“Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi! Kau bukan anakku!”
Bersamaan dengan langkah kaki yang menjauh, tubuh gadis itu luruh di atas lantai. Bahkan tubuh tinggi itu sama sekali tidak menoleh, menulikan telinga atas tangis yang mulai terdengar kencang.
Kepalanya terus menoleh ke kanan-kiri, keringat yang mengucur di kening mengernyit itu tampak gelisah. Detik kemudian matanya terbuka dengan napas yang terdengar memburu, Hanna menelan ludah kasar. Kemudian mengedarkan pandangan, seketika napasnya menjadi sedikit lebih teratur.
Hanna menutup wajah dengan tangan, mimpi tadi sungguh membuatnya tidak tenang. Ketukan kencang membuat Hanna menoleh pada pintu, ia mengernyit sebelum kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu.
Ekspresi penuh kecemasan menjadi hal pertama yang Hanna lihat begitu pintu terbuka, ia melirik ke arah belakang Mario. Dua orang petugas hotel tampak berdiri di sana, sebuah kunci dan beberapa kartu akses yang berada di tangan salah satu petugas membuat Hanna mengerti. Belum sempat Hanna membuka mulut, Mario sudah lebih dulu mencengkeram kedua pundaknya.
“Daisy, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menjawab saat aku mengetuk pintu? Bahkan kau tidak mengangkat panggilan dariku, ada apa?” tanya Mario.
Pandangan pria itu jatuh pada wajah basah Hanna, sedetik kemudian dia langsung membawa tubuh itu dalam dekapan.
Hanna tersentak, ia melirik pada petugas hotel yang tampak canggung. Sebelum akhirnya mereka memutuskan pergi dan memberi privasi pada tamunya. Hanna menyentuh lengan Mario, ia sedikit mendorong tubuh pria itu meskipun percuma.
“Mario, aku baik-baik saja. Bisa kau lepaskan pelukannya?”
Mario mengikuti apa yang Hanna katakan, tetapi ekspresi khawatir masih tergambar jelas di wajahnya. Hal itu tentu saja membuat Hanna menghela napas pelan, apakah pria itu sungguh-sungguh mencemaskan keadaannya.
“Aku tertidur lelap sekali,” ucap Hanna. Ia menggaruk kepalanya, sembari mengalihkan pandangan ke lain arah.
“Sampai tidak sadar bahwa hari sudah malam,” lanjutnya ragu.
“Pagi,” sergah Mario cepat.
Hanna mendongak, “Pagi?”
Mario mengangguk, “Ya. Sepertinya kau tertidur nyenyak sekali, kemarin bahkan aku sudah mencoba membangunkanmu beberapa kali untuk makan malam. Ternyata kau selelah itu sampai tidak bangun-bangun, aku pikir kau pingsan.”
Hanna tergelak, menyadari bahwa jam tidurnya begitu lama. Ia merasa bersyukur untuk itu, tidur delapan jam atau bahkan tujuh jam begitu sulit untuknya dapatkan. Jadwal yang padat serta kesibukan lain membuat Hanna tidak dapat tidur lebih dari tiga jam. Ia menghentikan tawanya ketika menyadari raut wajah bingung Mario, Hanna berdeham.
“Ya, sepertinya aku terlalu lelah. Aku beristirahat dengan sangat cukup, sekarang aku akan menagih perkataanmu kemarin.”
Melihat Mario yang masih berekspresi sama, membuat Hanna melanjutkan perkataannya.
“Sebagai permintaan maaf, kau mengatakan akan mengajakku jalan-jalan dan membelikan apa pun yang aku mau. Kau tidak lupa, 'kan? Ingat, aku tidak suka seseorang menarik ucapannya.”
Mata Mario membulat, dia sepertinya baru ingat ucapan yang dia katakan kemarin. Mario menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, tawa canggung yang diperlihatkan membuat Hanna menatapnya malas. Sebelum kekasihnya itu marah, Mario dengan cepat berbicara.
“Begini, Babe. Sepertinya tidak bisa hari ini.” Mario melirik pada Hanna,
“Waktunya tidak akan sempat sampai perjanjian dengan Tuan Sakha.”
Hanna mendengus. “Jadi orang itu masih mengingat janjinya. Tapi bukankah seharusnya kau bersikap jual mahal, bagaimana mungkin memaafkan seseorang yang tidak profesional begitu mudah? Dia sudah membuat kita menunggu hampir dua jam.”
“Daisy, aku mohon mengertilah. Ini bukan kesalahan Tuan Sakha, kau tidak ingat apa yang aku katakan kemarin? Di sini akulah yang salah, lalu bila aku bersikap jual mahal seperti itu. Maka sama saja dengan melepaskan peluang besar, kau tahu sendiri bahwa perusahaan itu rela membayar mahal asalkan sesuai kriteria yang diinginkan.”
Penjelasan Mario tak serta merta membuat kekesalan Hanna luruh, tetapi setelah di pikir-pikir mungkin saja perkataan Mario ada benarnya.
Hanna mengembuskan napas pelan.
“Baiklah. Aku akan bersiap, sepertinya berendam dapat membuat suasana hatiku membaik.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Hanna berbalik dan menutup pintu tepat di depan wajah Mario. Pria itu hanya mampu menggeleng sembari tersenyum maklum, kemudian berbalik dan melangkah menuju kamarnya tepat di samping kamar Hanna.
•
Kaki berbalut sepatu hitam dengan hak tinggi 3 cm itu terus melangkah dengan anggun, aura yang menguar membuat semua mata memandang. Tatapan dingin terpancar jelas di matanya, Hanna terus melangkah, mengabaikan Mario yang tengah sibuk dengan ponsel.
Apa yang ia harapkan, pria itu tidak akan berhenti meskipun mulutnya berbusa terus mengulang kalimat yang sama.
“Kau pasti sangat ingin kakimu cedera kembali,” ujar Hanna.
“Apa?” secara spontan Mario melirik pada kakinya. Kemudian dia menoleh ke arah Hanna, sedetik kemudian tawanya menggelegar.
Hanna menatap pria itu dengan kening berkerut, tawa Mario mengundang perhatian orang-orang di sana. Terlebih lagi karyawan wanita, terdengar beberapa kali suara memekik dengan mata berbinar
“Kau berniat tebar pesona lagi?” sindir Hanna.
Mario menoleh cepat, matanya membulat untuk sesaat. “Tidak, Daisy.”
Kemudian tertawa renyah.
“Kenapa kau selalu curiga padaku?” tanya Mario.
“Kau tidak bisa dibiarkan berjalan seorang diri saja sepertinya,” ujar Hanna.
Mario menghentikan langkahnya, sontak saja Hanna mengikuti hal yang sama. “Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau selalu curiga padaku?’ ulangnya.
Hanna terdiam beberapa saat, ia tidak menampilkan ekspresi berarti. “Jangan membuatku terlihat seperti kekasih yang posesif, kau mengerti maksudku, Mario.”
“Tidak, aku tidak mengerti. Aku lebih senang kau mengatakannya dengan jujur.” Mario menatapnya serius.
“Kau cemburu, 'kan?” tebak Mario.
Dia tidak bisa menahan senyumnya, ketika melihat tatapan tajam Hanna padanya.
Tidak ada balasan dari Hanna, sampai akhirnya mereka tiba di depan meja resepsionis. Hanna menoleh, kemudian memberikan gerakan dengan dagunya.
“Hentikan itu, dan katakan tujuan kita. Cepat!”
Mario terkekeh geli, walaupun menunjukkan wajah garangnya, tetapi tidak membuat Mario takut. Sebaliknya, pria itu justru semakin ingin menggoda kekasihnya itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” suara resepsionis terdengar.
“Ah ... “ Mario mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya, lalu menyodorkan kartu tersebut pada resepsionis. “.. saya sudah memiliki janji.”
Resepsionis tampak mengecek kartu nama yang diberikan tamunya, kemudian mulai menghubungi sekretaris sang bos melalui telepon di sana.
Setelah mengatakan beberapa kalimat, panggilan pun berakhir. Resepsionis kembali memberikan kartu nama tersebut, dia tersenyum.
“Anda bisa menunggu di ruangan tuan Sakha, beliau tengah rapat dan akan berakhir sebentar lagi. Saya akan tunjukkan ruangannya,” jelas resepsionis.
Mario melirik Hanna, kemudian menggeleng cepat.
“Ah, tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri, terima kasih.” Usai mengatakan itu, Mario memasukkan kembali kartu nama dan menggenggam tangan Hanna, lalu membawa kekasihnya itu pergi dari sana.
•
Tepat ketika pintu lift terbuka, sekitar lima orang karyawan pun masuk. Hanna dan Mario sontak mundur, memberikan sedikit ruang untuk bernapas. Hanna melirik ke arah Mario yang ternyata juga tengah menatapnya, Hanna mengernyit melihat tingkah aneh pria itu.
Ada tiga orang karyawan wanita dengan kemeja dan rok pendek di atas lutut, tepat di depan mereka. Namun, tak biasanya Mario hanya diam dan bukannya memandang para wanita itu.
Seolah mengerti pikiran Hanna, Mario tersenyum geli. Dia mendekat, lalu berbisik.
"Aku tidak akan melakukannya lagi, karena ada wanita yang lebih indah untuk dilewatkan di mataku kini."
Hanna seketika menjauh saat embusan napas Mario mengenai wajahnya, ia menatap geram pada pria yang kini tampak tertawa tanpa suara.
"Kau dengar itu? Pergi ke kantor saja tidak boleh mengenakan pakaian kerja, aneh sekali anak bos itu!"
Hanna dan Mario sama-sama terkejut ketika salah seorang karyawan wanita, bersuara dengan keras.
"Padahal karyawan wanita di perusahaan ini hanya beberapa orang saja, apa dia juga berniat perusahaan ini hancur? Apa dia pria tidak normal? Kalian ingatkan, dia tidak pernah terlihat berkencan maupun bersama dengan seorang wanita. Lalu kini hanya karena pakaian saja, dia bisa begitu cerewet."
Kemudian wanita lain menyahut, baik Mario maupun Hanna dibuat canggung oleh keadaan tanpa mengenal situasi tersebut.
"Percuma saja tampan, bila dia terlalu pemarah dan bermulut pedas."
Kalimat berikutnya berhasil membuat Hanna tertawa, tetapi ia memilih menahannya di banding harus menahan malu. Entah mengapa kalimat yang terdengar seperti curhatan itu, memancing selera humornya. Hanna berbalik dan memunggungi Mario, pundak perempuan itu gemetar seiring dengan kuatnya rasa ingin tertawa.
Di sisi lain, Mario menatap bingung hal itu. Pintu lift terbuka, kelima orang itu pun keluar dari sana. Mario melirik pada floor indicator elevator, setelah ini lantai yang ditujunya. Suara tawa Hanna membuatnya menoleh, perempuan itu tertawa keras, bahkan Mario pun sampai terkejut melihat hal yang tak biasa itu.
"Daisy, ada apa? Kenapa kau tertawa?" tanyanya.
Hanna berhenti tertawa, kemudian mengusap air di sudut matanya.
"Aku hanya merasa lucu dengan perkataan karyawan tadi," katanya.
Mario mengernyit. "Yang mana?"
"Aku hanya merasa terhibur dengan kalimat, percuma saja tampan bila dia bermulut pedas. Aku jadi bisa membayangkan betapa menakutkannya pria itu," tutur Hanna yang lantas membuat Mario menampilkan ekspresi tak suka.
Dia berdeham, lalu mendekat dan mengurung tubuh Hanna dengan lengan dan dinding elevator.
"Mario, apa ini? Menyingkir," ucap Hanna tak nyaman.
"Aku tak suka kau tertawa karena memikirkan pria lain," desis Mario dengan nada rendah.
Hanna menghela napas berat, lalu menyingkirkan tangan Mario dan menjauh. Ia keluar dari pintu lift yang baru saja terbuka, di sisi lain Mario tampak menunduk seraya mengembuskan napas kasar.
Lagi-lagi dia tidak bisa menahan kecemburuannya, Hanna mungkin akan semakin merasa tidak nyaman dengannya nanti.
"Kenapa masih di situ? Kita sudah sampai."
Suara Hanna terdengar dan membuat Mario menoleh, perempuan itu sengaja menahan pintu lift agar tidak tertutup kembali. Melihat hal kecil yang dilakukan Hanna, sontak membuat hatinya hangat.
Mario tersenyum, lalu berjalan keluar dari sana. Mungkin seperti ini rasanya ketika Hanna melihatnya bersama dengan wanita lain, pantas saja perempuan itu marah.
Mario menoleh pada Hanna yang berjalan di sampingnya, seketika rasa bersalah menyeruak masuk ke dalam hatinya.