Part 5

2178 Words
Author POV Fiona dan Viola berlari kedalam pelukan Mamanya begitu mereka tiba dihotel tempat mereka menginap. "Mamaa..." ucap keduanya lalu terkikik bahagia. "Hai sweety, gimana rasanya semobil sama Kak Shilla dan Kak Cakka?" Tante Mala bertanya pada kedua putrinya. "Kak Shilla baik Ma, Fio suka," ucap Fiona. "Kak Cakka juga, ganteng lagi," Viola menyambung yang disambut tawa Mamanya. Sambil berjalan memasuki lift Viola dan Fiona asik bercerita pada Mamanya bagaimana mereka menghabiskan waktu selama diperjalanan. "Tadi Kak Cakka pegang tangan Kak Shilla Ma, meleka lucu," ucap Fiona dengan polosnya. Cakka dan Shilla yang mendengar ucapan Fiona saling bertatapan, sementara itu Tante Mala terkikik geli sambil mengerling jahil pada mereka. "Terus Kak Cakka sama Kak Shilla ngapain lagi?" tanya Mama Anne memancing. "Kak Cakka bilang..." Fiona menggantungkan kalimatnya sambil menggoyang goyangkan jari telunjuknya di dagu. "Fio lupa," lanjutnya yang Cakka bernapas lega mendengar ucapan Fiona. "Aku inget. Aku inget Tante!" sambung Viola dengan semangat. "Apa tuh?" tanya Mama Anne antusias. "Kata Kak Cakka, Kak Cakka gak bisa jauh-jauh dali Kak Shilla," ucapnya. Tante Mala dan Mama Anne saling berpandangan dan terkekeh sementara Cakka dan Shilla menunduk merasa malu barang untuk memandang Tante Mala dan orang tuanya. "Cie anak Mama," goda mama Shilla. Shilla hanya bisa menundukkan wajahnya. Sedangkan Cakka sudah salah tingkah dibuatnya. "Telus Kak Shilla ngeliatin Kak Cakka gitu gak kedip-kedip," seolah tak cukup sampai disitu Viola melanjutkan ceritanya dengan tatapan tanpa dosa. Tante Mala, Tante Ayu, dan Mama Anne pun tertawa mendengar pengakuan Viola dan Fiona. Shilla mendengus karena tawa itu. "Yaudah gak usah dibahas lagi sih," ucap Shilla pelan. Tante Ayu tersenyum, "ciee, bisa malu juga nih," godanya. Sementara itu Cakka yang sama tersipunya mengalihkan pandangannya seolah-olah tidak mendengar apapun. * Ashilla POV Aku berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, mencuci wajah dan mengganti pakaian dan malam ini aku dan Cakka untuk pertama kali akan tidur sekamar, satu ruangan atau bisa jadi satu tempat tidur. OMG! Ini terjadi karena kamar hotel tempat kami menginap hanya tersisa 3 lagi, karena tidak ingin ribet mencari hotel lagi akhirnya Mama memutuskan aku dan Cakka satu kamar saja dengan alasan aku dan Cakka kan sudah halal. Lama aku di dalam kamar mandi sampai sebuah suara membuatku harus keluar dari sini. Tok tok tok. "Kak Shillaa... Bukain pintunya... Fio mau pipissss..." jerit Fiona diluar sana. "Ola jugaa..." sahut Viola menyambung jeritan Fiona. Dasar anak-anak. "Iya, sebentar," ucapku membahas sahutan mereka. Lagian ngapain sih mereka masuk kesini? Jangan jangan mau jadi mata-mata lagi, oh iya tentang aku dan Cakka yang berpegangan tangan sungguh itu tidak ada maksud lain selain untuk menolak secara halus permintaan Viola dan Fiona untuk duduk didepan, Cakka hanya takut jika ia tidak konsen nyetir dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurku. "Kak Shilla mau langsung bobo' ya?" Tanya.. disaat seperti ini aku malah bingung kepada si kembar ini, yang barusan bicara Fiona atau Viola sih? "Ayo Kak, Fiona temeni" lanjutnya. Yah, berarti yang barusan bicara itu Fiona. "Katanya tadi mau pipis, yaudah sana pipis dulu," "Nggak jadi deh Kak," "Tadi katanya kebelet," "Kita gak kebelet lagi," Aku hanya dapat menghela nafas pasrah karena Fiona dan Viola berhasil mengerjai ku, "terus Fio sama Ola kok bisa masuk kesini?" "Tadi kita mau cali Kak Cakka tapi Kak Cakka-nya nggak ada," "Iya Kak, kebetulan pintu nya kebuka jadi kita masuk aja," "Kok tau, kalau Kakak dikamar mandi?" "Kita liat ada baju Kakak ditempat tidul jadi kita tau," aku tersenyum kearah keduanya, andai merawat anak semudah seperti punya boneka mungkin sekarang aku sudah punya selusin anak yang lucu-lucu. Yang jelas bukan Cakka Bapaknya. Aku, Fiona dan Viola akhirnya hanya bercerita sambil bercanda diranjang, hingga Fiona dan Viola menguap mengantuk barulah mereka mau kembali ke kamar Tante Mala yang berada tepat di depan kamar ku. Beberapa detik setelah Fiona dan Viola pergi pesan masuk dari Mama menggetarkan ponselku. From : Mum To : Me 'jangan sampai hamil' What? Apaan sih Mama... Seharusnya jika terjadi apa-apa, Mama juga ambil andil atas kejadian itu karena membiarkan aku dan Cakka untuk tidur seranjang. Kan sudah tau, kalau berdua itu pihak ketiganya setan. Ngomong-ngomong tentang Cakka, sejak keluar dari kamar mandi aku tidak melihatnya. Mungkin ia pergi jalan-jalan keluar dan sepertinya aku juga butuh udara segar, baru saja aku membuka pintu kamar tak sengaja aku bertabrakan dengan Cakka yang sepertinya hendak masuk kedalam. "Mau kemana?" tanyanya. Aku mengidikkan bahu, "cari makanan, tiba-tiba laper," jawabku. "Delivery aja, udah malem banget ini," Aku menggeleng, "nggak mau, gue maunya langsung," "Ck," Cakka berdecak lalu menarik tanganku mengikuti langkahnya. "Apaan sih?!" Ucapku sambil mengentakkan tangannya dari pergelangan tangan ku. "Tadi katanya lo mau cari makanan," "Terus?" "Yaudah ayo, gue temenin," Aku berdecak, namun tidak membantah untuk ditemani. Inikan bukan permintaan ku, aku sama sekali tidak mengajaknya, jadi urusan dia mau ikut atau tidak. Selama diperjalanan aku dan Cakka hampir tidak bicara sepatah katapun, kami berjalan bersampingan namun untuk melihatnya saja aku malas. "Mau makan apa?" Cakka bertanya setelah tak jauh dari tempat kami berdiri berbaris para pedagang kaki lima. "Mie ayam kayaknya enak," celetukku. Cakka hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti ku berjalan ke arah pedagang Mie ayam. "Katanya mie ayam pinggir jalan itu terenak," ucapku setelah kami duduk dan memesan mie ayam untukku, ah, Cakka bilang dia sudah kenyang dan hanya akan menemaniku saja. Ok, terserah. "Tapi kurang higienis," "Kan makannya juga nggak tiap hari," Cakka tidak membantah, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu memainkan ponselnya hingga pesananku datang. Aku sebenarnya tidak ingin ambil pusing, namun jika seperti ini sama saja namanya kalau aku pergi cari makan sendiri. Setelah selesai aku dan Cakka langsung kembali ke hotel tempat kami menginap. Disini lah aku berada, satu ranjang dengan Cakka untuk pertama kali setelah kami menikah. Sangat terdengar aneh. Aku tidak mebelakanginya begitupun dengannya. Kami saling mengarahkan wajah kelangit langit kamar seolah ada sesuatu yang menarik disana. Jarum jam menunjukkan pukul 11.10 malam dan kurasakan aku mulai mengantuk. Saat aku mulai memejamkan mataku aku sempat mendengarkan suara Cakka yang berucap, "good night." Hanya saja aku sudah tidak sanggup untuk membalas kata-katanya dan langsung terlelap ke alam mimpi. * Cakka POV Pagi-pagi sekali saat aku merasakan hembusan nafas yang menggelitik telinga ku, begitu ku kesampingkan tubuhku dan membuka mata, aku cukup terkejut karena memandang wajah asing, oh baiklah itu wajah Shilla namun masih membuat ku kaget karena untuk pertama kali aku tidur diranjang yang sama dengannya. Sedekat ini. Sejengkal jari. Aku meraih ponselku diatas nakas, sudah pukul 7 pagi namun tidak ada tanda-tanda Shilla akan bangun dari tidurnya, sepertinya ia kelelahan semalam. Tiba-tiba ide jahil muncul diotakku. Aku mendekatkan tubuhku padanya lalu melingkarkan tanganku dipinggangnya seolah-olah kami berpelukan, aku tak bisa bayangkan apa reaksinya saat bangun nanti. HAHAHA... Tapi entah mengapa ini akan menyenangkan. 1 menit. 2 menit. 3 menit. ------------------ 5 menit. ------------------10 menit. Shilla mulai menggeliat dari tidurnya. Aku memejamkan mata ku pura-pura sedang tidur. 1 2 3 "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...." Itu suara Shilla yang berteriak, aku masih pura-pura tidak berekasi apapun namun sesaat kemudian sebuah pukulan mengenai bahu hingga kepalaku. "Cakkaa... Bangunnn... Mampus gue!" teriaknya lagi. Dia pasti berfikiran yang tidak-tidak. Karena tidak tahan mendengar suara cempreng nya akhirnya aku membuka mata ku dan berdehem. "Ca--------" belum sempat Shilla melanjutkan kata-katanya tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Kak Shill----- Aduh!" "Ola tutup mata kamu!" Shit. Itu suara si kembar Fiona dan Viola. Aku melirik keduanya yang menutup mata dengan kedua tangan mungil mereka lalu kembali mengintip dari sela-sela jari mereka. "Astaga, ngapain kalian disini?" ucap Shilla terdengar panik setelah mendorongku menjauh. "Kita disulu Tante Anne bangunin Kakak tapi pintunya gak dikunci," ucap Viola. Shilla mendengus, "Cakkkkaaaaaaa bego'," teriaknya. Baiklah, itu mungkin salahku karena lupa mengunci pintu, semalam. "Kak Cakka sama Kak Shilla lanjutin aja pelukannya, maaf ya Kak," lalu Fiona dan Viola berlalu pergi. "Cakkkkaaaaaaaaaaaaa..." *** Ashilla POV Belum sempat kekagetanku berakhir saat tau aku dan Cakka tidur sambil berpelukan, dan kehadiran Fiona dan Viola membuatku ingin stroke saja. "Ehem," sadari tadi juga Mama ku yang cantik ini tak berhenti berdehem sambil melirik aku dan Cakka yang sama-sama menunduk saat sarapan. "Ehem," kali ini Tante Ayu yang berdehem. Mungkin Fiona dan Viola mengadu tentang apa yang mereka lihat pagi ini, jadi tak heran mengapa semua deheman ini terjadi. Karena tak tahan berada di posisi seperti ini, akhirnya aku menyudahi acara sarapanku dan memandang mereka bergantian. "Ehem-ehem mulu, kenapa sih Ma?" tanyaku dengan tatapan siap marah. Mama yang melihat perubahan wajahku langsung tersenyum jahil, tapi bukan kearahku melainkan kearah Cakka. "Ck," aku menggeser kursi ku lalu berjalan meninggalkan restoran. Langkah ku terhenti ditaman belakang hotel. Aku kesal dan merasa malu untuk alasan yang seharusnya tidak pantas ku kesalkan dan ku malukan. Aku duduk di salah satu ayunan, megoyang-goyangkan kaki ku seperti anak kecil dan menerawang jauh kedepan, aku tidak suka berada diposisi seperti ini. Pernikahan ini, sama sekali tidak membuatku bahagia. "Say what's on your mind," suara itu berhasil mendongkakkan wajahku. Itu suara Cakka. Aku memandangnya, penyebab mengapa semua ini terjadi. "Ngapain lo kesini?" ucapku datar masih merasa kesal. Cakka yang melihat reaksi ku hanya mengangkat bahu. "Kenapa lo marah?" tanyanya. "Karena gue benci pernikahan ini, gue benci ada diposisi saat ini," jawabku. Cakka sepertinya tidak tampak terkejut mendengar ucapanku. "Terus lo maunya gimana?" Ia bertanya lagi. Aku sendiri bahkan tidak tau apa yang saat ini kuinginkan. "Cerai?" Kali ini ia berhasil membuatku memandangnya terkejut. Sedari awal aku memang tidak tau akan dibawa kemana pernikahan ini jika tidak berhasil, aku dan Cakka juga tidak pernah membicarakannya begitupun dengan kedua orang tua kami. "Kalau lo terbebani lo bisah buat pilihan," ucapnya lagi, aku terkekeh sarkatis. "Kalau gue punya pilihan gue nggak akan terjebak di pernikahan ini," ucap ku. "Kalau gitu berusaha suka sama gue," Apa? "Berusaha jatuh cinta sama gue, gue juga akan lakukan hal yang sama," Tunggu... "Dan kalau sampai kita lulus SMA cara itu nggak berhasil, gue yang ambil resiko," "Maksud lo?" "Gue yang cerai-in lo, gue akan bertanggung jawab untuk segala hal yang mungkin terjadi antara keluarga lo dan keluarga gue," Untuk beberapa detik aku masih mencerna ucapan Cakka, aku sudah pernah mengatakan bahwa ia adalah tipikal yang langsung ke pokok permasalahan, namun ternyata bagi Cakka semudah itu. Haruskah aku meng-iya-kan saja? Mungkin dengan begitu aku masih punya kesempatan untuk hidup dengan normal setelah lulus SMA. "Deal?" "Oke, deal." * Seharian ini sepertinya aku dan Cakka mulai dekat, setelah percakapan itu beban yang beberapa minggu terakhir membebani pikiranku terangkat dan membuat langkahku jadi lebih ringan. Setelah seharian jalan-jalan dan bermain akhirnya malamnya kami kembali hotel, aku dan Cakka langsung masuk ke kamar begitu pun yang lainnya, bahkan Fiona dan Viola yang selalu ceria akhirnya ketiduran saat dimobil menuju ke hotel. Aku lebih dulu mandi bergantian dengan Cakka, lalu aku asik dengan ponselku sambil bersantai diatas ranjang. Beberapa menit setelahnya Cakka keluar dari kamar mandi dan langsung naik keatas ranjang, sepertinya dia juga kelelahan. "Kita cuma tidur seranjang kan?" tanyaku tiba-tiba. Cakka membuka matanya lalu mengarahkan tubuhnya ke arahku. "Menurut lo?" setelah berucap begitu dia kembali menutup matanya. Aku merutuki pertanyaan ku sendiri. Astaga Shilla, jadi apa yang lo pikirin? "Tapi kalau lo maunya nggak cuma tidur, gue bersedia ngapa-ngapain lo," lanjutnya meski dengan mata yang tertutup. Aku yang mendengar itu langsung melempar bantal padanya. "Mesummm..." teriakku. Cakka tidak menanggapiku dia malah memutar badannya memunggungiku, mungkin dia juga sudah mengantuk. * Author POV Pagi ini Cakka dan Shilla berniat untuk membeli souvenir di salah satu pasar tradisional, karena nanti malam mereka akan kembali ke Jakarta. "Kak Shilla, Fio ikut ya," "Ola juga ya Kak," rayu Fiona dan Viola pada Cakka dan Shilla saat sarapan. Cakka dan Shilla sebenarnya tidak menolak, namun Tante Mala tidak mengizinkan karena takut merepotkan keduanya. "Liat deh, ini bagus banget," ucap Shilla pada Cakka sambil memegang gantungan kunci yang dijual oleh salah satu pedagang. "Biasa aja," ucap Cakka menanggapi gantungan itu. Shilla mendengus, "kalau yang ini bagus nggak?" Kali ini ia menunjukkan gelang yang terbuat dari tali dan rotan yang di dominasikan dengan unik. "Lumayan," ucap Cakka. "Jadi, menurut lo bagusan yang mana?" Cakka memandang Shilla dengan malas, sepertinya belanja dan menemani orang belanja bukanlah sesuatu yang menyenangkan buatnya. "Ambil dua-duanya aja," ucapnya. Shilla mengangguk setuju dan membeli keduanya yang nantinya akan diberikannya pada teman-temannya. Selama mereka belanja, Shilla adalah satu-satunya yang tampak bersemangat hingga Shilla mulai menyadari bahwa Cakka sudah bosan dan ia dengan baik hati membelikan Cakka es krim. "Mama bilang, dulu gue orang yang mudah merasa bosan," ucap Shilla sambil mengaitkan tangannya pada Cakka. "Terus biasanya Mama beliin gue es krim dan semua rasa bosan gue akan hilang," ucap gadis itu sambi memakan es krimnya. Cakka manaikkan alisnya, "semudah itu?" tanyanya yang dibalas anggukan Shilla. "Iya," "Jadi sekarang lo lakuin hal yang sama ke gue?" "Iya," Cakka tersenyum, "nice try," ucapnya. Shilla terkekeh karena sepertinya cara itu berhasil. "Btw... Ini," Shilla lalu menyodorkan pada Cakka gelang yang tadi ia beli. "Buat lo," sambungnya. "Ini motif yang beda kata yang jual, cuma ada beberapa aja. Jadi, gue beli satu buat lo dan satu buat gue," ucapnya lagi. Cakka tidak menolak dan memakai gelang itu bersamaan dengan Shilla. "Mau kemana lagi?" tanya Cakka setelah mereka selesai memakan es krim. "Balik," "Oke." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD