Crystin, Gani dan Jeje sudah kembali lagi ke pantai tepat pas acara pentas di mulai. Mereka bertiga langsung menuju pada barisan mereka masing-masing.
"Kita absen dulu ya,"Kata Samuel setelah melihat sudah banyak yang kumpul.
Luna celingak-celinguk. Daritadi dia merasa ada sesuatu yang kurang. Tapi apa ya?
Crystin menyenggol lengan Luna, dia juga ikut celingak-celinguk" Cecil sama eva mana? Belum balik ya?"
Oh iya, pantes Luna merasa ada yang kurang, ternyata Cecil dan Eva belum kembali.
Luna melirik jam di tanganya"kok udah jam segini mereka belum balik ya, apa jangan-jangan mereka kesasar?"
"Coba lo telfon lun."
"Cecilia Nathania Adysty Pratama," Panggil samuel, namun tidak ada sahutan dari yang di panggil.
"Cecilia Nathania Adysty Pratama,"Ulang Samuel, namun lagi-lagi Cecil tidak menyahutinya. Samuel langsung mengedarkan pandanganya, memang daritadi dia tidak melihat Cecil, terakhir melihatnya waktu Cecil gandengan tangan dengan Arkan di tepi pantai, setelah itu dia tidak melihatnya lagi.
"Bu Manda,"Panggil Samuel, Amanda yang sedang sibuk merapihkan berkas-berkas menghentikan aktivitasnya hanya karena panggilan dari Samuel.
"Iya Pak kenapa?"
"Bu Manda bisa absenin kelas saya sebentar? Saya ada urusan sebentar."
"Oh tentu bisa pak."Apa sih yang ga bisa Amanda lakukan, apalagi kalau yang nyuruh orangnya modelan kayak Samuel.
Setelah menyerahkan tugasnya, Samuel berjalan kearah kedua sahabat Cecil. Wajah Luna dan Crystin yang terlihat panik membuat hati Samuel semakin was-was.
"Cecil mana?"Tanya Samuel. Crystin dan Luna tidak menggubris pertanyaan Samuel. yang mereka inginkan hanya jawaban dari Cecil dan Eva.
"Dijawab ga lun?"
Luna menggeleng lemah"Nomernya ga aktif."
"Eva?"Luna merogoh tasnya, mengambil benda pipih dari dari dalam sana.
"hpnya di titipin ke gue."
"Duh terus gimana, oh lo udah coba telfon Arkan?"
"Gue ga punya nomernya."
Crystin mengusak-usak rambutnya frustasi"terus gimana dong, kalo mereka kenapa-kenapa gimana dong?"
"Memangnya Cecil dimana?"Tanya Samuel lagi.
"E.. Eh pak sam."Saking paniknya, Crystin dan Luna sampai lupa kalau ada Samuel daritadi di sampingnya.
"Itu pak, tadi sore kita pergi ke hutan, terus Cecil, Eva sama Arkan belum balik pak,"Cicit Crystin.
Mata Samuel langsung melotot"siapa yang suruh kalian masuk ke hutan?!"
Crystin dan Luna tersentak kaget. Bukan hanya mereka, beberapa siswi juga terlihat kaget. Karena sosok Samuel yang lembut tiba-tiba membentak begitu.
"Ma.. Maafin kami pak."
Amanda yang tau ada keributan di belakang, menghampiri barisan belakang.
"Ada apa ini pak?"Tanyanya.
"Cepat telfon polisi, buat mereka cari Cecil dihutan, biar saya yang bayar biayanya berapapun itu,"Suruh Samuel, kali ini Amanda tidak menurut.
"Siapa yang masuk hutan? Siapa yang nyuruh mereka masuk hutan?! Kalian ini benar-benar tidak taat aturan ya!!"
Amanda menyentuh lembut lengan Samuel"Kita tunggu dulu sebentar ya pak, kalau mereka tidak pulang-pulang juga, kita baru cari dan lapor polisi."
Sudah hampir satu jam mereka menunggu Arkan, namun tidak ada sedikitpun tanda-tanda kalau kelompok itu akan kembali.
"kita kayaknya harus cari mereka bu, udah makin gelap ini bu,"Ujar Luna memecahkan kepanikan mereka.
"iya bu, pak, kayaknya mereka kesasar, mending kita cari bareng-bareng aja,"Timpal Crystin. Dari nada bicaranya sudah mulai khawatir.
Dari balik rindangnya hutan dan pekatnya malam, sebuah senter sayup-sayup menyala dari kejauhan, suara langkah kaki cepat seperti setengah berlari terdengar di depan sana.
"itu kayaknya mereka!"
Semua orang bergegas berlari kearah lampu yang menyala tersebut. Benar saja, itu Arkan dan Eva, namun hanya ada mereka berdua saja, dimana Cecil?
Cristyn dan Luna langsung menghampiri Eva, Crystin langsung memeluk sahabatnya itu sangat erat sambil terus menenangkan Eva yang daritadi terus menangis sesenggukan.
"lo udah aman va. Tenang, ada kita disini,"Kata Luna mengelus lembut punggung Eva.
Samuel celingak-celik, melihat tidak ada Cecil, dia menghampiri Arkan, meraih kearah seragam Arkan, matanya menyalak tajam menatap Arkan"dimana Cecil, kenapa kalian cuma pulang berdua?!"
"pak Samuel sudah pak, sudah tenangin diri bapak, kita dengerin penjelasan Arkan."Amanda mencoba menenangkan Samuel.
"jawab dimana Cecil!!"
"Ce...cLCecil...kita tadinya berempat bareng pak, tapi tiba-tiba Cecil...."
"aku nganter Cecil pipis."Suara Eva menghentikan penjelasan Arkan. Samuel langsung mendekati Eva.
"terus."
"terus aku tungguin sebentar, eh pas aku cek lagi dia udah gaada disana, hiksss....Cecil pasti udah diculik wewe gombel....hiksss...."
Samuel meraih jasnya yang tersampir di kursi, lalu berjalan kearah hutan.
"bapak mau kemana?"Tanya Amanda meraih tangan Samuel, menghentikan langkah pria itu.
"ini sudah malam pak, ada banyak bahaya di dalam hutan sana, bukannya lebih baik kita cari dia besok pagi saja?"Saran Amanda.
"tidak bisa bu, kalau sampai terjadi apa-apa pada Cecil bagaimana?"
Samuel mengambil senter dari tangan Amanda, tanpa basa basi dan rasa takut dia berlari masuk kedalam hutan rindang di balut kegelapan yang mencengkam.
"Pak Samuel!!"dia bahkan tidak peduli dengan teriakan Amanda dan lainya.
"Cecil!!"Teriak Samuel menggema disekitar. Kakinya terus melangkah menyusuri hutan yang semakin dalam semakin gelap, senter itu dia arahkan ke segala penjuru. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya gadis itu tersesat tidak tau tujuan di hutan sendirian.
***
"Cecil!!"Teriak Samuel. Hanya bermodalkan senter HP, dia menyusuri hutan yang begitu gelap dan lembab. Dua hal yang paling Samuel benci di dunia.
"Cecil, kau bisa dengar suara saya?!"
"tolong,"Sahut suara sayup-sayup entah darimana. Namun Samuel yakin kalau itu adalah suara dari Cecil.
"Cecil!!"
"tolong gue disini!"Kini suaranya bisa terdengar lebih jelas, dengan artian Cecil tidak jauh dari tempatnya.
Samuel menyorotkan senternya kedepan, Cecil berdiri beberapa meter darinya, tampilanya begitu lusuh, wajahnya terlihat kotor dan rambutnya yang selalu terlihat cantik dan rapih kini lebih mirip kayak rambut macan.
"Pak Samuel."Cecil langsung memeluk erat tubuh Samuel, Samuel bisa merasakan kedua bahu dan tangan yang mencengkeram punggungnya gadis bergetar sangat hebat, di detik berikutnya tangisan Cecil yang daritadi ditahan tumpah juga. Samuel mengelus lembut rambut Cecil untuk menenangkan. Sudah hampir setengah jam Cecil terus memeluk tubuh Samuel erat.
"kamu ini takut, atau emang seneng peluk saya,"Sindir Samuel.
Merasa tidak ikhlas dengan tuduhan keji dari Samuel, Cecil melepaskan pelukanya dari Samuel.
"dih pede banget jadi orang, gue tuh meluk lo karna beneran takut tau."
"terus lagian kenapa sih lo yang harus nyusul gue ke hutan, kan gue maunya di susul Arkan bukan lo,"Gerutu Cecil menyebikkan bibirnya sambil melipat kedua tanganya di depan dada.
Samuel melirik kebawah, melihat betapa malangnya Cecil hanya menggunakan satu sepatu saja, bahkan sepatunya tidak mirip dengan sepatu karena sudah di balur lempung dang beberapa daun kering.
Samuel melepaskan kedua sepatunya, dia lalu duduk berjongkok di depan Cecil. Alis Cecil berkerut bingung.
"mau ngapain sih lo, mau bikin adegan ngelamar-ngelamar lagi?"
Samuel tidak menjawab, dia melepaskan tali sepatu Cecil, membukanya. Lalu memakaikan sepatu besar miliknya itu pada kaki Cecil yang kecil.
"terus kalo sepatu lo gue yang make, lo nyeker dong, dihutan jalanya ga mulus loh, nanti kalo kaki mulus lo luka gimana?"
"gue bukanya mau perhatian sama lo, gue cuma takut digebugin fans alay lo kalo sampe tau calon suami idamanya, masangin sepatu ke cewek lain, Bisa-bisa di cambuk gue,"Tambah Cecil agar Samuel tidak kebaperan.
"gapapa, asal bukan kaki kamu yang terluka."
"hueeekk."Cecil pura-pura muntah. Emang gombalan Samuel selalu terdengar menggelikan di telinganya.
"sudah malam, kita harus cari jalan keluar,"Tanpa izin dari Cecil, Samuel memasukkan jari jemarinya ke sela jari jemari Cecil, karena sedang dalam keadaan genting, jadi Cecil tidak menolak.
Malam semakin pekat saja, kaki Samuel dan Cecil terus melangkah menyusuri hutan yang seperti tidak ada ujungnya. Samuel terus berjalan walau gadis di belakangnya terus mengoceh, mengumpat, dan merutuki semua hal yang bisa dia umpat. Entah kapan mulutnya akan lelah.
Samuel menghentikan jalanya saat melihat ke sekitar"kayaknya kita sudah pernah lewat sini."
"tuh kan bener kata gue, kita itu udah pernah lewat sini, lo sih ga nurut banget, gue udah bilang ambil kiri bukan kanan, ah kalo gini kan gimana coba, makin jauh ini pasti dari pemukiman."
Samuel menduduki tubuhnya di depan salah satu pohon rindang, dia menumpu dagunya dengan tangan, melihat Cecil marah-marah membuatnya gemas.
"ngapain?"
"lihat kamu marah, lucu."
"gue berak juga lo bilang lucu."
"kita istirahat sebentar."
"lo pikir ini pelajaran olahraga apa pake istirahat segala, kita ini lagi tersesat tau, kita ga tau apa yang bakal terjadi nantinya. Kalo tiba-tiba ada macan? Ada serigala? Atau siluman macam bertubuh serigala?"
"gampang, saya tinggal serahin kamu buat makan malam mereka."
"hahahahaha, lucu."Cecil tertawa palsu sambil mengacungkan jari tengahnya di depan wajah Samuel.
"saya cium kamu, kalo sekali lagi kamu tidak sopan begitu,"Gertak Samuel.
Anehnya, bukanya takut gertakan itu malah membuat Cecil jadi salah tingkah, entah kenapa dia bisa salah tingkah.
"kalo gitu gue jalan sendiri aja, dasar cemen."Cecil merampas paksa senter ditangan Samuel, mengarahkan senternya kedepan lalu mulai melangkahkan kakinya yakin melewati dinginya hutan.
Hanya beberapa menit saja, Cecil berbalik arah dan sedikit berlari kembali pada Samuel, dia melemparkan senter itu hingga hampir mengenai wajah Samuel, lalu dia duduk di samping bakal calon suaminya itu.
"kenapa balik lagi?"
"hp gue mati, ga bisa liat gps, takut nyasar."
"dasar cemen."
"brisik."
Hening, hutan yang semula hening kian bertambah hening karena mereka berdua saling bungkam, memang tidak ada topik yang ingin mereka obrolkan.
Samuel melirik gadis di sampingnya, Cecil terus sibuk menggosok-gosokkan tanganya lalu menempelkannya ke pipi. Samuel juga bisa mendengar gigi-gigi gadis itu bergemeretak kedinginan.
"Kamu kedinginan?"Tanya Samuel memecahkan keheningan.
"engga, panas. Ya udah tau dingin pake nanya lagi,"Ketus Cecil.
Samuel terkekeh kecil, mungkin bicara lembut dengan samuel adalah hal yang paling menjijikan yang Cecil lakukan di dunia ini.
"jadi kamu mau pake jas saya?"
"ga, gue mau seblak,"Jawab Cecil sekenanya.
"lucu banget kamu ini."Samuel mengusak-usak atas rambut Cecil gemas.
"WOY, WOY, WOY siapa suruh lo pegang-pegang gue, jangan mentang-mentang kita dihutan berdua doang terus lo bisa ngelakuin apa aja ke gue."
"memangnya kamu berharap saya melakukan apa?"Samuel mendekatkan tubuhnya kearah Cecil, perlahan melepaskan jaket hitam tebal miliknya, nafas Cecil tertahan saat kedua tangan besar Samuel merengkuhnya dari belakang. Cecil memejamkan matanya rapat-rapat.
"arrghhh, gue belum siap di perkosa!!"
Teriak Cecil masih memejamkan matanya.
Samuel cuma bisa menggeleng-geleng sambil tersenyum-senyum kecil, tanganya menarik retsleting dari bawah hingga keatas dada Cecil.
Napas Cecil tertahan saat kedua tangan Samuel mengulur kebelakang kepalanya, wajah mereka kini sangat dekat, Cecil bisa merasakan deru nafas Samuel dengan sangat jelas.
"kau juga harus menutupi telingamu agar rasa dinginya bisa berkurang,"katanya memakaikan tudung ke kepala Cecil, dia menarik kedua tali di tudungnya sampai menutup seluruh rambut Cecil.
"nah sekarang sudah tidak dingin lagi kan?"dia mengelus lembut pinggir kepala Cecil, membuat jantung gadis itu berdetak tidak karuan.
Cecil hanya diam membeku, menatap raut wajah Samuel. dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, jangankan berkata mengendalikan detak jantungnya kembali normal saja tidak bisa.
"Makasih loh, tapi gausah alay begitu pake sok-sokan masangin, gue masih punya dua tangan lengkap buat masang jaket,"Ujar Cecil melengoskan wajahnya dari Samuel, mencoba menyembunyikan pipi merahnya.
"Blush on kamu cantik,"Celetuk Samuel.
Mampus, apa semerah itu ya pipi Cecil sekarang. duh, kenapa jadi malu begini sih.
Entah jam berapa sekarang, mata Cecil sudah mulai berat, dan mulutnya tidak henti-hentinya menguap. Beberapa kali Cecil memejamkan matanya, dan hampir saja terlelap, namun dia kembali bangun ketika kepalanya terhantuk ke depan.
"kalau kamu mau bersandar di bahu saya, bersandar saja, tidak usah malu-malu."
"ga sudi."Cecil hendak menyenderkan kepalanya ke belakang pohon, tapi melihat batang pohonya di tumbuhi lumut, basah, dan bau membuat Cecil mengurunkan niatnya.
Dengan terpaksa, Cecil menyenderkan kepalanya di bahu bidang Samuel"ga usah bacot."
Samuel tersenyum tipis, tanpa berniat menganggu dan menyentuh Cecil, dia ikut memejamkan matanya. Matanya juga sudah ngantuk daritadi.
*****
Matahari menyongsong begitu terang diatas sana. Suara cuit burung diatas ranting pohon sudah seperti nyanyian merdu dipagi hari.
"Cecil!!"
"Pak Samuel, Cecil, dimana kalian!!!"
Sayup-sayup suara teriakan itu terdengar begitu kecil di telinga Samuel dan Cecil. Samar-samar, dengan keadaan setengah sadar mereka bisa melihat beberapa orang berjalan kearah mereka.
"Cecil, pak Samuel!!"
Cecil menepuk-nepuk lengan Samuel saat sadar kalau orang-orang yang berjalan tidak jauh dari mereka adalah teman-teman mereka.
"Pak, pak itu mereka."
Cecil buru-buru bangkit berdiri, dengan tenaga yang tersisa dia melambai-
lambaikan tanganya"Arkan, Luna kita disini!!"
Cecil langsung berlari tergesa-gesa kearah Arkan, memeluknya begitu sangat erat. Ada perasaan aneh yang bergejolak dihati Samuel.
"kamu gapapa?"Tanya Arkan menangkupkan kedua pipi chuby Cecil sambil membolak-balikanya untuk mengecek apa pacarnya terluka atau tidak.
"maafin aku ya by, semalem hutan gelap banget, aku udah berusaha nyariin kamu, tapi kamu tetep ga ketemu."
"gapapa kok bi, aku ngerti kok, yang penting sekarang kan aku ga kenapa-napa."
Amanda mendekati Samuel, wajah khawatir terpampang jelas di wajahnya. Semalaman suntuk dia tidak bisa tidur karna memikirkan bagaimana kondisi Samuel.
"Pak sam tidak apa-apa?"Tanya Amanda yang hanya diangguki oleh Samuel, kemudian Samuel kembali mengalihkan pandanganya pada Arkan dan Cecil.
"tumit dan lutut pacar kamu terluka, kamu harus cepat mengobatinya,"Kata Samuel, lalu berjalan di tengah-tengah Arkan dan Cecil, membuat pelukan mereka lepas.