Davin sudah menyiapkan rencana perjalanan honeymoon bersama istri cantiknya ke beberapa kota romantis di Eropa.
Masalahnya dengan Reiner sudah berhasil diredam walaupun Reiner tetap belum bisa menerima Shanaya sebagai ibu tirinya.
"Sabar ya, Naya. Mungkin Rein memang butuh waktu lebih panjang untuk bisa menerima kamu," ucap Davin saat keduanya sedang menyiapkan koper bersama-sama di dalam kamar mereka.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku akan menghadapinya dengan santai, sambil berharap kalau perlahan-lahan hatinya akan luluh. Gap usiaku dengan Reiner lebih dekat daripada dengan Mas Davin, mungkin kalau sudah ketemu jalannya, aku bisa melakukan pendekatan pada Reiner, bukan sebagai ibu tiri, tapi sebagai teman."
Davin menatap bangga kepada Shanaya. Bagaimana Davin tidak bangga? Shanaya sama sekali tidak protes dengan sikap buruk Reiner.
"Aku rasa aku memang tak akan salah pilih lagi, aku mau selamanya bersama kamu." Kiss, Davin berbisik lembut dan dituntaskan dengan sebuah kecupan di bibir.
Kali ini Shanaya tidak kaku lagi, ia melayani ajakan french kiss dari suaminya. Seketika Shanaya berubah menjadi wanita yang memiliki pengalaman padahal hanya bersama Davin saja ia melakukannya. Meski berstatus janda, tapi ia adalah seorang janda perawan, itu lah yang dirasakan oleh Davin saat ini.
"Mhhh, semoga kamu tak keberatan," bisik Davin lagi lalu perlahan mendorong pundak Shanaya agar terbaring dengan begitu ia akan lebih mudah untuk menguasai tubuhnya.
"Aku sama sekali nggak keberatan, Mas. Tubuh ini milik kamu," tukas Shanaya dengan tatapan mata sayu-nya yang seolah melambai-lambai mengajak Davin untuk bercinta.
"Kilat saja ya, sayang. Kita harus bersiap ke Bandara setelah ini."
"Iya, Mas."
Hasrat tak mampu dibendung lagi. Tapi saat Davin hendak mencumbu, tiba-tiba terdengar suara teriakan lantang di luar sana.
"Rein! Reiner! Where are you? Ayo kamu ikut mama aja!"
Seketika raut wajah Davin berubah. Shanaya juga ikut terheran dengan suara lantang itu. Siapa yang datang? Masuk ke dalam rumah lalu berteriak-teriak memanggil Reiner seperti di hutan. Apakah itu mamanya Reiner? Pikir Shanaya.
"Siapa itu, Mas?" tanya Shanaya dengan suara pelan.
"Entah. Aku akan cari tahu," jawab Davin lalu ia beranjak dari atas pembaringan sambil mengencangkan lagi sabuk celananya.
Davin pergi dengan wajah kesal. Sepertinya Davin mengenali pemilik suara itu.
Karena sangat penasaran, Shanaya pun ikut pergi ke luar kamar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sebelum pergi, Shanaya menyempatkan diri untuk merapikan penampilannya agar tetap slay dan tak membuat siapa pun curiga kalau sebenarnya ia dan Davin sedang melakukan pemanasan.
~
"Rein! Kamu di kamar? Kenapa kamu nggak balas chat mama? Kenapa kamu nggak angkat telpon dari mama?"
Seorang wanita sekitar 36 Tahun sedang berdiri dan masih berseru lantang, sekarang ia tepat ada di depan kamar Reiner.
Davin mengikuti asal suara dan itu memang suara dari mantan istrinya, Diandra.
"Ini bukan rumahmu lagi, Di! Bisakah kamu menjaga adab bertamu ke rumah orang lain?"
Diandra menoleh pada Davin yang baru datang dan langsung menyapa dengan sebuah teguran terhadapnya.
"Ya! Ini memang bukan rumahku lagi, tapi anakku tinggal di sini! Ini rumah anakku juga 'kan?" sahutnya dengan sikap yang angkuh.
"Kamu bisa tunggu di luar, atau di ruang tamu! Silakan," usir Davin dengan cara yang cukup sopan tapi tentu saja Diandra merasa tersinggung dengan itu.
Tatapan nyalang Diandra beralih ketika Shanaya muncul. Diandra memperhatikan sosok Shanaya sepenuhnya dan sepertinya ia telah memiliki penilaian terhadap istri muda dari mantan suaminya itu.
"Aku ketinggalan apa di sini? Jadi dia istri baru kamu?" ucap Diandra dengan nada sinis.
Davin menoleh dan ia juga baru sadar kalau Shanaya ada di area itu sekarang.
Shanaya tampak segan, apalagi melihat sosok Diandra yang terkesan seperti seorang high value woman, sedikitnya ia merasa minder sekarang.
"Silakan, Di! Tunggu di ruang tamu!" Dan Davin tetap dengan sikap tegasnya sebagai seorang tuan rumah.
"Sorry, aku sedang menyusul anakku sendiri, di dalam rumahnya! Jangan membatasi aku dengan anakku, oke?" Dan Diandra juga tetap dengan pendiriannya. "Rein! Reiner ayo keluar lah!" Lanjut ia berseru lagi memanggil Reiner.
Davin sangat gusar! Ia benar-benar tak suka dengan sikap mantan istrinya.
Shanaya masih di tempatnya dan dia cukup kaget dengan situasi yang terjadi.
'Pantas saja kalian bercerai,' batin Shanaya. Sekarang Shanaya juga mulai memikirkan perasaan Reiner. Pasti Reiner akan kecewa mendengar papa dan mamanya bertengkar seperti ini padahal keduanya sudah bercerai.
Tak lama, pintu kamar Reiner terbuka dan Reiner muncul dengan wajah muram persis seperti dugaan Shanaya.
"Rein, akhirnya kamu keluar, Nak." Setelah Reiner muncul, sikao Diandra pun sedikit melunak.
"Mau apa? Mau ngasih pertunjukkan pertengkaran yang nggak ada habisnya?" sentil Reiner. Sikapnya sangat dingin, dia tampak begitu kecewa.
"Mana ada, Nak? Mama ke sini buat menemui kamu, tapi tiba-tiba papa kamu muncul dan berusaha mencegah mama! Sekarang kamu tau 'kan siapa yang selalu memulai?"
Davin tersenyum kecut mendengar Diandra mencuci tangan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.
"Mama dengar papamu akan pergi honeymoon dengan istrinya, oleh sebab itu mama jemput kamu biar kamu nggak kesepian! Kamu bisa tinggal di rumah mama untuk sementara waktu, atau untuk selamanya pun, mama akan sangat senang," bujuk Diandra.
"Mama datang teriak-teriak! Mama datang kayak orang mau ngajak tawuran! Buat apa? Memprovokasi Papa?" tuduh Reiner.
"Lho? Kok malah jadi nyalahin mama?"
Senyuman Davin semakin kecut ketika mendengar respon Reiner pada Diandra.
"Mama cuma manggil kamu kok! Kok kamu malah nuduh mama memprovokasi? Ini mama datang buat jemput kamu lho? Buat menyelamatkan kamu dari kegalauan, kenapa malah dituduh yang enggak-enggak?" protes Diandra.
"Dengar itu, Di? Rein tidak suka kamu datang!"
"Diam kamu, Mas!"
"Kamu datang dengan tidak sopan! Aku dan Reiner sangat terganggu dengan sikapmu, kenapa kamu membantah? Ini rumah kami, bukan rumahmu lagi! Batasmu adalah izin dari kami!"
"Kamu ...."
"Terus! Teruskan aja! Terus aja ribut!" sela Reiner dengan rasa marah yang semakin menguasai dirinya.
Reiner benar-benar gusar dengan perdebatan kedua orang tuanya.
Saat ini, hanya Shanaya yang benar-benar mengerti dengan perasaan Reiner. Pasti Reiner kesal dengan perdebatan kedua orang tuanya.
"Apa nggak cukup kalian mengisi kepalaku dengan perdebatan pas kalian masih bersama? Bahkan di saat kalian udah bercerai, kalian masih aja ngasih aku pertunjukkan memuakan ini! Kalian pikir aku tuli, huh? Kalian kira mentalku benar-benar terbuat dari baja?"
"Nak ...."
"Silakan bahagia dengan kehidupan kalian masing-masing! Nggak usah bullshit lagi pake sok-sok an ngasih aku perhatian! Selesai!" Reiner pergi dan betapa ia muak dengan situasi yang terjadi.
"Rein!" panggil Diandra tapi Reiner tak ingin peduli.
Saat ia melewati Shanaya di lorong menuju ke ruang utama di lantai 2 rumah, Reiner sempat memicingkan mata dan sungguh ia membenci siapa pun yang ada di ruangan itu.
'Oke, Rein ... sekarang aku tahu kenapa kamu menganggap ini terasa nggak adil buat kamu. Aku sangat mengerti,' batin Shanaya dan dengan segenap keberanian, Shanaya pergi menyusul Reiner.