Chapter 24 : Kemunculan Emigori

1538 Words
Dressss..... Rintik-rintik hujan mulai muncul ditempat ini, cuaca perlahan-lahan menjadi gelap, angin berhembus kencang, menghantam ratusan pohon ditempat ini. Kulitku tersentuh oleh angin yang sangat dingin. Rae dan Paige terkejut melihat sesuatu yang terang mendarat di hadapanku, Rio dan Zombila pun terkesiap. "Terpujilah... " BUAR! . . . . . . . . . Summer Rae P.O.V Ini sangat aneh, cahaya yang mendarat dihadapan wanita lemah itu meledak secara tiba-tiba, sampai akhirnya aku terbaring disini, di tengah-tengah pepohonan sakura. Aku juga masih ingat, kalau wanita lemah itu mengatakan sesuatu, tapi apa? "Terpujilah... Dia mengatakan hal itu, sebelumnya dia juga memanggil seorang Dewa? Yang benar saja?!" Dengan luka di seluruh tubuhku, aku mencoba bangkit. Berjalan menuju tempat sebelumnya, hanya ingin memastikan, apakah tempat itu hancur, dan juga mencari pria b******k tadi. Diriku tertatih-tatih, berjalan sembari memegang tanganku yang sepertinya patah tulang. Sangat menyakitkan. Pakaianku rusak, ini tidak bisa dimaafkan, berani-beraninya wanita lemah itu melukaiku. Tunggu aku, Biola Margareth. Wanita b******k. "Nununu~ akhirnya aku mendapatkan makanan!" Tiba-tiba aku mendengar seorang wanita bersuara dibelakangku, kurang ajar, siapa dia. Kupaksakan kepalaku untuk menoleh, dan dugaanku benar. Seorang wanita berparas imut, dengan rambut merah muda panjangnya tersenyum padaku, pita besar terpasang di kepalanya, dia m******t lollipop dengan nikmat, yang benar saja. "Berisik!" bentakku padanya. "Rupanya aku mendapatkan makanan pedas ya? Nununu~" "Berisik! Anak kecil!" Senyumannya langsung hilang setelah mendengar ucapanku, hujan membasahi tubuhnya, dia terus m******t lollipop itu dengan cemberut. Anak kecil b******k! "Pergilah! Aku tidak ingin mengasuhmu! Pergi sana!" usirku dengan menampilkan wajah galak. KRAK! Lollipop yang dijilatnya langsung digigit dengan suara yang keras. Lalu, dia telan sisanya secara lahap. Menghapus noda di bibirnya sebentar, lalu menatapku. "Aku masih lapar, walau kau itu pedas, tapi aku suka! Nununu~" Kurang ajar, anak kecil tidak tahu diri. Berani-beraninya dia mengataiku. Kucengkram kerah bajunya secara mendadak. "Sudah kubilang! Berisik! Jangan mengganggu, bocah!" "Aku bukan bocah, NAMAKU LOLLIPOP!" Lollipop? . . . . . . . . . . . . "Aku tidak peduli namamu siapa!" Kulepas cengkraman itu dan kembali melanjutkan langkah, meninggalkan bocah b******k itu. Pohon-pohon saling bergoyang terkena hembusan angin, tetesan-tetesan air hujan masih berlangsung. Dan wanita itu tertawa melihat cara berjalanku yang pincang. b******k. "Nununu~ ternyata makananku itu sudah rusak ya? Hihihi! Kalau begitu, lebih baik kubuang saja!" Dia langsung berlari mendekatiku, ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak. DUAG! "AH!" Dia memukulku dengan kecepatan yang luar biasa, tubuhku langsung ambruk ketanah yang basah. Kurang ajar, andaikan saja keadaanku masih prima, kuhajar wajahnya dengan petirku. "Nununu~ maafkan aku, apakah aku membuatmu terluka? Hihihi!" Itu sangat menyakitkan, baru kali ini aku merasakan kalau diriku tidak berdaya. s**l, b******k. Tidak bisa dimaafkan. Wanita itu tersenyum lebar, dia memainkan jemarinya dengan manis, seakan-akan aku adalah mainannya. "Nah, biar kujelaskan siapa diriku yang sebenarnya kepadamu, makananku, hihihi!" Lollipop langsung mengatur napasnya sebentar dan mulai berkata, "Aku berasal dari Guild Emigori, disini aku tidak sendirian, kurasa teman-temanku sedang bertarung dengan kawan-kawanmu. Maka dari itu, aku juga ingin melatih kemampuan sihirku, jadi, maukah kau menjadi alatku? Nununu~" Alat? Kurang ajar! "Bocah kecil! Dengar aku! Aku seorang penyihir! Aku bukan manusia rendahan yang rela menjadi alatmu! Aku seorang Kaersia! Apakah kau tahu Kaersia! Bocah!?" Mendengarnya, dia membulatkan mata, wajahnya terkejut. "Jadi, kau berasal dari Farles? Nununu~" "Jika kau berani-beraninya melukaiku! Akan kuhajar kau!" Mendengarnya dia tersenyum imut. "Waaaw! Rupanya aku menemukan makanan dari Farles! Ini hebat! Tapi tunggu, bukankah Farles itu Guild yang paling lemah?" DEG! Kurang ajar, berani-beraninya dia menghina rumahku. b******k. "FARLES ADALAH RUMAHKU! JIKA KAU BERANI-BERANINYA MENGHINA RUMAHKU! AKAN KUHAJAR KAU! BOCAH!" "Hihihihi! Ternyata wajahmu lucu sekali kalau marah! Hahahaha!" Aku sangat kesal sekarang. Kucoba bangkit dengan tumpuan tanganku, seluruh kulitku kotor terkena lumpur. Dia dengan pakaian bersihnya tertawa-tawa memandangku. "Bagaimana kalau kutunjukkan kekuatanku! Lollipop b******k!" JEDAR! PRAK! Kilatan petirku langsung ditahan oleh lollipopnya, dia memegang permen itu dengan senyuman menjengkelkan. "Hihihi, kau mau bertarung denganku? Nununu~" . . . . . . . . . . . . . . Zombila Mercedes P.O.V "Jadi, maukah kau bersenang-senang denganku, Zombila?" Pria itu duduk dibatang pohon dengan menyilangkan kakinya, tapi, dia bukanlah orang yang mempunyai sihir es, dia berbeda. Siapa dia! Diriku sedang berdiri dengan keadaan yang rusak, pakaianku berdebu, rambut hitamku berantakan, aku tidak tahu keadaan mereka, teman-temanku. Yang aku ingat adalah sebuah ledakan besar sampai diriku terpental dengan jarak sejauh ini. Lalu bertemu dengan seorang pria berkulit hitam ini. Dia membangunkanku dengan melemparkan batu, dan sekarang aku berdiri tegak, ingin membalas perlakuannya yang kurang sopan. "Siapa kau?" tanyaku dengan wajah kesal padanya, mendengarnya dia menyisir rambutnya memakai tangan, lalu berkata, "Ya, kau boleh menyebutku sebagai si kulit hitam dari Emigori, ya, aku berasal dari Guild Emigori. Kedatanganku kesini untuk menjalankan misi, namun entah kenapa, aku bersama kawan-kawanku menemukan kalian, jadi, kami ingin bermain-main sebentar." "Kau ingin bermain-main dengan kami?" ucapku dengan mengepalkan tangan. Kekesalanku sudah memuncak. Mendengarnya dia tersenyum. "Ya, tentu, lagi pula, Farles itu Guild rendahankan? Aku juga mendapatkan info kalau Garkimonso tahun ini diadakan di Farles, menyusahkan saja. Itu artinya, kami dari Emigori akan memasuki rumah b****k kalian? Padahal rumahku lebih indah dari Farles? Ya, begitulah." ucapnya dengan nada santai. Sementara diriku mendengarnya sangat panas, dia telah mencoreng rumahku dengan perkataannya. Apakah aku harus mengaktifkan kekuatanku? Tapi, aku sudah lama tidak pernah mengaktifkannya, bagaimana jika pertarungan ini kuanggap sebagai sesi latihan dalam menghadapi Garkimonso bulan depan. Itu lebih bagus. "Baiklah, aku terima tawaranmu, aku bersedia menjadi mainanmu, asal kau juga mau menjadi mainanku?" Dia terkejut mendengar perkataanku, lalu dengan terpaksa dia tersenyum. Dia kembali menyisir rambutnya. "Oke, bisa kita mulai sekarang?" . . . . . . . . . . Paige Aurora P.O.V "JIAKAKAKAK! GADIS BODOH SEPERTIMU MAU MELUKAIKU? HAH!" Sekarang diriku tengah bertarung dengan seorang wanita berambut cokelat, dia memiliki kemampuan yang terbilang unik, lehernya memanjang seperti ular, dia sangat berbahaya. "Diam kau!" Kukeluarkan serbuk-serbuk kehidupan padanya, jika dia terkena serbuk itu, maka energi kehidupannya akan musnah. Jika kalian bertanya-tanya dimana aku sekarang, maka akan kujawab kalau diriku tengah bertarung disebuah jembatan gantung, ya, tepat di bawahku, terlihat jurang menganga lebar. Jembatan itu terus bergoyang tak tentu arah ketika kami saling beradu kekuatan. Wanita itu terus memanjangkan lehernya, dia berusaha menggigit tubuhku, dan aku memberikannya serbuk-serbuk kehidupan, tapi dia sangat pandai dalam berlindung diri. "Hey, Paige! Apakah kemampuanmu hanya itu? Aku ingin lebih dari ini!" ucapnya dengan memendekkan lehernya sampai kembali normal, rambut cokelatnya terombang-ambing. "Diam! Aku punya sesuatu untukmu, Nella!" jawabku dengan senyuman mengejek. Jembatan ini bergoyang cepat. Lalu kuhembuskan napas dengan kencang. "TARIAN BUNGA MAWAR!" Lalu, seluruh tubuhku langsung menari-nari dengan indah, jari-jariku ikut bergerak. Nella tidak mengerti dengan apa yang kulakukan. "Tarian? Kau mau menari?" TENG! "AAAAAAAAH!!!!" Aku tahu, pasti seluruh tubuhnya akan kesakitan jika diriku tetap menari ala jaipong. Apakah kalian tahu, tarian ini berasal dari suatu daerah yang mempunyai ribuan pulau, ya aku sengaja menciptakan sihir mematikan ini. Tangan dan pinggulku semakin hebat menciptakan irama yang khas, aku merasakan musik yang sangat indah, sehingga tubuhku tidak bisa dihentikkan. TENG! "HUAAAAAAAH!!! HENTIKAAAAAN!!!" Aku tersenyum melihatnya. Matilah kau ular busuk. "Lengser! Lengser! Lengser! Menarilah!" . . . . . . . . . . . . . . Rio Finiggan P.O.V "Aku menyerah!" Wanita itu langsung bersuara ketika diriku akan menyerangnya, aku langsung menghentikkan pergerakanku. "Kenapa kau menyerah?" tanyaku, mendengarnya, wajahnya memerah seketika. "Karena kau sangat tampan! Aku mencintaimu! Maukah kau menjadi kekasihku?" DEG! Apa ini, dia berusaha menggodaku rupanya. Baiklah, mendengarnya aku tersenyum. "Wanita sepertimu tidak layak menjadi kekasihku." BUAG! Mendengarnya, wanita itu langsung menendang perutku, aku sangat terkejut."Ternyata kau cerdas juga ya?" ucapnya dengan senyuman menggoda. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Berjuanglah, Teman-teman! Berjuanglah! Demi Farles! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kita pasti akan mematahkan SI LOLLIPOP! Kita pasti bisa melukai SI KULIT HITAM! Kita pasti menang melawan WANITA ULAR! Kita pasti mampu mengalahkan SI PENGGODA! Dan juga mengalahkan SI PRIA ES! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Berjuanglah! . . . . . . . . . . . . . . . . . . Biola Margareth P.O.V Kini diriku tengah saling berhadapan dengan penyihir es itu, dia terus terkikik melihatku, dia sungguh menyebalkan. "Apa tujuanmu menghalangi kami!" tanyaku dengan sedikit bentakan, mataku melirik tubuh Jordan yang sedang terbaring menjadi es, sementara kereta beserta kuda putih telah hancur lebur. Jika kalian bertanya-tanya kenapa Jordan tidak hancur ketika ledakan terjadi, maka akan kujawab bahwa aku melindunginya bersama cahaya itu. Aku hampir lupa menjelaskan ini, cahaya putih itu merupakan seorang Dewa Hujan, dan kini dia tengah berada disampingku. Aku juga tidak tahu kenapa Sang Dewa tidak menunjukkan wujudnya, tapi yang pasti, dia telah menolong kami. Dia juga sengaja menciptakan ledakan itu agar teman-temanku menjauh dalam pertarungan ini, kenapa? Karena ini akan terlihat berbahaya. Lagi pula, menurut perasaanku, mereka juga sedang sibuk dalam pertarungannya masing-masing. Aku mengetahui itu semua karena perasaanku. Itu saja. "Tujuanku hanya sepele, yaitu ingin bersenang-senang." DEG! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD