MALAM PERTAMA

2118 Words
Acara penikahan sehari semalam suntuk akhirnya selesai juga. Dengan wajah lelah dan kehabisan tenaga, Samuel berjalan ke kamarnya, Cecil sudah berada di kamar satu jam yang lalu. Sedangkan Samuel harus basa-basi dahulu degan para karyawan dan tamu undanganya. "kenapa baju saya di keluarkan semua?"Tanya Samuel mengerutkan alis melihat istrinya dengan baju pengantin yang masih melekat di tubuh mengeluarkan semua baju milik Samuel. "lemarinya sempit banget, baju-baju gue ga cukup." "siapa bilang baju kamu di simpan di lemari itu." "ya lo mau gue taro dimana? Di lemari tetangga? Ngaco aja jadi orang."Mengingat tidak ada lemari lagi disini kecuali lemari besar kayu jati milik Samuel ini. "tapi bukan itu lemari buat kamu, saya sudah menyiapkan lemari khusus untuk kamu."Samuel menunjuk sebuah lemari kecil berwarna full merah muda dengan gambar barbie menghiasinya. "katanya kamu suka barbie, jadi saya belikan khusus untuk kamu." Cecil mencubit keras lengan Samuel"lo pikir gue bocah umur lima tahun apa di beliin gituan, ga sekalian lo beliin prosotan juga terus di taro di kamer biar gue seneng." "kamu mau?"Cecil memutar bola matanya malas, ini baru satu hari pernikahanya dengan Samuel, mungkin kalau sudah satu minggu dia bisa-bisa gantung diri di atas pohon toge. "ini malam pertama kita ya?"Celetuk Samuel sambil melepaskan dasi yang membebat lehernya, perasaan Cecil mulai tidak enak. Samuel mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Dia melepaskan kemeja putihnya hingga Cecil bisa melihat pemandangan indah yang hanya dia lihat di drakor-drakor. Bahu lebar, dada bidang dengan abs yang menggiurkan, postur tubuh yang di idam-idamkan para wanita di luar sana. Cecil menengguk ludanya kasar, tiba-tiba saja dia mengingat semua kata-kata teman-temanya tadi pagi, ketakutan mendera hingga rasanya mematirasakan seluruh tubuh, apa ini akhir dari perjalanan mempertahankan keperawanannya. "mo...mo ngapain lo!"Panik Cecil, kakinya melangkah mundur saat Samuel melangkahkan kaki mendekat kearahnya. Langkah kaki Cecil terhenti saat tubuhnya menghantuk tembok di belakangnya, sekarang dia tidak bisa kemana-mana, Samuel terus mendekat sampai tidak ada jarak diantara mereka, bahkan angin saja tidak bisa menembus celah diantara mereka. Tangan Samuel terangkat, Cecil langsung memejamkan matanya rapat-rapat. "ARRGGHH GUE GA MAU DI PERKOSA!!"Teriak Cecil menggema ke seluruh ruangan kedap suara itu. Alis Samuel berkerut bingung, tanganya meraih handuk pada kastok di belakang Cecil. Merasa tidak terjadi apapun pada tubunya, Cecil membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata Samuel mendekatinya bukan buat apa-apa, tapi cuma mau ambil handuk doang. "Lo.. Lo tadi mau ngambil handuk buat mandi?" Samuel mengangguk. Duh, kenapa sih malah Cecil yang berfikir mesum begini. Arrghh, ini gara-gara Crystin yang meracuni otaknya. "kamu masih nyaman seharian ga mandi?" "Y...ya lo mandi duluan aja."Cecil mendorong tubuh suaminya agar tidak menghalangi jalanya. Baru saja Cecil ingin keluar kamar untuk menyingkirkan fikiranya, tangan Samuel menahan tangan Cecil. "Apa tidak seharusnya kita mandi bersama saja?" Mata Cecil melotot tajam. Menatap sinis pada Samuel. "Kenapa? Kita kan sudah suami istri, wajar kan?" "Ga usah berharap, mending gue mandi sama buaya, paus, daripada harus mandi sama iblis kayak lo! Minggir." Galak Cecil mendorong tubuh Samuel agar tidak menghalangi jalanya. Setelah Samuel selesai mandi, kini giliran Cecil yang mandi. Hampir dua jam Cecil menggunakan kamar mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur lengkap. Biasanya gadis ini paling tidak bisa abis mandi langsung pakai baju sekalian di kamar mandi. Butuh waktu satu sampai dua jam untuk dia memakai pakaiannya setelah mandi, jadi setelah mandi dia hanya pakai handuk saja. Cecil duduk disamping ranjang sambil mengusak-usak rambutnya dengan handuk. Samuel yang tadi duduk di sofa berjalan kearah Cecil, duduk di samping Cecil, Cecil langsung meminggirkan duduknya. "Datang bulan mu sudah selesai?"Tanya Samuel. Memang seminggu sebelum menikah Cecil bilang sedang datang bulan, jadi Samuel fikir sekarang datang bulan Cecil sudah selesai. "Datang bulan gue setaun, jadi lo harus nunggu gue setahun, puas lo." "inget ya, kita ini cuma kawin kontrak. Jadi jangan coba-coba buat sentuh-sentuh gue, ngerti?"Tambah Cecil. "Tapi kalau cium pipi saja tidak masalah kan?" "ga ada." "Cium kening?" "Ga." "Cium tangan?" "POKOKNYA LO GA BOLEH SENTUH SETIAP INCI TUBUH GUE."Samuel tidak memberikan jawaban apapun, mengangguk saja tidak"ngerti ga?!" "saya tidak bisa janji,"Gumam Samuel, saking kecil suaranya bahkan tidak bisa di dengar oleh Cecil. "dan satu lagi, gue ga mau tidur seranjang sama lo. Lo tinggal pilih, mau pilih tidur di ranjang atau tidur di sofa."Harusnya, kata Crystin, sebagai suami yang baik, Samuel pasti akan mengalah dan memilih untuk tidur di sofa demi kenyamanan istrinya. Samuel mengangguk-angguk mengerti, dia memunguti bantal, lalu menyodorkanya pada Cecil"ada kamar pembantu di bawah, kamu bisa tidur disana." Sudah Cecil duga, Samuel memang suami keji tidak berperikemanusiaan, sakit hati Cecil di perlakukan seperti ini. "kok lo tega sih sama cewek, gue istri lo, harusnya lo sebagai suami ngalah biarin istrinya bisa tidur di ranjang,"Komplen Cecil. "ya ini ranjang saya, kenapa harus saya yang tidur di sofa."Samuel merebahkan dirinya diatas kasur, dengan wajah meledek dia menepuk-nepuk tempat di sampingnya"kalau kamu mau, kamu bisa tidur disamping saya." "ogah, mending gue tidur di kuburan sama pocong daripada sekasur sama om-om mesum kayak lo."Cecil mengambil bantal. "Dasar suami ga punya hati,"Dumal Cecil misuh-misuh tidak jelas tidak terdengar di telinga Samuel. Tapi memang tidur di sofa lebih baik daripada harus tidur dengan manusia tidak berperikemanusian plus mesum kayak Samuel. Yang penting ada guling dan selimut saja, sudah bisa membuat Cecil tidur nyenyak. Cecil menarik selimut di dekatnya. "jangan bawa selimutnya juga,"Kata Samuel tanpa melirik sedikitpun kearah istrinya, tatapanya sibuk membaca buku di tangan. "Itu kan selimut saya,"Tambah Samuel. Kedua tangan Cecil mengepal erat, dia melemparkan bantal-bantal di tangannya hingga menimpuk wajah Samuel" Nih ambil nih, ambil semuanya!! Biarin gue tidur di lantai sekalian!!" "Lantai itu juga saya yang beli." Rahang Cecil mengeras, dia melirik lampu duduk di atas nakas, kayaknya enak kali ya mukul kepala Samuel dengan benda itu. "Iya gue mau tidur di depan gerbang lo aja, puas lo." Cecil melenggang pergi meninggalkan Samuel, menyisakan Samuel yang terkekeh-kekeh gemas melihat kekesalan istrinya yang terlihat imut dimatanya. **** "WAKE UP, WAKE UP!!"Teriak Samuel tepat di depan telinga Cecil dengan toa yang dia pinjam dari tetangga. Cecil terkesiap, dia bangkit duduk diatas sofa. Samuel sudah berdiri di sampingnya sambil melipat tangan di depan dada. "apa sih duh ganggu aja pagi-pagi gini!"Tukas Cecil mengucek matanya yang penuh dengan belek. "jam berapa sekarang?" Cecil melirik jam yang melingkar manis di tanganya"tuh kan masih jam sembilan, masih pagi banget, udah mending tidur aja, bangunin gue jam tiga."Tangan Cecil kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh, Samuel kembali menarik turun selimut yang menutupi seluruh tubuh Cecil. "Apaan sih lo ini!!" "bukanya ini waktunya seorang istri masak untuk suaminya?" Oh iya, Cecil lupa kalau mulai hari ini dia sudah resmi menjadi istri Samuel. Jadi artinya dia sudah siap untuk hidup seperti di neraka. "gue bukan istri lo, kita cuma nikah terpaksa, jangan berharap gue mau jadi istri lo." "tapi bukanya seorang pembantu jam segini sudah masak untuk majikanya." "hah?! siapa yang lo sebut pembantu?!" "kamu, katanya tadi tidak mau dianggap istri, tapi kamu memang cocok juga jadi pembatu." "terserah lo aja lah, terserah, cape gue."Cecil bangkit berdiri. Walau enggan dia akhirnya mengikuti apa kemauan Samuel. ***** Cecil turun dari kamar atas dengan menggunakan kaos putih oblong dengan celana cokelat susu se lutut, dia menghampiri Samuel yang sudah duduk menunggunya di meja makan. "lo mau gue masakin apa? Cepet gue sibuk,"Tanya Cecil dengan nada songongnya. Sok-sokan menawarkan mau dimasakin apa, masak telor ceplok aja kadang gosong. yang bisa dia masak cuma mie sama masak air doang. Itu aja sudah mending, dulu sebelum jatuh miskin, disuruh masak mie, mie sama bungkus-bungkusnya dimasukin semua kedalam panci. "memangnya kamu bisa masak?" Pertanyaan itu membuat keimanan Cecil murka, harga dirinya merasa di injak-injak. "dih ngeraguin gue lo, lo mau masakan paris, jerman, london bahkan masakan hotel bintang lima juga gue jabanin, apa sih yang ga bisa gue lakuin." "yasudah, omelet saja." Duh gimana nih, apa Cecil pesan gofood aja ya, tapi kalau ketahuan Samuel dia bisa-bisa lapor pada mamah Cecil dan berujung Cecil akan di kurangi uang sakunya. Itu bukan ide yang baik. "gimana, bisa kan?" "wah itu mah gampang banget, sambil nutup mata juga gue bisa."Samuel tersenyum meremehkan, itu semakin membuat Cecil meradang. Cecil masuk kedalam dapur, dia membuka lemari rak diatasnya. Ada banyak sekali bumbu-bumbu dapur di dalam sana, komplit, tapi Cecil tidak tau nama-nama bumbu dapur itu, dia hanya mengambil wadah garam. Cecil beralih membuka kulkas besar dua pintu di ujung dapur. Berbeda dengan lemari rak, disini banyak sekali ice cream, cokelat dan minuman favorit Cecil, yang semakin membuat Cecil senang adalah, hampir semua varian makanan itu rasa strawberi, rasa favoritnya. "lo suka strawberi ya, makanan di kulkas lo rasa strawberi semua, gue boleh minta satu?!"Tanya Cecil sedikit berteriak "saya belikan itu semua untuk kamu!" "baru tau ada setan sebaik ini,"gumam cecil. "saya masih bisa dengar loh." "bagus sih kalo lo masih bisa denger, berarti tandanya lo ga budeg." Meninggalkan semua kenikmatan itu, Cecil langsung mengambil semua bahan-bahan yang dia perlukan. Dia mengambil dua butir telur, memecahkanya lalu memasukkan kedalam mangkuk. Bagaimanapun rasanya nanti, dia tidak peduli, yang penting dia sudah menuruti permintaan si sambel terasi itu. Toh kalo makananya beracun si sambel terasi juga yang mati, Cecil mah sujud sukur karena bisa jadi janda kaya raya. "kamu bisa menyalakan kompor kan?!"Tanya Samuel kembali meremehkan. "bakar rumah juga gue bisa." "telurnya harus mateng merata,"Pinta Samuel sedikit berteriak dari ruang makan. "hmmm." "jangan pakai mentega terlalu banyak." "iya, iya!" "jangan sampai ada yang gosong sisi-sisinya." "Iya, iya bawel ah! Lo udah duduk aja, nanti juga jadi."Cecil mengambil wadah garam. memasukkan sedikit garam kedalam mangkuk. "jangan terlalu asin,"Perintah Samuel. "gue lakban juga mulut lo ya!" Tiba-tiba saja sebuah niat jahat dari lubuk hatinya bekerja. Senyum iblisnya terpampang jelas diwajahnya. Cecil sengaja memasukkan beberapa sendok garam kedalam mangkuk. "mampus lo mamam nih garam, darah tinggi darah tinggi lo." "masukin semua aja lah, ngabisin."setega itu dia memasukkan satu kotak garam penuh kedalam adonan telur, lalu dia mengocok telurnya dengan senyum kemenangan. Setelah beberapa menit akhirnya omelet buatan Cecil jadi, dia berjalan keluar dari dapur dan menghampiri Samuel dengan sepiring omelet dan jus buah buah naga. "silahkan dimakan tuan Samuel,"Kata Cecil menaruh piring omelet dan jus buah di depan Samuel. Dia menarik kursi di samping Samuel dan duduk disampingnya. Alis Samuel berkerut melihat bentukan omelet Cecil, Samuel bisa melihat beberapa cangkang telur di dalamnya"ini omelet?" "bukan, itu sop kadal bunting, udah tau omelet pake nanya lagi,"Sewot Cecil, setelah menikah kesabaran yang tipis jadi semakin menipis. Di bandingkan dengan omelet, bentuknya lebih seperti telur orak-arik yang sering di jual mamang-mamang di sekolah sd. Malah lebih mending itu daripada omelet buatan Cecil. Tanpa ragu, Samuel menyendok omelet tidak meyakinkan buatan Cecil, memasukkan kedalam mulut, lalu mengunyahnya, alis Samuel berkerut, ekspresi wajahnya berubah. 'hmm, mampus lo makan tuh garem, ayo marah ke gue, ayo pukul gue, bentak gue, terus cerain gue, kita akhiri semua pernikahan seperi ini.' "gimana rasanya? Enakkan?"Samuel mengangguk-angguk kecil, respon yang sangat berbeda dari apa yang Cecil harapkan. Cecil yakin pria ini pasti berbohong, dia pasti sudag mengira rencana busuk Cecil dan apa yang Cecil harapkan pada dirinya. "saya memang tidak salah memilih istri, masakan mu enak,"Puji Samuel. Seperti meyakinkan Cecil, pria itu menyendok kembali omeletnya, beberapa kali seakan-akan rasa omeletnya memang benar-benar enak. "Masa sih, sini gue mau coba."Akhirnya Cecil penasaran juga, dia merampas sendok dari tangan Samuel, lalu menyendok omelet buatanya. "Hueekkk...."Cecil melepehkan lagi omelet dari mulutnya keluar. Mengambil tisu lalu mengelap lidahnya dengan itu. "Enak kan ya." Belum selesai dengan rasa asin di lidahnya, Samuel sudah memasukkan satu suap sendok omelet lagi ke mulut Cecil. Sebelum Cecil menimpuk kepalanya, Samuel sudah berlari naik ke lantai atas. "ARRGHH AWAS AJA LO SAMBEL TERASI, GUE BALES SEMUANYA!!!" Teriak Cecil mencak-mencak sama sekali tidak di dengar oleh Samuel. Padahal harusnya Samuel yang marah karena disajikan makanan asin. Tapi ya namanya juga cewek. Di kamu cewek tidak ada yang namanya salah, semuanya benar. Cecil menghela nafas, sepertinya dia harus siap-siap hari-harinya sekarang akan menjadi seperti neraka. **** Cecil menghela nafas, hari ini benar-benar sangat melelahkan, puluhan drama terasa menyekik batin Cecil, tidak di sekolah, tidak di rumah, semua orang-orang di sekitarnya memang seperti iblis. Cecil melepaskan semua pakaiannya, hanya menyisakan b*a dan celana dalam putih yang senada, dia menyalakan shower, guyuran air yang menimpa tubuhnya terasa meluruhkan sedikit keletihannya. Setidaknya masih ada tempat nyaman di rumah ini, tempat dimana dia tidak akan melihat wajah menyebalkan Samuel. Alis Cecil menungkik, ada sesuatu yang mengalihkan perhatiannya, di pojokan kamar mandi ada Sesuatu berwarna hitam yang tidak asing di kepalanya. "Aakhhh kecoa!!!" Teriak Cecil saat kecoa itu terbang kearahnya. Nafasnya memburu, dadanya berdetak begitu kencang, makhluk menjijikan yang paling dia benci seantero bumi ini, apalagi kalau sudah mode terbang. Rasanya Cecil ingin melenyapkan semua spesies itu. "Sambel terasi ada kecoa!!!" Brakkk... Dari luar Samuel mendobrak pintu kamar mandi, dia buru-buru menghampiri sang istri di pojokan kamar mandi sambil menghunuskan shower ke depan. "Ada apa ini, kenapa?" "Aaa.. aa.. ada kecoa..."Cicit Cecil lirih dengan tangan bergetar hebat. "Mana kecoanya?" "Akkkhhh!!!"Jerit Cecil langsung meloncat ke tubuh Samuel, gaya ala koala saat kecoa itu terbang kearah mereka. kedua tanganya mencengkeram erat bahu Samuel."Cepet usir kecoanya, cepet!!" Samuel mengambil beberapa lapisan tisu, perlahan dia mendekati si kecoa kecil, sebenarnya Samuel juga jijik dengan kecoa, tapi masa iya dia iku jerit-jerit kayak Cecil, rusak dong citra ceo gantengnya di depan sang istri. Samuel menengguk ludahnya kasar, mengendap-endap mencoba menjamah sang kecoa. "Kena."Sayangnya tangkapanya meleset, kecoa itu malah terbang keatas, mengundang jeritan Cecil yang lebih heboh dan membahana. "Lo tuh ga becus banget sih, nangkep kecoa aja meleset,"Maki Cecil. Samuel tidak peduli, matanya fokus menatap si kecoa, memikirkan bagaimana cara menangkap makhluk tidak bisa diatur seperti Cecil. "Kena."kali ini tangkapanya tidak meleset, Samuel berhasil menangkap kecoa itu, sebelum memasukanya kedalam tong sampah, dia ingin menunjukkanya kepada Cecil. "Yeyyyy!!!" Cecil berteriak heboh sambil memeluk tubuh Samuel erat-erat"makasih, makasih, makasih lo itu emang super hero banget lopyu, lopyu."Saking senangngnya, Cecil menangkupkan pipi Samuel, hampir saja mencium pipi Samuel, sebelum dia tersadar. "Kamu mau liat dulu, kecoanya lucu banget,"Ucap Samuel tanpa rasa bersalah mengayunkan kecoanya kedepan Cecil. "Akkkhhh jauhin makhluk itu dari gue!!" Jerit Cecil mendorong tangan Samuel menjauh dari dirinya. "Lucu loh ini." "Gue patahin leher lo kalo ga di buang!" Samuel tertawa renyah, lalu membuang kecoa itu kedalam tong sampah. "Lo seriusan udah aman nih, gimana kalo kecoanya tiba-tiba terbang ke muka gue gimana, lo mau tanggung jawab?"Tanya Cecil. "Saya pastikan seratus persen aman. "Alhamdulilah,"Ucap Cecil mengelus dadanya. Hening, kamar mandi yang tadi ramai karena suara jeritan Cecil sekarang membisu. "aarrghh ngapain lo gendong-gendong gue!!"Jerit Cecil memecahkan keheningan, juga nyaris memecahkan gendang telinga Samuel. Dia baru sadar kalau daritadi dia digendong Samuel cuma memakai b*a dan celana dalam saja. Pantes daritadi Samuel diam saja, orang asik menikmati kemolekan tubuh Cecil. " Lo mesum banget kenapa lo gendong-gendong gue!!" "lah bukanya kamu...." "turunin gue sekarang,"Potong Cecil. Cecil itu tipe si penganut, walau dia yang salah, orang lain yang harus minta maaf, dia pokoknya harus selalu benar. catat ini, dia ingin SELALU BENAR. Samuel menjatuhkan tubuh Cecil dari tubuhnya begitu saja, tatapan datar tanpa rasa bersalahnya bikin Cecil naik pitam. "aduhh..."Ringis Cecil kesakitan saat pantatnya menyentuh kasar lantai"kenapa lo jatohin badan gue sih, ga punya prikemanusiaan banget jadi orang." "kamu bilang minta di turunkan." "ya tapi ga dijatuhin gitu dong, sakit tau ga. Ini tuh udah masuk tindakan kdrt asal lo tau aja ya." "Yasudah saya minta maaf." "Cuma minta maaf doang gitu?" Samuel mengambil HP di dalam saku jasnya, mencoba menelfon seseorang. "Panggilin semua orang-orang yang bersihin rumah sekarang,"Suruhnya pada orang di dalam telfon. Tidak lama setelah menelfon orang entah siapa itu, lima orang menggunakan seragam serba putih berbaris rapih di depan Samuel. Mereka ini orang-orang yang ditugaskan untuk membersihkan seluruh bagian rumah Samuel, makanya walau rumah Samuel begitu besar dengan halaman yang begitu luas tapi selalu terlihat terurus dan rapih. bahkan hewan seperti tikus, kecoa, semut bahkan rayap sekalipun. "kalian ini saya bayar mahal-mahal cuma buat bersihin rumah ini, kenapa masih ada binatang menjijikan seperti itu di rumah ini!!"Sentak Samuel. Semua orang itu menunduk, tidak ada yang berani melawan sama sekali. Cecil bahkan sampai terpengarah. Pria di depanya begitu sangat berbeda dengan samuel yang dia kenal, Samuel yang selalu berkata lembut dan begitu terlihat tenang tiba-tiba membentak dengan suara tinggi menggelegar, Cecil jadi takut. "nanti kalau istri saya kenapa-napa kalian mau tanggung jawab?!" "Maafkan kami pak." "Maaf, maaf kalian fikir maaf aja cukup...." Cecil mengelus lembut lengan Samuel, samuel melirik istrinya sekilas"udah, mereka udah minta maaf, udah cukup." Bukan apa-apa, Cecil cuma kasihan liat muka-muka pekerja itu yang memelas karena dimarahin Samuel, hati kecilnya tidak tega melihatnya. "Sekarang saya kalian maafkan, tapi kalau sekali lagi ada kesalahan seperti ini, saya tidak akan segan-segan memecat kalian." "Kami mengerti, sekali lagi kami minta maaf."mereka satu persatu keluar meninggalkan rumah Samuel. "ngapain sih lo marahin mereka, lagian itu kan cuma kesalahan kecil, pake ngancem-ngancem mau mecat mereka segala." "Saya cuma tidak mau kamu terganggu, apapun yang menganggumu akan saya musnahkan,"Jelas Samuel tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD