PART 2
Ashilla POV
Sudah dua hari aku dan Cakka berada dirumah berdua, sifat cueknya membuatku kadang canggung untuk memulai pembicaraan. Semenjak kejadian jariku teriris pisau aku dan Cakka atau sebenarnya dia, memutuskan untuk makan diluar saja. Bagus deh, aku juga tidak perlu repot-repot memasak untuknya.
"Halo, Mama kapan pulang sih, Shilla kangen," diseberang sana Mama hanya terkekeh. Sudah dua hari juga aku tak mendengar suara Mama, jadi hari ini ku luangkan waktu setelah pulang sekolah untuk menelfon Mama.
"Hallo sweety, lagi ngapain anak Mama?" Mama menyahut setelahnya.
"Lagi nyantai nih Ma... Ma Shilla kangen nih,"
"Cakka apa kabar sayang?"
Ck.
"Mama kenapa sih, anaknya kangen yang ditanyain malah kabar orang lain,"
"Iya deh maaf, maksud Mama kabar kamu sama Cakka?"
"Dia sih baik-baik aja, Shilla yang lagi gak enak badan,"
"Hah, kalian gak ngapa-ngapain kan selama Mama sama Papa nggak dirumah?"
Astaga Mama!
"Ya enggak lah Ma, seolah-olah tuh Shilla ngerampok Bank deh Mama sampai kaget gitu,"
"Hehe, besok Mama udah pulang kok, Bi Asih juga pulang besok katanya,"
"Yesssss!"
"Iya-iya, baik-baik ya sama Cakka,"
"Hmm,"
"Bye sayang,"
"Bye Ma,"
KLIK.
Dua detik setelah sambungan telefon terputus, ponsel ku bergetar menandakan ada pesan baru yang masuk.
Dari Cakka.
From : Cakka Bhakti
To : Me
Gue agak telat pulang, soalnya ngerjain tugas dr bu Ira dirmh Alika.
Alika? Keningku berkerut, sedetik kemudian aku baru ingat bahwa kami ada tugas kelompok yang diberikan Bu Ira.
Tapi kenapa harus Alika? Bukannya teman sekelompok Cakka ada yang cowok ya, eh bodo amat mau sama alien juga gue gak perduli tuh.
Kurasakan cacing-cacing diperutku mulai berteriak meminta asupan makanan, ku lihat jarum jam dinding yang mengarah ke angka 3 dan aku menyadari kalau aku belum makan siang, pantas saja. Setelah mengantarkanku kerumah Cakka langsung pergi, katanya ada buku yang tinggal di sekolah dan sekarang katanya dia akan telat pulang karena ada tugas kelompok, berarti aku harus mencari makan siang ku sendiri.
Yap, sendiri.
Karena tidak menemukan bahan makanan yang dapat ku masak dan alasan lain karena sebenarnya kemampuan memasakku belum juga berkembang, aku memutuskan untuk delivery makanan cepat saji saja. Untuk sesuatu yang bisa dibuat mudah, aku tidak ingin membuatnya jadi ribet.
*
Author POV
Jarum pendek di jam dinding kamar Shilla sudah menunjuk kearah angka 7. Berarti sudah 5 jam berlalu ia sendirian dirumah atau sebenarnya sudah 5 jam berlalu Cakka pergi. Shilla berusaha untuk tetap tenang dan berhenti memikirkan 'mengapa?' tapi hati kecilnya terus saja mendesaknya untuk segera menghubungi Cakka.
Shilla tidak mengkhawatirkan Cakka, ia lebih mengkhawatirkan dirinya yang sebenarnya takut sendirian dirumah. Apalagi langit semakin menggelap, seolah ikut menakutinya.
"Gila. Lama bener sih," ucapnya sambil terus membuka tutup tirai jendela kamarnya.
"Nggak tau apa gue sendiri dirumah, ntar kalau ada maling gimana? Gue diiket terus dibawa ke gudang terus dimutilasi?" Shilla mengucapkan itu sambil bergidik ngeri, diraihnya ponselnya, ibu jarinya menari nari diatas layar.
Pulang... gue capek nungguin lo
Diulangnya sekali lagi membaca hasil ketikannnya.
"Ih apaan sih, kesannya gue jadi kayak nungguin dia banget,"
Lo dimana sih? gue takut dirumah sendirian
"No, kesannya gue penakut banget ini," ucapnya dan kembali menekan tombol Delete dilayar ponselnya.
Gue laperrrrrr, pulang bawa makanan
Setelah puas dengan alasan yang dibuatnya barulah Shilla menekan tombol send.
*
Cakka terpaksa memutar kemudi nya saat mendapat sebuah pesan singkat dari Shilla. Padahal dia sudah sampai didepan komplek tapi satu pesan dari Shilla berhasil menggagalkan untuk segera pulang.
Cakka tidak tau Shilla menyukai apa, jadi ia hanya membeli nasi padang yang keberadaannya tak jauh dari komplek. Sambil menunggu pesanannya selesai Cakka sibuk dengan ponselnya. Notif twitter yang terus-terusan masuk membuat Cakka mau tak mau membuka akunnya.
@ashilla17 : mati lampu rrrr
@ashilla17 : sendiri dirumah nyiksa banget sih!
@ashilla17 : laper!
@ashilla17 : fix klimaks deh penderitaan gue.
Cakka hanya tersenyum samar membaca tweet-an Shilla itu, ide jahil pun muncul dibenaknya.
@CakkaBhakti : kayaknya lama pulang nih.. tugas numpuk.
Selang beberapa menit, pesanan Cakka sudah selesai.
*
Ashilla POV
@CakkaBhakti : kayaknya lama pulang nih.. tugas numpuk.
Miapa? Ini Ciyus?
Berulang kali aku membaca tweet-an Cakka yang berada di timeline twitter ku, berharap itu bukan tweet-an Cakka, tapi hasilnya sama saja itu benar-benar tweet-annya. Seperti yang kalian tau, mati lampu, hari juga sudah gelap, dan aku mulai kelaparan.
Sekarang aku mulai merasa ketakutan, benar-benar lengkap sudah penderitaan ku. Ku baringkan punggungku diatas ranjang.
Apa dia tidak membaca pesanku? Atau jangan jangan dia pura-pua tidak membacanya?
Ini gara-gara Cakka, hidupku jadi seperti ini, pernikahan ini, oh yah aku tak pernah beranggapan aku pernah menikah. Tapi ngomong-ngomong tentang menikah aku tidak penah membicarakan tentang pernikahan ini dengan Cakka, bahkan kami menganggap ini seperti biasa-biasa saja, seperti hidup kami yang sebelumnya.
Kalau begitu aku harus membicarakan ini pada Cakka. Untuk kedepannya.
Saat aku asik-asik melamun tiba-tiba suara ketukan pintu yang terdengar membuat ku seketika bergidik, jangan jangan ada maling tapi bukannya maling tidak ketuk pintu ya? Jujur aku tidak berani untuk keluar dari kamar ini atau itu Cakka?
Tidak, sesuai info yang kudapat dia pulang agak lama tapi kalau benar bagaimana? Ku kumpulkan segenap keberanian dan memutuskan untuk membuka pintu.
Sekarang ditangaku sudah ada sapu, hanya ini hasil yang kudapat setelah mencari-cari peralatan perang. Aku menghitung mundur didalam hati, 3 2 1
CKLEK
Dan begitu aku membuka pintu dengan sengaja aku mengayunkan tongkat sapu kedepan sehingga orang yang berada tepat dibalik pintu terkena imbas akan ulahku.
"Rasain..." Teriakku.
Shut the f**k up. Aku merasa sebuah telapak tangan menarikku paksa dan menutup mulutku.
"Hmmmphh!" Aku bergumam dan terus mencoba melepaskan diri, dalam hati aku menyesali karena membuka pintu tanpa tau siapa yang datang dan sialnya lampu yang padam membuatku seolah terjebak dan tidak mengetahui siapa pelakunya.
Tapi...
Harum ini...
Ini parfum... "Cakka!" Teriakku begitu tangannya terlepas dari mulutku.
"Akhirnya lo sadar?!" Pertanyaan sarkatis itu membuat ku mengerutkan kening, masih merasa sedikit terkejut.
"Lo apa-apaan sih?" Tanyaku.
"That was my question,"
"Siapa suruh sih nggak ngabarin dulu kalau mau pulang cepet?"
Kali ini Cakka yang mengerutkan keningnya, "kenapa?"
"Kenapa sih harus buat tweet bakal pulang lama?"
"Kan gue bilang kayaknya, lagian ketauan banget deh lo suka nge-stalk gue,"
"Idih,"
"That's fact,"
"Nggak! Itu kebetulan!"
Itu memang kebetulan, aku memang tidak sengaja melihat tweet an itu di timeline.
Cakka melepaskan cengkramannya dari tanganku, ia melangkah menjauh dengan bantuan flashlight dari ponselnya, beberapa detik setelahnya aku masih membatu di tempat begitu aku melangkahkan kaki, lampu menyala dan kembali menyinari seluruh ruangan. Saat itu mata ku langsung tertuju pada Cakka yang berdiri didekat meja makan, ia meletakkan plastik makanan dan berkata, "pesanan lo," sebelum akhirnya pergi ke kamarnya.
Di tempatku, aku merasa sedikit bersalah karena ternyata Cakka bahkan masih berbaik hati membelikan makanan untukku.
Setelah selesai makan malam, aku berniat langsung masuk kedalam kamar tapi langkah ku terhenti di depan pintu belakang. Cakka sedang duduk di bangku taman dengan kotak P3k disampingnya, yah sepertinya aku tau dia kenapa.
"Pukulan gue terlalu kuat ya?" tanyaku padanya sambil berjalan mendekatinya.
"Lumayan,"
"Maaf deh itu refleks banget tadi,"
Cakka tidak menjawab, aku mengambil kotak P3K dan duduk disamping nya.
"Sini biar gue bantu," tanpa mendengar jawaban dari Cakka aku langsung mengambil alih untuk mengobatinya.
"Pelan-pelan," ucapnya saat tidak sengaja kau menekan keningnya yang memar terluka karena pukulan dari ujung sapu.
"Iya ini juga pelan pelan sih," balasku.
"Lain kali diperiksa dulu yang dateng siapa, jangan asal pukul," omelnya.
"Kan gue udah bilang itu refleks, lagian gue kan takut kalau ada maling yang dateng,"
"Gak ada juga kali maling yang mau nyulik lo,"
"Apaan? Gue cantik, baik, seksi, siapa sih yang gak mau?" ucapku membanggakan diri, maaf teman-teman penyakit narsis ku kumat sepertinya.
"Cih! Pede bener,"
"Gue sih bilangin fakta,"
"Maling sih nggak tertarik sama lo,"
"Apaan sih, coba kalau ternyata tadi itu maling, trus kalo gue diperkosa lo mau tanggung jawab?"
Hening! Oops! Sepertinya aku salah bicara.
Shilla pertanyaan apa itu bodoh banget sih lo!
*
Aku terbangun saat alarm jam diponsel ku berteriak minta di non-aktif kan.
05:15
Setelah selesai mandi dan siap siap untuk berangkat sekolah barulah aku turun dan keluar dari kamar ku. Sampai di dapur aku tak melihat Cakka biasanya dia sudah duduk jelek di meja makan sambil memakan roti gandum atau sekedar minum teh tapi kali ini tak ada tanda-tanda adanya Cakka.
Aku pun berjalan kearah kamar Cakka dan ku ketuk pintu.
Hening! Jangan jangan dia sudah pergi duluan? Nggak, nggak mungkin karena aku tidak mendengar suara mobil tadi. Karena tidak dibuka juga akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Cakka.
"Astaga Cakka..." baru saja aku berhasil membuka pintu kamar, saat ku lihat Cakka sedang tidur dikasurnya.
"CAKKAAAA... BANGUNNNN!!" yah aku yakin sekali setelah ini aku akan terlambat sekolah.
Bukannya bangun Cakka malah menutup wajahnya dengan selimut.
"Bangun deh lo, awas aja gue terlambat gara-gara lo," ucapku yang terus menarik selimutnya.
"Lo berangkat sendiri aja deh, gue gak enak badan, kunci mobil di meja belajar," ucapnya.
"Ih banyak alasan banget sih lo, cepetan," ucapku, saat itu Cakka bangkit dan duduk menghadapku.
"Gue bilang lo berangkat sendiri!" ucapnya sambil menatapku dingin oh Tuhan baru kali ini aku melihat Cakka sedingin ini padaku, bibirnya yang merah kini terlihat pucat.
"Lo beneran sakit?" ku ulurkan tanganku dan menyentuh dahinya.
"Kka lo demam," ucapku detik berikutnya, setelah merasa ada yang tidak normal pada suhu tubuh Cakka.
Saat itu aku mulai merasa panik, "kita ke dokter ya," ucapku lagi.
"Gak usah lebay deh, udah sana lo pergi,"
Aku tak menjawab kata-katanya. Bisa-bisanya dia menyuruhku pergi ke sekolah sementara dia tinggal dirumah sendiri. Masalahnya, dengan keadaannya yang sedang sakit.
"Hallo Vi.." aku tak tau harus berbuat apa, dulu kalau aku sakit ada Bi Asih atau Mama yang selalu merawatku sekarang aku yang harus merawat dan yang dirawat adalah seseorang yang ku sebut sebagai suami. Akhirnya kuputuskan untuk menelfon Sivia lebih dulu sebagai tindakan menghindari absen alfa disekolah.
"Iya Shill," Via menyahut setelah ber-hallo ria.
"Vi gue sama Cakka gak bisa masuk nih, lo izinin ya,"
"Loh kalian kenapa?"
"Cakka sakit!"
"Sakit? Sakit apa Shill?"
"Demam,"
"Iya-iya gue izinin sama guru piket, eh tapi kan Cakka yang sakit kenapa lo juga gak ikut sekolah?"
Oh yeah, aku lupa ini.
"Ehem anu gue disuruh Mama nya Cakka buat jagain dia, kan Mamanya lagi dinas keluar kota"
"Oh gitu, yaudah Shill, sampein salam gue sama Cakka ya, semoga Cakka cepat sembuh,"
"Iya Vi, Thanks ya,"
"Yo'i,"
"Iya Vi, bye,"
Untung saja Sivia tidak menanyakan yang lain lain, coba tadi dia ingin menjenguk dan bertanya dimana alamat rumah Cakka? Hah, aku tak bisa bayangkan.
"Kka kita ke rumah sakit ya, gue nyiapin mobil dulu,"
"Gak usah,"
"Kalau gitu kita panggil dokter aja," tak perlu mendengar jawaban dari Cakka aku sudah balik badan untuk menelfon Tante Rina, sepupu Mama yang menjadi dokter keluarga.
Tante Rina bilang ia akan segera datang, namun untuk pertolongan pertama Tante Rina menyarankan ku untuk mengompres Cakka dengan handuk yang dibasahkan air dingin. Tak butuh berfikir panjang aku langsung menyiapkan apa yang Tante Rina sebutkan dan kembali ke kamar Cakka.
Cakka tampak tertidur saat aku meletakkan handuk diatas keningnya, namun sepertinya ia tidak, karena tiba-tiba ia memanggil nama ku.
"Shill,"
"Hmmm?" Aku berdehem.
"Thanks."
YEAH!
***