Chapter 18

1217 Words
Nevan menoleh ke arah Fazra yang sedang mengibas-ngibaskan tangan di dekat leher akibat cuaca yang begitu panas. "Abang mau beli es?" Tanya Nevan sedikit membungkukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan Fazra yang sedang duduk. Fazra menggeleng dengan mata yang tertuju ke arah gerbang sekolah Nia. Nevan menegakkan tubuhnya. "Tumben banget lama." Gumam Nevan sambil menatap jam tangannya. Nevan menjatuhkan telapak tangannya di puncak kepala Fazra seraya memperhatikan gerbang sekolah Nia. "Anak jaman sekarang." Nevan menggeleng kecil melihat kericuhan yang terjadi di depan gedung sekolah. Semakin lama semakin ramai hingga seorang satpam ikut masuk dalam keramaian tersebut. "Om, om! Anak om berantem tuh." Nevan mengerenyit saat seorang anak laki-laki berlari menghampirinya. "Anak? Siapa?" "Si Nia! Siapa lagi." Mata Nevan membulat dan langsung berlari ke arah keramaian. Sedangkan Fazra berjalan dengan santainya naik ke atas kursi satpam agar lebih mudah melihat adiknya yang sedang beradu mulut. "Emang Lo dasar plagiat! Apa yang gue makan apa yang gue punya Lo selalu ikut-ikutan!" "Eh, sori. Gue bukan plagiat! Gue bisa beli ini itu karena gue mampu lah!" "Belagu Lo! Uang juga dari orang tua sok oke banget Lo!" "Sadar woi! Sadar Pricilla ku sayang! Lu punya uang dari mana kalo gak dari orang tua Lo? Lo punya uang sendiri gitu? Uang hasil prostitusi? HAHAHAHHA!!!" Nia tertawa kencang sekaligus tertawa meremehkan rivalnya. "Tolong minggir, tolong minggir." Kata Nevan pada anak-anak yang menghalangi jalannya. "Anjing Lo ya, sini Lo!" Nia langsung memukul tangan Pricilla dengan telapak tangannya saat rivalnya itu hendak meraih rambutnya yang tengah dikuncir kuda. "Maen tangan nih? Capek maen mulut? Ya capek lah. Mulut gue mau dilawan." Nia menjulurkan lidahnya. "Kakak." Nia menoleh ketika mendengar suara Nevan. Dan saat Nia menoleh lah rambutnya langsung ditarik membuat Nia menjerit keras. "Tarik pak tarik." Ujar Nevan pada satpam untuk menarik tubuh Pricilla agar menjauh dari Nia, begitu juga dengan Nevan yang tengah menarik tubuh Nia. Bukannya apa-apa, Nevan hanya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib lawan Nia setelah ini. Tidak tinggal diam, tangan Nia pun mulai beraksi. Nia tidak membalas menjambak rambut Pricilla melainkan ia punya cara lain yang lebih jitu agar tangan j*****m yang berada di kepalanya segera menjauh. Sreeek! Mereka yang melihat sekaligus mendengar robekan seragam Pricilla membuka mulut dengan lebar. Ketika tangan Pricilla sudah terlepas dari rambutnya Nia langsung mendorong Pricilla hingga gadis itu jatuh tersungkur. "Nia, ayo pulang." Kata Nevan menarik Nia menjauh dari kerumunan. Sayangnya Nia menolak menarik tangannya yang dipegang oleh Nevan. "Gue udah bagus-bagus ya mau maen mulut, Lo duluan yang minta gue maen kasar. Sekarang liat, seragam Lo robek gue bikin. SORAKIN!!!" Nia menatap teman-teman sekolahnya. "WOOOOO!!!" Nia tersenyum puas mendengar suara sorakan yang begitu membahana. Pricilla yang sudah bangkit sambil memegangi kerah bajunya yang sudah robek dengan lebar menyulut amarah pada Nia yang sedang tersenyum penuh kemenangan. "Lo!" Pricilla berjalan ke arah Nia dengan mata yang berapi-api. Nia hanya diam di tempat memperhatikan Pricilla yang sedang mendekat. "Nia!" "Nia!" "Nia! "Nia!" "Kenapa ini?" Suasana yang tadinya ricuh menyebut nama Nia memberi dukungan mendadak sunyi hanya karena melihat seorang laki-laki dengan seragam SMA berdiri di sebelah Nevan. Pricilla berdehem beberapa kali sambil membenarkan rambutnya. Begitu juga dengan siswi-siswi yang lainnya mulai sibuk dengan rambut, wajah, serta seragam mereka. "Kenapa diem Lo? Gak jadi mau lawan gue karena ada Abang gue? Sok jaga image Lo!" Nia mendorong pelan kedua bahu Pricilla namun reaksi Pricilla justru sangat berlebihan dengan sengaja menabrakkan tubuhnya ke tubuh Zio. Refleks Zio pun menangkap tubuh Pricilla dengan maksud agar gadis itu tidak jatuh tersungkur. "Jangan deket-deket sama Abang gue!" Nia menarik Pricilla dan mendorongnya hingga kembali terjatuh. "Sekali lagi Lo cari masalah sama gue. Bukan cuma seragam Lo aja yang robek, mulut Lo gue robek!" Nia mengambil tas nya yang tergeletak begitu saja kemudian memakainya dan pergi. Nevan menghela napas panjang melihat Nia yang rusak hanya dibagian rambutnya saja sedangkan Pricilla rusak dibagian seragam, siku, serta lutut nya. Itulah alasan mengapa Nevan tidak akan membiarkan Nia bertengkar. Kasihan lawannya. Nevan yang sudah duduk di balik kemudi menoleh ke arah Nia yang duduk tepat di belakangnya. "Apa masalah nya kok kalian bisa berantem?" Tanya Nevan dengan satu tangan yang memegang setir mobilnya. "Dia dulu yang cari masalah!" Nada suara Nia naik karena dirinya masih emosi. Rambutnya yang berantakan pun belum diperbaiki. "Iya gara-gara apa?" "Dia dorong Nia di tangga mau keluar dari sekolah. Ya Nia gak terima lah dia main dorong tiba-tiba kayak gitu! Bilang Nia plagiat gara-gara tadi malem Nia juga makan malem di luar." Nia melipat kedua tangannya di depan d**a menyandarkan tubuhnya dengan mata yang tertuju ke arah jendela. "Tapi kan Nia gak perlu sampe marah-marah kayak tadi. Kasihan lho sampe siku sama lututnya berdarah." Kata Zio yang duduk di sebelah Nevan. "Bodo!" Nevan menatap ke arah depan siap untuk menjalankan mobilnya. "Pokoknya Papi harus jadi pemilik sekolah di sekolah Nia!" Mata Nevan terbelalak lebar dan langsung menoleh ke arah Nia yang masih setia dengan posisinya. "Gak mau ah. Emangnya gampang apa? Lagian gimana ceritanya Papi bisa jadi pemilik sekolah?" Nevan benar-benar tidak menyangka dengan permintaan luar biasa Nia kali ini. "Papi beliin dong sekolahnya!" Nevan langsung menggeleng dan mulai menjalankan mobilnya. "Jadi pemilik sekolah otomatis ikut ngurusin sekolah. Jangankan ngurusin sekolah, ngurusin anak aja belom bener." Kata Nevan sambil melajukan mobilnya. Nia mendengus kesal melepaskan ikat rambutnya dengan kasar. "Apa Lo?!" Ketus Nia pada Fazra yang sedang memperhatikannya. Karena sudah semakin kesal, Nia memiringkan tubuhnya ke arah pintu mobil menutupi wajah dengan tas nya. Aya yang sedang menyusun Lego sambil bersenandung terdiam ketika Lego yang sudah ia bangun hancur ditabrak oleh kaki Nia. "Kak Ia!" Seru Aya sambil memegang Lego yang ingin ia taruh ditumpukkan Lego paling atas. "Ya udah sih dibangun lagi, ribet deh." Nia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. "Aya capek!" Aya mencampakkan Lego yang ia pegang menendang Lego nya yang berserakan di karpet. "Kerja apa emang bisa capek kayak gitu?" Aya menoleh dengan wajah penuh kekesalan. "Biasa aja muka nya." "Huaaaaaah!!!" Aya malah menangis kencang membuat Nia gelagapan sendiri. "Ih kok malah nangis." Nia mendekati Aya membungkam mulut adiknya. Tangis Aya malah semakin kencang. "Lo apain Aya?" Nia menatap Fazra yang entah sejak kapan berdiri di dekat mereka. "Jangan nangis, ntar Papi denger." Ucap Nia pada Aya. Tangis Aya mulai mereda. Nia pun menjauhkan tangannya dari mulut Aya. "Jahat!" Aya memukul tangan Nia sambil menghapus sendiri air matanya dengan punggung tangan. "Untung Lo adek gue." Gumam Nia kembali duduk di sofa. "Aya kenapa nangis?" Fazra berjongkok di depan Aya memperhatikan Aya yang mulai menyusun Lego. "Ia ganggu Aya." "Eh-eh, kata kak nya mana? Waah, udah mulai nakal nih." Kata Nia saat mendengar Aya tidak memakai embel 'kak' ketika menyebutkan namanya. "Tadi Papi denger Aya lagi nangis, bener?" Nevan datang memperhatikan Fazra dan Nia. "Iya!" Seru Aya bangkit berdiri dan memeluk kaki Nevan. "Siapa yang bikin nangis?" Nevan menatap Fazra dan Nia. "Kakak?" Nia langsung menggeleng. "Enggak! Enak aja main nuduh." "Jadi siapa? Biasanya yang suka bikin Aya nangis kan cuma kakak." "Kok Papi langsung main nuduh Nia sih? Kenapa Fazra gak di tuduh tuh." Nia menunjuk Fazra yang sudah beralih duduk di sofa. "Papi gak nuduh kakak, tadi Papi cuma nanya." "Ya pertanyaan Papi bikin Nia ngerasa Papi nuduh Nia." "Tadi Aya nangis karena Abang, Pi." Nevan menatap Fazra. Mendengar ucapan Fazra bukannya senang pikiran Nia malah tertuju ke hal lain. Fazra sedang mencari perhatian?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD