DATING

2621 Words
Sore hari yang indah, Cecil keluar dari rumah dengan dress biru navy dan sepatu hak selaras pemberian Samuel yang harganya super sangat mahal, Cecil tau mahal karena dia cek nama brandnya, dan harga satu dressnya saja paling murah sekitaran 25 juta. Malam ini Samuel mengajaknya untuk berkencan, mati-matian Cecil menolak dengan berbagai alasan dari dia tidak bisa keluar malam karena phobia setan, sampai harus memasuk keluarkan sikat gigi kedalam kerongkongan mulut agar dia muntah. Cecil fikir Mamahnya akan bilang pada Samuel kalau anaknya tidak bisa kencan, eh dia malah berpesan sebelum kencan, Cecil harus diantar ke dokter dulu. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dengan motor beat butut milik Deon mereka menyusuri jalanan. "lo harus dengerin gue ya Cil, kalo dia coba-coba pegang lo, tonjok aja mukanya, gigit kupingnya sampe putus, kalo perlu lo gorok aja lehernya sampe putus, ini gue punya piso di jok motor,"Oceh Deon di sepanjang perjalanan. Walau terlihat seperti kakak acuh yang tidak peduli pada adiknya, sebenarnya Deon adalah orang yang paling peduli diantara siapapun. "kalo cuma paha yang di gerayang boleh ya,"Tawar Cecil. "murahan banget sih lo jadi orang, jijik gue punya adek kayak lo." "bercanda anjir."Cecil tertawa renyah sambil memukul bahu Deon sangat keras. "aw, sakit tai." "halah gitu aja sakit, banci." "apa lo bilang!"Cecil bisa melihat mata Deon melotot di balik kaca spion. Namanya juga Deon, alay, dikatain gitu aja udah marah, ga terima, kayak cewek. "Pokoknya nurut kata gue, walaupun Samuel gateng dia tetep om-om mesum yang mungkin kawinin lo cuma alibi biar dia bisa megang-megang lo. Lo ga jijik apa dipegang-pegang sama om-om mesum kayak dia?" "yaudah lo aja dong yang nikah sama dia, gue bayarin berapa juta aja deh, ditambah ps5, di tambah hoody-hoody yang lo pengenin." "gila ya lo, walau gue jomblo gue tetep suka lobang anjir!"Tukas Deon ngamuk, kesabaran Deon memang tipis. "ya Cecil, dengerin kata kakak lo yang ganteng ini, jaga jarak, jangan sampe lo kemakan rayuan om-om itu, apalagi terpikat, gue ga mau punya adek ipar om-om." "iya bacot banget ah." Motor deon berhenti saat Cecil menyuruhnya untuk berhenti. Cecil melihat google maps, mencari dimana rumah Samuel. "mana rumahnya?"Deon celingak-celinguk. Deretan rumah besar dan mewah dengan latar luas dan pagar besar telihat sejauh mata memandang. Ini adalah kawasan rumah orang-orang elit. Ada satu temen Deon yang tinggal di kawasan ini juga. Kabarnya, semua orang-orang yang tinggal disini gajinya empat digit sebulan, mobil mereka tidak jauh-jauh dari lamborghini, bmw dan pajero. di dalam rumahnya semua memiliki kolam renang. Mereka juga membayar ratusan satpam hanya untuk menjaga kawasan mereka. Orang-orang disini, kastanya satu kali lebih tinggi dibandingkan keluarga Deon waktu kaya raya. "ini rumahnya."Cecil menunjuk salah satu rumah besar. Ralat, rumah paling besar diantara yang lain. Rumah dua tingkat bercat abu-abu, ditopang pilar besar yang terkesan begitu megah, di tambah dengan dua patung macan di samping pintu, membuat semakin gagah saja rumah itu. Bukan hanya rumahnya, halaman rumahnya berhasil menyedot perhatian Cecil, halamannya begitu sangat luas, seluas lapangan bola. Ada air mancur di tengah-tengah nya dan kursi taman tidak jauh dari sana. Beberapa tumbuhan cantik bermekaran di area halaman rumahnya, ini emang istana sih. "Cil."Deon menepuk bahu Cecil"gue tarik kembali kata gue, kalo dia sentuh-sentuh lo biarin aja, kalo perlu lo godain balik. Mayan cil, kapan lagi lo jadi calon istri orang kaya banget begini." "Lo mau jual gue hah?!" "Kalo lo di jual ga bakal laku sih, mata si Samuel ini pasti katarak, makanya mau sama lo." "Lambemu."Tanpa dosa, Cecil meraup bibir Deon, sebelum Deon membalas perlakuan tidak sopan adiknya, Cecil sudah turun dari motor dan berjalan ke depan pagar rumah Samuel. Ada sebuah pos kecil di dalam dekat pagar. Terlihat dua orang sedang menikmati gorengan dan kopinya di dalam pos. "Pak, woy pak!"Panggil Cecil sedikit berteriak. "Pak!!"Pekik Cecil, baru kedua satpam itu keluar dari pos. Satpam itu menatap Cecil dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Ente punya lima ribu ga?"Tanya satpam itu pada temanya. Si temanya mengeluarkan uang dari saku celana dan memberikannya ke pak satpam. "Nih mba."Si satpam itu memberikan ulang lima ribuan pada Cecil. Alis Cecil berkerut. Ga satpam ga majikan, suka banget ngasih Cecil uang receh, emang Cecil kayak biduan banget apa yang pengenya di sawer terus. "Apanih maksudnya?" "Mba mau minta sumbangan buat masjid kan?" Jlebb... Emang muka Cecil mirip mba-mba sumbangan masjid ya sekarang, padahal Cecil udah dandan selama sejam dan pake pakaian rapih dikira mba-mba minta sumbangan, apalagi kalau Cecil pake baju biasa dan ga dandan, pasti udah dikira gembel kayaknya. Dari belakang, seseorang menepuk bahu Cecil"Kenapa cil, ga boleh masuk?"daritadi dia perhatiin si satpam tidak membukakan gerbang. "Ini nih, mereka pikir gue mba-mba minta sumbangan buat masjid." "Serius lo? Hahaha."Tawa Deon pecah, dia tertawa puas mengolok-olok Cecil"muka lo emang mirip mba-mba minta sumbangan." "Diem atau gue lakban mulut lo,"Ancam Cecil, dia mengambil HP di sakunya, mulai menghubungi si tuan rumah. Tut...tutt... "WOY SAMUEL GUE ADA DI DEPAN RUMAH LO NI, TAPI GUE GA BOLEH MASUK SAMA ALGOJO-ALGOJO LO, GUE PULANG AJA YA."Sembur Cecil marah-marah. "berikan hpnya ke satpam,"Kata Samuel dari seberang sana. "nih sambel terasi mau ngomong."Cecil menyodorkan hpnya kearah si satpam, sedikit ragu satpam itu mengambil HP Cecil. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, satpam itu hanya terus mengangguk-anggukkan kepalanya. "maaf pak, baik pak."Setelah panggilanya mati, si satpam itu membukakan gerbang yang besarnya sebesar badan gajah. Setelah membukakan gerbang, mereka langsung menunduk hormat pada Cecil"maafkan kami nyonya." "iya saya maapin, tapi nanti jangan dulangin lagi ya, atau saya pecat kalian." Udah pantes ga dia jadi nyonya besar? Pantes banget lah, masa engga. "mau kami antarkan sampai depan pintu rumah?" Cecil menggeleng, tanpa melepaskan pandanganya dari rumah megah di depanya. Kaki Cecil melangkah ke rumah Samuel. Ting.. Tong... Setelah sampai didepan rumah Samuel, Cecil memencet bell, tidak begitu lama, pintu besar itu terbuka, menampakkan sosok Samuel sudah rapih dibalut jas navy, bau wangi parfumnya menyeruak masuk kedalam sela-sela lubang hidung Cecil. "Satpam lo gila ya, masa gue dikasih uang lima ribu dikira mba-mba minta sumbangan masjid, emang ga majikan ga pegawainya sama aja ngeselinya."Semprot Cecil mencak-mencak masih tidak terima. Samuel menatap Cecil dari ujung kepala sampai ujung kaki "Tapi kamu memang mirip orang yang suka minta sumbangan." "Mau gue pukul."Cecil mengangkat tinjunya kedepan. Samuel terkekeh kecil. Calon istrinya galak juga ternyata. "Ayo masuk." **** Setelah menanyakan Cecil mau jalan-jalan kemana dan Cecil terus jawab terserah, akhirnya Samuel memutuskan untuk membawa Cecil jalan-jalan ke mall saja. mungkin karena bukan malam minggu, jadi tidak banyak pengunjung di mall, hanya segelintir orang saja, baguslah, jadi minim kemungkinan dia ketemu teman sekolah. "kita mau kemana?"Tanya Samuel, walau pasti akan di jawab terserah oleh Cecil. "makan kfc abis itu pulang,"Jawab Cecil singkat, padat, sedikit songong. Cecil tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, ada sesuatu yang mengalihkan perhatiannya. Ada sebuah dress lucu berwarna hijau tosko mengalihkan pandangan Cecil, dia menambil dress itu, pasti sangat bagus kalau dipakai olehnya. Tapi sebelum itu Cecil harus melihat berapa harganya. Kalau dia masih kaya dan banyak uang seperti dulu, pasti Cecil langsung mengambilnya tanpa melihat bandrol harganya dulu. "Dua puluh juta?!"Mata Cecil tebelalak lebar. Untuk sebuah dress tipis yang di pasar malam hanya sekitaran seratus ribu dapat tiga kata Crystin, ini malah udah sekelas harga motor. "kenapa di taro lagi?" "jelek warnanya." "kalo mau ambil saja." "udah gue bilang warnanya jelek." Samuel mengambil dress itu, lalu memanggil salah seorang pelayan. "iya pak, ada yang bisa saya bantu?" "bungkuskan ini." Pelayan itu mengangguk, mengambil dress di tangan samuel, lalu pergi untuk membungkus pesanan. Bibir cecil sedikit menganga. Gila aja, harga dress itu 20jt woy, dengan entengnya Samuel minta bungkus tanpa liat dulu harga dress nya, gila ya orang kaya kalo belanja. Cecil juga waktu kaya begitu, tapi kalo harganya sampai 20jt cuma buat dress mending beli yang lain saja. "Ada lagi yang ingin kamu beli?"Tanya Samuel. Sebenarnya ada lagi yang menarik perhatian Cecil, dia melirik tas cokelat susu yang di pasang di etalase. Tas kecil yang terlihat begitu cantik dan mewah, pasti kalau Cecil pake itu dia akan jadi pusat perhatian. Samuel mengikuti arah pandang Cecil, lalu dia mengerti. "Bungkuskan tas di depan etalase sana juga,"Pintanya menunjuk tas impian Cecil. Cecil menatap Samuel dengan tatapan kaget"apaan sih, main bungkus-bungkus aja, gue ga mau tas itu." "T.. Tapi yaudah deh kalo lo mau ngasih ya, makasih,"Cicit Cecil. Setelah membayar pesananya, Samuel dan Cecil keluar dari toko. "tadi harusnya lo gausah repot-repot beliin ini buat gue, gue juga sebenernya ga suka-suka amat." "yasudah saya balikin lagi."Samuel menarik Totebag ditangan Cecil. Namun Cecil langsung menariknya kembali dan memeluknya. "gausah, nanti repot lagi, gue terima dressnya, makasih." "mau nonton?"Ajak Samuel. Cecil menggeleng tegas"ga, gamau, gue ga suka di tempat tertutup rame-rame, Kelekar Cecil beralasan. Padahal salah satu hobinya adalah nonton. "bukanya kamu suka nonton?" "gausah ngarang ya, sok tau banget." "tapi kamu memang suka nonton kan?" "y...ya itu udah lama banget, sekarang udah ga suka lagi,"Jawab Cecil terbata-bata bohong. "tapi kakak kamu kasih tau satu jam yang lalu."Samuel menunjukkan chatnya dengan Deon. Cecil langsung merampas hp Samuel. Deon ternyata menuliskan semua hal yang disukai Cecil dan semua hal yang di benci Cecil, diakhir chat dia meminta uang kompensasi. "anak setan,"Umpat Cecil, bisa-bisanya dia menggadaikan adek kesayanganya demi segelintir recehan. "gue lagi ga mood nonton bareng-bareng, kalo mau ya nontonya berdua aja." Cecil yakin seratus persen Samuel tidak bisa melakukanya, akan sangat susah nonton bioskop cuma berdua doang, Apalagi mendekati weekend, pasti studionya banyak dipenuhi orang-orang pacaran. Cecil mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru ruangan, benar saja, Samuel lagi-lagi menuruti permintaanya, dia memesan semua kursi yang ada di bioskop hanya untuk Cecil. Memang orang kaya suka bertindak semaunya. "lo gila ya? Lo ngabisin uang puluhan juta buat sewa satu bioskop demi nonton berduaan sama gue?! Ckk, ck."cecil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis fikir. "kalo itu untuk kamu, saya tidak keberatan." "Sekalian aja kalo gitu lo beliin gue mallnya, kesel banget liat orang kaya ngamburin uangnya sia-sia, dikira nyari uang gampang apa." Jgeerrr... "Arrrrgghh!!"Teriak Cecil tersentak kaget. Penampakan setan muncul di layar bioskop, dia langsung bersembunyi di balik tubuh Samuel, tatanganya refleks mencengkeram tangan Samuel. Pasalnya, Cecil itu sangat takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan hantu. Kadang kalau temen-temnya nonton horor, dia selalu tidur di bioskop. Karena sekarang posisinya hanya ada dia dan Samuel, dia takut kalau ketiduran tubuhnya nanti di jamah-jamah oleh Samuel. "Setannya masih ga, setannya masih ga?" Tanya Cecil tidak berani sama sekali melirik ke layar di depanya. "Masih, tambah banyak."cengkeraman tangan Cecil semakin erat, Samuel mencoba menahan tawanya mati-matian, padahal sudah tidak ada setannya, tapi dia masih ingin Cecil memeluknya secara suka rela seperti ini. *** Jalanan masih tetap ramai padahal hari sudah semakin larut, tadi setelah nonton Samuel bilang dia harus ke kantor untuk meeting klien besok. Karena tidak keburu untuk antar Cecil, jadi Cecil memilih ikut ke kantor Samuel, sekalian melihat kantor calon suami. Mobil Samuel berhenti di depan sebuah gedung besar tingkat sepuluh. Orang di luar sana menggunakan pakaian serba hitam membuka pintu mobil Samuel. "Selamat malam Pak sam," Sapanya hangat sedikit membungkukkan badanya. Samuel turun dari mobil, lalu membukakan pintu belakang. Mengulurkan tanganya kearah Cecil, Cecil memutar bola matanya malas dan harus terpaksa meraih tangan Samuel untuk keluar dari dalam mobil. Cecil mengedarkan pandangannya saat sudah masuk kedalam kantor Samuel, mungkin karena sudah malam juga, jadi kantornya terlihat lebih sepi, hanya tersisa beberapa karyawan yang seperti lembur, karena muka mereka jelas-jelas penuh dengan tekanan. Brukkk.... salah satu karyawan wanita yang terlihat buru-buru menabrak tubuh Cecil, membuat kertas-kertas di tangan karyawan itu jatuh ke lantai. "maaf, maaf,"Kata karyawan itu sambil memunguti kertas-kertasnya. "kalo punya mata liat-liat dong, buru-buru sih buru-buru, tapi ya hati-hati dong! "Tukas Cecil. Karyawan itu mengangkat kepalanya, matanya menyalak, lah bukanya harusnya dia yang bilang itu ke Cecil. "kan saya udah minta maaf, lagian salah kamu juga dong, udah tau saya buru-buru, kamu malah ngehalagin jalan saya, harusnya kamu yang minta maaf ke saya, bukan saya." "Lah bukanya lo duluan yang nabrak gue, gausah membalikkan fakta deh mba," Solot Cecil lebih songong. Alis cecil berkerut, wanita yang memakinya itu tiba-tiba saja menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat. Refleks Cecil melengoskan kepalanya ke belakang. Sosok Samuel sudah berdiri di belakangnya, apa karena ada Samuel wanita itu berhenti mengoceh dan menundukkan kepalanya? "ada apa ini?" "perempuan ini menabrak saya pak,"Tunjuk wanita itu pada Cecil. "lah lo yang nabrak gue, kok malah nyalahin gue,"Solot Cecil tidak terima. "tuh kan pak, liat sendiri padahal jelas-jelas dia yang nabrak, saya malah minta maaf tapi dia ga terima." "maafkan calon istri saya."Mata wanita itu sedikit terbelalak, bahkan beberapa karyawan yang tidak sengaja mendengar keributan mereka kini memandang kearah Cecil. 'mampus, kenapa dia harus ngaku-ngaku kalo gue istrinya sih,'Rutuk Cecil dalam hati. Mendengar itu, si karyawan langsung membungkukkan tubuhnya pada Cecil "maaf buk saya tidak tau kalau ibu istri pak ceo, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya." 'Calon istri, belum jadi istri woy,'Ralat Cecil dalam hati. "Mau ke ruangan saya?"Tanya Samuel, kali ini Cecil mengangguk. Tanpa seizin Cecil, Samuel menggandeng tangan calon istri ke lantai paling atas menggunakan lift. Dia membawa Cecil masuk kedalam ruangan persegi cukup besar. Mulut Cecil sedikit menganga saat melihat dalaman ruangan tersebut. Dari depan ruangan ini terlihat biasa saja, tapi dari dalam ini adalah ruangan transparan begitu besar dengan dinding berlapis kaca membuat Cecil bisa melihat kerlap-kerlip kota yang indah dari atas sini. "gue kira lo kaya karna jadi bandar narkoba,"Celetuk Cecil asal, dia mendudukan tubuhnya diatas sofa empuk putih. Merentangkan tanganya kesamping, manik matanya menatap keatas, dia menghela nafas panjang. "kapan ya gue punya perusahaan sebesar ini."Cecil tertawa getir. Samuel mendudukkan tubuhnya disamping Cecil "semua perusahaan ini nanti akan jadi milik kamu, kalau kamu jadi istri yang baik."Samuel menoel hidung mancung Cecil tanpa melunturkan senyum manisnya. "cih, mau nyogok gue lo ceritanya. Awas ah, gue mau tiduran. Katanya lo ada meeting, sana meeting gih,"Usir Cecil mendorong samuel agar berdiri dari sofa. "Gapapa saya tinggal, nanti kalau kangen gimana?" "Lo hilang dari dunia ini juga gue ga peduli,"Gumam Cecil terkekeh-kekeh kecil sendiri. "Kalo butuh sesuatu telfon saya saja, saya akan langsung kesini." "Iya, iya bacot deh, cepet sana meeting, kalo bisa yang lama,"usir Cecil mengibas-ibaskan tanganya ke depan. kakinya mulai seenaknya naik keatas sofa. **** Sudah hampir jam 11 saat Samuel selesai dengan meeting hari ini. Biasanya setelah meeting dia akan ngopi-ngopi santai di ruang meeting. Tapi hari ini sebelum yang lainya pada keluar, Samuel sudah keluar duluan. Dia langsung masuk ke dalam ruanganya. Hening, tidak ada suara celoteh Cecil yang rewel, padahal samuel khawatir takut gadis itu ngambek dan mencak-mencak karena kelamaan menunggu. Samuel celingak-celinguk. Ternyata calon istrinya tengah meringkuk diatas sofa. Matanya sudah terpejam erat. Samuel menggeleng-geleng kecil, apa meetingnya begitu lama, sampai cecil tidak bisa menahan rasa kantuknya? Samuel melepaskan jasnya, menyelimuti tubuh Cecil lembut tanpa mau membangunkan gadis itu. Dia lalu duduk di depan Cecil, dia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah Cecil, senyumnya mengembang sempurna. Dia mengelus pipi Cecil lembut"kamu terlihat jauh lebih cantik sekarang." Tanganya berpindah menyentuh bibir kecil merah muda Cecil, setiap kali melihatnya, rasanya susah untuk Samuel menelan salivanya. wajah Samuel perlahan mendekat kearah Cecil, deru nafas mereka bercampur menjadi satu. Sekarang jarak mereka sangat dekat, bahkan hidung mancung mereka saling bergesekan. Cup Samuel mengecup lembut bibir Cecil, ini memang salah, tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri sekarang. Dia perlahan memejamkan matanya, merasakan rasa nikmat dari bibir tak pernah terjamah siapapun milik Cecil yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "hmmm."Sebuah lengguhan kecil keluar dari sela-sela bibir Cecil, Samuel buru-buru melepaskan ciuman sepihaknya, dia langsung bangkit berdiri dan membalikkan badanya. Cecil membuka matanya perlahan, kedua pipinya langsung merah merona, jantungnya rasanya ingin meledak keluar dari tempatnya, tanganya mendingin dan tubuhnya membeku di tempat. Dia menyentuh bibirnya sendiri dengan tangan bergetar, bayang-bayang bibir Samuel yang menciumnya tadi cukup lama. Apa tadi yang rasanya ciuman? Kenapa rasanya begitu aneh? Dan dengan berarti ciuman pertamanya sudah di rebut oleh Samuel? 'aarrrrghhhh ciuman pertama gue!!!'Teriak Cecil dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD