Gina menatap sinis sekaligus menatap kagum pada Shanaya dengan penampilan berbeda. Sangat berbeda dari saat Shanaya masih menjadi adik iparnya.
"Ngapain kamu ngetok pintu rumah orang? Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Gina.
"Ada urusan," jawab Shanaya dengan dingin, dia tak terlalu mempedulikan Gina.
"Urusan apa? Mau ngepoin kabar si Galih ya? Ha ha, pasti kamu belum move on dari adikku! Hey, Naya! Asal kamu tahu aja, si Galih udah dapat istri baru! Lebih cantik dari kamu!"
Suara Gina yang lantang terdengar sampai oleh orang-orang yang ada di sekitar sana.
Tak lama, pintu rumah Jaka juga terbuka, Jaka sendiri yang membukakannya. Jaka terperanjat kaget saat mengetahui kalau yang berdiri di depan pintu adalah sosok Shanaya yang kemarin ia tanyakan pada Galih.
"Eh ... M-mbak Naya?" sapa Jaka dengan tatapan kaget pada Shanaya.
"Halo, Jaka." Shanaya menyapa dengan senyum yang hangat.
"Ini beneran Mbak Naya? Apa Jaka nggak salah lihat?" Jaka mengucek-ucek matanya untuk memastikan kalau yang ia hadapi saat ini memang Shanaya.
"Kenapa lu kaget begitu, Jaka? Itu bener si Naya!" ujar Gina, nada suaranya masih lantang, masih sangat provokatif.
"Hm, ada apa ya, Mbak? Subhanallah Mbak Naya makin menyala aja! Apa kagak rugi Bang Galih ngelepasin bidadari kayak Mbak Naya buat nikah lagi sama mbak-mbak mantan PL?" gumam Jaka dan matanya masih menatap kagum pada Shanaya.
"Apa lu bilang, Jaka? Lu bilang apa barusan?" Gina semakin tersulut saat tak sengaja mendengar ucapan Jaka.
"Apa, Mbak? Nggak kok, Jaka nggak bilang apa-apa," bantah Jaka.
Mendengar ribut-ribut di luar rumah membuat Reiner terusik. Dia memantau suasana dari jendela kecil di kamar Jaka, tapi Reiner tak bisa melihat dengan jelas, dia hanya melihat sosok Gina saja yang misuh-misuh berisik tak jelas.
"Mbak Gina, tolong ya, aku nggak ada urusan sama Mbak. Aku ada urusan sama Jaka, kalau Mbak nggak keberatan, tolong biarkan aku ngobrol dengan tenang sama Jaka," pinta Shanaya.
"Lagakmu, Shanaya! Jadi simpanan aki-aki pejabat aja udah berasa hebat banget kamu!"
Reiner mendengarnya! Samar dia mendengar suara lembut Shanaya dan dengan jelas ia mendengar Gina menyebut nama Shanaya dengan lantang. Apa di bawah ada Shanaya?
"Aduh, Mbak Gin. Cari perkara mulu hobinya," ucap Jaka sambil berpaling agar tak ketahuan.
"Abaikan aja, Mbak cuma mau nanyak, ini motor milik Reiner 'kan?" Shanaya mengabaikan Gina dan fokus bertanya pada Jaka.
"Lho, Mbak Naya kok tahu?" Jaka sampai keheranan lagi.
"Jadi benar? Jadi Rein ada di sini?"
"Hm, Ya iya tapi kok Mbak Naya tau sama Rein?"
Tak lama Reiner muncul, Reiner cukup kaget melihat ada Shanaya di ambang pintu, Shanaya juga akhirnya menyadari kemunculan Reiner yang muncul dari arah tangga reyot di sudut utama rumah Jaka.
"Rein ...." panggil Shanaya.
Jaka menoleh. Jaka semakin keheranan bin penasaran, kenapa Shanaya mengenal Reiner?
~
Shanaya dan Reiner duduk bersebelahan tapi berjarak di bangku kayu yang ada di depan rumah Jaka.
Jaka diam-diam menguping di dekat pintu. Jaka tak ingin terbelenggu dengan rasa penasarannya, terpaksa ia melanggar hak privasi keduanya.
"Pulang lah, Rein. Pulang ke rumah, tempat seharusnya kamu berada," ucap Shanaya.
"Ngapain kamu nyari aku?" tanya Rein dengan judes.
"Karena saya mau kamu pulang. Saya ngerti, mungkin masih cukup sulit untuk kamu menerima apa yang terjadi di rumah. Tapi sekali lagi saya katakan, saya nggak akan merebut apa yang seharusnya menjadi hak kamu, justru saya hadir di dalam rumah kamu untuk memberikan sedikit perhatian seorang ibu yang mungkin kamu butuhkan, walaupun nggak sempurna, tapi saya akan berusaha," jelaskan Shanaya.
Semakin lama, Shanaya semakib fasih bicara pada Reiner walaupun respon Reiner masih sama. Diam dan seperti tak peduli.
"Papa kamu udah mencari kamu hampir ke seluruh alamat teman sekelas kamu. Tapi Papa kamu nggak menyangka kalau kamu akan ada di sini, sementara saya merasa ada kemungkinan kalau kamu ada di sini karena saya ingat kalau Jaka juga sekolah di Harapan Bangsa," ucap Shanaya lagi.
Jadi benar kalau mama tirinya memang berasal dari kawasan padat penduduk ini? Ini adalah fakta baru yang Reiner ketahui.
"Pulang sekarang ya, saya mohon, pulang lah! Kalau semisal kamu nggak nyaman saya berada di rumah utama papa kamu, biar nanti saya minta tempay tinggal baru ke papa kamu, asalkan kamu tetap nyaman ada di rumah kamu sendiri," bujuk Shanaya lagi.
"Wah wah! Mimpi apa aku kedatangan mantan istriku di siang bolong begini!"
Galih muncul dan mengacaukan suasana. Dengan penuh percaya diri Galih menyapa Shanaya.
'Duh, ngapain sih Mas Galih pake muncul? Andai Rein mengetahui fakta tentang aku dan Mas Galih, pasti Rein akan semakin illfeel ke aku,' batin Shanaya. Shanaya kesal karena Galih muncul, bahkan Galih muncul lagi dengan kakaknya yang julid yaitu Gina.
"Doyan berondong sekarang? Setelah jual diri sama aki-aki, sekarang ngincar berondong ya?" ujar Gina seenak jidat.
"Please, Mbak! Aku tuh udah nggak ada urusan sama kalian! Aku juga datang ke sini, nggak ada tujuan buat menemui kalian apa lagi mengusik kalian. Jadi tolong jangan usik aku juga!" ucap Shanaya dengan tegas.
"Ngapain kamu di sini, Cantik?! Gimana kabar Miliarder itu? Apa dia bosan dan membuang kamu? Ya sudah, sini balik lagi ke aku, tapi sekarang harus rela jadi istri kedua ya!" ucap Galih tak kalah annoying.
"Apaan sih, Mas? Jangan sembarangan kalo bicara! Kalaupun di dunia ini hanya tersisa satu lelaki dan itu adalah kamu, aku lebih baik hidup sendirian! Berhenti berpikir kalo aku masih peduli dengan kamu!"
"Wah wah, sekarang lebih berani nyahut ya? Tapi jujur, kamu makin cantik! Bisa kali, aku pinjam salah satu barang mahalmu untuk aku gadaikan sewaktu-waktu kalau sisa uangku habis?"
Shanaya hanya geleng-geleng kepala, Shanaya melirik ke arah Rein dan Shanaya berharap Reiner tidak mempedulikan ocehan Galih dan Gina.
Tapi Reiner terlanjur berpikir yang tidak-tidak, kenapa manusia-manusia tak jelas itu mengganggu Shanaya? Tadinya Reiner tak ingin peduli, tapi sikap Galih dan Gina semakin memuakan saja!
"Ya udah ayo, mampir-mampir ke rumah baruku, uang 1 Miliyar cukup buat beli rumah baru milik Pak Dasuki, sekarang kami tinggal di sana, ayo!" Galih makin lancang, dia mulai berani duduk di samping Shanaya lalu merangkul Shanaya.
"Apaan sih, Mas? Cukup ya! Tolong sopan sedikit!" Shanaya menghempas tangan Galih lalu beringsut sehingga ia mentok pada Reiner.
"Jangan begitu! Jangan sombong! Kalo mau mampir ayo mampir aja, jangan belagak cuma mampir ke sini, padahal aslinya kamu lagi kepoin kehidupan baruku, iya 'kan?"
Gina ketawa-ketawa tak jelas,
"Lari dek, lari! Jangan mau dibujuk sama tante-tante genit itu!" ujar Gina pada Reiner.
"Aduh, kamu makin glowing aja ya, dari deket gini wangi tubuh kamu makin semerbak! Rasa-rasanya aku jadi pengen nikahin kamu lagi!"
"Cukup! Kamu mabuk! Kamu sangat nggak menghargai aku, Mas!" protes Shanaya berusaha mengenyahkan Galih dari dekatnya.
Para warga tak ada yang membantu seolah mereka sudah hafal dengan kelakuan Galih dan mengganggu Shanaya seperti itu bukan lagi hal tabu yang perlu diuruskan.
"Ayolah, Naya ...."
Tanpa diduga, Reiner bangkit, menarik tangan Shanaya lalu menempatkan Shanaya tepat di belakang punggungnya! Reiner menatap Galih dan Gina dengan tatapan yang nyalang!
"Sakit jiwa lu pada!" ujar anak 17 Tahun itu sehingga memantik emosi Galih.
"Kenapa lo? Berani-beraninya melototin gue pake ngatain sakit jiwa?" Galih bangkit dan berdiri menantang Reiner.
"Emang lu sakit jiwa! Seenak jidat lo gangguin istri orang!"
Shanaya menjadi tegang, ia takut terjadi apa-apa dengan Reiner.
"Udah, Rein. Jangan dilawan. Abaikan saja dia! Ayo kita pulang," ajak Shanaya berbisik gugup di belakang tubuh janhkung anaknya.
"Tunggu dulu! Aku emang nggak suka punya ibu tiri! Tapi aku juga nggak suka sesuatu yang berhubungan sama papaku dihina dan dilec*hkna kayak gini!" ucap Reiner dengan tegas.
"Rein ...."
Galih menatap Reiner lamat-lamat, siapa bocah ini? Kenapa membela Shanaya seperti ini?
"Udah Rein, udah. Bang Galih jangan dilawan!" Jaka muncul dan ikut berusaha menenangkan.
"Hey bocah ingusan! Siapa lo? Jangan sok jagoan! Jangan sok jadi pahlawan! Jangan halangi gue dari mantan istri gue! bocah kayak nggak usah ikut urusan orang gede!" ujar Galih masih mencoba mengintimidasi dan memprovokasi.
"Mundur lo! Mantan ya mantan! Tapi mantan istri lo ini udah jadi istri bokap gue sekarang!"
Semua orang tertohok! Termasuk para tetangga yang sejak tadi hanya menonton keributan itu!