Hendra menutup pintu mobilnya kasar saat sampai di rumah yang dihuni Rena. Rahangnya mengeras karena menahan marah. Ia tidak mengira semuanya akan serumit ini. Seakan ini adalah balasan Tuhan untuknya. Pintu rumah itu tertutup rapat seperti tidak ada penghuni. Hendra memencet bel berulang kali, hingga Mbak Lastri menampakkan diri dan memohon maaf karena lama membukakan pintu. “Rena di mana?” tanya Hendra dingin, membuat Mbak Lastri menunduk takut. Ia takut Rena akan terluka kembali. Namun di sisi lain, ia hanya seorang asisten rumah tangga yang tidak berhak ikut campur urusan majikannya. “Non Rena di taman, Tuan. Biar saya panggilkan.” “Tidak perlu. Saya akan ke sana.” Mbak Lastri semakin khawatir karena tidak bi

