BUNDIR

1622 Words
Satu persatu kaki Cecil naik keatas dinding pembatas rooftof. Kedua kaki kecilnya bergemetar hebat, ngeri. Angin dingin menyeruak memainkan rambut hitam panjangnya. Cecil menelan ludanya kasar saat menatap kebawah"anjir tinggi juga."kepalanya terasa berputar-putar melihat betapa tingginya dia berada diatas sini. Yaiyalah, sekolah ini dibuat sampai empat lantai, Kalau sampai dia terjatuh, dia bisa mati beneran. amit-amit, Cecil mau nikah dulu sama Arkan, bikin kosan 1100 pintu, dan beli 5 ribu pesawat yang bakal dia parkirkan di depan pekarang rumah tetangganya, biar mereka berhenti bacot, dan ngomongin keluarga Cecil sudah bangkrut dan jatuh miskin. Kedua tangan Cecil meregang kesamping, senyum tipis tersungging jelas di wajahnya saat dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya, itu pasti si sambal terasi itu, kini dia harus memulai actingnya. "kenapa ya, kenapa hidup gue bisa jadi sengsara begini, kenapa mamah papah jodohin gue sama cowok yang lebih tua dari gue, mana cowoknya mesum lagi."kapan lagi kan menjelek-jelekan orang di depan seperti ini. "padahal gue masih pengen raih cita-cita gue!! Dunia emang ga pernah adil sama gue, emang gaada yang sayang sama gue, Mending gue akhiri hidup gue aja kalo begini caranya!" "apa kamu bilang?"Tanya suara berat di belakang Cecil. Bagus, si sambal terasi itu sudah masuk kedalam jebakanya. sekarang tinggal menunjukan acting pamungkasnya. "hiksss....hikssss...."Cecil mulai terisak"gausah, gausah berhentiin gue, gue lagi ga butuh saran dari siapapun, gue udah pasrah, hikss...sekarang gue cuma mau akhiri hidup gue. Bilang sama mamah papah makasih udah rawat gue, bilang sama temen-temem gue juga, kalo gue bersyukur ketemu mereka." Dengan ragu, Cecil melangkahkan satu langkah kakinya kedepan. Satu langkah lagi saja, nyawanya bisa melayang. "semoga rencana bunuh dirimu berhasil,"Ucap Samuel singkat, dari nada bicaranya saja terdengar begitu tidak peduli. Alis Cecil berkerut bingung, kenapa responya jadi begini, harusnya Samuel memohon pada Cecil agar tidak bunuh diri seperti apa yang sudah di rencanakan Crystin. Kalau begini, sekarang dia harus bagaimana? Cecil membalikkan badanya"loh kok respon gitu sih, lo emang beneran ga punya hati ya, gue tuh mau bunuh diri beneran tau!"Dumal Cecil kesal. "kamu mau bunuh diri kan? Ya silahkan." "lo tuh sebenernya manusia bukan sih, lo punya hati ga sih, harusnya lo ada effort sedikit aja gitu buat bujuk gue biar ga bundir, bukanya malah pasrah gitu, nyebelin banget sih!" "yasudah, jangan bundir,"Jawab Samuel lagi, singkat, padat, dan tidak bermakna. yang membuat Cecil geram adalah ekspresi wajahnya yang selalu datar. "astagfirullah."Cecil mengelus-elus dadanya mencoba untuk bersabar. "coba deh lo mikir gini, kalo gue beneran bundir, nanti lo bakal nikah sama siapa, hah, sama curut?!" "saya bisa cari yang lain, toh kata kamu saya tampan dan banyak yang mau." Rasanya Cecil ingin mencabik-cabik wajah Samuel sampai menjadi ayam geprek di cocol sambel terasi. Bisa-bisanya disaat seperti ini kepercayaan dirinya muncul. "oh, udah gue kira dari awal lo itu sebenernya ga suka sama gue kan, lo cuma mau manfaatin gue doang kan, ayo ngaku lo." "memang. Ayah saya ingin punya cucu, jadi saya harus menikah." "ya terus kenapa lo ga nyari cewek lain aja sih, kan banyak cewek yang lebih cantik, lebih seksi, lebih kayak di luar sana ketimbang gue, belum tentu juga kan gue bisa ngasih anak buat lo." "karna saya pikir kamu cocok jadi istri saya." "alasan macam apa itu, arrghhhhh!!!"Cecil berteriak sekencang-kencangnya. Tanpa loncat dari atas gedung, Cecil bisa mati hanya karena terus meladeni orang gila di depanya ini. "jadi kamu mau tetap bundir?"Tanya Samuel. Pertanyaan yang tidak akan ditanyakan orang normal. "sikap lo yang kayak gini, bikin gue jadi tambah semangat buat bundir,"Gumam Cecil yang masih bisa terdengar di telinga Samuel. "semoga rencana bunuh dirimu berhasil, tapi sebaiknya kamu bundir sekarang, katanya tambah malam, siswi yang bunuh diri waktu itu, masih sering bergentayangan diatas sini." Bulu kudug Cecil langsung meremang, dia jadi ingat kasus yang membuat sekolah harus tutup beberapa bulan untuk olah tkp. Samuel memasukkan kedua tanganya kedalam saku jasnya. Berbalik, lalu kakinya melahkan pergi meninggalkan Cecil. Cecil melompat turun dari undagan itu. "bentar dulu, bentar.....aw..."Ringis Cecil tersandun kakinya sendiri hingga tubuhnya tersungkur ke lantai di bawahnya, Samuel yang mengetahui itu langsung berbalik dan berjalan kearah Cecil. Samuel duduk membelakangi Cecil"naik." Karna memang kaki Cecil terasa nyeri dan mungkin akan sulit buat berjalan, jadi dia menuruti kata Samuel dan naik kepunggungnya. Entah Samuel yang terlalu kuat, atau Cecil yang terlalu enteng. Dengan mudah dia menggendong tubuh Cecil seperti mengangkat kapas. "modus kamu boleh juga ya,"Ujar Samuel dengan senyum penuh arti. "enak aja lo bilang modus! kaki gue beneran terkilir tau! Jijik banget gue modus mau di gendong-gendong sama lo!"Semprot Cecil mencak-mencak"kalo ga iklas gendong gue, mending turunin aja gue disini!" Samuel yang rasanya hampir tuli karena suara Cecil hanya tersenyum-senyum kecil, sudah lama sekali dia tidak pernah merasa sebahagia ini. **** Mobil Samuel berhenti di depan sebuah restoran gril and barbeque. Seorang satpam membukakan pintu mobil Samuel. "selamat malam tuan,"Sapa satpam itu hangat menundukkan kepalanya sopan. "biar saya bawakan jasnya tuan." "terima kasih."Samuel melemparkan jasnya kearah Cecil, sampai menimpuk wajah gadis itu. Cecil menggeram, namun samuel sama sekali tidak peduli, malah senang melihat ekspresi wajah marah Cecil. Bau wangi daging bakar menyeruak masuk kedalam sela-sela lubang hidung Cecil, membuat perutnya yang daritadi siang belum diisi apapun mulai keroncongan. Samuel membawa masuk Cecil kedalam restoran itu, air liur Cecil semakin banjir di dalam mulutnya saat aroma asap dari daging itu membumbung keatas dan menyeruak mengisi seluruh ruangan. Sama seperti satpam diluar, beberapa pelayan menunduk hormat saat Samuel dan Cecil melewati mereka. Alis Cecil berkerut, dia jadi penasaran, sekaya apa sih sebenernya pria ini sampai di hormati segila ini. Samuel menarik kursi di depanya, mempersilahkan Cecil untuk duduk. Mungkin kalau Arkan yang ngelakuin ini dia bakal baper banget, tapi karena Samuel yang melakukannya jd b aja, malah jatohnya alay bin lebay. Seorang pelayan membawa buku menu berjalan kearah Samuel dan cecil"selamat datang di restoran kami."dia memberikan buku menunya pada Cecil. Cecil melihat buku menunya, mulutnya sedikit menganga saat melihat harga yang begitu fantastis dari makanan-makanan tersebut. Masa air mineral saja harganya hampir lima puluh ribu. Airnya langsung dari galon minum firaun kali ya. Apalagi dengan satu potong ikan salmon dengan toping caviaf. Harganya hampir lima juta. Dengan uang segitu bisa bakar-bakaran ikan bandeng satu desa. Walau keluarga Cecil kaya, tapi untuk soal makanan dia cukup pelit, kalau ada makanan enak dan murah kenapa nyari yang mahal, toh se mahal apapun makananya ujung-ujungnya jadi kotoran. Cecil menutup kembali buku menunya tanpa menyebutkan pesanan apa-apa. "kamu tidak pesan?"Tanya Samuel. Gengsi dong lagi marah tiba-tiba minta makan, nanti Samuel pasti berfikir kalau semurahan itu harga diri Cecil, hanya di sogok makanan saja dia langsung luluh kembali. Dih emangnya Cecil cewek apaan. "ga laper,"Jawab Cecil ketus sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Samuel. Padahal daritadi cacing-cacing di perutnya sudah pada demo minta asupan. Beberapa menit kemudian pesanan Samuel datang. Tiga tepak daging sapi dengan rasa berbeda-beda. Kuah tomyum, dan beberapa aneka seafood kesukaan Cecil. "mau?"Samuel menyodorkan daging kedepan Cecil. "gue mending mati kelaperan daripada harus makan-makanan traktiran dari om-om mesum kayak lo." "oke."Samuel mulai membakar satu persatu-satu daging diatas kompor. Lalu, dengan lahap memakan daging itu dengan daun selada. Lihat manusia ini, bagaimana Cecil bisa menerimanya menjadi calon suami kalau sikapnya saja sama sekali tidak peduli seperti ini. Gimana kalau nati sudah nikah coba. "kruyukkkk.....kruyukkkk....."Mata Samuel menatap kearah Cecil, bunyi suara perut gadis itu begitu sangat keras sampai terdengar di telinganya. Demi apapun, rasanya Cecil ingin di telan bumi saja saking malunya. "apa?! ini suara ringtone hp tau,"Kilah Cecil cepat mengambil hpnya. Samuel mengambil nasi, dan menaruh sehelai daging diatas tumpukan nasi tersebut, lalu mendorong mangkuknya kedepan Cecil. "yasudah, kasih hp kamu makan, hp kamu sekarang pasti lapar." Beberapa menit hening, Cecil sama sekali tidak berniat menyentuh makananya. Padahal, daritadi air liurnya sudah memenuhi mulutnya dan cacing- cacing di perut sudah mulai anarki berdemo minta jatah makan. Saat Samuel lengah, perlahan Cecil mengambil sedikit nasi, lalu memasukanya kedalam mulut dengan cepat. Dia terus melakukan itu sampai habis satu mangkuk. Sekarang persetan dengan gengsi, yang penting perut kenyang hati senang. Samuel tertawa kecil, dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tanpa aba-aba, tangan besarnya menyentuh lembut ujung bibir Cecil. "lucu juga ya kamu."Tubuh Cecil membeku untuk beberapa saat karena sentuhan mendadak dari Samuel. "lah emang gue lucu dari dulu, baru tau lo,"Jawab Cecil dengan sangat amat pedenya. Kekehan pelan terdengar lagi dari bibir plum pria itu"Iya, kamu lucu, makanya saya suka kamu dari dulu." "Hmm apa?" Samuel menggeleng cepat, untung lah kalau Cecil tidak mendengar apa yang dia katakan tadi, dia tidak perlu tau juga. Dua piring daging berukuran sedang berhasil Cecil sapu bersih tanpa sisa, bahkan sampai sausnya tidak di sisakan sama sekali, sudah lama sekali Cecil tidak makan daging seenak ini, juga dari pagi dia tidak makan, jadi wajar kalau makanya berubah jadi versi kuli. "gue boleh nambah ice creamnya?"Tanya Cecil dengan mulut masih penuh dengan ice cream. "pesan saja, pesan semua yang kamu mau." "gue pengen beli restoran ini, boleh hahaha?"Tanya Cecil bercanda. "saya akan belikan kalau kamu yang minta." Emang ya, orang kaya tuh bercandanya selalu di bikin serius, nanti jangan-jangan kalau Cecil minta pulau, Samuel juga akan membelikanya juga. gila, gila edan tenan. Cecil bangkit berdiri dari kursinya" Lo mau ice cream ga?" Samuel menggeleng-geleng. Seperti bocah umur lima tahun, Cecil berlari kecil menuju tempat pengambilan ice cream. Begitu maruk, dia mengambil empat cup ice cream sekaligus. Cecil kembali berjalan ke kursinya sambil terus bersenandung riang, itu membuat Samuel semakin gemas ingin melahapnya. Dughh.... Seseorang menyenggol tubuh Cecil cukup keras, membuat ice cream di tangan Cecil jatuh ke lantai di bawahnya. "kalo jalan pake mata dong!"Tukas Cecil, dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang tidak punya mata yang berani menabraknya itu. "Arkan?" "Cecil?" Mereka saling menunjuk satu sama lain, ternyata orang yang menabrak Cecil adalah pacarnya sendiri. "ada apa ini?"Tanya Samuel dari belakang menyentuh bahu Cecil. Mampus, sekarang bagaimana Cecil menjelaskan masalah rumit ini pada Arkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD