Bab 7 Permusuhan

1159 Words
Sudah lebih dari dua puluh menit, Mario tampak uring-uringan. Pria itu terus berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik ke arah Hanna yang duduk di sisi ranjang rumah sakit. Mario menghentikan kegiatannya saat satu ide muncul, dia mendekati Hanna dengan cepat. "Aku punya ide, batalkan saja kontraknya dan kita kembali diam-diam ke London." Hanna memutar bola matanya, kalimat yang sama Mario lontarkan. Hanna menghela napas, tingkah pria itu menjadi aneh setelah dirinya mengatakan siapa sebenarnya Bara itu. Dan hal yang sudah ia duga terjadi, Mario terlihat begitu kesal sampai-sampai semangatnya untuk kerja sama ini menjadi hilang. Hanna pun tidak tahu harus melakukan apa, ia masih bisa berpikir jernih dari pada Mario. Melakukan seperti ide Mario, sama saja dengan membawa masalah lebih besar kepada mereka. Mungkin bagi Bara, pembatalan kontrak tidak terlalu berpengaruh banyak untuk pria itu. Namun, bagi dirinya yang tidak memiliki nama besar, hal ini tentu saja akan menjadi akhir kariernya. Suara teriakan Mario mengejutkan Hanna, pria itu tampak frustrasi, menjambak rambut sendiri dengan ekspresi kesal. "Jangan bertindak gegabah, Mario. Kau ingat, siapa yang paling antusias dengan kerja sama ini?" Mario melepaskan tangannya dari rambutnya sendiri, kemudian duduk di sofa tepat beberapa langkah di depan Hanna. "Ya, dan aku sangat menyesal seandainya tahu dia adalah pria yang menyebabkan dirimu begitu menderita lebih awal. Aku tidak akan pernah menerima kontrak itu," kata Mario. "Karena itulah mengapa kita diberikan otak untuk berpikir," sahut Hanna. Mario menatap Hanna dengan ekspresi bersalah. "Daisy, aku benar-benar minta maaf. Aku janji kita akan kembali secepatnya, sekarang kau harus fokus terhadap kesehatanmu. Jangan memikirkan apa pun." Hanna melirik sekilas pada Mario yang kini telah duduk bersandar di sana, pria itu tampak memejamkan mata dengan kepala mendongak. Tak jauh beda dengan Mario, dirinya pun kini harus berpikir agar kontrak itu batal. Andai saja Mario tidak bertindak gegabah atau setidaknya bertanya sebelum kontrak itu terjadi, mungkin mereka tidak akan dalam posisi sulit ini. Namun, semua telah terlanjur terjadi. Tidak akan mudah memberi alasan kepada Bara, Hanna yakin itu mengingat sikap pria itu kini. Pintu yang terbuka mengejutkan mereka, baik Hanna maupun Mario sama-sama menoleh ke arah yang sama. Mario yang bereaksi lebih dulu kala melihat siapa gerangan yang memasuki ruang rawat Hanna, pria itu berdiri dan ekspresi kesalnya kembali muncul. Di sisi lain, Hanna pun tampak terkejut mendapati orang yang sedari tadi mereka ributkan kini berdiri di ambang pintu dengan keranjang berisi buah-buahan di kedua tangannya. "Selamat pagi, Nona Hanna." Sapaan itu mengalun lembut, tetapi menghantarkan hawa panas pada Mario. "Boleh aku masuk?" suara Bara kembali terdengar. Hanna melirik Mario yang menatap Bara dengan sengit, ia menghela napas sebelum mengangguk pelan. Bara melangkah lebih dalam, lalu meletakkan keranjang buah yang dibawanya ke meja di samping ranjang. "Saya membawakan buah-buahan, stroberi dan anggur. Bukankah kau menyukainya?" Mario tidak tahan lagi! Pria itu berdiri lalu mendekat ke arah Bara dengan tangan terkepal, seolah mengerti apa yang hendak Mario lakukan, Hanna bergegas berdiri dan mencegah sesaat sebelum kepalan tangan itu melayang. Bara menoleh, kejadian itu begitu cepat. Wajah Mario yang memerah dengan mata melotot, seperti membuktikan pria itu tengah dalam keadaan hati yang buruk. Pandangan Bara beralih pada kepalan tangan Mario yang seolah hendak mendarat ke arahnya. Dia tersenyum miring, pria di depannya ini mudah tersulut. "Maaf, Tuan Sakha. Sepertinya Anda tidak perlu melakukan ini," ucap Hanna setelah membawa Mario kembali duduk di sofa. Bara mengernyit, dia melirik pada Mario sebelum kembali menatap Hanna. "Kenapa? Saya hanya berniat baik kepada seseorang yang akan membantu memasarkan produk saya," ucapnya. Baik Hanna maupun Mario sama-sama menoleh, seolah ada dalam satu pemikiran yang sama, Hanna memberi isyarat pada Mario untuk diam. Hanna berdeham, menatap canggung pada pria di depannya. "Begini, Tuan Sakha. Mengenai kerja sama kita, saya pikir ...." "Ah, mengenai kerja sama. Karena kalian telah menyetujuinya sejak awal, maka saya pun menolak banyak model terkenal dan telah mendapatkan kritikan pedas orang-orang. Jadi ..." Bara tersenyum sampai membuat matanya menyipit. ".. jangan kecewakan saya." Mulut Hanna seolah terbungkam oleh kalimat Bara, pria itu seperti tahu apa yang hendak dirinya katakan dan memotong kalimatnya di waktu yang tepat. Bara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sudah waktunya dia kembali ke kantor, lirikan sekilas dirinya berikan pada Mario sebelum kembali menatap Hanna. "Untuk membahas kerja sama ini, kau tidak perlu khawatir. Istirahatlah sampai benar-benar pulih," tukas Bara. Dia berbalik dan hendak pergi, tetapi kembali menoleh. "Makanlah stroberinya, kau sangat menyukainya, 'kan? Aku pamit," kata Bara sebelum benar-benar pergi dari sana. Mario tak tahan lagi, dia hampir saja mengejar Bara andai saja Hanna tidak mencegahnya. "Apa-apaan pria itu?! Dia bertingkah seolah mengenalmu lebih dari aku," gerutu Mario. Hanna tertegun, ia melirik keranjang berisi buah-buahan yang dibawa oleh Bara. Rasa hangat perlahan menjalar di hatinya, hal kecil yang membuatnya hampir goyah. ~~ Langkahnya tergesa-gesa, bahkan sapaan para pegawai sama sekali tak Bara hiraukan. Pria itu terus memacu langkahnya, menaiki lift, dan memasuki ruang kerjanya. Bara melepaskan jas dan melemparnya ke sofa, dia mengendurkan dasi yang terasa mencekiknya sebelum mendudukkan diri di kursi. Barulah embusan napas terdengar begitu keras, membuat seseorang yang baru saja masuk ke ruangan menatap bingung. "Kenapa? Kau tampak kesal?" tanya Sam sembari duduk di sofa dan menyingkirkan jas Bara ke sisi lain. Bara tak menjawab, pria itu justru memilih untuk memejamkan mata sembari mencoba mengatur napasnya yang sempat memburu. Namun, kejadian beberapa menit lalu kembali muncul dan membuatnya mengumpat. Hal itu lagi-lagi mengundang keheranan Sam, pasalnya Bara bukanlah orang yang mudah mengumpat meskipun pria itu pemarah. "Sudah kuduga, dia pria yang buruk. Tapi mengapa perempuan itu masih saja bersama dengannya?" gumam Bara. "Siapa?" tanya Sam kembali. "Ah, apa manajer model itu?" tebaknya. Kursi kerja itu berputar dengan cepat, membuat senyum di bibir Sam melebar, terlebih ketika ekspresi kesal muncul di wajah Bara. "Untuk apa kau kesal? Tinggal rebut saja atau cari yang baru, mudah bukan? Lagi pula, apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Bara Sakha Husain? Kau putera pemilik perusahaan kosmetik, dan kini memiliki posisi yang bagus. Wanita manapun tidak akan menolak, aku jamin itu." "Ah, tapi sayangnya kau tidak lebih tampan dan menarik dariku." Sam berujar dengan penuh percaya diri. Bara menatapnya malas, memang benar dia bisa mendapatkan itu dengan mudah. Namun, Bara tidak menginginkan hal apa pun di atas kekuasaan yang dimiliki oleh ibunya. Karena harga diri laki-laki terletak pada tanggung jawab dan kerja kerasnya, sedangkan dia masih bergantung pada sang ibu. Pandangan Bara beralih ke arah sebuah pigura foto di atas meja, satu-satunya hiasan yang dia gunakan di ruang kerjanya. Foto seorang wanita dan pria dewasa, dan seorang perempuan dengan pakaian formal, juga dirinya ketika berusia sembilan belas tahun. Mereka tampak tersenyum lebar ke arah kamera, itu adalah foto terakhir dengan formasi keluarga lengkap. Tak ingin larut dalam perasaan, Bara memilih untuk membalikkan pigura foto tersebut dan memandang lurus pada kaca lebar di depannya. "Besok, Bu Amira akan berkunjung ke perusahaan. Pastikan kau tidak memberitahu model yang telah aku siapkan untuk produk baru," tutur Bara. Dia menoleh ke samping. "Pastikan kau menutup mulutmu," lanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD