C08 : Meet Her (Again)

1070 Words
Bertemu Gista nyatanya tidak membuat perasaan Harsa membaik. Malamnya masih tidak baik-baik saja, ia masih dihantui insomnianya seperti malam-malam biasanya. Ini tidak seperti rencana awalnya dan ini benar-benar membuatnya frustasi. “Harsa, ada apa?” tanya Iriana membuat Harsa sadar jika sedari tadi dia hanya memandangi makanan di piringnya. Hari ini dia memang sedang berada di kediaman orangtuanya. Ibunya meminta Harsa untuk ikut makan malam. “Bukan apa-apa,” jawab Harsa sambil kembali fokus pada makanannya. Tapi Iriana merasa tidak puas dengan jawaban anaknya, dia merasa anaknya sedang gelisah memikirkan sesuatu tapi dia tidak tahu apa itu. “Apa apa, Harsa? Dari tadi Mama perhatikan kamu sering ngelamun, ada masalah di kantor?” Pertanyaan ibunya turut mengundang atensi ayahnya yang saat ini tengah sibuk makan di samping ibunya. “Nggak ada apa-apa, Mama nggak perlu khawatir.” Iriana menghela napasnya pelan, berusaha sabar dengan sikap tertutup yang selalu Harsa tunjukkan padanya. Harsa memang selalu begitu, dari dulu sampai sekarang. Semua masalah selalu ia simpan sendiri, terkadang Iriana merasa tidak berguna sebagai seorang ibu. “Gimana Gista?” Pertanyaan tiba-tiba dari Iriana membuat Harsa terdiam sejenak. “Gimana apanya?” balasnya seraya kembali fokus pada makanannya. “Kemarin kan kalian udah ketemu, pasti udah saling tukar nomor telepon kan? Masih saling komunikasi kan?” Harsa diam sejenak. “Masih,” jawabnya singkat. Melihat sikap anaknya yang tampak tidak antusias membuatnya bingung. Ia masih sangat ingat bagaimana semangatnya Harsa saat meminta untuk menemui Gista di kediamannya, tapi sikapnya saat ini tak seantusias saat itu. “Kalian baik-baik aja kan?” tanya Iriana memastikan. “Ya, semuanya baik.” Iriana menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia puas dengan jawaban anaknya. “Jaga hubungan kalian baik-baik. Ingat, sebentar lagi kalian akan menikah.” Menikah? Mendengar kata itu kini tidak lagi membuat Harsa bersemangat. Tadinya dia sudah mulai bisa menerima rencana pernikahan ini, tapi sekarang dia kembali ragu. “Aku nggak mau terlalu terburu-buru.” Jawaban Harsa sontak mengundang tatapan tajam dari ibu dan juga ayahnya. “Jangan macam-macam kamu, Harsa. Kamu sendiri yang memutuskan untuk menerima pernikahan ini, jadi Mama nggak mau dengar kamu berubah pikiran atau semacamnya. Ngerti kamu?” “Aku tau. Aku nggak akan berubah pikiran, Mama tenang aja,” jawabnya kelewat santai. “Lagipula aku juga nggak mau perusahaan jatuh ke tangan Aska. Perusahaan harus diurus oleh keturunan sah Pramudya. Iya kan, Pa?” kata Harsa yang seolah sengaja menyindir ayahnya. Kini suasana di meja makan menjadi dingin. Pembicaraan mengenai aska dan juga perusahaan memang selalu membuat suasana menjadi mencekam dan tidak nyaman. “Lalu apa alasan kamu nggak mau terburu-buru? Kalau kamu memang mau mengamankan posisi kamu sebagai pewaris perusahaan seharusnya kamu menyegerakan pernikahan,” kata Wira—ayah Harsa. “Usia Papa semakin tua, Papa mau kamu segera menikah dan ngasih kami cucu. Perusahaan juga butuh penerus, kamu sadar itu kan?” lanjut Wira. “Dari keluarga Gista juga sudah berharap banyak dari kunjungan kita hari itu. Jangan bersikap bodoh, Harsa. Ini bukan Cuma menyangkut kamu atau perusahaan, tapi juga nama baik keluarga kita,” kata Iriana mengingatkan. Harsa meletakkan alat makannya dan menyenderkan punggungnya dengan kasar. Balasan menyudutkan dari sana-sini benar-benar membuatnya muak. “Aku akan tetap menikahi Gista, Mama nggak perlu khawatir.” “Aku cuma butuh waktu aja,” kata Harsa lagi. Kali ini tatapannya terlihat ragu dan bingung. “Waktu untuk apa?” “Waktu untuk memastikan kalau Gista memang orang yang aku cari,” jawabnya dengan tatapan menerawang. Iriana terlihat bingung dengan jawaban ambigu putranya. Ucapan Harsa saat ini sangat sulit ia mengerti, ini tidak seperti Harsa biasanya yang selalu to the point dan tidak suka bertele-tele. “Intinya aku mau mengenal Gista lebih dalam lagi. Kami akan menikah, wajar kan kalau aku mau lebih mengenal calon istriku? Lagipula kita semua mau ini menjadi pernikahan sekali seumur hidup, iya kan?” Jawaban telak Harsa membuat ayah dan ibunya tidak bisa lagi berkutik. Sejujurnya keduanya merasa agak terkejut dengan jawaban Harsa ini. Mereka tidak menyangka bahwa Harsa akan menganggap pernikahan ini dengan begitu serius. Tadinya Harsa hanyalah sosok pria yang tidak percaya cinta, berhati dingin, dan mengambil keputusan ekstrem untuk melajang seumur hidup. Mereka pikir pernikahan ini hanya akan dijadikan Harsa sebagai “syarat” agar bisa mendapatkan perusahaan saja. Namun tidak disangka, ternyata Harsa seserius ini. *** Jika di Minggu pagi biasanya Harsa habiskan dengan berolah raga atau bermalas-malasan di rumah pribadinya, kali ini Harsa memutuskan untuk pergi jalan-jalan dengan Gista. Ini merupakan salah satu upayanya untuk lebih mengenal sosok Gista dan juga untuk meyakinkan dirinya bahwa Gista memanglah gadis “malam itu”. Sejak bertemu dengan Gista untuk pertama kalinya di kediaman gadis itu, entah kenapa perasaan Harsa tak lagi menggebu-gebu seperti sebelumnya. Tadinya dia sangat berdebar-debar karena penasaran dengan sosok gadis yang telah membuatnya sembuh dari insomnia, tapi setelah bertemu perasaan menggebu-gebu itu lenyap. Atau mungkin ini hanya sebatas rasa penasaran saja? Setelah membelah kemacetan akhirnya ia pun sampai di depan rumah Gista. Padahal ini hari Minggu, seharusnya jalan agak lengang karena bukan hari kerja, tapi nyatanya jalanan ibu kota dengan kemacetan memang tidak bisa dipisahkan. Harsa turun dari Mercedes Benz hitamnya. Ia berjalan menuju pekarangan rumah Gista yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik. Sejujurnya saat pertama kali datang ke rumah ini, halaman rumah inilah yang langsung menyita perhatiannya. Halaman rumahnya sangat indah, meski dia tidak terlalu paham tentang jenis-jenis tanaman atau bunga, namun ia akui jika tanaman-tanaman di sana sangat cantik dan terawat. Keluarga Gista pasti memperkerjakan tukang kebun yang hebat. Saat sibuk mengamati kecantikan tanaman-tanaman milik keluarga Gista, mata Harsa tidak sengaja menangkap sosok gadis yang tengah berjongkok dengan tangan penuh noda tanah, sebelah tangannya sibuk memegangi sekop tanaman dengan deretan pot-pot kecil di depannya. Keringat bercucuran dari keningnya yang langsung disekanya hingga membuat wajahnya cemong karena tanah. Tanpa sadar bibir Harsa melengkung membentuk senyum geli, Harsa lalu memutuskan untuk berjalan mendekati gadis itu. “Permisi,” ucapnya pelan. Namun sepertinya gadis itu tidak mendengarnya, posisi gadis itu yang membelakanginya juga membuat gadis itu tidak bisa menyadari kehadirannya. “Permisi,” kata Harsa lagi, kali ini dengan volume yang lebih keras. Tapi lagi-lagi gadis itu tidak mendengarnya. Harsa mengerutkan dahinya bingung, padahal ia yakin suaranya sudah sangat lantang. Tidak sabar, Harsa pun semakin berjalan mendekat dan menyentuh pundak ringkih itu pelan. Namun reaksi yang didapatnya di luar dugaan. Gadis itu terlonjak kaget dan langsung melempar sekop kecilnya yang masih berisikan tanah ke arah Harsa hingga mengotori bagian depan kemejanya. Sialan...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD