemana." Nevan menghadang sepeda Nia. "Papi." Aya tersenyum melambaikan tangannya. "Ayo turun." "Gak mau!" Aya melipat kedua tangannya di depan perut dan membuang wajah. "Nanti jatuh." "Enggak!" Seru Aya dengan bibir mengerucut. "Itu Fazra mau kemana?" Tanya Nevan pada Nia. "Kalian berantem lagi?" "Enggak, ya ini Nia mau ngikutin. Lagi ngambek tuh kayaknya dia." "Mas, ayo ikutin Fazra nya." Reya menunjuk Fazra yang berjalan sudah semakin jauh. "Gak usah." Reya yang sedang menatap Fazra langsung menoleh. "Halo, tolong awasi anak saya. Fazra, kalau bisa bawa dia pulang." Nevan menelfon seseorang yang merupakan orang suruhannya untuk mengawasi Fazra. "Yang Fazra mau itu kamu, bukan supir kamu! Apalagi orang suruhan kamu!" Kata Reya dengan kesal kemudian masuk ke dalam mobil. Nevan, Nia, bahkan Aya terdiam melihat Reya yang sepertinya baru saja marah. "Mami malah?" Tanya Aya pada Nia dengan sangat pelan. Nia menggeleng memundurkan sepedanya. "Nia sama Aya pulang duluan." Ucap Nia membelokkan sepedanya lalu pergi kembali ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD