SUAMI IBLIS

2626 Words
Kringg.... Kringg..... Entah sudah berapa kali alarm di atas nakas berdering. Mengganggu tidur nyenyak gadis yang masih digulung oleh selimut tebal dan mimpi indahnya. Kring.... Kringgg..... Suara alarm kembali berbunyi, bunyinya semakin keras saja sampai mengusik-usik gendang telinga. "Duh, berisik banget sih, masih pagi juga," Omel Cecil masih dalam posisi memejamkan matanya tanpa berniat untuk meninggalkan kasur. Dia masih sibuk mencari alarm berisik itu diatas nakas. Setengah sadar, perlahan Cecil mengerjap-erjapkan matanya. Mata bulatnya langsung melotot saat tau jam berapa di dalam beker. Sudah jam tujuh lebih sepulu menit, itu artinya Cecil akan terlambat. "Mampus!"Cecil langsung bergegas meninggalkan kasurnya, mengambil handuk, dan buru-buru ke kamar mandi. Sayangnya kamar mandinya di kunci dari dalam. Wajah Cecil semakin panik saat menyadari kalau Samuel sedang ada di dalam kamar mandi. Tok....tok...tok.... Begitu sangat brutal, Cecil menggedor-gedor pintu kamar mandi seperti orang kesurupan. "Sambel terasi cepet buka pintunya gue mau mandi, gue udah telat!!"Teriak Cecil menggema ke seisi ruangan. Tidak ada jawaban yang terdengar disana. Tapi Cecil yakin Samuel ada di dalam sana. Duh mana samuel kalo dikamar mandi sampe tiga jam lagi, entah apa saja yang dia lakukan di dalam sana sampai selama itu. Udah kayak cewek aja. "Samuel cepetan urgent ini!"Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam"gue dobrak pintu kamar mandi lo ya!" Tidak ada pilihan lain, walau hanya kecil kemungkinan Cecil bisa mendobrak pintu besar itu dengan tenaganya, tapi karena ini udah urgent jadi apa salahnya dicoba dulu. Cecil mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. "Gue itung sampe tiga, kalo lo ga ngebukain pintunya gue dobrak paksa. Satu.... Dua.... Tig....." Ckleekk.... Brukkkk.... Pintu kamar mandi terbuka, tubuh Cecil terhuyung jatuh di dalam kamar mandi. Dengan hanya menggunakan handuk putih yang melilit pinggul sampai lutut, menatap Cecil dengan alis berkerut bingung. "Aduh, ssshh...kenapa sih lo ga ngomong-ngomong kalo mau bukain pintu, sakit tau,"Ringis Cecil memprotes sambil memegangi pantatnya. Dia bangkit berdiri"ckk, terus kenapa sih lo ga bangunin gue, kan gara-gara lo gue jadi telat!" "Saya sudah bangunkan kamu, tapi kamu bilang sekolahnya kebakaran." "Di bakar kepala sekolah?"Samuel mengangguk-angguk. Cecil menepuk jidatnya keras. Duh kenapa sih kalo ngiggo dia selalu bilang sekolahnya dibakar sama Kepala sekolah, apa se benci itu dia sama Kepala sekolah sampai sering memfitnahnya membakar sekolah? "Duh, duh udah jangan banyak bacot." Cecil mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamar mandi, dia lalu langsung mengunci kamar mandi. Bergegas, dia melucuti semua pakaiannya, begitu cepat dia menyiram tubuhnya dengan air dari shower. Menyabuni berbarengan dengan menyikat giginya dalam sekali gerakan. "Oh ya Cecil, saya minta maaf karna sudah menjatuhkan sikat gigimu ke closed,"Kata Samuel diluar sana sedikit berteriak. Beberapa detik tubuh Cecil. Sebelum dia memuntahkan makan malamnya dan membanting sikat giginya. "Huekkk...huekkk...." "Dasar iblis sialan!!"Umpat Cecil memaki. Walau benar atau tidaknya sikat giginya masuk kedalam closet. Tapi Cecil selalu cepat membayangkan hal-hal menjijikan seperti itu, kepalanya bisa pusing dan bisa muntah-muntah walau cuma membayangkan. **** Setelah sampai ke sekolah, Cecil langsung berlari masuk, dengan cepat kakinya menyusuri koridor-koridor yang sudah sepi, pasti guru-guru udah masuk. Mampus, ini pelajaran pak Hestu, bisa di bacotin habis-habisan sampe istirahat ini mah. Langkah kaki Cecil berhenti diambang pintu kelas. Dia memegangi kedua lututnya yang bergetar, nafasnya ngos-ngosan, keringat sudah membasahi keningnya. Cecil mengangkat kepalanya. KOSONG, iya, di kelasnya tidak ada siapa-siapa. Alisnya berkerut bingung. Apa Cecil salah hari, apa ini hari minggu? Tidak mungkin, jelas-jelas hari ini hari jumat, tapi kemana semua teman-temanya. Seseorang menepuk bahu Cecil dari belakang, tubuh Cecil tersentak kaget. Dia melengos ke belakang, sosok Luna yang pertama kali dia lihat. "Tumben apa lo berangkat pagi?"Tanya Luna heran. "Berangkat pagi?"Tanya Cecil dengan muka seratus persen bingung. Luna mengangguk-angguk, dia mengangsurkan arloji di tangan ke Cecil. Mata Cecil kembali melotot saat melihat jam Luna masih menunjukkan pukul enam sepuluh menit. "Akkhhh Samuel!!!" Drrrtt... Drrrtt... HP disaku Cecil bergetar, disana tertulis panggilan dari sambel terasi iblis, Cecil langsung mengangkatnya, mulutnya sudah tidak sabar untuk memakinya. "sudah sampai sekolah? Bagaimana sudah ketinggalan berapa jam pelajaran? Saya lupa beritahu kamu kalau jamnya rusak." Padahal Samuel sendiri yang memutar jarum jam tepat jam set 8 dan mematikkan tombol onn-nya. Salah satu ide agar Cecil tidak jadi pemalas. "Gue bakar rumah lo kalo pulang,"Ancam Cecil, setelah itu langsung mematikan panggilanya secara sepihak. Luna tertawa kecil melihat wajah sahabatnya sudah merah karena marah dan di atas kepalanya seakan-akan bakal tumbuh dua tanduk. "Nikah sama pak Samuel emang bikin lo berubah jadi lebih baik ya cil, gue do'ain hubungan lo langgeng sampe maut memisahkan, amin."Sebelum Cecil merobek mulutnya, Luna sudah berlari masuk kedalam kelas dan duduk di bangkunya. "Idih amit-amit, ya Allah jangan di babah doa tidak baik dari Luna ya Allah." **** Kringgg....krringg.....kringgg..... Suara nyaring terasa menusuk-nusuk telinga Cecil, Cecil meraih bantal, menutupi telinganya dengan benda tersebut. Namun bukanya suaranya mereda, suara itu malah jadi jauh lebih keras, bahkan suaranya mampu mengalahi toa masjid dan speaker-speaker organ tunggal yang digunakan untuk hajatan. "duh, brisik banget sih!!"Tukas Cecil harus terpaksa bangkit duduk dari kasurnya yang nyaman. Cecil mendengus, bibirnya mengerucut layaknya seekor bebek, dengan mata yang masih terpejam dia menggaruk-garuk belakang rambutnya yang saat ini mirip seekor singa, bahkan singa lebih baik dari dia. "selamat pagi nona Cecil,"Sapa Samuel hangat, lebih terdengar sarkas di telinga Cecil. "siapa sih yang pasang alarm, udah tau hari minggu, ganggu tidur aja,"Dengus Cecil. Cecil membuka matanya, sosok Samuel sudah berdiri disamping ranjangnya sambil melipat kedua tangan dengan muka sok gantengnya itu, tapi memang Samuel ganteng sih. "oh lo ya yang masang alarmnya, ganggu aja."Cecil kembali menarik selimutnya sampai menutupi seluruh wajah, namun Samuel menahan pergerakanya. "siapa yang menyuruh mu tidur?" "terus lo maunya apa, nidurin gue?" "boleh?"Tanya Samuel. Cecil langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan melihat tatapan mesum Samuel. "ya jelas ga boleh lah, pake nanya lagi, inget ya, denger ini baik-baik bapak Samuel yang terhormat, paling tampan, baik hati, sangat sombong dan rajin menabung, jangan pernah berharap gue mau di sentuh-sentuh sama om-om mesum kayak lo, ngerti?!" "cepat mandi, lalu turun kebawah," Perintah Samuel. "mau ngapain sih mandi, minggu itu hari pantangan buat mandi pagi tau!" Samuel berjalan mendekat, menyibak paksa selimut yang membalut tubuhnya"mau saya mandikan." Merinding, Cecil langsung beranjak turun dari atas kasur, menyambar handuk"iya iya, ini gue mandi sendiri!!"Katanya bergegas masuk kedalam kamar mandi. Kalau begini terjs Cecil bisa bundir di pohon toge karena terus di bayangi ketakutan Samuel akan menjamah tubuhnya yang masih suci ini. **** Setelah cuci muka dan gosok gigi, Cecil turun ke bawah, tadi pas cuci muka, Samuel terus menggendor-gedor pintu kamar mandi dan menyuruh Cecil untuk turun kebawah. "kamu ga mandi?"Tanya Samuel karena melihat Cecil masih memakai celana tidur yang sama. "ngapain mandi, ga mandi aja gue udah cantik."Cecil mengibaskan rambutnya yang panjang ke belakang. "nih."Samuel menyerahkan bak besar dengan isi setumpuk pakaian miliknya dan milik Cecil"Cuci semuanya sampai bersih." "bentar deh, lo kan kaya ya, kenapa ga lo suruh pembantu lo buat nyuci semua baju-baju busuk lo itu."Cecil menghempaskan bak berat di tanganya ke lantai. "saya ga punya pembantu." "hah, orang dengan rumah segedong kayak lo ga punya pembantu, koret amat lo jadi orang, bayar pembantu aja ga mau." "tadinya saya punya pembantu." "oh bentar-bentar gue tau, pasti pembantu lo pada kabur karna punya majikan ngeselin ga punya hati kayak lo kan,"Tebak Cecil menunjuk-nunjuk Samuel. Pasti tebakanya tidak salah. "saya yang pecat mereka." "kenapa? Mereka kerjanya ga bagus, atau lo pecat Mereka karna gabut, wah parah sih lo, parah parah." "saya pecat mereka, karna sepertinya kamu cukup buat menyelesaikan semua pekerjaan rumah."Mata Cecil terbelalak mendengar alasan dari suaminya. Dia memang sudah curiga kalau Samuel menikahinya cuma mau di jadiin babu. Walau dengan mulut misuh-misuh, Cecil tetap berjalan ke dapur, tepatnya kedalam ruangan ruangan kecil tempat mesin cuci di letakkan. "kamu bisa kan pakai mesin cuci?"Tanya Samuel menatap Cecil remeh. "apa sih yang gue ga bisa, pasang gas sampe ngangkat galon juga gue jabanin" "kamu memang idaman." "oh iya dong jelas."Cecil langsung membusungkan dadanya sangat bangga"gue emang idaman semua co..." "pembantu,"Potong Samuel. Tangan Cecil menggeplak keras lengan Samuel, bukanya kesakitan, Samuel malah terkekeh-kekeh senang, hobi barunya sekarang adalah membuat Cecil marah. Samuel melenggang pergi meninggalkan Cecil. Untung saja beberapa minggu ini mamih ngajarin Cecil buat nyuci di mesin cuci karna papih ga kuat buat bayar pembantu, jangankan pembantu, uang jajan Cecil aja sekarang di potong dari tiga ratus ribu jadi cuma seratus ribu, begitu sangat miskin. waktu mereka masih sangat kaya juga, boro-boro cecil nyuci, kena pakaian kotor aja udah jijik duluan dia. Takut tangannya gatal-gatal katanya. Cecil mencoba menyalakan mesin cucinya setelah memasukkan seluruh pakaian kedalam sana. Tapi mesin cuci itu bergeming. "kok mesin cucinya ga nyala sih?" "woy nyala dong, woy."Cecil menggebrak-gebrak cukup keras mesin cucinya. Sekaligus meluapkan kekesalanya tadi pada samuel. "Muel, Samuel!!!"Namun tidak ada sahutan sama sekali dari orang yang disebut. "Mas Samuel!!"Teriak Cecil lagi, jijik sebenernya dia bilang begitu, tapi terpaksa. Benarkan, dipanggil mas saja, Samuel sudah luluh dan berjalan menghampiri Cecil. "ini kok mesin cucinya ga nyala sih, rusak ya." "memang mesin cucinya rusak." "terus kalo udah tau mesin cucinya rusak kenapa lo nyuruh gue nyuci, bambang." "siapa yang bilang kamu harus nyuci di mesin cuci." "terus kalo ga di mesin cuci lo maunya dimana, di rice cooker? apa di oven? atau gue lemparin pakaianya keatas genteng aja biar kena hujan nanti juga bersih sendiri."Samuel tidak terlalu peduli dengan celoteh Cecil yang tidak penting. dia menaruh beberapa pakaian yang dia tanggalkan di kamar kedalam bak di bawahnya, membuat baknya semakin penuh. "apa-apaan ini, ga, ga, ga."cecil mengeluarkan kembali baju-baju milik samuel dari dalam bak"lo mau buat tangan gue patah nyuci sebanyak itu hah?!" "kalo mau nyuci, cuci sendiri, gue mau pergi sama temen-temen gue, udah gede di cuciin terus."Kaki Cecil melangkah meninggalkan Samuel, pas berpapasan dengan Samuel. "kamu tidak sayang sama keluarga kamu,hmm?"Tanya Samuel mengangkat hpnya. Iya, karna ini pernikahan kontrak dan dari pihak Samuel tidak mau rugi dengan pernikahan ini. Jadi mereka membuat surat perjanjian, kalau sampai Cecil memperlakukan Samuel dengan tidak baik, mereka akan mencabut perjanjianya sekaligus membayar uang sebesar 200 milyar pada Samuel, kalau tidak, Samuel akan menyeret kasus ini ke pengadilan. Cecil membalikkan badanya, lalu dengan otomatis masuk kedalam kamar mandi, dan mulai menggosok semua pakaian-pakaian itu dengan cara manual. *** Hampir tiga jam Cecil berkutat dengan pakaian-pakaian kotor milik Samuel yang tidak pernah ada habisnya, setiap kali mau habis, ada saja tambahan baju dari pria itu. Kayaknya satu lemari baju Samuel cecil cuci semua hari ini. Cecil keluar dari kamar mandi belakang khusus pembantu, disaat tulang Cecil rasanya ingin patah, si sambal terasi itu malah enak-enakan nonton tv sambil makan kacang mete. "Dasar sambel terasi jelek ga punya perikemanusiaan, gue sumpahin lo ketabrak odong-odong, abis itu diinjek-injek sapi, terus mati,"Umpat Cecil menggerutu dengan suara pelan sambil bergaya seolah-olah ingin memukul Samuel. "sudah menyumpah serapahi sayanya?"Tanya Samuel tanpa membalikkan badanya kearah Cecil. Mata Cecil terbelalak kaget, darimana dia tau Cecil sedang mengutuki dirinya, jangan-jangan selain ganteng dia juga indihome, eh maksudnya indigo. Bisa mendengar suara hati seseorang. "kemarilah,"Perintah Samuel mengayunkan tanganya, heranya walau enggan dan murka, Cecil selalu menuruti perintah dari Samuel, demi uang saku tidak di potong. "napa lagi, mau sekalian baju yang lo pake gue cuciin, apa mau mulut lo yang mau gue cuci."Cecil menatap Samuel malas. "saya suami kamu loh." "ya maap suami,"Jawab Cecil begitu pasrah. "buatkan saya kopi dan camilan." Beberapa menit kemudian Cecil kembali ke ruang tv membawa semua pesanan dari Samuel. Dia menaruhnya diatas meja. "ada lagi ga, mumpung gue disini?"Samuel menggeleng. Itu berarti sekarang waktunya Cecil bisa istrahat dengan tenang. Kaki Cecil berjalan dengan riang naik keatas tangga. Baru saja Cecil ingin membuka pintu kamar, namun. "CECIL!!"Teriakan Samuel menggema di bawah sana. Dengan enggan sangat amat terpaksa dan rasa ingin mencabik-cabik Samuel, dia melangkahkan kakinya kembali ke ruang tv. "kenapa?" "coba cek sendal swalow saya ada di luar atau tidak, saya takut lupa bawa masuk, nanti dicuri lagi." What, seorang ceo perusahaan besar seperti Samuel takut sendal swalownya di curi, padahal kalo niat dia bisa beli sampe pabrik-pabriknya. "yaudah sih kalo ilang lo tinggal bel...."Cecil menghentikan ucapanya saat Samuel mengangkat hpnya yang menunjukkan nomer mamih. "yaudah iya ini gue ambilin."Cecil berjalan keluar rumah. Suasana di luar begitu sangat sepi, suara kicauan burung berhasil membuat bulu kuduk Cecil berdiri, dia menundukkan kepalanya, celingak-celinguk mencari sendal yang Samuel maksud. Betapa terkejutnya Cecil saat melihat sendal swalow warna merah di depan pintu rumah Samuel, sendal buluk yang sudah mulai menguning di banyak sisinya. Ini serius sendal punya Samuel? Sebenernya Samuel tuh niat ga sih jadi orang kaya. Stylenya aneh banget. "Nih."Cecil menjatuhkan sendal swallow di depan Samuel. "ini gue serius, mumpung gue masih disini, lo mau nyuruh gue apalagi."Lagi-lagi samuel hanya menggeleng. "tidak ada." "yakin ya ini ya, deal ya, awas aja kalo gue udah nyampe kamer lo teriak-teriak panggil nama gue lagi." Cecil membalikkan badanya, baru saja dia berjalan beberapa langkah. "Cecil!" 'gue bacok juga ya lo anjir!'Murka Cecil dalam hati. Untung saja dia ngomongnya dalam hati, kalau dia keceplosan, bisa-bisa dia utang dua ratus milyar sama si manusia biadab ini. Cecil menghela nafas"iya ada yang bisa saya bantu lagi tuan samuel yang terhormat." Samuel menunjuk remot yang hanya berjarak beberapa centimeter di depanya saja"ambilkan saya remot." 'ga, ga ini udah ga bisa dimaafin, cobaan ini terlalu berat untuk hamba ya allah, tolong cabut nyawanya saja ya allah, hamba ikhlas.'Tangis batin Cecil sudah tidak kuat lagi. "kenapa diam aja, cepat ambil." "siap tuan."Menurut, Cecil mengambil remot itu lalu memberikanya pada Samuel. Setelah ini, apa yang akan Samuel perintahkan lagi. "ada lagi yang bisa saya kerjakan?"Kali ini Samuel tidak menggeleng. Dia menepuk- nepuk sofa disampingnya. Alis Cecil mengerut tidak mengerti dengan permintaan Samuel yang satu ini, apa dia mau menyuruh Cecil untuk menepuk-nepuk sofa sampai dudukan sofanya jadi empuk? "duduklah disini." "Duduk di samping lo?"Duh, belum duduk aja fikiran Cecil sudah kemana-mana. Pasti orang ini tersesat, pasti ada maunya. Pasti mau ngejamah tubuh Cecil. Iyuh, tidak akan Cecil biarkan keperawananya di jamah iblis sambel terasi ini. "Atau kamu mau duduk disini?"Samuel menepuk-nepuk pahanya, ujung bibirnya terangkat, membuat mimik wajahnya semakin terlihat mesum. 'Idih ogah, mending gue duduk di pangkuan sang maha kuasa,'Desis Cecil dalam hati. Karena dia tidak ingin uang sakunya di potong, jadi Cecil menurut, dia mendudukkan dirinya di samping Samuel. Tapi kalau sampai pria itu macam-macam, akan Cecil cekik lehernya sampe putus. "Kamu mau tidak?"Tanya Samuel berbisik ambigu tepat di depan telinga Cecil. Mata Cecil melotot, dia mendelik tajam kearah Samuel seolah-olah ingin membunuh pria itu. "Lo mau ngajakin gue apa hah?! Gue gorok leher lo kalo berani ngajak begituan." "Ngajak apa?"Tanya Samuel polos. Lebih tepatnya sok polos. "Tadi lo ngajakin gue buat skidipapap kan?" Alis Samuel semakin berkerut, maklum orang tua tidak ngerti bahasa anak jaman sekarang yang nyeleneh. "Skidipapap, nama makhluk apa itu?" "Hubungan suami istri,"Jawab Cecil dengan suara nyaris tidak terdengar, kedua pipinya sudah di buat merah. "Kamu mau itu?" "iiih."Cecil mencubit keras paha Samuel, bukanya meringis samuel malah tertawa kecil."Tadi kan lo bilang, mau ga? Mau apa maksudnya hah?!" "Oh, saya cuma menawarkan ini."Samuel mengambil coklat dari dalam saku celananya"mau?" Duh, kenapa sih akhir-akhir ini pikiran Cecil selalu kotor. Kalau begini terus kan Samuel bisa menganggapnya sebagai gadis mesum. Aaakkhh, harusnya Cecil yang mengecap Samuel mesum bukan sebaliknya. Dia tidak mau jadi gadis mesum. Cecil harus menjaga jarak dengan Crystin biar pikiranya kembali ke jalan yang benar. Tikk.. Tok... Tik... Tokk... Suara jarum jam terus berdetak mengganti detik demi detik, Entah sudah berapa jam mereka duduk didepan TV tanpa obrolan. Beberapa kali kepala Cecil terhantuk kedepan dan kebelakang, beberapa kali perempuan itu terlelap lalu sadar kembali. Sampai akhirnya sadar atau tidak, Cecil menyenderkan kepalanya ke pundak Samuel, saking ngantuknya. "Hmmm."Samuel sedikit kaget saat Cecil mengalungkan tanganya ke leher Samuel, membuat wajah mereka terasa begitu detak, Samuel bahkan bisa merasakan wangi Strawberry manis dan deru nafas sangat istri. "modus kamu boleh juga,"Gumam Samuel, tertawa kecil mengelus lembut rambut istrinya, dia mengecup cukup lama pucuk kepala Cecil. "Good night, sweet dream honey."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD