Nia berhenti secara mendadak sedikit menabrak tubuh Reya yang terlebih dahulu berhenti di ambang pintu kamar.
"Mami kok berhenti sih?"
Reya berbalik menaruh telunjuk di bibirnya.
"Papi sama Fazra lagi tidur." Bisik Reya membuat mata Nia terbelalak lebar.
"Mana, mana." Nia segera menggeser tubuhnya untuk melihat ke arah dalam kamar.
"Jangan diganggu. Malem ini Mami tidurnya sama kakak."
"Aya mau bobok sama siapa?" Tanya Reya pada Aya yang sedang mengucek-ngucek matanya.
"Aya sama Abang aja, Mi." Kata Zio sambil menggendong Aya.
"Aya mau bobok sama Abang?"
Aya langsung mengangguk menenggelamkan wajahnya di leher Zio.
Reya mengangguk.
"Kakak ke kamar duluan, Abang juga bawa Aya ke kamar. Mami mau masuk bentar." Reya masuk ke dalam kamarnya untuk melihat Nevan dan Fazra.
Dengan sedikit menutup pintu kamarnya Reya masuk berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
Reya memperhatikan Nevan dan Fazra yang tengah terlelap di balik selimut. Bibir Reya menyunggingkan senyum ketika menyadari kedua tangan Fazra melingkar di leher Nevan.
Reya mengelus lembut lengan Fazra sebelum ia memilih untuk keluar dari kamar.
Pukul 07.00 WIB.
Reya kembali masuk ke kamarnya untuk melihat apakah Nevan dan Fazra sudah bangun atau belum.
Dan saat ia membuka pintu kamar kedua orang itu masih setia memejamkan mata dibalik selimut tebal dan anehnya posisi Nevan dan Fazra masih sama seperti kemarin malam.
Saling berpelukan.
"Abang." Reya membangunkan Fazra terlebih dahulu karena hari ini Fazra akan pergi untuk study tour nya.
Tidak butuh waktu lama, Fazra mulai menggeliat dan langsung menoleh ke arah Reya.
"Bangun, kan hari ini mau pergi ke Bali. Jadi kan study tour nya?"
Fazra menggeleng.
Reya yang sempat ingin berjalan ke arah jendela kamar berhenti ketika melihat Fazra menggelengkan kepala.
"Lho, gak jadi? Kenapa?"
"Males."
Reya mengerenyit bingung memperhatikan Fazra yang sudah menjauhkan tangannya dari leher Nevan namun wajah tampan anak itu dekat dengan d**a Nevan.
"Serius Abang gak pergi study tour?"
Fazra kembali menggeleng.
"Tapi semua barang-barang Abang udah disiapin lho."
"Biarin." Fazra menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa karena udah baikan?" Gumam Reya sambil membuka gorden kamar.
"Kenapa Abang gak jadi pergi?"
"Males."
"Emang Abang gak mau dapet nilai?"
"Enggak. Belum naik-naikkan kelas."
"Jangan anggap sepele lho. Kayak Papi belajar kerasnya waktu mau naik-naikkan kelas, giliran bagi raport kenaikan kelas Papi malah tinggal kelas."
Fazra menjauhkan tangan Nevan yang ada di pundaknya.
"Emang udah nasibnya Papi." Celetuk Fazra berjalan terlebih dahulu ke lantai bawah.
Nevan yang merasa sudah sangat baikan padahal ia hanya meminum sekali obatnya melangkah sedikit cepat menuruni tangga ketika mendengar suara yang cukup ramai dari lantai bawah.
"Katanya sakit, tapi kok muka nya keliatan seger gini?"
Nevan mengacuhkan ucapan Ardhan dimana Ayahnya itu sedang makan.
"Pagi-pagi udah ke sini sengaja pengen jenguk apa numpang sarapan?"
Reya menyikut Nevan yang berdiri di dekatnya.
"Halah, belagu. Kalo Reya gak ada di rumah kemana kamu lari nya kalo gak ke rumah Papa Mama?" Tanya Ardhan sengit.
Nevan duduk di kursinya beralih memperhatikan tiga orang laki-laki yang baru saja tiba di ruang makan.
"Om."
"Kapan kalian ke sini? Barengan sama Papa Mama kalian?"
"Enggak, Om. Mama Papa lagi keluar negeri, mungkin mau buat dedek baru."
"Cieee, bang Dennis bukan maknae lagi dong kalo kayak gitu." Sahut Nia menggoda Dennis yang duduk tepat di depannya.
Sedangkan yang digoda hanya diam saja.
"Bapaknya banget ya, irit ngomong." Nia terkekeh saat Dennis menatapnya.
"Emang. Replikanya banget." Sahut Ardhan.
"Abang El."
Yang dipanggil langsung menoleh.
"Eh, ada Aya. Sini-sini sama Abang." Elano langsung mengambil Aya dari gendongan Zio dan mendudukkan anak itu di pangkuannya.
"Nih, Lo liat. Lucu tau punya adek seimut ini." Elano menunjuk Aya yang sedang menatap Dennis.
"Gak tuh." Dennis mengalihkan matanya.
"Jadi Papa Mama kalian kapan pulang?" Tanya Nevan sambil memberikan roti kepada Fazra dan juga Nia.
Biar adil. Biar gak dibilang pilih kasih.
"Hari Rabu, Om. Gak tau ngapain yang penting pulangnya hari Rabu." Jawab Elano sambil memainkan pipi gembul Aya.
"Kalo gitu kalian di sini aja. Biar Zio sama Fazra ada temennya." Ucap Reya sambil menaruh potongan buah di tengah-tengah meja makan.
"Kalo gak ngerepotin boleh-boleh aja Tante." Elano tertawa malu sedangkan Dennis---adiknya hanya diam asyik makan.
"Gak ngerepotin kok. Tante malah seneng kalo rumahnya jadi rame."
"Papa di sini aja. Mama pulang arisan jalan-jalannya besok kan?" Tanya Reya yang dibalas anggukan oleh Ardhan.
"Emang rencananya Papa mau nginep di sini." Kata Ardhan sambil mengunyah makanannya.
"
Asoy bener, neng." Nia menyenggol kaki Aya dimana Aya sedang menyadarkan tubuh di sofa dengan tangan yang menjadi bantalan kepalanya serta kaki yang sedikit menyilang.
Aya tidak memperdulikan Nia asyik dengan televisi yang menampilkan acara kartun.
"Eh, Zra."
Fazra yang kebetulan lewat berhenti saat Nia memanggilnya.
"Nih, sebelom pulang tadi opa ngasih duit. Seratus ribu." Nia mengulurkan uang berwarna biru pada Fazra, bukan merah.
"Lo buta? Itu gocap."
"Gocap nya lagi diambil bang El sebelom dia pulang." Nia mendekatkan tangannya pada Fazra.
"Bilang aja Lo yang ambil."
"Dih, kagak. Udah mulai lu ya nuduh gue?!"
Fazra langsung mengambil uang lima puluh ribu tersebut dan pergi.
Nia mendumel tidak jelas sambil duduk di sebelah Aya dan mulai memainkan ponselnya.
Nia membuka sosial media miliknya. Hal yang pertama ia lakukan saat membuka sosial media miliknya adalah melihat stories milik teman-temannya.
"Sok ngartis banget sih."
"Ini lagi apa sih, kek awkering aja. Bikin cerita kek aer, ngalir teros!"
"Mau ngalahin si cinta ni orang ampe titik-titiknya nutupin muka. Ck, ck, ck." Nia menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut yang terus mengoceh mengomentari apa yang ia lihat.
"Ini enak banget sumpah. Lo semua harus coba, harganya lumayan mahal sih, buat orang miskeun ya. Tapi buat gue ini murah, cuma lima ratus ribu sekali makan. Dan beruntungnya gue orang pertama yang coba menu baru di restoran ini. Besok-besok nih menu gak ada lagi, limited edition chin, makanya Lo harus coba sekarang."
Selama orang yang ada di video berbicara mulut Nia terus mengoceh tiada henti.
"Gue juga bisa keles makan begituan. Kecil itu mah lima ratus ribu. Gue udah sering tuh makan makanan suprit yang harganya selangit. Belagu Lo, OKN!"
OKN is orang kaya norak by Nia.
"Khususnya buat lo ya, Nia. Bisa gak Lo makan beginian?"
Mata Nia terbelalak lebar saat namanya disebut dalam video yang sedang ia lihat. Fyi, orang yang ada di dalam video tersebut satu sekolah dengan Nia namun beda kelas. Orang itu adalah musuh Nia dalam ajang pamer memamer, begitupun sebaliknya.
"Nantangin nih orang!" Nia meletakkan dengan kuat handphone nya di sofa seraya berpikir bagaimana caranya ia dapat membalas orang yang sudah menantangnya.
Ketika sudah mendapatkan ide, Nia langsung pergi mencari Nevan.
"Bang, Papi mana?" Tanya Nia pada Zio yang baru saja turun dari tangga.
"Di dapur. Emang mau..." Belum sempat Zio bertanya Nia sudah langsung kabur.
"Papi!"
Nevan yang hendak minum terkejut mendengar suara Nia.
"Ya ampun ini anak."
"Papi." Nia duduk di kursi mini bar dekat dengan Nevan.
Nia tersenyum meletakkan dengan bagus handphone nya.
Melihat gelagat Nia seperti itu Nevan malah tidak jadi minum.
"Mumpung bentar lagi Maghrib, gimana kalo kita makan di luar?"
Nia menatap Nevan, Reya, dan Zio.
"Mau ngapain emang?" Tanya Nevan.
Nia tersenyum menatap Fazra yang sedang membaca buku tentang How to become a Pilot yang diberikan oleh Ardhan kepadanya.
"Kan..."
"Aya mana?" Nevan baru sadar jika tidak ada Aya diantara mereka.
"Lagi nonton TV, biar Abang yang liat." Kata Zio seraya pergi.
"Papi liat Nia dulu!"
Nia tersenyum saat Nevan sudah kembali menatapnya.
"Kan Fazra udah gak ngambek lagi sama Papi."
Fazra mengalihkan tatapannya pada Nia.
"Gimana kalo kita makan malem di luar?"
Nia menatap Fazra.
"Lo mau kan, Zra?" Tanya Nia dengan penuh harapan.
"Enggak."
Senyum Nia luntur berganti dengan tampang sinis.
Nia menoleh saat mendengar suara Aya.
Nia memperhatikan Aya yang berada di gendongan Zio sambil bernyanyi bersama Zio.
"Ayo dong Pi makan di luar, pasti banyak nih yang mau. Mami pasti mau, bang Zio pasti mau. Apalagi Aya, Aya pasti mau banget makan di luar. Ya gak?" Nia menunjuk Aya yang sekarang sudah duduk di atas mini bar.
Aya mengangguk.
"NAH! Aya aja mau Papi."
"Aya ngangguk karena gak ngerti apa yang kakak bilang."
"Ngerti! Aya pasti ngerti. Nih ya coba Nia tanya. Aya mau gak makan di luar?"
Aya membuka mulut mungilnya siap untuk memberikan jawaban namun ketika melihat ibunya menyodorkan cupcake mulut Aya terbuka lebar dengan mata yang berbinar langsung mengambil cupcake cokelat tersebut.
"Aya!" Panggil Nia ketika melihat Aya mulai asyik makan.
"Aya gak mau pelgi kemana-mana. Mau makan." Ucap Aya sambil menunjuk cupcake yang ada di tangannya.
Mulut Aya pun sudah belepotan.
Bahu Nia merosot turun.
"Tuh, emang dasar kakak aja yang pengen makan diluar. Di rumah juga banyak makanan kok." Nevan beranjak dari duduknya.
Fazra memperhatikan wajah Nia yang terlihat sedikit agak menyedihkan.
"Abang mau makan di luar." Ucap Fazra pada Nevan.
Nia terkejut mendengar ucapan Fazra sekaligus senang saat melihat Nevan tidak mengeluarkan suara apalagi bentuk penolakan.