“Kenapa? Kau tampak gelisah?” tanya Mario setelah beberapa menit memperhatikan sang kekasih.
Hanna menoleh cepat, ia tertawa hambar. “Tidak ... Maksudku, aku tidak tahu mengapa.”
Mario tersenyum tipis, dia mengelus puncak kepala Hanna dengan lembut. “Kau sepertinya gugup, tenanglah. Tuan Sakha adalah orang yang baik, meskipun dia agak sedikit dingin mungkin.”
Alih-alih tenang, Hanna justru semakin gelisah. Nama yang kembali disebut Mario untuk ke sekian kali, mungkin adalah salah satu penyebab besar kegelisahannya sejak memasuki ruangan ini. Telapak tangan yang semakin basah membuat Hanna bergegas meraih beberapa lembar tisu di meja, mengelapnya dengan kasar seraya memandang ke segala penjuru ruangan.
Denting jam dinding yang berdetak mengisi kesunyian, detik yang terus berlalu bagaikan hitungan mundur untuk kegelapan yang mungkin akan merenggut kesadarannya. Napas Hanna semakin memburu, keringat kini membasahi wajahnya yang mulai memucat.
Mario kembali melirik jam tangannya, sebentar lagi tuan Sakha akan tiba. Napas yang terdengar memburu membuatnya menoleh, wajah pucat Hanna yang penuh keringat menjadi hal pertama yang Mario lihat. Pandangan Hanna tampak kosong, dengan napas yang semakin tak beraturan.
Mario mengernyit, air conditioner menyala dengan baik. Lalu apa yang membuat kekasihnya itu berkeringat, dia memutar otaknya. Ingatan beberapa tahun lalu membuatnya tersentak, dengan cepat Mario meraih kedua tangan Hanna.
“Daisy? Daisy?” panggilnya.
Tepukan yang sedikit keras pada pundak, menyadarkan Hanna dari lamunan. Ia menoleh dan mendapati Mario tengah menatapnya khawatir, tangan pria itu mengusap peluh di keningnya.
“Ambil napas yang dalam, lalu keluarkan perlahan.” Mario memberikan contoh, tak berapa lama Hanna mengikutinya. Setelah dirasa napas kekasihnya sudah kembali teratur, barulah Mario memberikan pelukan.
“Kau membuatku takut lagi,” lirih Mario.
“Jangan mengatakan baik-baik saja jika akhirnya seperti ini, katakanlah jika ada yang membuatmu tak nyaman.”
Mario terus memberikan elusan lembut pada punggung Hanna, kekhawatirannya masih belum hilang meskipun perempuan itu telah mendapatkan kesadarannya lagi.
Ini adalah kali kedua Hanna mengalami serangan panik, serangan pertama adalah ketika Hanna memulai kariernya sebagai model, lebih tepatnya ketika mendapatkan pemotretan pertama.
Mario mengurai pelukannya perlahan, dia mengusap wajah Hanna dengan lembut. “Apa sebaiknya kita pulang saja? Aku akan berbicara pada tuan Sakha, beliau pasti mengerti.”
Hanna tersentak, ia menggeleng cepat. “Bukankah kau sangat menginginkan kerja sama ini? Aku tidak mau kau di cap buruk oleh perusahaan, aku tak apa.”
Walaupun perkataannya terdengar meyakinkan, tetapi mata Mario tidak dapat dibohongi. Terlebih lagi ketika melihat tubuh Hanna yang mula gemetar, tak lupa dengan pandangan yang tak fokus. Mario menghela napas panjang, dia melirik pada jam tangan. Lalu berdiri.
“Kita pulang saja, kau harus istirahat.” Mario meraih tangan Hanna, sembari menunggu perempuan itu untuk ikut berdiri.
Namun, belum sempat Hanna berdiri, pintu sudah lebih dulu terbuka. Melihat kehadiran sosok yang dikenalnya, membuat Mario semringah. Bahkan pria itu sampai melupakan atensinya kepada Hanna, dan segera menyambut orang yang baru saja memasuki ruangan.
“Anda datang lebih cepat,” ujar orang itu.
Hanna mengernyit mendengar suara yang tak asing itu, meskipun sudah lama tenggelam dalam kepalanya. Suara tawa renyah Mario terdengar, dia menggeleng.
“Tentu, saya hanya terlalu bersemangat untuk kerja sama ini.” Pandangan tuan Sakha yang mengarah ke belakang, sontak membuatnya ikut menoleh. Mario bergegas mendekat pada kekasihnya yang tampak melamun, lalu merangkulnya.
“Daisy, perkenalkan. Beliau adalah tuan Sakha ... “ ujar Mario.
Mario seolah lupa dengan apa yang hendak dirinya lakukan sedetik lalu, kehadiran tuan Sakha sepertinya berhasil membuatnya tak ingin kehilangan kesempatan.
Hanna mendongak perlahan, sesaat kemudian napasnya tercekat. Mata Hanna membulat dengan mulut yang terbuka, keringat dingin kembali membasahi wajahnya.
Mario tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya. “Beliau adalah tuan Bara Sakha Husain, direktur perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita.”
Bara tersenyum, dia mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu, Hanna.”
Kalimat terakhir telah sukses meruntuhkan segala pertahanan Hanna, tubuhnya seolah tertarik ke belakang, pandangannya mulai buram, sampai tak berapa lama kegelapan merenggut kesadarannya.
•
Bau obat-obatan memasuki rongga hidungnya, kelopak mata itu mengerjap sebelum terbuka. Cahaya terang yang masuk langsung ke retina mata membuat Hanna kembali memejamkan mata, tetapi tangan kanannya terasa berat untuk terangkat di saat dirinya hendak mengucek mata. Rambut lebat pirang menjadi hal pertama yang Hanna lihat, tampak Mario tengah menidurkan kepalanya di atas tangan Hanna.
“Mario,” panggilnya lirih.
Namun, pria itu tak kunjung mengangkat kepalanya. Belum sempat Hanna memanggil kembali, pintu sudah lebih dulu terbuka. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, melihat sosok tinggi itu memasuki ruangan.
Mata mereka bertemu, kemudian pria itu menyunggingkan segaris senyum. Hanna mengangkat tangan kirinya, kemudian mengguncangkan pundak Mario sedikit kencang. Tak berapa lama pria itu melenguh, lalu mendongak dan menatapnya dengan mata membulat.
“Kau sudah sadar?! Syukurlah, aku kira tidak akan melihatmu lagi.”
Risi, Hanna sedikit tak nyaman dengan suasana di dalam ruangan putih ini. Tatapannya kembali jatuh ke arah pria yang masih berdiri di depan pintu, tatapan datar itu terus tertuju kepadanya. Hanna benar-benar melihat sosok yang berbeda dari orang yang sama, meskipun telah lama berlalu, ingatan tentang pria di depannya masih betah berada di sisi terdalam kepalanya.
Ia benci mengakui, bahwa ingatan itu harus kembali muncul dan menempati seluruh memorinya. Pria itu berdeham, membuat Mario menoleh ke asal suara. Detik berikutnya, pria itu berdiri.
“Anda masih berada di sini?!” seru Mario.
Hanna mengernyit. Di sini? Batinnya.
“Ah, maaf. Saya kira Anda sudah kembali ke kantor, maaf atas kejadian hari ini. Tetapi bisakah kita membahas masalah kerja sama setelah kondisi kekasih saya pulih?”
Perkataan Mario membuat Hanna menjadi pusat perhatian di sana, tatapan pria itu masih sama dan membuatnya memilih memalingkan wajah.
“Tentu,” balas Bara.
Hanna kembali menatap pria itu, keningnya mengernyit.
Senyum yang diperlihatkan kali ini sedikit lebar, meskipun tatapannya tak berubah.
“Dia harus baik-baik saja karena ada banyak hal yang ingin kutanyakan,” kata Bara.
Mario menatap bingung, dia menoleh pada Hanna yang sempat menegang beberapa detik. Lalu kembali menoleh ke arah calon partner kerja sama, tatapan tuan Sakha tampak intens mengarah tepat pada Hanna.
Dilihat dari mana pun, Mario tahu ada ketertarikan di mata itu, sebagai sesama pria tentu saja dia pernah merasakan. Menyadari hal itu membuatnya sedikit kesal, sehingga dengan sengaja berdiri tepat di depan tuan Sakha dan memutus jarak pandang pria itu.
Mario berdeham, kemudian memaksakan segaris senyum.
“Saya akan segera menghubungi Anda bila kondisi kekasih saya telah membaik, harap memakluminya.”
Dia sengaja memberikan penekanan pada kata kekasih, bahkan ekspresi wajahnya menjadi datar.
Kedua pria itu saling memberikan tatapan datar, dilihat seperti apa pun Mario adalah pacar yang posesif. Bara tertawa renyah, tatapannya tak lepas dari Mario yang kini menatapnya bingung.
“Ah, maaf. Saya hanya teringat sesuatu yang lucu,” kata Bara setelah berhenti tertawa.
“Baiklah, karena untuk sekarang tidak memungkinkan. Saya akan menghubungi Anda dan membuat jadwal baru, saya harap Anda berkenan untuk memberikan jawaban yang saya inginkan.”
Bara bergerak ke samping, lalu tersenyum kembali. “Aku harap kau tidak pingsan ketika kita bertemu lagi, sampai jumpa!”
Pria itu berbalik dan beranjak dari sana, mengundang tanda tanya besar di benak Mario. Pria itu langsung menoleh ke arah Hanna, dan menatap perempuan itu dengan tatapan menuntut.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Daisy?"
Hanna mendongak, ia menghela napas. Karena cepat atau lambat, hal ini pasti terjadi.
"Dia adalah orang yang dulu ku ceritakan," lirihnya.
Mario mengernyit, tampak tak mengerti dengan perkataan Hanna. Namun, tak berapa lama ekspresi terkejut terlihat di wajahnya.
"Jangan katakan dia ...!"
TIGA JAM SEBELUMNYA.
Senyum penuh kepuasan kembali terukir di wajahnya, kaca mata baca itu diletakkannya di atas meja. Dokumen-dokumen penting berceceran di sana, laptop yang menyala kembali menjadi fokus utamanya. Bara mengetikkan beberapa kata, sampai muncullah sebuah biografi perusahaan.
Dia terus membawa mouse itu hingga kini layarnya menampilkan beberapa foto, senyumnya semakin melebar. Kini pandangan Bara beralih pada satu dokumen yang terpisah dari dokumen lainnya, satu-satunya dokumen yang dirinya jaga dengan begitu hati-hati.
Setelah memastikan isi di dalam dokumen tersebut sesuai dengan kemauannya, Bara membalikkan kursinya sampai menghadap ke arah kaca. Hamparan gedung pencakar langit terlihat jelas di sini, Bara memandang jauh ke depan. Lamunannya buyar kala suara ponsel terdengar nyaring di ruangan, Bara mengeceknya dulu sebelum mengangkat panggilan tersebut.
Dia berbicara beberapa kata, sebelum mematikan panggilan secara sepihak. Pintu terbuka, seorang pria memasuki ruangan dengan santai.
“Tuan, ruang rapat telah siap. Apa Anda akan pergi sekarang?”
Bara membalikkan kursi pada posisi awal, dia terdiam beberapa saat sebelum mengangguk. “Kau sudah siapkan semuanya? Aku tidak ingin ada lubang sekecil apa pun.”
Pria itu berdiri, kemudian meraih jas hitam di sandaran kursi dan memakainya. Setelah memastikan penampilannya siap, barulah dia melangkah. Wajah tanpa ekspresinya menjadi hal biasa yang dirinya tampilkan ketika berada di tempat kerja, lebih tepatnya Bara mencoba bersikap profesional.
“Sam ... “ panggilnya yang membuat pria di belakangnya menyahut dengan gumaman.
“Kau sudah menyiapkan tempat untuk makan siang kali ini? Aku ingin menu yang tidak mengandung makanan laut,” lanjut Bara.
Sam mengangguk, pria keturunan Thailand itu menyalakan tab yang dibawanya. Lalu mengecek kembali tempat yang telah disiapkan, barulah dia kembali mengangguk dengan yakin.
“Saya sudah menyiapkannya sejak jauh-jauh hari, dan sudah saya pastikan langsung di sana tidak menyediakan menu yang mengandung makanan laut.”
“Kerja bagus, aku akan memberikan bonus untukmu.” Bara melanjutkan langkahnya, melewati satu persatu lorong sampai tiba di sebuah lift.
Sam terkekeh geli, dia ikut masuk ke dalam lift. “Aku tidak butuh bonus uang, berikan saja liburan untukku, seminggu mungkin?” Nada bicaranya terdengar lebih santai kali ini, suara tawa kecil Bara terdengar.
“Oke, setelah kau menyelesaikan beberapa tugas lagi. Aku akan memberikan tiket pesawat ke Bali, bukankah kau sangat menginginkannya? Ajaklah juga pacarmu,” tutur Bara.
“Itu bukan hal yang bagus,” keluh Sam.
“Kenapa? Kalian bertengkar lagi?” tebak Bara.
“Hanya masalah sepele, Jessy marah karena aku melupakan hari jadian kami yang ketiga. Kau tahu tidak bahwa wanita begitu menyeramkan ketika marah? Dan itu benar adanya,” tukas Sam.
Sam melirik ke arah Bara yang tampak sibuk dengan ponselnya, Sam mendengus.
"Sudahlah, aku akan minta liburan langsung kepada ibumu."
Kalimat itu sontak membuat Bara menoleh, dia mengernyit. "Kenapa? Aku bos mu."
"Jangan lupa, aku bekerja untuk ibumu. Lagi pula kenapa kau bisa berada di posisi kakakmu? Seingatku, kau sangat membenci pekerjaan seperti ini. Kau lebih senang menghabiskan waktu dengan kamera," ungkap Sam.
Bara terdiam, bahkan sampai beberapa detik berlalu dia tidak berniat menjawab.
Melihat sikap diam Bara, membuat Sam mendengus. Pria itu memilih untuk mengecek ponselnya, dan mulai sibuk terhadap benda itu. Satu notifikasi muncul, melihatnya membuat Sam terkejut.
"Mereka sudah tiba," katanya.
Bara menoleh dengan bingung. "Siapa?"
"Model yang akan bekerja sama dengan kita," sahut Sam sembari memasukkan ponsel kembali ke saku jas.
Degup jantung yang mulai menggila, kegugupan yang muncul, dan wajah yang kaku tak bisa Bara sembunyikan. Pria itu memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan dari Sam yang peka.
"Lagi-lagi seperti ini," ucap Sam.
Dia berdecak seraya menggeleng. "Sebenarnya ada hubungan apa kau dan model itu? Kau mulai bertingkah aneh ketika melihat majalah berisi wajah perempuan itu."
Bara berdeham, dia memilih mengeluarkan ponsel dan berpura-pura memainkannya.
Suara denting lift diikuti pintu yang terbuka bagai penyelamat untuk Bara, diam-diam dia tersenyum. Lantas keluar lebih dulu, disusul Sam di belakangnya.
"Jadi, benar-benar ada sesuatu di antara kalian?"
Sam masih belum berhenti, dia sudah mulai penasaran terlebih ketika melihat ekspresi aneh di wajah Bara yang jarang menampilkan ekspresi berarti. Namun, pertanyaannya hanya di balas angin. Bara terus melangkah, sebuah ruangan di depan sana menjadi akhir pembicaraan sepihak itu.
Bara merapikan jas kerjanya, lalu mencoba berekspresi senormal mungkin. Dia menoleh pada Sam, wajah curiga pria itu membuatnya mendengus.
"Hentikan rasa penasaran mu itu, siapkan saja proposalnya dan berikan padaku."
Pintu kaca di depannya terbuka, dan tertutup dari dalam sesaat sebelum Sam membuka mulut. Dia menghela napas, kemudian berbalik dan memilih pergi.
Dibukanya kembali tablet di tangannya, setelah itu memperhatikan wajah model yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini. Dilihat dari manapun, model dari Inggris itu tidak terlihat seperti orang luar. Lebih mirip seperti orang Asia, pandangan Sam beralih pada ruangan yang dimasuki oleh Bara.
Entah apa yang terjadi pada pria itu, sampai merelakan banyak uang demi membawa model tersebut ke Indonesia. Bahkan memintanya secara khusus untuk menyiapkan sebuah restoran untuk makan siang nanti, restoran tanpa ada menu makanan laut di dalamnya.