Kebaya yang melekat di tubuh Shanaya kini telah berserakan di atas lantai. Tersangka utamanya adalah Davin!
Tak sanggup menunggu sampai nanti malam, Davin segera menunjukkan dominasinya sebagai suami dengan menagih haknya sebagai suami tak lama setelah acara akad selesai digelar.
Shanaya terbaring pasrah membiarkan tubuh gagah sang Duda menguasai dirinya. Davin memulai sentuhan dari yang paling lembut sampai yang sedikit lebih brutal.
"Hhh, mmhh ...." Shanaya menggigit bibirnya agar tak meloloskan desah dari bibirnya. Sulit sekali rasanya, Shanaya sudah semakin larut dalam permainan.
"Tak perlu ditahan, sayang. Kamu boleh berisik," bisik Davin lalu sesekali melahap daun telinga Shanaya.
"Apa aku terlalu pasif? Maaf karena aku belum tahu harus berbuat apa," ucap Shanaya dengan deru nafas yang memburu.
Embusan nafasnya seperti bahan bakar yang membuat Davin semakin liar menuju akhir dari permainan.
"Its okay." Davin mengedipkan sebelah matanya.
Davin menikmati apa yang Shanaya suguhkan kendatipun Shanaya hanya diam tak melakukan akselerasi apa pun. Di dalam hati Davin berseru, tak percuma ia mengeluarkan uang 1 Miliyar karena yang ia dapatkan saat ini adalah surga berupa gadis perawan yang belum tentu akan ia dapatkan dari perempuan lain.
"Ahhh, sakit ... hhh, benar-benar sakit," rintih Shanaya saat Davin mulai beralih ke sesi selanjutnya.
"Please, tahan lah," ucap Davin yang tak bisa mengasihani Shanaya.
"Pelan-pelan, Mas ... aku mohon, kenapa rasanya sakit sekali?" racau Shanaya sambil memejamkan mata.
Davin malah tersenyum licik. Mereguk kesucian Shanaya lalu menyaksikan wajahnya yang cantik merintih kesakitan di bawah kungkungannya adalah kesenangan luar biasa yang rasa-rasanya tak pernah ia rasakan untuk seumur hidupnya.
*
*
Setelah acara unboxing, Davin full senyum dan menganggap pertemuannya dengan Shanaya adalah sebuah keuntungan besar untuknya.
Sementara Shanaya? Sekujur tubuh terasa remuk, Davin memberi pengalaman menggairahkan sekaligus melelahkan untuknya.
Tapi sekarang Shanaya jadi tahu, seperti itu lah rasanya bercinta. Kini ada rasa tak ingin kehilangan yang mulai tertanam di dalam hati, Davin adalah pria pertama yang menyentuhnya dan sungguh Shanaya berharap tak akan ada pria lain lagi yang akan memanjakannya seperti itu. Cukup satu Davin untuk seumur hidupnya.
"Kamu, melampaui ekspektasiku, Naya!" ungkap Davin sambil membelai wajah Shanaya. Mereka masih di tempat yang sama, berkutat di atas tempat tidur dengan tubuh terbalut selimut.
"Melampaui bagaimana, Mas?" tanya Shanaya masih saja malu-malu.
"Honestly, aku cuma iseng aja membeli kamu dari suami kamu. Niat awalku, hanya ingin menyelamatkan kamu dari pejabat yang akan membeli kamu di malam itu. Aku melihat kamu frustasi dan ketakutan. Tapi, aku merasa kalau pertemuan kita malam itu bukan sekedar kebetulan. Tapi ini adalah takdir di mana kita bersatu walaupun bertemu di momen yang tidak menyenangkan! Dan sekarang, aku menemukan hidden gem yang tersimpan di diri seorang istri yang disia-siakan oleh suaminya! Sungguh, mantan suamimu adalah pria paling bodoh yang aku tahu!"
"Dia lebih tertarik dengan kesenangannya bermain judi online daripada memperhatikan aku, tapi aku bersyukur sekarang dia sudah bukan siapa-siapaku lagi. Terima kasih banyak, Mas."
"Sama-sama."
"Uang 1 Miliyar yang sudah kamu keluarkan, akan aku ganti dengan menjadi istri yang baik buat kamu, aku janji, aku akan berusaha!"
Davin semakin kesengsem dengan Shanaya.
Masih sangat muda, cantik, menyuguhkan kenikmatan, lugu dan juga memiliki tekad baik untuk menjadi yang terbaik bagi Davin.
"Bolehkah aku istirahat sebentar, Mas? Malam ini kita akan melewati satu acara pesta, jadi harus memanfaatkan waktu tersisa untuk beristirahat." Shanaya meminta izin untuk menepikan lelahnya.
"Tentu saja, Istirahat lah!" Davin mempersilakan dan membiarkan Shanaya terlelap di dalam dekapannya.
Davin memperhatikan wanita muda itu dan sekali lagi ia bersyukur kalau istri yang ia beli ternyata lebih malah nilainya dari harga yang telah ia keluarkan.
*
*
Hari ini, Shanaya harus dimake over dua kali.
Jika pada acara akad dia mengenakan kebaya adat lengkap dengan siger yang membuatnya seperti putri keraton, maka malam ini dia memakai gaun pengantin menjuntai panjang menyapu lantai dihiasi dengan satu set perhiasan yang menghiasi beberapa titik dari penampilannya.
Bersanding dengan Davin yang memiliki selisih usia hampir 18 Tahun, tapi Shanaya bisa mengimbanginya. Davin juga terlihat lebih muda saat bersanding dengan pengantin cantiknya.
Pestanya sangat privat. Diadakan di halaman rumah dengan beratapkan langit malam dan ditemani semilir angin yang membuai.
Sekelompok pemain orkestra memainkan lagu-lagu romantis. Para tamu yang jumlahnya tak lebih dari 20 orang benar-benar menikmati pesta itu.
"Aku nggak pernah menghadiri pesta seindah ini! Dan malam ini, aku lah pemilik pesta yang benar-benar indah ini! Terima kasih, sayang ... kamu sudah membawaku dari sebuah nestapa pada kebahagiaan yang serupa dengan kisah bahagia di negeri dongeng," ungkap Shanaya dengan mata berbinar-binar.
"Kamu pantas mendapatkan ini, Naya ...."
Shanaya dan Davin sedang berdansa mesra di bawah sinar bulan. Para tamu menjadi saksi penantian terakhir sang duda. Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang sedang dikecap kedua pengantin.
"Tapi, Mas ...." ucap Shanaya.
"Kenapa?"
"Sejak acara akad tadi, sampai acara di malam ini, tak ada seorang pun pihak keluarga yang hadir. Bahkan, anak kamu juga tak ada di sini. Maaf kalau aku lancang, bolehkah aku tahu alasan kenapa tak ada seorang pun keluarga yang hadir di acara pernikahan kita ini?"
"Aku belum sempat cerita, aku ini seorang yatim piatu, aku tak memiliki saudara kandung, adapun beberapa kerabat, mereka tersebar di beberapa kota di luar negeri. Sebagian besar tinggal di Eropa. Hubungan kami agak renggang, setelah para orang tua sudah tidak ada lagi seperti tak ada lagi penyambung di antara kami semua. Itu lah sebabnya," jelaskan Davin dan Shanaya baru mengetahui fakta itu.
"Oh begitu ya? Maaf aku tidak tahu, Mas."
"Its okay. Setidaknya sekarang aku punya Reiner dan juga punya kamu. Kalian berdua sudah cukup untuk melengkapi kehidupanku," tukas Davin, tatap matanya yang begitu dalam membuat Shanaya semakin dan semakin larut.
Gruuuuung gruuuuung!
Suasana pesta yang khidmat dan indah tiba-tiba buyar saat tiba-tiba terdengar suara geberan motor dari arah gerbang masuk. Sontak hal itu menarik perhatian Davin, Shanaya dan para tamu.
Ada apa gerangan?
Para keamanan bergerak untuk mengamankan sang pengacau!
"Kamu tunggu di sini ya," kata Davin pada Shanaya, Shanaya hanya mengangguk dengan wajah risau yang menghiasi wajah cantiknya.
Davin pergi ke arah sumber keributan sementara para tamu tetap di tempat mereka dan tidak bisa lagi menikmati pesta yang sejenak terjeda karena suara geberan motor yang sangat memprovokasi itu.
'Reiner! Pasti Reiner,' duga Shanaya dengan perasaan tak menentu.