Cakka POV
Pagi ini aku merasa begitu segar setelah demam selama dua hari dan akhirnya aku dapat kembali pergi ke sekolah. Oh ya, ada alasan lain kenapa aku ingin segera kembali sekolah yaitu agar Shilla tidak pulang diantar oleh Alvin.
Aku lihat kemarin.
Shilla dan Alvin. Naik motor berdua.
"Ih cepetan deh lo," jerit Shilla dari depan seperti biasa, sepertinya ini adalah hobbinya dipago hari.
"Sabar," ucapku.
"Pa-Ma kita berangkat,"
"Hati-hati."
Shilla yang duduk di jok samping kemudi asik dengan ponselnya , kadang kala timbul rasa ingin menghempaskan ponselnya entah kemana tapi sebagai orang yang berprikemanusiaan dan menjunjung tinggi sifat sabar, akhirnya ku putuskan untuk diam dan memfokuskan pandangan ke jalanan didepan.
Ada untungnya juga dia sibuk dengan ponselnya jadi ia tidak bertanya kenapa dia bisa sampai dikamar kemarin malam padahal tidak ada yang membangunkannya, mungkin dia lupa. Baguslah.
"Nanti lo pulang sendiri aja," ucap Shilla tiba-tiba yang membuat ku menoleh ke arahnya.
"Gue ada janji sama seseorang," lanjutnya.
"Hmm," malas untuk berdebat dengannya pagi-pagi begini jadi kuputuskan untuk diam saja.
Bikin mood gue rusak banget nih cewek pagi-pagi.
Begitu sampai didalam kelas aku sudah dikerumuni teman-teman satu kelas dan rata-rata itu adalah wanita.
"Selamat dateng Kka,"
"Kka lo udah sembuh?"
"Udah baikan Kka?"
"Senang deh lo udah masuk,"
"Minta alamat rumah lo dong biar kalo lo sakit lagi gue bisa ngejenguk?"
Ini benar-benar pagi yang tidak ku inginkan pada akhirnya aku hanya menjawab sekenanya saja karena mood yang sudah tidak baik.
*
Ashilla POV
"Gila ya.. udah tau Cakka pacaran sama Shilla masih aja diganggu," oceh Ify saat kami berada dikantin di jam istirahat.
"Bener," jawab Sivia.
"Padahal Shilla ada di depan kelas masih aja dikerumunin,"
"Bener,"
"Eh Vi lo gak usah nyaut-nyaut deh,"
"Bener," dan kali ini aku yang meyahut.
Alvin, Rio dan Cakka sedang latihan basket, jadi kami putuskan untuk bertiga saja ke kantin.
"Gimana sih lo Shill. Cakka kan, cowok lo dan dia digituin lo malah diem aja," ucap Ify sambil menyendokkan nasi gorengnya ke dalam mulut.
"Coba kalau cowok gue digituin udah deh dapet martabak tuh satu-satu cewek yang gangguin," cerocos Ify seolah mengatai kebodohanku.
"Ya biarin aja lagi Fy, lagian gue harus ngapain," ucap ku kali ini terdengar pasrah.
"Elah Shill, makin lo diemin mereka makin keganjenan tuh sama Cakka,"
"Iya Shill bener, apalagi yang deketin Cakka cantik-cantik,"
"Kalau emang Cakka sukanya sama gue dia pasti cuma liat gue sebagai satu-satunya walaupun ada yang lebih cantik dari pada gue, "
Ntah angin dari mana aku bisa bicara senaif itu yang kenyataannya hanyalah bullshit. Tentang Cakka yang hanya akan melihatku jika dia benar-benar menyukai ku, yakin dan percayalah itu hanyalah dalam mimpi. Dari awal kami sudah saling tidak menyukai dan aku tidak keberatan bahkan jika dia terpesona dengan gadis-gadis yang lebih cantik dari padaku.
"Ciee ngomongnya."
Setelah pulang sekolah aku Sivia dan Ify memutuskan untuk tidak langsung pulang namun pergi ke mall untuk jalan jalan atau sekedar nonton, tadi aku sudah katakan pada Cakka kalau dia bisa pulang lebih dulu.
"Coba tadi ngajak pacar masing masing," ucap Ify envy sambil melirik sepasang kekasih yang baru saja lewat sambil bergandengan tangan.
"Nyindir ceritanya nih?" ucap Sivia, oh ya, aku baru sadar kalau hanya Sivia yang jomblo. Tidak, aku juga hanya saja aku bersuami, suami? Ku katakan ini bukanlah sebuah pernikahan seperti selayaknya.
Kami tertawa membahas itu dan aku tidak ambil pusing memikirkan tentang 'pacar'.
Setelah siap nonton kami pun memutuskan untuk bersalon ria, lebih tepatnya nyalon di salon Mamanya Ify. Setelahnya, kami nongkrong disalah satu café langganan Ify-Rio kalau sedang kencan berdua.
"Jadi nih Shill, lo dulu itu sekolah dimana?" tanya Sivia padaku setelah beberapa menit duduk.
"Di SMA Abdi Negara Vi," jawabku.
"Kenapa lo pindah? Bukannya tuh sekolah bagus ya?"
"Gak tau deh, nyokap gue tuh,"
"Kok bisa samaan kayak Cakka?"
"Gue pindah dia juga ikut pindah," jawabku asal.
"Asik deh lo, cowok lo nekat bener,"
Lama kami berbincang-bincang sampai arah bicara kami pun mulai ngaur.
"Eh iya-iya dulu Rio nembak ify lucu tau," ucap Sivia.
"Gimana gimana?" seperti mulai tertarik aku asik dan serius mendengarkan setiap kata yang diucapkan Ify dan Sivia.
"Cerita dong Fy," paksa ku.
"Dulu tuh waktu SMP kelas tiga, gue sama dia sekelas kan terus kita jadi teman sebangku trus deket.."
"Terus jadian?" tebakku.
"Belum, dia nanya gue mau SMA dimana trus gue bilang kan, udah gitu dia ikutin kemana gue SMA, pas mau pulang MOS SMA dia nembak gue didepan temen-temen bikin malu gak tuh?"
"Iya Shill tapi karena itu mereka jadi best couple disekolah hahaha,"
Aku tersenyum mendengarkannya setidaknya cerita Ify tidak seperti ku yang terjebak pernikahan, malah itu seperti ftv atau novel-novel yang kadang aku berfikir itu tidak mungkin terjadi, tapi kini aku mendengarkan cerita yang nyata.
"Nah lo Shill gimana waktu Cakka nembak lo?"
DEG!
Gimana Shill? Mampus deh gue.
"Eh -anu,"
"Elah gak usah malu lagi certain nya ke kita,"
Aku memikirkan kebohongan apa yang harus ku katakan, aku bahkan tak punya pengalaman tentang percintaan dan pacaran. "Dulu waktu kelas 1 SMA," aku mulai mengarang.
"Terus-terus?" tanya Sivia antusias.
"Dia nembak gue,"
"Iya gue tau, gimana perosesnya?"
"Pas istirahat dia deketin gue dan bilang dia suka sama gue terus ngajak gue pacaran,"
"HAH gitu doang?" Keduanya terlihat terkaget dengan apa yang aku ucapkan.
"Iya,"
"Anjirr, gue pikir Cakka romantis orangnya," komentar Sivia.
"Ya wajar aja dong Vi, dia kan cuek abis," tambah Ify.
WHATEVER!
*
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dengan langkah pelan aku memasuki pekarangan rumah. Baru saja aku menaiki tangga sebuah suara berhasil menghentikan langkahku dan membuat ku menoleh. "Dari mana aja?" Sudah dipastikan itu adalah suara Cakka yang saat itu berjalan mendekati ku.
"Dari mall," jawab ku.
"Sama siapa?"
Aku mengernyit, "suka-suka gue lah mau sama siapa aja," aku berbalik berniat untuk masuk kedalam kamar tapi Cakka berhasil mencengkram tanganku.
"Sakit tau lepasin," ucapku merintih kesakitan karena cengkraman Cakka.
"Jawab dulu pertanyaan gue,"
"Gue kan udah bilang suka suka gue mau sama siapa, "
Cakka menaikkan sudut bibirnya keatas. "Itu bukan jawaban Shilla," ucapnya.
"Lo kenapa sih?"
Cakka diam sesaat.
"Karena semua orang yang ada dirumah ini nanyain lo ke gue sementara gue nggak tau lo dimana,"
"Kan bisa telfon atau chat, apa susahnya sih?" Suaraku ikut meninggi.
"Gue suami lo, seharusnya gue berhak tau segala tentang lo. Seharusnya gue tau kemana lo pergi,"
Kurasakan pipiku yang memerah dengan sekali hentak aku pun berlari meninggalkan Cakka.
Suami?
Bodo amat dah, ngapain dia ngomongnya kayak gitu coba?
***
Sudah hampir seminggu ini aku dan Cakka tak saling bicara kalau pun bicara pasti hanya sekedar menjawab.
"Ya,"
"Nggak,"
"Hmm,"
Semua ini akibat kata-katanya minggu lalu. Aku jadi canggung memulai pembicaraan dengannya dan begitupun dengannya.
"Shill buruan udah jam 7 ini," aku mengambil cardigan ku yang tergantung dibalik pintu lalu berjalan kearah Mama yang sudah berdiri berkacak pinggang di bawah tangga.
"Iya sabar Maa..."
Hari ini kami sekeluarga pergi ke Bandung, berhubung karena hari senin tanggal merah Mama dan Papa ingin kami menghabiskan waktu weekend disana. Ini semua memang sudah direncanakan Mama sejak lama hanya saja baru sekarang terealisasinya.
"Kamu sama Cakka aja ya,"
"Kita kan cuma berempat Ma, kenapa gak semobil aja?" tanyaku pada Mama setelah keluar rumah.
Jujur, kalau aku harus semobil dengan Cakka berdua rasanya pasti sangat aneh dan canggung apalagi nanti dia hanya banyak diam, dan aku juga harus jadi patung dan itu sangat menyiksa.
"Nggak muat dong, kan ada koper,"
"Kan kopernya kecil,"
"Oh iya, kamu kenal Tante Mala sama Tante Ayu kan, mereka juga ikut dan Mama suruh satu mobil aja sama kita. Tapi tenang aja kamu nanti ada temannya kok," lanjut Mama.
"Siapa?"
"Fiona sama Viola anaknya tante Mala yang kembar itu loh, jadi kalian berempat aja ya,"
"Oh yaudah deh," setidaknya kami tidak berdua, setidaknya juga anak tante Mala masih kecil.
Terus kalau udah gede kenapa?
Aku menarik koper ku dan saat aku ingin mengangkatnya memasukkan kedalam bagasi Cakka sudah mengambil alih koper.
"Gue aja," ucapnya dan aku tidak membantah.
*
Selama perjalanan aku hanya bisa mengeluh melihat kemacetan tol Cipularang, dari sini Jakarta-Bandung hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja namun macetnya bisa berjam-jam.
"Kenapa gak berangkat subuh-subuh aja sih semalem?" ucapku tiba-tiba, sungguh ini diluar dugaan ku, berkata seperti itu dan entah pada siapa ku tujukan.
"Kalau hari libur pasti macet, kan banyak yang mau liburan," ucap Cakka membalas ucapanku meskipun ia tidak menoleh dan tetap fokus pada jalanan.
"Kak... Kak Shilla capek duduk didepan? Sini bial Fio yang gantiin," Si cantik Fiona yang duduk dibelakang kini menatapku seolah kasihan.
Dia lucu banget sih.
Aku kembali menatap keduanya dengan gemas, rambut mereka yang dikepang dua membuat mereka sangat imut, apalagi pipi chuby mereka rasanya ingin kugigit saja pipinya.
"Aku aja Kak Shilla," sahut Viola kakaknya Fiona. Mereka adalah kembar identik selisih 3 menit.
"Aku aja, Kak Cakka pasti maunya aku yang temenin," ucap Fiona dengan polosnya.
WHAT?
Oh, sepertinya mereka menyukai Cakka. Astaga anak kecil saja bisa terpesona dengan Cakka.
"Aku,"
"Aku,"
"Aku aja ih,"
"Akuuu..."
"Udah... Udah stop..." leraiku kepada Fiona dan Viola yang tiba-tiba mulai saling berteriak.
"Jangan berantem ya," lanjutku memelas.
"Tuh kan gala-gala kamu nih, Kak Shilla jadi malah," ucap Viona yang kubalas dengan gelengan kepala karena sebenarnya bukan itu yang aku maksudkan.
"Kamu tuh, udah tau Kak Shilla pacalnya kak Cakka masih aja diganggu. Kamu jahat, kata Mama olang jahat masuk nelaka,"
Pacar? Pacar dari hongkong? Dia bahkan saat ini sudah melebihi dari itu.
"Viona, Fiola, yaudah deh kalian duduk berdua aja disini," tawarku.
Aku tak menoleh sedikitpun kearah Cakka, begitupun dengannya, ia bahkan hanya diam saja mendengar ucapan Viola dan Fiona.
"Asikk!" Keduanya berseru senang, tapi demi apa mereka memang sangat lucu.
Saat aku ingin mengatakan pada Cakka untuk berhenti sebentar tiba-tiba Cakka memegang tanganku seolah menahan ku untuk pergi.
"Kalian disitu aja ya Adik-adik cantik," ucap Cakka pada si kembar Viola dan Fiona, aku tersentak.
"Yah, kok gitu kak?" keluh mereka aku sendiri masih terdiam dengan aksi Cakka.
"Soalnya Kakak nggak bisa jauh jauh dari kak Shilla."
HAH?!?!
APA?
ALESAN!
BOHONG!
AKTING AJA TERUS!
***