Hari ini langit sangat mendung, tidak ada tanda-tanda sang surya akan menampakkan dirinya pada bumi ini. Begitu juga dengan Aura, entah mengapa ia merasa sepertinya langit sedang ikut meratapi nasibnya. Aura menarik nafas panjang untuk mengosongkan paru-parunya. "Mau sampai kapan kamu menarik nafas terus?" Suara bariton itu kembali membuat tubuh Aura menegang. Ya Tuhan, jika kami bertemu setiap hari bagaimana perasaan ini akan memudar? Keluhnya dalam hati. "Maaf." Tanpa berkata apa-apa lagi, Regan masuk ke dalam ruangannya. Sekali lagi Aura menarik nafas panjang. Ia sudah siap mematikan rasanya. Siangnya, kedatangan Briana pada jam makan siang membuat hati Aura berbunga-bunga. Kali ini ia datang tanpa kedua buah hatinya. "Mana Freya dan Fidell?" tanya Aura. "Gue titip ke mertua

