Don't Cry, Tar

1022 Words
Langit terdiam. Sembari menunggu Mentari bangun, dia membereskan rumah tetangganya itu. Sebelumnya, Langit sendiri tidak pernah berbersih rumah. Tapi khusus untuk Tari, dia melakukannya dengan suka cita. "Sapu.., sapu!" Langit bergumam diiringi suara siulan ke luar dari mulutnya supaya dia tidak merasa sepi sendirian. Rumah itu memang tidak terlalu kotor, selain Mentari sering membereskan sendiri. Dia diketahui juga menyewa jasa bi Parti--tetangga ujung gang untuk membereskan rumah sekitar dua hari sekali. Namun, semenjak kehilangan. Mentari tidak memanggil wanita tua itu datang ke rumahnya. Bi Parti juga sungkan datang, takut mengganggu Mentari meski beliau juga merasa sangat prihatin. Sayangnya, begitulah terkadang. Menjauh bukan karena tidak peduli. Semata, tidak mau menambah beban pikiran. Satu-satunya orang yang tetap ke luar masuk rumah itu cuma Langit. "Huu! Lumayan kotor juga,ya!" Langit menghapus peluh yang keluar cuma setetes itu. Dia baru membersihkan area ruang keluarga, tapi dia sudah mengeluh. Sembari melihat hasil sampah yang dia kumpulkan Langit jadi mengerti. Mengapa setiap manusia diwajibkan beristighfar setiap hari kepada Illahi. Itu karena, hati manusia diibaratkan lantai. Meski setiap hari disapu, pasti akan menemukan kotoran dan debu. Begitupun kita, meski setiap waktu berdoa tapi akan selalu ada dosa. Selanjutnya, Langit membereskan makanan yang dia beli dan menatanya di piring. Saat lewat dapur, dia melihat beberapa tumpukkan piring kotor. Lalu Langit berdecak. "Tar... kalo Lo masih bilang Gue gak care sama Lo, sih itu keterlaluan namanya!" Dia terkekeh sendiri. Andai Tari sedang mode jail. Pasti anak itu akan berteriak. "Iyah! Lo tuh gak penting buat Gue. Cuma ngrepotin doang. Resek! Udah balik aja sana." Tanpa sadar, Langit merindukan suara Tari yang seperti petasan banting nyerepet tidak ada habisnya. "Eeh! Tunggu, kalo dia terus begitu, bisa-bisa Tari gak punya pacar. Siapa juga cowok yang mau sama cewek bawel bin manja kayak dia!" Sedetik kemudian, Langit tidak setuju dengan ucapannya. Nanti, meskipun cuma ada satu lelaki yang mau sama adiknya. Langit tetap akan menyeleksi orang itu dengan ketat. Jangan harap bisa membawa Tari ngapel dengan gampang. Pria itu harus melewati serangkaian test yang Langit buat khusus untuk calon pacar Tari. Salah satunya, harus lebih tampan dari dia. "Ha ha ha... kalo gitu mah! Mana ada, secara Gue ini paling tampan," ucapnya narsis sendiri sembari memegang kerahnya bermaksud sombong. Tapi dia harus puas saat bajunya kecipratan busa sabun cuci piring. Langit jadi memutar bola matanya malas. "Untung Tari gak liat, kalo liat, bisa-bisa dia sukurin Gue, nih!" Langit mencuci tangannya sampai bersih. Pekerjaan mencuci piring sudah usai. Dia melirik lagi ke arah kamar Tari. "Tuh bocah belom bangun. Gak laper apa?" Tapi Langit tidak mencoba membangunkan Tari. Dia sadar, mungkin Tari sudah sangat lama terjaga. Dan kini tubuhnya meminta haknya untuk istrirahat. Langit tersenyum melihat hasil kerja kerasnya. Kalau mamanya tau dia bisa bebenah mungkin beliau akan keluar tanduknya. Sebab, Langit kalau di rumah cuma bisa jadi beban keluarga. Giliran di rumah orang ada manfaatnya. Sungguh menyebalkan. Langit terduduk di sofa. Memandangi foto besar yang dipajang di tengah ruangan. Foto itu menampilkan bagaimana gagahnya Gunawan Jatmiko memakai baju dinas. Dan disebelahnya ada Mentari dengan wajah culunnya. Langit menghempaskan punggung ke sandaran. "Tar, sumpah Lo gak pantes banget jadi putri bokap Lo. Masa, wajah Lo cengo gitu! Ha ha ha. Mana kerempeng!" Langit itu gak pernah jauh-jauh dari menghina Mentari. Tapi satu yang pasti, dia tidak bisa hidup tanpa Mentari. Setelah diamati lagi, senyum Tari di foto membuat perasaan Langit sakit. Bagaimana tidak, Tari yang sudah lama menyimpan kerinduan pada ayahnya dan berharap lelaki itu pulang dengan selamat harus puas dengan kenyataan bahwa tidak akan pernah ada lagi sosok yang dia tunggu akan pulang. Langit memahami betul perasaan Tari. Dia tak perlu mengkonfirmasi sebab Tari dengannya sudah satu jiwa. 'Apa Gue turuninnya foto itu supaya Tari gak sedih lagi.' Disaat Langit ingin menjalankan rencananya, tiba-tiba saja Mentari bangun. Dia masih mengucek mata sambil memanggil nama Langit. "Lang... Lang, Lo udah balik?!" Langit buru-buru menurunkan tangan dari frame foto. "Belom. Gue belom balik, he he!" Tawa Langit kaku. Sangking takut ketauan. Mentari menyipitkan mata, memang gak jelas ini abang angkatnya. Untung sayang. Sesaat Tari kembali cemberut. "Eeh, bayik, Lo mau makan. Biar Gue siapin,ya?" tawarnya mode baik. Tapi Tari menggeleng. "Duh susah banget sih nih anak. Mau Gue infus apa? Lo mau makanan masuk ke badan Lo dengan cara dijejelin apa di infus!" Kesal Langit. Tari berdecak, kenapa, sih Langit itu bawel banget. "Duuh! Gak tau, ahk. Kalo Lo mau ngomel gitu terus mending Lo pulang aja. Gue bisa sendirian. Biarin gak ada yang peduli sama Gue!" rancaunya merasa kesal. Dia masih dalam kondisi berduka tapi Langit seakan mengajaknya bertengkar. Langit terkekeh... Dia mau mengajarkan pada Tari, bahwa bukan dia saja yang merasa kehilangan. Setidaknya setiap hari banyak anak yatim piatu yang tidak tau di mana mereka bisa mendapatkan kasih sayang atau sekedar menyampaikan keluh kesah. Namun, Tari... dia masih punya Langit. Dan kabar pentingnya, hidup dia harus berjalan. Ada atau tanpa ada ayahnya. Langit mengikuti Tari yang duduk di meja makan. Dia duduk di sebelah dengan tangan memegangi kepala Tari. Langit terus memandang Tari dengan tatapan kasih sayang. "Kan Gue bilang, abis nangis tadi udah! Gak usah dibahas lagi. Setiap mahluk yang bernyawa pasti merasakan kematian. Gak ada yang kekal, Tar. Mungkin sekarang giliran bokap Lo. Tapi gue juga pernah merasakan gimana ditinggal bokap. Dan Lo liat, gue baik-baik aja, Tar. Bahkan gue mau menjadi anak yang membanggakan orangtua. Dan Gue berhasil. Buktinya Gue lulus tepat waktu,'kan?" Mentari menatap Langit ketus. "Lo kan lulus nyontek, Lang!" Tari merevisi ucapan Langit. Langit jadi berdecih. "Eh, nyontek juga usaha. Lo pikir, dalam ilmu percontekkan itu gak ada usahanya. Gak ada seninya." Tari menghembuskan nafas. Yah terserah dia deh. Tapi yang jelas di mata Tari, apa hebatnya lulus dengan cara curang. "Nah karena Lo udah terlanjur ke luar kamar. Berarti sekarang kita sarapan yuk!" "Gue gak nafsu Lang. Gue kenyang!" elak Tari, sangking kesalnya. Langit sampai menjentikkan tangannya di kening Tari sampai Tari mengaduh kesakitan. "Aduuh! Anjiiirr Lang, sakit!" Dia mengusap-usap keningnya. "Ternyata kening Lo lebih keras dari batu. Sampe jari gue sakit. Pantes Lo susah dibilangin." Langit malah mengutarakan ketidak senangannya tanpa memperdulikan rengekan Tari. Dengan geram, Tari meninju bahu Langit. "Aww! Aww! Ampun Nyonya Menirrr... ."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD