"Kacamata Aya." Nia memberikan kacamata berwarna hitam pada adiknya.
"Kacamata kakak." Nia memakaikan kacamata nya yang berwarna kecoklatan.
"Kenapa walna nya beda?" Tanya Aya penasaran mengapa warna kacamata mereka berbeda.
"Biar gak disangka orang buta, cukup Aya aja yang pake. Oke?"
Aya mengangguk dan memakai kacamata nya.
"Ya udah, jalanin mobilnya."
Aya kembali mengangguk dan mulai menghidupkan mobil-mobilan nya yang dibelikan oleh Nevan.
Sore hari setelah mandi Nia dan Aya memutuskan untuk jalan-jalan sore di sekitar pekarangan rumah mereka yang luas dengan mobil elektrik milik Aya.
Karena tempat duduknya panjang serta tubuh Aya yang mungil cukup memungkinkan Nia untuk naik dan duduk tepat di sebelah adiknya.
Aya pun sudah menjalankan mobilnya dengan lambat serta kacamata hitam yang ia pakai. Sedangkan Nia duduk diam sambil memainkan ponselnya.
Brak!
Nia dan Aya terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Hahaha! Lama, gue tabrak kan." Fazra tertawa setelah menabrak bagian belakang mobil Aya dengan sepedanya.
"Bhay!" Ucap Fazra mengayuh sepedanya dengan kencang.
Nia menaikkan kacamatanya hingga sekarang bertengger di atas kepala memperhatikan Fazra yang sedang memutari air pancur yang ada di depan rumah mereka.
"Emang dasar tu orang suka banget bikin gue naek darah." Nia keluar dari mobil Aya kemudian beralih berdiri di sebelah kanan Aya.
"Geser, biar kakak yang bawa."
"Umm!" Aya mengangguk menggeser tubuhnya.
Aya menaikkan kacamatanya yang sudah merosot turun sampai ke hidung dengan telunjuk mungilnya.
"Aaaaaaa!" Pekik Aya saat Nia tiba-tiba saja melajukan mobilnya dengan kencang, padahal tadi Aya masih membenarkan posisi kacamata nya.
"Kak Ia!"
"Ahahaha!" Rasa takut Aya sudah berubah menjadi rasa senang. Aya sudah terbiasa dan sekarang ia sangat menikmati kecepatan turbo yang Nia berikan.
Aya terus tertawa, kedua tangannya memegang bagian atas kaca mobilnya karena memang atap mobil milik Aya tidak ada. Serta tidak lupa, kacamata hitam yang besar masih berada di mata Aya.
Fazra berhenti mengayuh sepedanya saat mendengar suara mobil Aya terdengar begitu keras. Mata Fazra terbelalak karena ternyata mobil yang Aya bawa sudah beralih dibawa oleh Nia.
Ekspresi wajah Nia terlihat kesal, berbeda dengan ekspresi Aya yang terlihat bahagia.
Fazra kembali mengayuh sepedanya karena jarak mobil Aya dengan sepedanya makin dekat.
"WOY! JANGAN KABUR LO!" Teriak Nia.
Fazra tertawa mengangkat b****g nya dari tempat duduk dan menunjukkannya pada Nia seolah-olah mengejek Nia.
Dimata orang-orang Nia adalah adik Fazra, begitu juga sebaliknya, Fazra adalah Abang Nia. Namun di mata kedua anak itu baik Fazra ataupun Nia adalah musuh terbesar keduanya.
Mereka tidak pernah akur.
Geram, Nia semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Aaaaa... Hahahaha!" Tadinya Aya menjerit, lalu tertawa ketika mobil yang hendak memutari air pancur berbelok dengan tajam dan kencang membuat tubuh mungil Aya terombang-ambing ke kanan dan kiri.
Tanpa ketiga anak itu sadari, dua orang laki-laki yang sedang berdiri di depan gerbang menatap mereka yang sedang kejar-kejaran.
Nevan menghela napas lelah melihat tingkah dua anaknya, Fazra dan Nia.
Mata Nevan tertuju pada Nia yang sedang membawa mobil dengan kencang sambil menyumpah serapah Fazra yang sedang tertawa keras mengejek Nia.
"Itu Aya ketawa-ketawa, bentar lagi nangis takutnya." Ucap Zio masih mengenakan seragam sekolahnya karena ia baru saja pulang sekolah dijemput oleh Nevan karena motor Zio sedang berada di bengkel.
Zio sudah menolak untuk tidak usah dijemput dan mengatakan bahwa ia bisa pulang bersama temannya ataupun naik transportasi umum, namun Nevan bersikeras untuk menjemput Zio.
Aya yang sedang tertawa menoleh ke arah gerbang.
"PAPI!!" Panggil Aya melambaikan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang memegangi bagian atas kaca mobil.
Mendengar Aya menyebut kata Papi Nia langsung menghentikan mobil secara mendadak.
Ciiiiit!
Duuug!!!
"Huaaaaaah!!!"
Nevan membuka dua kancing bagian atas kemejanya lalu duduk menyandarkan tubuh di kursi kerjanya menatap dua anaknya yang sedang berdiri bersebelahan dengan kepala yang tertunduk.
"Abang sama kakak main sepeda main mobil kejer-kejeran, saling ejek, bawa sepeda sama mobilnya kenceng-kenceng, ada Aya di mobil yang kakak bawa terus Aya liat Papi, Aya panggil Papi mobil yang kakak bawa ngerem mendadak dan... Akhirnya kepala Aya kepentok dashboard mobilnya."
Nevan menunjuk Aya yang berada di pangkuan Reya. "Aya nangis."
"Sesuai perjanjian yang udah kita buat, mulai besok Abang sama kakak Papi kasih uang jajan cuma dua puluh ribu, pergi pulang sekolah naik angkot, ntar malem kasih handphone nya ke Papi. Kalo mau main handphone setelah pulang sekolah setelah makan, jangan coba-coba pergi kemanapun kalo udah pulang sekolah. Atau hukumannya makin berat." Ucap Nevan dengan tegas.
"Ada yang mau protes?" Tanya Nevan dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Fazra dan Nia terdiam.
"Hmm?"
Kedua anak itu menggeleng.
"Nanti serahin handphone nya ke Papi, kalian boleh ke kamar."
Tanpa menunggu waktu lama Fazra dan Nia keluar dari ruang kerja Nevan dengan wajah yang menyedihkan.
"Aku pikir kamu keterlaluan." Kata Reya setelah dua anaknya pergi keluar.
"Itu emang udah jadi kesepakatan, mereka setuju kok sama kesepakatannya."
"Gak bisa kayak gitu, Mas. Mereka suka ribut karena emang Fazra suka banget gangguin Nia, Nia juga gak bisa nahan emosinya, Nia anaknya cepet kepancing. Fazra yang jail Nia yang gak bisa nahan emosinya, aku pikir itu penyebab mereka sering ribut. Yang artinya itu emang udah jadi sifatnya mereka, gak ada yang bisa disalahin. Emang udah sifatnya mereka kayak gitu."
Nevan diam memilih untuk membuka laptopnya.
"Gak selamanya mereka terus-terusan ribut. Kalo mereka udah dewasa nanti mereka pasti ngerti kok. Justru untuk sekarang lebih bagus mereka ribut daripada saling diem, kakak adik ya kayak gitu sering ribut, berantem. Rumah juga jadi rame kalo mereka lagi ribut. Ya walaupun kadang aksi ribut nya ekstrim, Nia suka banget mukulin Fazra."
Reya menatap Aya. "Kadang Aya yang suka jadi korban mereka."
Reya kembali menatap Nevan yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Pokoknya aku gak setuju sama kesepakatannya yang kamu buat. Itu bukannya bikin mereka kapok, itu bikin mereka takut sama kamu, takut kalo dikasih hukuman. Mau ditakuti sama anak?"
Nevan menghela napas menoleh pada Reya yang sedang duduk di sofa sambil mengelus-elus punggung Aya.
"Kiss me."
Reya membuang wajahnya menghirup udara sebanyak-banyaknya kesal mendengar balasan Nevan atas segala ucapan yang ia keluarkan.
"Hoyong ngatain sieun dosa."