Hujan turun pelan, mengetuk jendela kaca kamar dengan ritme tak beraturan. Lampu tidur menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding. Di tepi ranjang, Rafli duduk diam menatap Melati yang sudah sejak tadi membelakangi dirinya. Perempuan itu masih terjaga, ia tahu dari tarikan napasnya yang tak beraturan, tetapi memilih untuk bungkam, seakan keberadaan Rafli hanyalah angin lalu. Sejak tragedi kehilangan dua minggu lalu, Melati berubah. Senyumnya yang samar dan menenangkan kini hilang entah ke mana. Matanya tak lagi berbinar, bahkan sekadar menoleh pun terasa enggan. Ia menjalani hari-harinya dengan dingin, seakan ada tembok tinggi yang ia bangun di antara mereka. Rafli menggenggam jemarinya sendiri, resah. Ia ingin bicara, ingin berkata bahwa ia tetap ada untuknya, ingin meraih t

