Senyum menghiasi wajah Clarisa. Well, ibu mana yang tidak bahagia saat melihat wajah anaknya. Apalagi jika ia adalah anak satu-satunya yang kau miliki. Regan menarik kenop pintu dari balik punggungnya sehingga pintu rumahnya tertutup rapat. Mengakibatkan kerutan di dahi Clarisa semakin tampak. "Mom? Apa yang kamu lakukan di rumahku?" Mendengar pertanyaan anaknya, sontak senyum di bibir Clarisa perlahan memudar. Pandangan matanya berganti dengan pandangan menyelidik. "Apakah salah jika seorang ibu ingin bertemu dengan puteranya?" Regan mengusap tengkuknya, ia sadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. Dengan cepat ia meralat ucapannya. Tidak ingin membuat Clarisa semakin marah. "Bukan begitu, maksudku mengapa Mommy tidak memberitahuku jika akan datang? Aku bisa merapikan rumahku t

