Lagi-lagi dan lagi. Malam minggu kembali. Malam yang identik dengan kebahagian. Malam dimana muda-mudi, sibuk dengan pacar mereka masing-masing.
Sementara Cecil, luna, Crystin dan Eva tetap memilih bergosip di kamar Crystin. Biasanya Cecil pergi kencan dengan Arkan, tapi sudah hampir dua bulan ini posisi Arkan di gantikan oleh Samuel. Setiap malam minggu, tanpa persetujuan dari Cecil, Om-om sambel terasi itu datang membawa martabak, mcd, dan pizza hut favorit mamah. Dia juga kadang menyogok deon dengan topi-topi branded biar semakin banyak mendapat restu.
Kalau Cecil tidak mau diajak jalan, Deon, mamah dan papah akan kompak mendiaminya selama seminggu, memang keluarga jahanam, suka sekali menyiksa anaknya, Cecil berasa anak pungut.
"Gimana, udah telpon belum?"
Cecil menggeleng-geleng, biasanya jam segini Samuel sudah menyerbunya dengan banyak sekali pesan dan panggilan, sekarang sama sekali tidak ada pesan yang masuk dari si sambel terasi itu.
Drrrttt... Drrrttt...
Tanpa basa-basi, Cecil langsung mengangkat panggilanya saat mengetahui yang menghubunginya adalah Samuel. dia tidak sabar menolak ajakan dating Samuel haha.
"Hallo,"Sapa Samuel dari seberang sana.
"Gue lagi ga ada di......"
"Malam ini saya tidak datang ke rumah kamu."Sebelum Cecil menyelesaikan ucapanya, Samuel sudah terlebih dahulu memotong ucapanya.
Alis Cecil berkerut, pun sama dengan ketiga temanya. Baru juga mau nolak ajakan Samuel, eh Samuel nya malah ngomong duluan tidak jadi kerumah Cecil. Cecil jadi penasaran kenapa dia bisa absen malam minggu ini, apa ada satu hal yang sangat urgent disana.
"Kenapa?"Refleks pertanyaan itu keluar dari mulut Cecil.
"Bu Amanda sedang sakit, kamu tau kan dia hanya punya adek cowok di rumahnya, jadi saya berinisatif untuk menjaganya, hanya untuk malam ini saja, besok saya akan datang kerumah kamu sebagai gantinya."
"Ya, terserah."
"Kamu tidak mar.... "Sebelum Samuel menyelesaikan ucapanya, Cecil sudah terlebih dahulu mematikan panggilanya.
Cecil menghela nafas. Harusnya dia senang karena akhirnya dia terbebas dari si sambel terasi itu walau hanya untuk minggu ini. Tapi kenapa perasaanya jadi resah, apa karena Samuel sekarang sedang bersama Amanda?
"Lo kenapa cil?"Tanya Luna, khawatir melihat raut wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah jadi tidak semangat.
"Cil."Luna menepuk pelan bau sahabatnya, Cecil langsung terlonjak kaget.
"Yeaahhhh!!"Teriak Cecil tiba-tiba, lalu naik keatas ranjang dan mulai lompat-lompat tidak jelas diatas sana. Membuat kemarahan Crystin membumbung, pasalnya dia baru ganti sprei tadi, sekarang kotor lagi karna kaki si anak dakjal ini.
"Turun lo anak setan!!"Tukas Crystin menarik kaki Cecil agar turun dari ranjangnya.
"Lo napa sih?"
"Tau nih ga jelas,"Timpal Eva.
Tanpa memberi penjelasan, Cecil langsung memeluk tubuh Luna sambil nangis haru bahagia" Akhirnya malam minggu gue sekarang ga kaya di neraka, akhinya Samuel ga jadi ngapelin gue, ya Allah makasih udah ngabulin permintaan hambamu yang penuh dosa ini ya Allah makasih."
Luna melepaskan pelukan Cecil"tumben amat, apa alesan dia ga ngajak lo keluar, meeting?"
Cecil menggeleng"Amanda sakit, katanya dia kasian karna Amanda cuma tinggal sama adeknya, jadi dia mau jagain Amanda."
PLAKK!
Dengan enteng, Crystin menampar pipi Cecil, kalau bisa sih mau Crystin ceburin ke kali yamuna biar dia sadar akan kegoblokan temanya.
"Lah kok lo nampar gue sih, ngajak berantem?!"Marah cecil sudah siap menyingsingkan lengan bajunya.
"Ya lo goblok, lo seneng banget pas calon suami lo lebih milih jagain cewek orang ketimbang ngeluangin waktunya buat lo, berarti lo ga lebih penting dari cewek itu! Makanya kalo punya otak tuh di pake!" Crystin menonyor-nonyor kepala Cecil.
"Ya biarin aja, mau dia sama manda kek, sama bu pebby kek, gue ga peduli, gue kan ga suka sama dia."
"Iya sih."Luna membenarkan"Kira-kira pak sam sama bu manda sekarang lagi apa ya?"
"Ngentot,"Jawab Eva lugas dengan wajah polosnya.
Mata Cecil dan Luna langsung menatap tajam kearah Eva, yang di tatap hanya nyengir dan kuda. Kemudian mereka mengalihkan pandangannya pada pelaku yang sudah mengajarkan kesesatan pada Eva.
"Apa? Lo pada mua nyalahin gue? Lagian Eva juga udah gede, dia harus tau hal gituan, biar otaknya berkembang,"Kata Crystin memberi pembenaran.
"Tapi bener sih kata Eva, cowok sama cewek duaan aja di rumah malam minggu gini udah pasti ya ngelakuin hal kayak gitu," Crystin semakin menambah beban pikiran Cecil.
"Kayaknya lo harus siap deh ngehadirin pernikahan pak sam sama bu manda."
***
BRAKKKK
Cecil membanting pintu kamarnya begitu keras, sampai-sampai engselnya hampir lepas dari pintu.
Dia melemparkan hpnya keatas ranjang, lalu gantian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang juga, mengambil bantal di sampingnya dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal tersebut.
Tidak tau kenapa fikiranya tidak terkendalikan, tiba-tiba saja dia kepikiran, Kira-kira Samuel dan Amanda sendang apa ya sekarang, apa mereka sedang makan malam romantis sambil suap-suapan? Atau mungkin mereka sedang nonton film horor dengan amanda yang bersender di dada bidang Samuel? Atau mungkin saja mereka sekarang sedang melakukan hal yang iya-iya diatas ranjang.
"Akkhhh!!"Cecil menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan segala fikiran buru yang semakin menggerogoti otaknya.
Cecil mengambil HP dari dalam tasnya. Masuk kedalam room chatnya dengan Samuel, tidak ada satupun pesan yang di kirim dari Samuel, apa seasik itu bersama Amanda sampai tidak ada waktu untuk mengabari Cecil.
Apa Cecil chat duluan aja ya? Eh tapi gengsi banget dong kalo dia ngechat duluan, pasti nanti harga dirinya langsung turun.
"Duh."Cecil mengusak-usak rambutnya depresi"kenapa gue harus terus mikirin si sambel terasi itu terus sih, bodo amat dia mau suap-suapan, pijit-pijitan, kumpul kebo, sampe jadi ultramen juga gue ga peduli."
Cecil melemparkan HP ke samping tubuhnya.
Tring...
Cecil buru-buru menghidupkan layar hpnya. Tanpa disadari senyumnya mengembang, dia yakin itu pasti pesan dari Samuel. Raut wajahnya kembali kedatar saat tau ternyata bukan chat dari Samuel yang masuk, tapi dari grup gibahnya. Cecil langsung melemparkan hpnya kembali kesamping ranjang.
"Aakkhhhh!!!"Teriak Cecil menutup seluruh wajahnya dengan bantal, kedua tanganya mencengkeram erat bantal tersebut sampai isianya mungkin akan keluar.
Cecil bangkit duduk, rambutnya sudah acakadul seperti ibu singa sedang pms. Dia mendengus beberapa kali dengan wajah kesal, sesekali kembali melirik hpnya. Entah apa yang terjadi padanya, sejak pulang dari rumah Crystin tiba-tiba dia jadi uring-uringan sendiri.
"AKKHHH KAWIN AJA SANA SAMA MANDA!!!"Teriak Cecil memenggema ke seluruh penjuru ruangan, mungkin suaranya juga bocor sampai keluar.
Saking keselnya, tubuh Cecil tidak terkendali, dia melemparkan segala sesuatu yang ada di dekatnya, koprol, sikap lilin, sampai kayang.
Ckleeekkk....
Di saat seperti ini, pintu kamar Cecil terbuka. Deon dengan memasang wajah datarnya menatap Cecil diambang pintu.
Kaget karena sekarang, tepat di depannya, adek paling jeleknya sedang melakukan gaya kayang diatas ranjang. Gayanya seperti yang ada di film hantu exorcism.
"Apa, hah?!" Solot Cecil mendelik tajam.
Deon berdecak sambil menggeleng-
geleng pelan, lalu tanpa sepatah katapun dia menutup kembali pintu kamar Cecil.
"Aneh,"Desis Cecil.
"MAMAH CECIL KESURUPAN SETAN KAYANG!!"Teriak Deon dari luar.
"Berisik banci!!"Balas Cecil dari dalam tidak terima sambil melemparkan bantal hingga mengenai pintu.
Tringg...
Tringg...
Cecil menghela nafas, merapihkan kembali rambutnya yang acak-acakan, mencoba untuk lebih tenang lagi dan tidak berharap kalau itu bukan notifikasi dari Samuel.
Drrttt... Drrrttt....
Kini HP Cecil bergetar, dia melirik sekilas panggilan dari siapa itu, di detik berikutnya dia langsung mengangkat panggilanya saat dia tau siapa yang memanggil. Beberapa detik mereka saling diam, sama sekali tidak ada yang mau memulai obrolan.
"Kalo lo ga mau ngomong, gue matiin panggilanya,"Ancam Cecil ketus pada Samuel.
"Kamu belum tidur jam segini?"Tanya Samuel.
Samuel sangat hafal semua tentang Cecil, bahkan jam waktu tidurnya. Walau weekend, Cecil tetap tidur cepat. Jam sebelas saja sudah tidur, tapi ini sudah hampir jam satu pagi, wa-nya masih aktif.
"Udah, nanya gitu doang? Ga penting."
Cecil mematikan panggilanya secara sepihak. Dia kembali melemparkan hpnya ke samping ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mencebikkan bibirnya.
"Hebat banget ya, gue disini uring-uringan takut Amanda merenggut kesucianya, dia nelpon cuma mau bilang gue udah tidur belum. Oh iya, dia mau gue tidur cepet biar gausah ganggu urusannya sama Amanda. Gue bakal laporin ini semua ke ibu lo dan kita jadi batal menikah hahahaha mampus lo!"Cerocos Cecil sendirian.
Drrrttt... Drrrttt....
Cecil kembali melirik hpnya, Lagi-lagi panggilan dari Samuel, ujung bibirnya terangkat"ga, jangan harap gue angkat panggilan dari lo, ga sudi, cuih."
Sudah empat kali panggilan Samuel Cecil abaikan begitu saja, kini sudah hampir sepuluh menit Samuel tidak menghubungin.
"Tuh kan bener, dia emang ga peduli sama gue, semua cowok tuh sama aja, f**k you sambel terasi, f**k you."
Drrrttt... Drrrttt....
"Duh apaan lagi sih si sambel terasi ini, ganggu aja!" Dengus cecil marah-marah, tapi walaupun begitu dia tetap mengangkat panggilannya.
"Apaan lag...."
"Saya kerumah kamu ya sekarang."
"Gausah, mending lo jaga amanda sampe sembuh, bye."Cecil kembali mematikan panggilanya sepihak.
Hampir satu jam Cecil menscrol-scroll hpnya, mencari kata-kata yang mewakili perasaanya di t****k dan i********:, sampai akhirnya HP gadis itu kembali bergetar. Siapa lagi kalau bukan panggilan dari Samuel.
"Apalagi sih!"Tukas Cecil setelah mengangkat panggilanya.
"Saya sudah ada di depan rumah kamu, bisa kamu keluar sebentar?"Mata Cecil terbelalak lebar, dia langsung beringsut dari atas kasur.
"Lo seriusan?"
Tidak lama, Samuel mengirim foto yang menunjukkan pintu depan rumah Cecil. Cecil langsung mematikan panggilanya.
Buru-buru Cecil mencari sisir"sisir mana sisir,"katanya panik, setelah menemukan sisirnya dan menyisir rambut singanya, dia mengoleskan sedikit lipstik ke bibirnya yang pucat.
Perlu di garis bawahi, dia pakai lipstik biar ga keliatan pucat dan kayak orang penyakitan aja, bukan mau terlihat cantik di depan Samuel. cuih, buang-buang waktu.
Cecil turun dari kamarnya, dia mengedarkan pandangannya, hampir semua lampu di ruang bawah sudah dimatikan, sepi, mamah, papah dan Deon pasti sudah terjerat di dalam mimpi mereka masing-masing.
Ckleeekkk!
Pintu rumah terbuka, benar saja, Samuel sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan membawa dua totebagh mewah di kedua tangannya.
"Ngapain kesini?"ketus Cecil.
"Bukanya kamu rindu saya?"
Rasanya Cecil ingin mengeluarkan seluruh isi makan malamnya.
"Pede banget sih jadi orang, udah sana pulang, eneg tau ga sih gue liat muka lo," Bohong Cecil.
"Ini saya bawakan ice cream strawberry, burger, pizza, croisant dan boba favorit kamu, kamu tidak ingin mengambilnya?"
Tanpa penolakan, dia langsung mengambil dua totebagh dari tangan Samuel.
"Makasih, dah sekarang huss husss sana lo pulang,"Usir Cecil.
Adengan diatas tidak boleh di tiru ya adik-adik, hanya manusia setengah iblis yang bisa melakukannya.
"Saya masih rindu kamu."Pipi Cecil sedikit me merah, tapi dia pura-pura memasang wajah tembok datarnya.
Sudah setengah jam Cecil terus membolak-balikkan tubuhnya seperti cacing kremi diatas ranjang, terus memikirkan apa Samuel masih ada di depan rumahnya atau sudah pergi, tapi Cecil berani taruhan, pasti pria itu sudah pulang daritadi.
Cecil merangsek turun dari atas ranjang, berjalan turun dari kamarnya. Setelah sampai di depan pintu, Cecil membuka gorden abu-abu besar disampingnya.
"Astagfirullahalazim!!"Kaget Cecil, tubuhnya hampir jatuh terjerembab ke belakang. Pasalnya, saat Cecil membuka gorden, wajah Samuel sudah terpampang jelas di depan wajahnya.
Cecil buru-buru membuka pintu rumah" Lo tuh keras kepala banget sih, udah gue bilang sana pulang, masih tetep aja disini!Tukas Cecil marah-marah.
"Saya kan sudah bilang, saya rindu kamu, jadi saya tidak akan kemana-mana sampai rindunya usai."
"Cepet ngomong gimana biar rindunya cepet usai."
"Kayaknya tidak akan pernah usai."Manik mata Samuel menatap penuh lekat mata Cecil, beberapa detik membekukkan tubuh Cecil.
"Apaan sih bacot banget. Yaudah, cuma untuk hari ini gue ijinin lo masuk kerumah gue."
Cecil membuka pintunya jauh lebih lebar agar Samuel bisa masuk.
"Gue nyuruh lo masuk bukan berarti gue peduli ya, gue cuma ga enak nanti jadi bahan omongan tetangga, Cecil tega banget biarin calon suaminya nunggu di depan rumahnya sampe pagi."
"Kamu udah anggap saya calon suami?"
Duh, kenapa sih Cecil kalo ngomong tuh ga ditata dulu, lagian kenapa Samuel jadi geeran gini sih.
"Ya kan tetangga gue kenalnya lo calon suami gue. Kalo buat gue lo ya masih tetep jadi penganggu paling nyebelin sedunia tau ga."
"Bentar, tunggu disini, gue ambilin minum," Kata Cecil melenggangkan kakinya masuk kedalam dapur. Sebenernya selain mengambilkan minum, tujuan utama Cecil kedapur adalah pipis. Daritadi dia sudah menahan rasa ingin pipisnya, karena di dapurnya ada wc kecil, jadi dia memilih untuk pipis disana.
Hanya lima menit bagi Cecil untuk menyelesaikan kegiatan pipisnya, baru saja dia ingin membuka pintu kamar mandi, Tiba-tiba.
"Akkhhhh!!"Jerit Cecil, lampu rumahnya padam. Semuanya menggelap, tidak ada yang bisa Cecil lihat selain kegelapan, dia langsung keluar dari kamar mandi, seseorang sepertinya sudah menunggu Cecil di depan pintu kamar mandi, refleks dia memeluk orang di sebelahnya, entah siapa itu, mungkin papah atau Deon.
"Duh kak Deon aku takut,"Lirih Cecil semakin memeluk erat orang di sampingnya dan menutup matanya rapat-rapat.
Cklek!
Dapur kembali terang.
"Ngapain lo cil?"Tanya Deon. Cecil hafal suara kakak jahanamnya itu, tapi kok suaranya terdengar sedikit jauh ya.
Perlahan, Cecil membuka matanya, serangan cahaya menusuk matanya, di detik berikutnya matanya melotot. Sadar kalau yang di peluk bukan Deon, Cecil langsung mendorong kasar tubuh Samuel menjauh darinya.
"Ngapain lo peluk-peluk gue!?"Tukas Cecil marah-marah.
"Bukanya kamu yang peluk saya duluan?"
"Maksud lo apa hah?! Sampe upin ipin tumbuh rambut juga gue ogah meluk-meluk lo!"
Deon yang melihat hal miris ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan"Ckk, ckkk percintaan anak jaman sekarang emang bener-bener mengerikan ya."
"Mas Deon, tadi saya mampir ke convers dan ada sepatu bagus, jadi saya beli buat mas Deon."
Bibir Deon langsung menyungging penuh"wah yang bener, yaudah, sok lo lanjutin jamah-jamah aja adek gue sepuas lo, thanks ya sam."Deon mengangkat tanganya, lalu berjalan meninggalkan Samuel dan Cecil.
"WOY BIADAB YA LO KAK!!"
***
Jadwal pelajaran kelas Cecil hari ini adalah pelajaran olahraga. Panas terik matahari terasa membakar kulit mulus Cecil, bibirnya terus bergumam mengeluh karena saking panasnya. Bukan hanya dia, tapi hampir seluruh teman-temanya juga
Bughhh!!
Bola basket yang di lemparkan Bima mengenai kepala Amanda begitu sangat keras. Sampai semua para murid perempuan menjerit panik.
"Mampus hahaha!"Ceplos Cecil terbahak-bahak, Luna langsung menyikut lengan gadis itu.
"Sorry, sorry, eh kasian banget bu Amanda, cepet tolongin, "Ujar Cecil, raut wajahnya di buat khawatir.
Samuel yang sedang mengajari basket langsung meninggalkan lapangan dan berlari kearah Amanda. Bak super hero, dia membopong tubuh Amanda dan membawanya ke UKS.
"Duhh romantis banget sih mereka,"
"Katanya mereka emang pacaran diem-diem,"
"Masa sih, tapi kalo emang bener gue dukung 100 persen sih, mereka cocok banget gitu,"
"Iya ya, pak Samnya ganteng, bu Amanda nya cantik, ga kebayang anaknya secakep apa nanti,"
Ujar teman-teman Cecil memberikan dukungan. Lagi-lagi perasaan itu muncul, perasaan sesak seperti ada bendarbesar menekan dadanya kuat-kuat.
Perlahan, Cecil bisa melihat mata Amanda mengerjap-erjap pelan, lalu wanita itu memegangi pelipis kepalanya yang pasti terasa nyut-nyutan karena emang lemparan bolanya sekeras itu.
"Saya dimana?"Tanya Amanda mendadak linglung.
"Ibu di UKS, tadi kepala bu manda kena bola,"Jelas Cecil, menarik kursi di dekat sana, dan duduk di samping ranjang Amanda.
"Bu manda lagi sakit ya?"Tanya Cecil basa-basi, aslinya sih males banget, jangankan ngobrol, liat mukanya aja Cecil udah enek banget.
Amanda mengangguk-angguk kecil sambil terbatuk"hmm kok kamu tau sih?"
"Ya keliatan aja dari muka bu manda yang biasanya seger cantik, sekarang pucet."Cecil sebenarnya mau bilang jelek, tapi dia masih punya otak dan tidak mau di bawa ke ruang bk atas tindakan tidak terpuji kepada guru.
"Pak sam mana? Seinget saya tadi pak sam yang gendong saya pas saya pingsan," Tanya Amanda celingak-celinguk mencari keberadaan Samuel.
"Dia ada kelas bu, jadi dia nyuruh saya buat jagain ibu,"Jelas Cecil.
"Oh begitu."Amanda mengangguk-angguk paham, bibirnya tersenyum-senyum malu.
"Pak sam emang baik baik banget ya cil, dia emang suami idaman, coba kalo saya punya suami kayak dia, kayaknya saya bakal jadi wanita paling beruntung di dunia ini,"Katanya tiba-tiba.
'Lo ga tau aja sih aslinya gimana,'Kata Cecil dalam hati.
"Hmm,"Jawab Cecil singkat.
Dia menyambar teh yang memang sengaja dia buat untuknya sendiri diatas nakas, lalu mulai menyeruputnya perlahan.
"Menurut kamu, kalo saya jadi istri pak sam cocok ga?"
"Uhukk... Uhukkkk.."Cecil hampir mati karena tersedak tehnya sendiri.
"Aduh kalo minum ati-ati dong cil."
"Sorry bu."
"Oh ya cil, ibu agak curcol sih ya, tapi gapapa kan ya?"Cecil hanya mengangguk.
"semalem kan pak Samuel nungguin ibu sakit, kamu tau ga sih, dia jagain saya bener-bener, ngompres saya, nyuapin saya, bahkan sampe mijitin saya, beruntung banget ya wanita yang bakal jadi pendamping hidupunya."
"Semoga saja wanita itu adalah saya,"Tambah Amanda.
"Bu saya kebelet pipi, saya tinggal pipis dulu ya."Cecil berdiri dari kursi dan berjalan masuk kedalam kamar mandi UKS yang ukurannya cukup kecil.
"Apaan sih si singgat nangka itu, eh asal lo tau aja ya Amanda binti Amandel, Samuel itu udah punya calon istri, dan gue calon istrinya, jadi lo jangan coba-coba jadi pelakor ya anjir,"Ujar Cecil bergumam sendiri.
"Sok cantik banget jadi orang."
Dia menendang tong sampah di dalam sana.
"Cil, kamu gapapa?"Tanya Amanda dari luar sana.
"Gapapa bu!!"Balas Cecil berteriak, biar kuping conge Amanda kedengeran.
Ckleek...
Cecil membuka pintu kamar mandi, namun dia menurunkan niatnya untuk melangkah keluar saat dia melihat keberadaan Samuel di depan sana.
"Bu manda sudah mendingan?"Tanya Samuel, tanganya menyentuh lembut kening Amanda.
"Masih sedikit pusing sih pak, tapi nanti juga bakal baik-baik aja."
"Mau saya buatkan teh?"
Entah apa yang terjadi padanya, ada sesuatu yang terasa sesak seperti menghujam dadanya lagi. Apa ini cemburu? Tidak mungkin. Sampai kapanpun Cecil tidak akan pernah bisa mencintai Samuel.