Harsa yang tidak sanggup dengan insomnianya yang semakin parah memutuskan untuk mengambil jalan lain yang juga merupakan satu-satunya jalan agar dia bisa sembuh.
Dia harus bertemu dengan obatnya...
Dan obatnya adalah gadis malam itu. Dia sudah mengatakan niatnya pada ibunya untuk menikahi gadis itu, dan tentu saja ibunya senang bukan main. Putranya pada akhirnya menyerah pada keputusannya untuk melajang seumur hidup, wajar jika beliau sesenang ini.
“Mama senang kamu menerima perjodohan ini, tapi Mama penasaran, apa yang membuat kamu berubah pikiran?” tanya Iriana sambil menatap putranya penasaran.
Saat ini Harsa beserta ayah dan ibunya sedang berada di perjalanan menuju rumah Gista, gadis yang ia temui malam itu. Ya, ibunya bilang nama gadis itu adalah Gista.
Harsa bilang ingin menikah secepatnya, itu sebabnya ibunya langsung menyiapkan bawaan yang nominalnya tidak main-main. Ibunya bilang ini bukan lamaran resmi, ini hanya sebagai tanda bahwa mereka serius dengan perjodohan ini. Sedangkan untuk lamaran resmi tentu jumlah dan nominalnya akan lebih fantastis lagi.
“Apa pertemuan kalian malam itu begitu berkesan sampai-sampai kamu berubah pikiran?” tanya ibunya lagi.
Pertanyaan ibunya membuat Harsa kembali mengingat momen malam itu. Sebenarnya tidak ada yang berkesan dengan malam itu, bahkan Harsa hampir tidak ingat setiap kejadiannya. Yang berkesan hanya satu, ia bisa tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir. Juga aroma yang membuat suasana hatinya bagus di hari itu, aroma jasmine bercampur lavender, Harsa tidak akan melupakan aroma itu.
Tapi Harsa terlalu malas untuk menjawab pertanyaan ibunya sehingga dia hanya membalas seadanya. “Ya, begitulah.”
Iriana hanya tersenyum mendengar balasan putranya, seolah sudah terbiasa dengan sikap tertutupnya.
“Apapun alasannya, Papa senang dengan keputusanmu ini. Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat,” ucap ayahnya.
Harsa melirik ayahnya sedikit, kemudian membalas, “Kalau begitu jangan lupa dengan janji Papa. Setelah aku menikah pastikan perusahaan ada di tanganku, semuanya, mau itu induk perusahaan sampai anak-anak perusahaan.”
Dia ingat dengan kejadian Aska yang berada di perusahaan hari itu. Harsa yakin hari itu ayahnya pasti sedang menyiapkan rencana untuk menjadikan Aska sebagai pewaris kalau-kalau Harsa menolak untuk menikah.
“Jangan khawatir, kamu bisa pegang kata-kata Papa,” balas ayahnya yakin.
Kini Harsa bisa bernafas lega. Sepertinya pernikahan ini tidaklah terlalu buruk. Dia hanya perlu menikah, dan setelahnya perusahaan akan menjadi miliknya dan dia juga bisa sembuh dari insomnianya. Dia tidak menyangka dia akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus.
***
Rombongan keluarga Pramudya berkunjung ke kediaman Rahayu. Walaupun hanya tiga orang, namun buah tangan yang mereka bawa benar-benar membuat Rahayu tercengang.
“Ini ada apa sih, Ma? Kenapa rame banget di depan?” tanya Gista ketika dilihatnya halaman rumahnya yang penuh dengan orang-orang yang membawa bawaan seperti orang mau melamar.
“Mereka siapa?” tanya Gista bingung. Saat ini ia dan ibunya sedang berada di depan pintu sambil memandangi orang-orang berjas hitam, semacam bodyguard, sedang membawa kantong-kantong belanjaan dengan merk ternama.
Gista melongo di tempatnya. Itu adalah merk yang ingin dibelinya suatu hari nanti. Harganya benar-benar fantastis, Gista bahkan harus menabung bertahun-tahun untuk bisa membeli satu barang dengan merk tersebut. Dan lihat semua ini? Bukan hanya satu dua kantong, melainkan puluhan. Gista bahkan yakin masih banyak lagi kantong belanjaan yang masih tersimpan di dalam mobil.
Ya Tuhan, apa ini nyata? Dia tahu keluarga Pramudya memang kaya tapi dia tidak menyangka akan sekaya ini.
“Selamat pagi Nyonya Rahayu, perkenalkan saya Wira Pramudya, ayah dari Harsa. Maaf atas kunjungan kami yang tiba-tiba, tapi kami punya maksud serius atas kunjungan kami yang tiba-tiba hari ini,” ucap Wira dengan sopan.
Rahayu yang masih shock menjawabnya dengan tergagap, “I-iya, silakan masuk.”
Meski masih bingung, ia tetap mempersilakan tamu-tamu agungnya dengan sopan. Semuanya terlalu mendadak sehingga dia tidak sempat menyiapkan apapun.
“Seperti yang pernah saya katakan hari itu, saya berniat untuk menjodohkan putra saya dengan putri kamu, Gista. Tadinya saya sempat pesimis dengan perjodohan ini, tapi saya tidak menyangka kalau putri kamu ini ternyata mampu meluluhkan hati Harsa,” kata Iriana sambil melirik ke arah Gista.
Gista pun bingung. Putra? Putra mana yang ibu ini maksud? Apa laki-laki berkemeja biru yang saat ini sedang duduk berseberangan dengannya? Laki-laki tampan ini?! Tapi mereka bahkan belum pernah bertemu satu kali pun, jadi bagaimana bisa ia yang meluluhkan hati pria tampan ini?
“Jadi maksud kunjungan kami hari ini adalah untuk meminta Gista menjadi calon istri putra kami—Harsa,” kata Wira yang tentu saja membuat Gista shock. Tanpa sadar ia melirik ke arah pria bernama Harsa itu, dengan wajah setampan ini serta aset dan kekayaan sebanyak ini tentu tidak ada alasan baginya untuk menolak.
“Eh, kami sangat berterima kasih atas maksud kedatangan bapak dan ibu sekeluarga. Kami juga merasa sangat terhormat dan tersanjung, tapi apa boleh saya mendiskusikan hal ini sebentar dengan putri saya? Hanya sebentar,” ucap Rahayu dengan sehati-hati mungkin.
Gista langsung menatap ibunya tidak setuju. Apa yang perlu didiskusikan? Meski dia agak shock dan bingung, tapi sudah jelas dia akan menerima pinangan ini. Kesempatan emas semacam ini tidak akan datang dua kali.
“Tentu, silakan,” kata Wira tidak masalah.
Rahayu langsung pamit dan segera menarik Gista untuk berjalan mengikutinya.
“Duh, apa sih, Ma?!” decak Gista yang risih tangannya ditarik-tarik.
“Gimana ini Gista? Kita harus apa?”
“Apanya yang gimana? Mereka ke sini mau lamar aku? Yaudah aku terima,” jawabnya santai.
“Katanya kamu nggak kamu, kamu bilang sudah punya Gerry.”
“Ya kalau aku tau calonku ternyata setampan dan sekaya ini, jelas aku nggak akan nolak. Mama nggak lihat barang bawaannya tadi? Itu kalo dirupiahin bisa buat bangun rumah dua lantai!”
Rahayu langsung memijat keningnya yang seketika pening. Kenapa putrinya ini tidak menyetujuinya sejak awal? Kenapa baru setuju di saat semuanya sudah serunyam ini.
“Tapi perempuan yang ditemuinya malam itu bukan kamu,” kata Rahayu frustasi. Harsa mungkin hanya tahu kalau perempuan yang ditemuinya bernama Gista, tapi pria itu jelas tahu kalau bukan Gista ini yang ia maksud.
“Tapi dia kelihatannya yang ‘ngeh’ kalau aku bukan perempuan yang ditemuinya malam itu,” kata Gista membuat Rahayu seketika bingung.
“Dia tahu namaku Gista, ibunya juga udah terang-terangan kalau aku yang akan dilamarnya. Tapi dia kelihatan biasa-biasa aja.”
Benar juga. Tapi kenapa bisa begitu? Rahayu benar-benar dibuat bingung.
“Mungkin aja dia nggak begitu ingat sama wajah Nala malam itu. Tapi apapun alasannya, sekarang udah nggak penting. Intinya sekarang dia datang kesini untuk melamar perempuan yang namanya Gista, dan Gista adalah aku.”
Rahayu masih bimbang. Dia tidak tahu apa hal semacam ini boleh dilakukan? Apa ini bukan menipu namanya? Dan bagaimana jika suatu hari nanti Harsa sadar bahwa Gista bukanlah perempuan yang ditemuinya malam itu?
“Udahlah, Ma. Nggak usah terlalu banyak mikir. Mending sekarang kita ke depan, bilang ke mereka kalau aku menerima lamaran ini. Simple, kan?”
Meski agak ragu, pada akhirnya Rahayu menuruti permintaan putrinya. Semoga keputusannya ini tepat dan tidak akan membawa petaka di kemudian hari.
***
Pertemuan keluarga berlangsung lancar. Gista menerima lamaran tidak resmi Harsa, dan setelahnya lamaran resmi akan dijadwalkan ulang beserta dengan tanggal pernikahan mereka. Harsa memang ingin pernikahan dilangsungkan segera, selain karena alasan perusahaan juga karena dia tidak betah dengan insomnianya ini.
Tapi ada yang aneh, berhadapan sedekat ini dengan gadis itu tidak membuat indra penciuman Harsa menangkap wangi malam itu. Harsa juga tidak merasakan debaran ataupun euforia saat bertatapan dengan gadis yang bernama Gista di depannya ini.
Tadinya ia pikir ia akan merasa berdebar-debar mengingat dia sudah sangat menantikan pertemuan ini. Tapi nyatanya tidak begitu, rasanya justru hambar.
“Maaf, boleh saya ke kamar mandi sebentar?” sela Harsa di tengah obrolan antar dua keluarga.
“Oh, silakan. Kamar mandinya ada di bagian paling belakang, yang pintunya berwarna cokelat,” ucap Rahayu ramah.
Harsa mengingat-ingat instruksi yang diberikan Rahayu dan langsung berjalan menuju arah yang dimaksud. Matanya menatap ke sekitar mencari pintu yang dimaksud, namun dia tidak menemukannya. Ini sudah bagian paling belakang, tapi dimana pintu yang dimaksud?
Dan di saat itulah, salah satu pintu disana terbuka menampilkan seorang gadis berpakaian rapi lengkap dengan tas dan map yang didekapnya. Sepertinya itu pintu belakang, karena Harsa sempat melihat halaman luar dari balik pintu tersebut.
Saat mata mereka bertemu, gadis itu terlonjak kaget. Matanya melotot dengan sebelah tangan menutup mulutnya terkejut. Ekspresinya sudah seperti melihat hantu, apa wajah Harsa memang se-menyeramkan itu?
Harsa buru-buru meminta maaf, mungkin gadis itu bingung karena ada pria asing di dalam rumahnya. “Maaf, saya tamu di sini. Saya sedang mencari kamar mandi. Kalau boleh tau, kamar mandinya ada di sebelah mana?” tanyanya hati-hati.
Gadis itu masih terdiam, mungkin masih shock. Tapi sedetik setelahnya, gadis itu mengarahkan tangannya ke arah belakang Harsa. Harsa menoleh dan tidak menemukan pintu cokelat yang dimaksud Rahayu tadi, ia kembali menatap gadis itu bingung.
Paham bahwa Harsa masih belum mengerti, gadis itu pun berjalan mendahului Harsa dan masuk lebih dalam ke bagian dapur. Ternyata pintu yang dimaksud ada di bagian yang cukup tersembunyi.
Gadis itu menunjuk pintu yang dimaksud, namun kini justru Harsa yang terdiam. Saat gadis itu berjalan melewatinya, aroma jasmine bercampur lavender menyerbak membuat Harsa terenyak sesaat.
Tidak, Gadis yang ia maksud saat ini sedang berada di ruang tamu bersama keluarganya, bagaimana mungkin aroma itu bisa sampai ke sini? Harsa segera menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, mungkin dia hanya berhalusinasi.
***
Setelah laki-laki itu hilang di balik pintu kamar mandi, Nala segera masuk ke dalam kamarnya. Tangannya menelungkup di depan dadanya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kini berdetak tidak beraturan.
Nala baru saja pulang dari interview. Saat sampai di depan rumah, ia heran karena ada banyak mobil yang berjejeran. Ia pikir itu mungkin tamu penting budenya, itu sebabnya ia memilih masuk lewat pintu belakang, dan betapa kagetnya dia mendapati laki-laki yang pernah bermalam dengannya berada di dalam rumah budenya.
Benaknya penuh dengan pertanyaan, laki-laki itu... bagaimana bisa dia ada di sini? Apa yang dilakukannya di rumah ini?