Finding My Stepson

1018 Words
"Ada apa, Bang? Tereak tereak aja kayak di hutan," sapa Jaka begitu keluar dari rumah. "Motor siapa ini, Tong? Cakep bener!" tanya Galih sembari mengelus-elus motor sport milik Reiner yang terparkir di depan rumah Jaka. "Punya temen. Keren 'kan? Ratusan juta itu, Bang!" "Gimana bisa lu punya temen keren begini, Tong! Wah, curiga ini motor cuma motor bodong!" ejak Galih. "Enak aja lu, Bang. Temen gue mah emang kaya raya, bukan kaleng-kaleng, isi garasi di rumahnya barang mahal semua." Galih mencoba mencari tahu sosok teman yang bahas oleh Jaka. Dia tengak tengok mencari keberadaan pemilik motor sport mewah itu. "Oh iya, Bang. Apa nggak ada kabar dari Mbak Shanaya? Kok ngilang kek ditelan bumi ya? Apa nggak dicariin? Bini cantik bahenol gitu masa ngilang nggak dicariin, Bang?" tanya Jaka. Reiner yang berada di dalam kamar, mampu mendengar obrolan di antara Jaka dan Galih. Awalnya Reiner tak peduli saat keduanya membahas soal motornya, Reiner juga tak peduli saat Galih mengejek Jaka dan menyinggung soal motornya, tapi saat Reiner mendengar nama Shanaya disebut, Reiner langsung memasang telinganya baik-baik. "Udah biarin aja dah. Dia lari sama cowok lain!" ucap Galih dengan entengnya. "Tapi anehnya, habis Mbak Shanaya ngilang, Abang sama keluarga malah mendadak kaya raya. Heran banget gue, Bang!" "Alaah lu bocah tau apa?" "Ya heran aja gitu, Bang." "Dah lah sana lu masuk lagi. Bacot mulu kek wartawan gosip," kata Galih lalu ia melanjutkan langkah meninggalkan Jaka. "Dih! Manggil-manggil cuma mau nanya soal motor ini doang? Gaje amat Bang Galih!" gerutu Jaka lalu ia kembali masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam kamar, Jaka ditunggu oleh Reiner yang sudah menyiapkan sederet pertanyaan. "Bang Galih, gaje banget teriak-teriak manggil gue cuma kepo sama motor kesayangan lo, Rein." Jaka bersandar di lemari usang bergambar ultramen itu. "Siapa dia?" tanya Reiner. "Tetangga, tetangga jauh sih. Cuma sering nongkrong juga sih, kadang mabar juga." "Tadi lo bahas satu nama, nama perempuan ...." curigai Reiner. "Mbak Shanaya?" Ya! Itu adalah nama yang sama dengan nama istri baru sang Papa, tak heran kalau Reiner langsung antusias untuk membahasnya. "Siapa dia?" "Mbak Shanaya? Dia istrinya Bang Galih. Cakep bener dah, tapi anehnya, udah berbulan-bulan nggak ada kabar lagi dari doi. Kayak ngilang gitu aja!" Reiner berpikir keras, apa Shanaya yang dimaksud oleh Jaka adalah Shanaya yang sama dengan ibu sambungnya? Reiner benar-benar penasaran akan hal itu! * * Keesokan harinya, Davin sudah berupaya untuk mencari Reiner. Dia sudah mengerahkan seluruh orang-orang suruhan untuk menelusuri keberadaan putranya tapi hasilnya nihil. Keberadaan Reiner belum terlacak karena target pencarian Davin adalah teman-teman Reiner sesama orang kaya. Davin tak terpikir kalau Reiner juga memiliki teman yang tinggal di sebuah kawasan kumuh padat penduduk. "Apa belum ada kabar, Mas?" tanya Shanaya dengan risau. "Belum. Hampir semua teman yang biasa main dengan Rein sudah didatangi, Rein tidak ada di sana." "Hampir semua?" "Ya." "Rein sekolah di SMA harapan bangsa 'kan?" "Ya, sayang." "Kelas 11?" "Ya, kamu sudah tahu." Shanaya mencoba mengingat-ingat. Salah satu remaja yang tinggal di tempat tinggalnya dulu juga merupakan siswa di sekolah elit itu, kalau tak salah juga sama-sama masih duduk di bangku kelas 11. 'Apa temannya Jaka ya?' batin Shanaya, intuisinya mengarah ke arah sana. Padahal Shanaya hanya iseng menebak-nebak. Ponsel Davin berdering lagi. Telpon masuk sili berganti, "Selamat siang ...." Kesibukan Davin adalah sesuatu hal yang sudah sangat dimaklumi. Sementara Davin sedang sibuk menelpon, Shanaya sedang memikirkan soal Reiner. 'Apa aky ajak Mas Davin ke sana ya? Tapi takutnya malah ketemu sama keluarga Mas Galih! Gimana ya?' pikir Shanaya. "Shanaya," panggil Davin setelah selesai menelpon. "Iya, Mas?" sahut Shanaya. "Aku harus pergi. Ada urgensi di Kantor, aku pergi dulu ya," kabari Davin yang terlihat panik dan tergesa. "Ada masalah apa, Mas?" tanya Shanaya jadi ikut cemas. "Aku harus segera ke Kantor. Kalau urusan sudah selesai, aku akan segera pulang," tukas Davin lalu bersiap untuk pergi. "Ya udah, hati-hati di jalan ya," "Iya, sayang." "Aah iya, Mas. Apa aku boleh pergi ke luar hari ini?" "Boleh, minta Antar pada Pak Amin ya. Kamu bisa ambil uang cash dan belanja dengan credit card yang sudah aku simpan di atas nakas. Itu milik kamu sekarang." "Terima kasih banyak, Mas." Davin benar-benar buru-buru. Setelah memberi izin, dia pun pergi. Shanaya memeriksa kartu-kartu yang Davin tinggalkan di atas nakas. Ada dua buah kartu, kartu debit dan juga kartu kredit. Dua-duanya adalah fasilitas untuk kemudahan Shanaya. Tapi hari ini Shanaya tidak ada rencana untuk pergi bersenang-senang, justru ia berniat untuk pergi ke .... * * "Naya? Apa benar ini kamu? Wah wah, berbulan-bulan hilang, kamu balik lagi dengan penampilan serba mahal! Itu bukan barang-barang kawe 'kan, Naya?" "Ini tas mahal, sepatumu juga cantik banget! Ini benar-benar nggak seperti Shanaya yang kami kenal!" "Pangling bener kamu, Naya!" Benar saja, begitu memasuki gang menuju ke rumah Jaka, Shanaya langsung disambut dan disapa oleh orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai istrinya Galih. Ibu-ibu itu mengamati penampilan elegan Shanaya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Mereka kagum dengan barang-barang branded yang melekat di tubuh Shanaya. "Apa kamu mau balik ke si Galih? Apa kamu nggak tau kalau si Galih udah kawin lagi?" Shanaya cukup terkejut dengan kabar itu, tapi selebihnya Shanaya tidak peduli. "Bukan kok, saya memang udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Mas Galih. Saya mau ke rumah Jaka," jawab Shanaya dengan tenang. "Oalaah, kirain! Jadi benar kalo kamu memang sudah cerai dari si Galih?" "Benar, Bu." "Mau ngapain kamu ke rumah si Jaka?" "Ada urusan, Bu. Sudah dulu ya, saya mau ke sana sekarang," pamit Shanaya. "Oh ya udah, silakan." Ketika Shanaya pergi, orang-orang masih berdesas desus dan merasa pangling dengan Shanaya. Shanaya meneruskan langkahnya sampai akhirnya dia sampai di depan rumah Galih. "Apa aku bilang? Aku menemukan anakku di sini!" gumam Shanaya dengan sangat yakin begitu melihat motor sport milik Reiner bertengger di halaman rumah petak itu. Tok tok, "Assalamualaikum!" seru Shanaya sambil mengetuk pintu dengan lembut. Shanaya menunggu pemilik rumah membukakan pintu, betapa Shanaya tak sabar ingin segera mengajak Reiner pulang. "Shanaya? Ngapain kamu di sini?" Belum juga Jaka atau ibunya membukakan pintu, Shanaya lebih dulu disapa oleh Gina, mantan kakak iparnya yang sudah menghina habis-habisan di depan kantor pengadilan agama tempo hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD