Aku dan Kemal diam sepanjang perjalanan pulang. Hari sudah lumayan gelap ketika motor Kemal berhenti di depan kostannya. Aku yang minta kami ke sini, supaya bisa ngobrol berdua. Lagian, aku gak siap pulang ke rumah dengan kondisi hati yang berantakan begini. Ketika Kemal membuka pintu kamarnya, aku langsung masuk, lalu duduk di kasurnya, bersandar pada dinding. Kupandangi Kemal yang sibuk menyalakan lampu, menutup gorden lalu kulihat juga ia mengunci pintu. Tidak langsung bergabung denganku, ia malah masuk ke kamar mandi. Ketika ia kembali, wajah dan sebagian rambutnya basah. Kemal tersenyum tipis padaku, lalu ia duduk di ujung kasur, menghadapku. “Kita harus gimana?” tanyanya. “Aku masih kuliah,” “Aku tahu, terus gimana?” “Kamu mau nikah?” tanyaku. “Aku sayang sama kamu, Din!” uc

