Chapter 10

1805 Words
Fazra menoleh ke kanan dan Nia menoleh kiri dimana diantara mereka ada dua lembar uang berwarna biru. Kedua anak itu kompak mendongak menatap Nevan yang berdiri diantara mereka. "Katanya dua puluh ribu." Ucap Fazra dan Nia bersamaan. "Ya udah kalo gak mau." Dengan cepat uang yang ada di tangan Nevan lenyap. Nevan duduk di kursinya setelah uang yang ia beri sudah berada di tangan Fazra dan Nia. "Sekali lagi ya, awas kalo Aya sampe nangis lagi, awas kalo kalian berantem lagi." Fazra dan Nia langsung mengangguk. "Pagi semua." Sapa Zio sambil duduk. "Abang hari ini ada latihan basket?" Tanya Nevan. "Ada, Pi. Mungkin sampe di rumah malem." "Motor Abang besok baru bisa diambil, ntar malem mau dijemput?" Zio menggeleng seraya memakan sarapannya. "Oke, Papi jemput." Zio berhenti mengunyah. "Abang gak mau dijemput." Zio mengucapkan dengan kalimat jika dengan gelengan kepala Nevan tidak mengerti. Nevan mengangguk, "Papi jemput." Bukan hanya Zio, Fazra dan Nia menatap Nevan yang sedang makan dengan penuh keheranan. "Gue rasa Papi udah mulai bermasalah." Bisik Fazra pada Nia. "Maklum, udah tua." Balas Nia tanpa memelankan suaranya. Fazra menatap Nia yang sedang makan, merasa ada yang aneh Nia pun juga menatap Fazra. Keduanya saling tatap. Hingga mereka tersadar. "Dih, ngapain gue ngomong ama lu." Nia menggeser tubuhnya. "Amit-amit." Fazra mengetuk-ngetuk kepalanya lalu mengetuk meja beberapa kali. "Pagi, princess." Nevan menyapa Aya yang masih acak-acakan karena baru bangun tidur. "Cama Abang." Reya yang hendak menurunkan Aya di pangkuan Nevan dimana tangan Nevan juga sudah terulur menjauhkan Aya dari Nevan dan meletakkan anak itu di pangkuan Zio. "Rambutnya masih acak-acakan, belum mandi udah keluar kamar." Ucap Zio sambil menyisir rambut Aya dengan tangannya. Aya menyandarkan kepalanya di d**a Zio melamun memperhatikan ibunya yang sedang mengambil buah sambil tangan Aya memainkan jempol kakinya. "Udah jam setengah tujuh, ayo kita berangkat." Nevan berdiri mengambil jas nya yang ada di sandaran kursi. Zio menyerahkan Aya pada Reya. "Abang pergi sekolah dulu." Aya melambaikan tangannya dan langsung dibalas oleh Zio. Zio sudah bersiap-siap sedangkan untuk Fazra dan Nia malah tetap duduk diam. "Gak mau berangkat?" Tanya Nevan pada dua anaknya. "Tapi naik angkot." Jawab mereka bersamaan. "Ya udah kalo gak mau dianter." Dua anak itu langsung berdiri mengambil tas mereka dan pamit pada Reya dan Aya. "Papi, bawain. Berat," kata Nia dengan manja sambil menyerahkan tas nya yang berwarna pink. Nevan mengambil tas Nia dan memakainya di kedua bahunya sekaligus dan berjalan. Nia tersenyum mengeluarkan ponselnya untuk membuat sebuah video pendek tentang Nevan yang membawa tas nya. "Sssttt!" Aya yang sedang bermain boneka menoleh. "Mau gak kita main polisi-polisian?" Tanya Nia. "Mau, Aya mau!" Balas Aya dengan cepat dan semangat. Nia tersenyum. "Kakak sama Aya jadi polisi nya, penjahat nya si Fazra." Nia menunjuk Fazra yang sedang berbaring sofa berukuran panjang yang ada di dekat kamar orang tua mereka. "Tangkep Fazra. Kalo perlu pukul jantung nya! Cubit amandel nya! Jambak gigi nya! Tarik mata nya!" Ucap Nia dengan semangat '45. Aya mengangguk menatap garang Fazra. "Si Fazra udah ambil uang kakak, dia itu perampok. Harus ditangkap!" Nia sedang kesal dengan Fazra karena uang 50 ribu nya diambil oleh Fazra dan Fazra mengatakan bahwa uang 50 itu adalah miliknya. Nia sudah sangat emosi namun ia tahan mati-matian agar tidak meledak, satu-satunya cara supaya rasa kesalnya hilang adalah memanfaatkan Aya. "Nanti bilang sama dia, balikin uang kak Ia. Kalo gak aku pukul!" Aya yang sedang duduk di karpet bangkit berdiri. Aya mengacungkan jempolnya. "Sana, tangkep." "Oke." Aya mengambil sendok masak-masakan nya dan berlari ke arah Fazra. "Abang!" Fazra menurunkan ponsel yang menutupi mata nya menatap Aya yang tengah berkacak pinggang. "Balikin uang kak Ia!" Fazra beralih menatap Nia yang sedang pura-pura bersiul sambil merapikan mainan Aya. "Mau Aya pukul?!" Aya mengangkat sendok masakannya. "Bocah ngapa sih." Gumam Fazra kembali memainkan ponselnya. "Eeeehh!" Fazra terkejut karena tiba-tiba saja ponselnya diambil. Aya berlari ke arah pembatas tangga mengulurkan tangannya yang mungil dari celah pembatas tangga membuat Fazra keringat dingin seketika. Melihat Aya mengancam Fazra dengan menjatuhkan ponsel Fazra dari atas membuat Nia menahan tawanya tidak kuasa melihat wajah panik Fazra. "Balikin hape Abang, jangan gitu ah tangannya." "JANGAN!" Kata Fazra dengan keras saat tangan Aya terulur semakin jauh dari pembatas tangga. Aya tertawa geli melihat Fazra. Bisa saja Fazra menangkap tubuh Aya dan merampas ponselnya, namun Fazra takut saat ia sudah menangkap tubuh Aya tangan Aya malah melepaskan ponselnya. "Balikin uang kak Ia!" Aya menunjuk Nia yang berada di belakangnya. "Eh, anjir. Gue baru sekali ngambil uang Lo, sedangkan Lo?! Udah lima kali!!!" "Yang gue ambil cuma dua puluh ribu ya, Fazra. Sedangkan Lo?! Ngambil lima puluh ribu uang gue!!" "Lo..." "Abang!" Panggil Aya. Fazra menoleh. Aya menggoyangkan ponsel Fazra yang ada di luar pembatas tangga. Dengan wajah tanpa dosa Aya melepaskan ponsel Fazra. "HAPE GUE!!!!" "ADOOOH!!!" "Untung kepala kamu gak botak, mas." Ucap Reya sambil mengelus-elus kepala Nevan. "Sakit banget." Nevan memegangi kepalanya yang baru saja tertimpa musibah. Reya menatap tiga anaknya yang berdiri bersebelahan. "Siapa yang ngelempar handphone Abang?" Nevan menjauhkan wajahnya dari perut Reya menatap kesal Fazra dan Nia. Tatapan Nevan berubah lemah saat Fazra dan Nia langsung menunjuk Aya yang sedang menatapnya sembari memainkan jemari mungilnya. "Papi, solly." Aya menundukkan kepalanya. "Kepala Papi sampe pusing nih." Kata Nevan dengan nada sedih. Wajah Aya berubah sedih, dengan perlahan ia naik ke atas tempat tidur mendekati Nevan dan melingkarkan tangannya di leher Nevan. "Solly." Aya menempelkan pipinya di pipi Nevan. "Kiss Papi kalo mau dimaafin." Aya langsung mencium Nevan dengan waktu yang lama. "Kenapa handphone Abang di lempar? Abang nakal sama Aya?" Tanya Nevan sambil melirik Fazra. "Pi," Mereka menatap ke arah pintu dimana ada Zio yang baru saja membuka pintu kamar. "Ada opa sama oma." "Yeeeeyy!!! Opa oma!" Aya langsung turun dari tempat tidur berlari keluar kamar. N evan meringis karena kepalanya masih sakit lalu duduk di sofa. "Kamu kenapa?" "Kepalanya kena lempar handphone, Ma." Reya yang menjawab. "Hahahaha." Terdengar suara tawa dari pria berumur yang masih terlihat menawan yang duduk tepat di depan Nevan. Ardhan. Reya dan Rara memilih untuk pergi ke dapur untuk membuat makanan. "Siapa yang ngelempar?" Tanya Ardhan. "Noh, si bocil." Nia menunjuk Aya yang ada di pangkuan Ardhan. "Waah, keren cucu opa." Aya tersenyum lebar setelah dipuji oleh Ardhan. "Mama Papa mau ngapain ke sini?" Tanya Nevan sambil sesekali memijat kepalanya. "Emangnya kalo mau ketemu sama anak cucu kudu pake alesan?" Tanya Ardhan balik. Ardhan sudah punya cucu dan Nevan sudah punya anak empat pun kedua laki-laki itu masih saja suka berdebat. "Haduh, ganteng banget oppa gue." "Oh iya dong, jelas." Nia mengalihkan mata nya dari ponsel menatap Ardhan yang sedang membanggakan dirinya. "Bukan opa situ, oppa ini." Nia menunjukkan foto idol nya kepada Ardhan membuat bibir Ardhan terkatup rapat. "Daripada opa narsis, masih suka puji diri sendiri, lebih bagus opa banyak-banyak ibadah. Inget, dosa apa aja yang udah opa lakuin, umur udah makin nambah, semakin memungkinkan untuk lebih dekat dengan Tuhan." Nevan langsung tertawa dengan keras lalu diikuti oleh Fazra. "Nia gak boleh ngomong gitu." Bisik Zio. "Nia cuma bercanda kok." Balas Nia berbisik. "Bapaknya banget emang." Gumam Ardhan sambil membenarkan kerah baju Aya. Ardhan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Ini buat Aya, untuk jajan Aya." Ardhan memberikan Aya uang seratus ribu seraya melirik Fazra dan Nia. "Makacih, opa." "Sama-sama." Ardhan mencubit gemas pipi gembul Aya. Melihat Aya diberi uang mata Fazra dan Nia langsung bersinar. "Ini juga, buat Abang." Ardhan memberikan uang dua ratus ribu pada Zio. "Emm... Gak usah opa." Kata Zio sambil tersenyum. "Ah, gak papa. Masa opa kasih Abang duit setahun sekali, pas lebaran doang." Ardhan mengambil dua ratus ribu lagi dari dompetnya dan sekarang total uang yang Ardhan berikan pada Zio adalah empat ratus ribu. "Tapi Abang..." Ardhan mengambil tangan Zio dan memberikan uang empat ratus ribu tersebut. "Ditabung uang nya, biar makin banyak uang Abang." Ucap Ardhan sambil tersenyum dan menyimpan dompetnya. Zio tertawa, "makasih, opa." Ardhan mengangguk diselingi senyuman. "Misi." Nia mengangkat tangannya. "Yang ini belom." Nia menunjuk dirinya dan Fazra. "Oh, kan udah." "Lah, kapan?" Tanya Fazra. "Waktu lebaran." Ardhan menepuk sekali tangannya. Wajah Fazra dan Nia berubah memelas. "Ntar deh ya opa kasih, waktu lebaran. Hahahaha... Uhuk! Uhuk!" Ardhan terbatuk-batuk setelah ia tertawa keras. "Kemaren baru aja ada kejadian opa-opa meninggal karena pelit sama cucunya, serem yah." Kata Fazra sambil menatap Nia. Nia mengangguk. Soal duit meminta duit mereka berusaha untuk akur dan kompak. "Serem tau, awas loh ntar opa yang kayak gitu." Timpal Nia. "Halah," Ardhan mengibaskan tangannya. "Cerita kayak gitu cuma ada di TV dangdut-dangdut itu." Ardhan memindahkan Aya di sebelahnya. "Udah ya, opa oma mau pulang dulu." Fazra dan Nia langsung mendekati Ardhan menarik-narik tangan Ardhan. "Masa Nia gak dikasih, opa." "Opa gak boleh pilih kasih lho!" Tubuh Ardhan terombang-ambing ke kanan dan kiri karena dua cucu nya itu duduk di sebelahnya sambil menarik-narik tangannya. Aya yang sudah tersingkir ke ujung sofa memperhatikan Abang dan kakaknya. "Itu si bapak banyak lho duitnya." Ardhan menunjuk Nevan yang sedang menopang kepalanya dengan tangan. Nevan biasanya banyak bicara bahkan berdebat dengan Ardhan jika Ayahnya itu datang, namun karena kepalanya sakit Nevan memilih untuk diam dan rasanya semakin sakit lagi mendengar rengekan Nia dan Fazra. "Tadi Nia udah jelek-jelekin opa." "Ih enggak lagi deh, beneran." "Giliran minta duit aja bilang nya enggak. Besok ketemu opa dijelek-jelekkin lagi kalo udah di kasih duit hari ini." "Namanya juga trik supaya dikasih duit." Balas Nia menarik-narik tangan Ardhan. Fazra dan Nia tersenyum melihat Ardhan sudah mengeluarkan dompet. Ardhan mengeluarkan uang dua ribu dan memberikannya pada Fazra. "Yang warna merah napa." Karena Fazra tidak mau Ardhan memberikan uang dua ribu tersebut pada Nia. "Bukannya sombong, gak pernah pegang uang dua ribu." "Banyak gaya." Gumam Ardhan dapat di dengar oleh dua cucunya. "Opa gak boleh pelit-pelit." Kata Nia. Ardhan pun mengambil uang seratus ribu dan ia berikan pada Fazra. Fazra tertawa ketika tangannya sudah memegang uang seratus ribu. Ardhan kembali mengambil uang seratus ribu dan ia berikan pada Nia. Namun dengan cepat uang tadi malah diambil oleh Fazra dan Fazra langsung kabur. "FAZRA ITU PUNYA GUE!!! BALIKIN KERAK TELOR!!" Teriak Nia dengan keras berlari mengejar Fazra yang juga sedang berlari sambil tertawa. "YA UDEH BALIKIN DULU KERAK TELOR LO NTAR GOSONG." Mata Nevan terpejam mendengar teriakkan dua anaknya yang memenuhi seluruh sudut rumah. "Fazra kasih uang nya, kan punya Nia." Ucap Zio pada Fazra yang sedang berlari di dekatnya. "PAPI FAZRA PI!!!" "FAZRA!!" Fazra yang sedang berlari langsung berhenti mendengar suara keras Nevan, terlebih Nevan memanggil namanya dengan keras untuk yang pertama kalinya. Nia yang sedang duduk di tangga berdiri ketika melihat wajah marah Ayahnya, Nia belum pernah melihat wajah benar-benar marah Nevan sebelumnya. Bahkan Aya sampai takut mendengar suara Nevan, anak itu langsung mendekati Ardhan. Fazra yang sedang berdiri sekitar tiga meter dari Nia melangkah mendekati adiknya. "Makan tuh anak kesayangan." Fazra memberikan semua uang yang ia pegang di tangan Nia lalu ia pergi ke kamarnya dengan langkah yang tergesa-gesa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD