Duduk diam dengan mata yang tertuju ke arah layar laptop, itulah yang Nevan lakukan sekarang.
Jika kalian pikir Nevan sedang bekerja itu sangat salah.
Yang sedang Nevan lakukan adalah.
Mencari tiket konser.
Gara-gara, Nia dan Aya.
Nevan terpaksa memenuhi keinginan dua putrinya karena lelah melihat Aya uring-uringan, guling-guling di lantai sambil menangis hanya karena ingin menonton konser.
"Ini situs web yang jual tiketnya?" Tanya Nevan pada Nia.
Nia langsung mengangguk dan mengambil alih laptop Ayahnya.
"Di Cat 1 purple standing ya, Pi."
Nevan pun melihat harga yang tertera untuk bagian yang Nia katakan barusan dimana bagian tersebut sangat dekat dengan panggung.
"Enam juta?!"
"Ih, itu udah yang paling murah tau. Liat nih ada yang sampe tiga puluh satu juta. Nia baik milih yang enam juta. Ini ntar deket sama stage nya lho Papiku."
"Enam juta satu orang..." Nevan menatap anak-anak dan istrinya lalu mulai menghitung dimulai dari dirinya, "satu, dua, tiga, empat... Enam. Enam kali enam juta, tiga puluh enam juta, mata uang Singapura. Mati aku." Nevan menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa dengan kedua mata yang terpejam.
"Ih Papi jangan gitu, ayolah." Nia memeluk lengan Nevan.
"Hihihi... Konsel, konsel, konsel." Kata Aya sambil tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya menatap Nevan yang masih setia dengan posisinya.
"Abang gak usah, Pi."
"Abang juga. Ngapain nonton konser kayak gitu, gak ada faedahnya, pliiiss. Lebih berfaedah maen game." Sahut Fazra sambil memainkan game nya.
"Abang ikut!" Kata Aya pada dua Abangnya.
"Abang gak mau ah." Fazra menggeleng.
"Ikut! Abang ikut!"
"Gak mau dibilang."
"Aya malah nih."
Fazra mengalihkan mata dari ponselnya.
Aya mendekati Fazra menangkup kedua tangannya di depan d**a lalu mengedipkan matanya.
Tindakan Aya membuat Fazra tertawa.
"Ya udah deh Abang ikut."
Aya tersenyum senang.
"Abang Io juga!"
Mau tak mau Zio mengangguk.
"Yeeeeyy! Papi... Abang-abang ikut!" Aya berlari ke arah Nevan dan duduk di sebelah Ayahnya.
Rencananya hanya Nia, Aya dan Nevan yang akan menonton. Namun masalahnya Nevan tidak mau jika tidak ada Reya, dan Reya tidak bisa meninggalkan kedua anak laki-lakinya. Ditambah Aya bersikukuh bahwa kedua Abangnya juga harus ikut.
Dan jadilah satu keluarga yang menonton konser hanya karena dua biang kerok.
"Papi, jangan gitu ah. Papi kan banyak duit, masa gak bisa ngeluarin uang tiga puluh enam juta." Kata Nia.
Nevan membuka matanya lalu mengambil laptopnya yang ada di pangkuan Nia.
"Nih, kita di sini. Di sini lebih enak, bisa duduk. Ngapain capek-capek berdiri. Gak kasihan sama Aya, sama Papi Mami yang udah tua?"
"Tumben mau ngaku tua." Kata Nia karena ia sangat tahu bahwa Ayahnya itu sangat tidak suka jika dibilang sudah tua.
"Pokoknya kita di sini, duduk. Lagian murah cuma empat juta."
"Papi..."
"Iya atau gak sama sekali?" Tanya Nevan membuat Nia bungkam.
"Ntar pesawat nya kita naik yang kelas ekonomi aja, Pi." Ucap Fazra.
"Gak mau! Mau nya kelas bisnis!" Sahut Nia dengan cepat.
Nevan menghela napas.
Begitulah rasanya punya anak gadis yang terlalu kekinian.
Nia tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum dengan mata yang terus tertuju ke arah panggung besar yang tepat berada di depan mereka.
"Yeeey, bentar lagi pacar kita nongol." Kata Nia pada Aya yang duduk tepat di sebelahnya.
Disebelah Aya ada Reya, disebelah Reya ada Nevan. Untuk disebelah kiri Nia ada Fazra kemudian Zio.
Berbeda dengan wajah Nia yang terlihat bahagia, Fazra justru terus menekuk wajahnya sambil memainkan tombol lightstick yang ada di tangannya.
"Pacal Aya mana?"
"Belom nongol, kan belom mulai. Bentar lagi."
"Pacal kak Ia?"
"Sama belom juga."
"AAAAAAA!!!!"
Aya yang sedang mengaitkan kancing bajunya terkejut mendengar teriakkan yang begitu membahana, termasuk teriakkan dari Nia.
Aya berdiri saat melihat layar besar yang tadinya gelap mulai diterangi dengan warna.
"Kak Ia, pacal Aya mana?" Aya menarik-narik ujung baju Nia dimana Nia sedang berteriak.
Nia tidak menggubris Aya karena gadis itu asyik berteriak.
Saat tujuh orang pemuda muncul Nia menangis dan itu membuat Nevan dan Reya terkejut.
Mereka hanya tahu Nia yang suka menangis karena keinginannya tidak terpenuhi, tapi kali ini Nia menangis hanya karena melihat tujuh pemuda yang mulai menari menggerakkan tubuh mereka.
Maklum, ini baru pertama kalinya Nia menonton konser grup idol kesayangannya.
Aya yang tadinya duduk beralih berdiri di kursi yang ia duduki untuk melihat lebih jelas lagi.
"Oh-oh-owoah."
"Oh-oh-owoah-whoah."
Melihat Nia bernyanyi sambil menggoyangkan lightstick Aya cepat-cepat mengambil lightstick miliknya dari tangan Reya dan ikut menggoyangkannya.
"AAAAA!!! PACAL AYA!" Jerit Aya saat bagian perkenalan diri.
Nevan dan Reya tertawa melihat keantusiasan Aya saat melihat laki-laki yang kata Aya pacarnya.
"Ih, pacal kak Ia." Aya menunjuk ke arah layar besar.
Nia semakin menangis.
Reaksi Nia malah membuat Nevan dan Reya tersenyum sedangkan Fazra terlihat jijik dengan reaksi Nia.
Lebay menurutnya.
Fazra belum aja jadi Fanboy.
"Akhirnya bisa ke sini lagi." Ucap Reya menaruh tasnya di sofa dan duduk memperhatikan rumah yang pernah mengukir kisah sedih senangnya beberapa tahun yang lalu.
"Kakak sama Fazra lahir di sini, Abang dibesarin di sini. Cuma Aya yang lahir besar di Endonesiah." Nia tertawa sambil memainkan lightstick nya.
"Sekarang aja bisa ketawa, kemaren nangis." Kata Nevan.
Nia mengerucutkan bibirnya dengan mata yang terpejam. Bukan minta cium, sekedar mengejek Ayahnya.
"Rumah ini jadi mau dijual?" Tanya Reya pada Nevan.
"Enggak. Zio kan mau lanjutin kuliah di sini, Zio mau tinggal di rumah ini."
Reya mengangguk sambil menepuk-nepuk lembut punggung Aya yang sedang tertidur.
"Abang ntar kalo udah kuliah mau tinggal di sini?" Tanya Reya pada Zio yang baru saja keluar dari dapur.
"Iya, Mi. Biar gak repot cari-cari tempat tinggal." Balas Zio sambil duduk di sebelah Nia.
"Aya dipindahin aja ke kamar." Ujar Nevan bangkit berdiri.
"Mami tetep gendong Aya." Nia berdiri berjalan mendekati Nevan.
"Papi gendong Nia ke kamar." Nia berjinjit untuk meraih bahu Nevan dengan kedua tangannya.
"Males."
"Ih Papi!" Nia melingkarkan tangannya di leher Nevan dengan susah payah akibat tubuhnya yang pendek dan tubuh Ayahnya yang tinggi.
"Manja lu!" Ucap Fazra pada Nia dan langsung pergi ke lantai atas.
"Sirik bilang!" Seru Nia memperhatika Fazra yang sudah menaiki tangga.
"Ayo Pi gendong Nia." Nia berdiri di sofa menarik bahu Nevan lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Nevan.
Nia tertawa saat ia sudah berada di bahu Ayahnya.
"Awas jatuh, mas." Kata Reya sebelum ia pergi ke lantai atas membawa Aya.
"Abang gak ke atas?"
"Abang masih mau di sini, Pi." Balas Zio.
Nevan mengangguk lalu berjalan tanpa menahan tubuh Nia yang sedang bergelantung di belakangnya.
"Papi pegangin Nia!" Pekik Nia karena ia hampir saja mau jatuh.
"Males."
"Nia doain abis ini Papi encok nih."
"Masih muda mana mungkin encok."
"Dih, kemaren aja bilang udah tua."
"Gak ada tuh." Balas Nevan.
Nia tersenyum saat tangan Nevan sudah menyangga tubuhnya.
"Minta nonton konser habis sampe puluhan juta, minta shopping abis jutaan, minta gendong ke kamar, Papi turutin. Eh, pas Papi minta dibuatin teh anget aja kakak gak mau."
Nia malah tertawa.
"Papi gak tau aja Nia sering doain Papi biar sehat selalu, panjang umur, paling utama banyak duit."
"Makasih doanya, khususnya untuk doa yang terakhir."
Nia tertawa mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Nevan.
"Yang penting Nia sayang Papi, kapan lagi coba Nia bilang sayang sama Papi."
Nia mencium pipi Nevan.
"Gak terasa."
"Satu ciuman seratus ribu."
"Ya udah jangan dicium."
Nia kembali tertawa.