Minggat

1242 Words
"Mas ...." panggil Shanaya pada Davin. "Iya, kenapa, sayang?" sahut Davin. "Apa nggak sebaiknya kita tunda acara honeymoon kita? Aku rasa Reiner benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Apa mungkin kita bisa bersenang-senang sementara Rein sedang marah seperti ini?" Davin memperhatikan Shanaya sepenuhnya, ucapan Shanaya membuat Davin cukup terkejut. Demi Reiner, Shanaya rela menunda acara jalan-jalan ke Eropa? "Kita akan akan segera ke Bandara, apa kamu yakin mau membatalkannya, Naya?" yakinkan Davin. "Apa kamu akan rugi besar kalau rencana ini dibatalkan?" Shanaya malah bertanya balik. "Aku nggak peduli dengan kerugian, tapi bagaimana dengan kamu? Bukankah pergi jalan-jalan ke Eropa adalah salah satu mimpi besar bagi kamu?" Shanaya memikirkannya matang-matang, tapi tetap saja hatinya terus tertuju pada Reiner saat ini. Adegan saat Reiner pergi tadi membuat Shanaya tak bisa pergi dalam keadaan tenang. "Shanaya ....?" "Aku yakin, Mas. Maafkan aku, maaf kalau ini membuat kamu rugi besar. Tapi bagaimana bisa kita bersenang-senang sementara Reiner sedang marah? Aku rasa, akan lebih baik kalau kamu mencari Rein lalu bicara dan membujuk agar mau kembali ke rumah ini." Atas permintaan dan saran dari Shanaya, akhirnya Davin membatalkan acara honeymoon karena setelah ia pikirkan baik-baik, apa yang dikatakan Shanaya benar semua. Mana mungkin Davin bisa bersenang-senang sementara putranya sedang marah dan sekarang bahkan pergi entah ke mana! Walaupun Davin rugi ratusan juta karena dia sudah memesan tiket pesawat beserta dengan akomodasi di 3 kota berbeda di belahan dunia Eropa, Davin tidak peduli dengan kerugian itu. Davin pun tak menyangka kalau istri barunya ternyata begitu peduli pada putranya, hal itu membuat Shanaya dan sikapnya semakin bercahaya di mata Davindra. * * Ke mana Reiner pergi? Reiner duduk di sebuah bangku kayu di depan sebuah rumah kecil di kawasan padat penduduk. Gayanya yang serba mahal membuat ia tidak cocok duduk-duduk di tempat itu. "Minggat lagi, Bro?" Seorang anak remaja datang dari dalam rumah dengan sepiring bakwan yang ia simpan di dekat Reiner. "Kali ini gue akan minggat selamanya!" ucap Reiner dengan wajah muram. "Ha ha, emang lo tahan hidup tanpa sokongan bokap nyokap lo, ha?" Pemuda itu malah menertawakan, ketika itu terjadi, Reiner segera melempar tatap mata super tajam sehingga temannya menge-rem tawanya lalu diam seketika. "Iya iya, sorry. Maafkan mulut mungil gue ini, emang suka kelepasan kalo ngomong." Teman Reiner itu bernama Jaka. Jaka memang bersekolah di sekolah yang sama dengan Reiner, Jaka adalah tandem Reiner di squad sepak bola sekolah, selain itu, Jaka juga teman nakal Reiner. Reiner tak pandang Jaka berasal dari mana, walaupun ia tahu Jaka merupakan anak yang berasal dari sebuah pemukiman padat penduduk, Reiner tak pernah mempermasalahkan itu. Justru Reiner memilih rumah Jaka untuk minggat dan bersembunyi dari radar sang Papa. "Hm, Rein ... jadi bener bokap lo udah nikah lagi?" tanya Jaka, agak ragu-ragu karena ia sadar kalau pertanyaan itu cukup sensitif untuk Reiner. "Hm," sahut Reiner dengan deheman malas cirikhasnya. "Menurut gue, seharusnya lo maklumi itu. Bokap lo masih muda, mungkin nggak bisa lama-lama menduda. Gue cuma berharap, semoga emak tiri lo baek ya, nggak kayak emak tiri di dongeng-dongeng," kata Jaka. Reiner tidak terlalu peduli, di mata Reiner walaupun penampilan Shanaya seperti seorang Bidadari, ibu tiri tetaplah ibu tiri, stereotape itu tak bisa disanggah oleh otaknya. "Buruan habisin bakwannya, habis ini gue ajak lo tur ke dalam rumah gue. Buruan, ini enak banget, bakwan kantin bikinan Bu Sulis mah lewat! Enakan bakwan bikinan emak gue," kata Jaka yang sudah habis 3 bakwan. Menghargai suguhan temannya, Reiner pun mencicip walau hanya satu biji. "Aah, hanass ...." ucap Reiner kepanasan. "Ha ha, pelan-pelan, Bro!" Jaka malah menertawakan. "Sialan lu!" rutuk Reiner kesal. Setelah menghabiskan satu bakwan, Reiner ingin segera masuk ke dalam rumah Jaka. Dari luar, rumah Jaka memang terlihat kumuh, tapi bagi Reiner, rumah Jaka akan jadi tempat persembunyian yang sempurna karena ia yakin kalau Davin pasti tak akan terpikir untuk mencari dirinya ke kasawan kumuh itu. "Duh, jadi malu gue, Rein! Mana mungkin lo bakal betah ngumpet di rumah gue? Gue aja tidur tumpukan tumpang tindih sama adek gue, kira-kira betah nggak lu?" ucap Jaka jadi minder. Reiner masuk ke dalam rumah petak sempit yang jauh dari kata nyaman. Di rumah itu tidak ada sekat antara dapur dan ruang utama, bahkan kamar orang tua Jaka hanya berpintu tirai usang yang sudah robek-robek. "Lo tidur di mana?" tanya Reiner lalu ia diajak menaiki sebuah tanda kayu yang agak reyot olej Jaka. "Di atas sini, harusnya kamar gue itu atap, tapi dimodif sama bokap jadi kamar gue! Ya menurut gue sih nyaman, tapi nggak mungkin nyaman buat lo!" "Bokap nyokap pada ke mana? Kok rumah lo sepi gini?" tanya Reiner harus agak menundukkan tubuhnya yang jangkung menuju ke kamar Jaka. "Bokap dinas di pasar, nyokap dinas di rumah Pak Kepsek." "Hebat banget bokap lo, punya pasar? Jadi selama ini lo pura-pura melarat? Sialan lo!" canda Reiner. "Ya kaliii, punya pasar tinggalnya di rumah petak begini?! Doi kuli panggul, Bro! Nah, nyokap gue udah lama jadi tukang cuci gosok di Rumah Pak Hariri! Lo kira dari mana gue punya biaya buat sekolah di elit kalo bukan karena konpensasi dari Pak Hariri?!" Oh begitu? Ya, Reiner mengerti. sekolahnya saat ini memang salah satu sekolah swasta elit walau dicap sebagai sarangnya tikus-tikus sekolah dan murid-murid nakal. Agak mengherankan Jaka yang tinggal di rumah padat penduduk bisa bersekolah di sana, ternyata memang karena ibunya Jaka bekerja di rumah Kepala sekolah itu. Akhirnya sampai juga di ruang kamar Jaka. Ruangannya sempit dan langit-langitnya juga cukup rendah karena seharusnya itu adalah atap yang sengaja dijadikan kamar untuk memperluas ruang di rumah itu. Hanya ada kasur lantai dan lemari yang sudah tidak ada pintunya, lemari bergambar Ultramen. Mungkin itu lemari sisa-sisa kenangan masa kecil Jaka. Walau sudah rusak, tak mungkin dibuang begitu saja, selama masih bisa dipakai, pantang untuk dibuang. Reiner mengamati dengan penuh keragu-raguan. Apa mungkin Reiner bisa tinggal di rumah Jaka walaupun hanya untuk sementara? "Gimana, Bro? Masih yakin lo mau ngumpet di sini? Kalo lo mau, entar gue bisa suruh adek gue buat nginep di rumah temannya buat beberapa hari!" Reiner tak langsung menjawab, dia berpikir dan terus berpikir ulang. Hanya saja, Rumah Jaka tak akan mungkin tetdeteksi oleh sang papa. Reiner hanya ingin menepi dari pengawasan orang tuanya, dan rumah Jaka adalah pilihan terbaik walau tak ada fasilitas mewah yang biasa ia dapat di dalam rumahnya. "Nggak usah suruh adek lo pergi," kata Reiner sudah memutuskan. "Jadi lo mau nyari tempat lain?" "Nggak! Gue akan tetap di sini, gue nggak butuh banyak ruang kok, yang penting gue punya tempat buat rebahan, ini udah cukup buat gue!" "Ya udah kalo gitu. Taroh tas lo di sini," kata Jaka lalu menaruh tas milik Reiner di sebuah meja yang ada di dekat jendela. "Jangan harap lo bisa berdiri di sini, Rein." Tak masalah. Reiner tidak terlalu peduli, yang penting dia bisa bersembunyi walau tak tahu sampai kapan. Mungkin sampai ia merasakan tenang, sampai badai di dalam hatinya mereda. Pertengkaran Davin dan Diandra membuat tangki rasa percayanya terhadap kedua orang tuanya kosong melompong. Reiner benar-benar jengah menjadi anak yang terombang ambing dalam konflik kedua orang tuanya seperti ini. Apalagi sekarang formasi sudah lengkap. Reiner memiliki papa dan mama yang sudah bercerai dan masing-masing dari mereka sudah mempersembahkan ayah dan ibu tiri untuk dirinya. "Jaka! Keluar lu!" seru seseorang di luar rumah. Entah siapa, Jaka merangkak ke arah jendela untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya di luar sana. "Bang Galih? Ngapain dia teriak-teriak begitu?" gumam Jaka keheranan. Entah kenapa, yang memanggil Jaka di luar sana adalah Galih, mantan suami dari Shanaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD