Nia dan Aya duduk di bawah sementara yang lainnya duduk di sofa. Nia duduk di karpet sedangkan Aya duduk di kursi kecil miliknya.
Mata mereka tertuju ke arah televisi.
Sementara Nevan sibuk membuka kulit kuaci memberikannya kepada Nia. Sebenarnya Nia bisa membuka kulit kuaci hanya saja gadis itu malas dengan alasan hanya membuat tangannya sakit.
Nevan memasukkan kuaci yang sudah dikupas sebanyak lima biji pada mulut Nia dan dengan mata yang terus tertuju ke arah televisi Nia membuka mulutnya. Nia tidak protes melainkan ia lebih suka makan kuaci dengan jumlah yang banyak daripada satu-satu, karena kalau satu-satu tidak ada rasanya, kata Nia.
Aya juga makan kuaci, anak itu makan bersama Abang sulungnya.
Nevan membuka kulit kuaci menaruh kuaci yang sudah dikupas pada wadah berukuran kecil dan memberikan kulit kuaci pada Nia. Nevan sengaja melakukan itu ingin melihat apakah Nia sadar atau tidak.
Dan ternyata tidak, kulit kuaci yang Nevan berikan masuk ke dalam mulut Nia akibat mata Nia yang lebih memilih untuk menatap ke arah layar televisi.
"Ih Papi!" Nia langsung mengeluarkan kulit kuaci yang sempat ia kunyah.
Melihat Nia makan kulit kuaci orang yang pertama kali tertawa dengan keras adalah Fazra.
"g****k Lo." Kata Fazra yang sedang berbaring di sofa yang Nevan duduki.
"Abang, mulutnya." Tegur Reya sambil mengganti saluran televisi.
"Makanya jangan liatin TV terus." Kata Nevan mulai membuka kulit kuaci.
"Aya mau lagi?"
Aya menoleh menatap Zio dan mengangguk.
"Minum dulu ya, dari tadi belum ada minum." Zio mengambil botol minum berukuran mini milik Aya.
Aya memegang bagian bawah botolnya dengan bantuan tangan Zio.
"Abang, itu apa?" Tanya Aya setelah selesai minum.
Zio menatap ke arah televisi.
"Ikan dori."
Aya membuka mulutnya saat Zio memberikan kuaci kepadanya sambil menatap televisi.
"Aya mau." Aya menoleh memegang tangan Zio.
Zio tersenyum, "besok Abang beliin untuk Aya."
Aya tersenyum senang lalu kembali melihat ke arah televisi.
"Fazra!" Nia yang sedang asyik menonton televisi merasa terganggu dengan adanya kaki Fazra yang ada di dekat kepalanya.
"Apa sih, heboh banget."
"Rambut gu..." Nia membuka mulutnya ketika Nevan memberikan kuaci sebanyak tujuh biji.
"Rambut gue!" Ulang Nia sambil mengunyah.
"Kan gue elus-elus noh rambut Lo yang kasarnya kek sapu ijok."
"Ya tapi..." Nia kembali membuka mulutnya karena Nevan kembali memberikan kuaci yang jumlahnya semakin banyak ke dalam mulutnya.
"Ya tapi gak usah pake kaki juga lah. Masa kaki Lo di kepala gue!"
Fazra mengabaikan Nia memilih untuk menonton televisi dengan posisi masih berbaring.
Fazra menatap Nia yang juga sedang menonton televisi.
Fazra mendekatkan jempolnya pada kepala Nia dan mendorong kepala Nia dengan jempolnya.
Nia langsung menoleh dengan garang dan memegangi kepalanya.
Fazra terkesiap saat Nia langsung mendekatinya.
PLAK!
BUGH!
PLAK!
PLAK!
BUGH!
"Kakak udah." Kata Reya meringis melihat Fazra dipukul, dicubit, bahkan rambut Fazra ditarik.
Tindakan Nia pada Fazra membuat mata Zio dan Aya tertuju pada dua anak itu.
Sedangkan Nevan yang ada di sebelah kedua anaknya yang sedang ribut memilih untuk makan kuaci sambil menonton televisi dengan tenang dan santainya.
"AAKKHH SAKET!!!" Teriak Fazra saat perutnya dicubit.
"Nia gak boleh kayak gitu." Ucap Zio dengan tangan yang melingkar di bahu Nia menarik lembut adiknya perempuan untuk menjauh dari Fazra yang sudah sempat meminta tolong.
Benar-benar ganas anak Nevan yang satu itu, sama seperti Ayah nya.
"Biarin aja bang." Kata Nevan pada Zio yang hendak kembali memisahkan.
Menurut Nevan ia tidak perlu memisahkan kedua anaknya dengan tangannya. Nevan hanya ingin memisahkan kedua anaknya dengan mulut, dengan sebuah kalimat.
Seperti kalimat.
"Inget perjanjian yang udah kita buat."
Nia dan Fazra terdiam dengan tangan Nia meremas rambut Fazra.
Perlahan Nia menjauh dari Fazra dan duduk di sebelah Reya yang duduk di lain sofa memeluk ibunya.
Nevan menghela napas untuk yang kesekian kalinya menatap ke arah putrinya yang tengah menangis meminta izin kepadanya.
Nevan menaruh jempol nya di dekat pelipis seraya menatap Nia yang sudah menangis hampir setengah jam lamanya.
"Papi!" Entah sudah berapa kali Nia memanggil Ayah nya namun sang Ayah hanya diam saja.
"Nia mau pergi!" Nia menarik-narik tangan Nevan.
"Gak boleh."
Tangis Nia malah semakin kencang.
"Ni-Nia mau nonton konser!" Kata Nia masih terus menangis.
Ketika meminta apapun dan tidak dituruti Nia memilih untuk menangis, berbeda dengan Fazra yang langsung kesal dan lebih memilih untuk murung di kamar serta aksi mogok makan.
"Gimana Papi mau ngizinin kalo kakak pergi nya sama temen-temen kakak, gak ada orang dewasanya kan? Apalagi sampe ke Singapura sana. Gak usah."
Nia menghentakkan kakinya menatap Nevan yang sedang duduk sedangkan dirinya berdiri di depan Ayah nya.
"Kak Ia kenapa, Mami?" Aya menunjuk Nia yang masih menangis memohon kepada Nevan untuk diperbolehkan menonton konser di negara tetangga.
"Nangis, mau nonton konser." Balas Reya sambil memasukkan jeruk pada mulut mungil Aya.
Aya yang duduk di lain sofa bersama Reya menatap kakaknya yang sedang menangis sambil mengunyah jeruk.
"Konsel apa?"
"Konser oppa-oppa." Jawab Reya.
"Oppa ini?"
Mata Reya membulat melihat Aya menunjukkan photo card yang sempat ditunjukkan beberapa waktu yang lalu dimana Aya mengatakan bahwa orang yang ada di photo card tersebut adalah pacarnya.
"Eng... Iya." Reya mengangguk bersamaan dengan rasa bingungnya mengenai dari mana datangnya photo card tersebut.
Aya langsung turun dari sofa berlari ke arah Nevan.
"Papi!" Panggil Nia terus memohon kepada Ayahnya.
"PAPI!" Pekik Aya menggeser tubuh Nia dengan badan mungilnya. Nia tidak bergeser sedikitpun, tubuhnya hanya goyang karena Aya menabraknya.
"Aya mau nonton konsel!" Seru Aya.
Nevan syok. Terkejut-kejut. Terheran-heran.
Mengapa tiba-tiba saja Aya jadi ikut-ikutan.
"Lho, lho. Kenapa Aya jadi ikut-ikutan?"
Diam-diam Nia tersenyum dan bersorak di dalam hati karena Nia yakin seribu persen jika Aya yang memintanya pasti terpenuhi. Paling tidak bisa membantu dirinya.
"Aya mau nonton konsel."
"Kenapa?"
Aya naik ke sofa dan berdiri di sebelah Nevan. Tangan kanan mungil Aya melingkar di leher Nevan dan mendekatkan kepala Nevan pada dadanya.
Nevan menatap photo card yang Aya pegang dan sekarang sudah berada di depan matanya.
"Mau liat pacal Aya."
Nevan makin syok.
Mata Nevan terbelalak lebar.
Nia menahan tawanya agar tidak pecah saat melihat ekspresi Nevan.
Untuk si bapak gak ada riwayat penyakit jantung--Nia.
"Can Aya meet with him?" Tanya Aya menundukkan kepalanya untuk menatap Nevan yang masih syok. Posisi kepala Nevan juga masih di d**a Aya dengan tangan Aya yang menahan kepalanya.