Shanaya tak sempat melakukan pendekatan pada Reiner, acara pernikahan semakin dekat dan Reiner dikabarkan pergi dari rumah.
Shanaya merasa sangat bersalah tapi Davin seolah tak mempedulikan. Bagaimana bisa Shanaya merasakan bahagianya pernikahan jika calon anak sambungnya menentang habis-habisan seperti ini?
"Jangan cemaskan soal Reiner, Shanaya! Dia tak memiliki hak untuk membatasi niat papanya, pernikahan akan digelar besok! Bersiaplah! Istirahat yang cukup agar besok kamu kuat menjalani acara akad dan acara resepsi dan satu lagi, kamu harus siap untuk melewati malam bergelora dengan pak Duda!" ucap Jena, orang kepercayaan Davin yang Davin kirim khusus untuk menemani Shanaya selama persiapan pernikahan.
Shanaya hanya diam, dia tetap memikirkan soal Reiner.
"Bagaimana bisa Pak Davin menemukan permata secantik dirimu, Shanaya? Aku rasa kalian berdua sama-sama beruntung!" puji Jena sambil membantu Shanaya melulur sekujur tubuh ranumnya.
"Aku yang benar-benar beruntung, Mbak. Entah bagaimana jadinya hidupku kalau tak pernah bertemu dengan pak Davin," tukas Shanaya. Seketika ia ingat lagi bagaimana Davin menyelamatkan dirinya di malam itu.
"Jangan sia-siakan kesempatan ini, dari beberapa wanita kelas atas yang dirumorkan dekat dengan beliau, pada akhirnya kamu lah yang terpilih jadi istrinya."
"Iya, Mbak. Aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Selain berusaha menjadi istri yang pantas untuk Pak Davin, saya juga akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk Reiner."
"Good! Aku suka itu! Kelak, andai banyak pengganggu yang mencoba menggoyahkan rumah tangga kalian, hadapi dengan tenang, oke? Terutama kalau Bu Diandra datang untuk membuat drama, siapkan hati dan mentalmu, Shanaya!"
"Bu Diandra itu siapa, Mbak?"
"Mantan istrinya Pak Davin!"
Ini fakta baru yang Shanaya terima. Shanaya sudah menduga kalau sosok Diandra adalah wanita high value yang akan sulit untuk ditandingi oleh dirinya, tapi sekuat hati Shanaya akan tetap percaya pada dirinya sendiri! Shanaya berjanji akan memantaskan diri menjadi nyonya baru di kediaman Davindra Adinegara.
*
*
"Sah para saksi?" tanya pak penghulu yang menjadi pemimpin acara akad di hari yang cerah itu.
"Sah!" Saksi yang berjumlah 4 orang kompak berseru sah dan di detik itu Davindra resmi memperistri Shanaya.
Acara akad digelar di kediamannya, hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, semuanya dari pihak Davin. Tapi Shanaya tetap memikirkan soal Reiner, Reiner tak ada di sana.
Setelah do'a-do'a dipanjatkan, kini Davin bisa memandangi istrinya dengan leluasa. Wanita yang telah resmi ia peristri adalah wanita yang dijual oleh suaminya, siapa yang akan menyangka?
"Apa kamu nggak bahagia? Kenapa wajahmu muram begitu, Shanaya?" bisik Davin sehingga Shanaya tersadar.
"Bahagia, Pak. Sangat bahagia," tukas Shanaya dengan suara yang pelan.
"Sampai kapan kamu mau panggil 'Pak' pada suami kamu sendiri, hm?"
"Oh baiklah, maaf karena masih belum terbiasa." Shanaya hanya tersipu, ditatap sedalam itu dari jarak yang sangat dekat dengan sepasang hunter eyes yang membius membuat Shanaya tak bisa menahan rasa gugup yang semakin menjadi.
"Maaf karena aku tidak mengadakan acara akad yang meriah, acara pesta pun akan bersifat privat, aku hanya mengundang beberapa orang saja untuk datang malam ini," ucap Davin lagi.
"Nggak apa-apa, M-mas. Acara akad ini sangat spesial dan sakral, walaupun ada yang kurang," tukas Shanaya.
"Reiner?" tebak Davin dan tebakan Davin sangat akurat.
"Ya ...."
"Mungkin dia pergi ke rumah mamanya, biarkan saja. Dia harus belajar menerima hal yang tak selalu sejalan dengan keinginannya."
Shanaya hanya mengangguk pelan, biarlah nanti ia pikirkan lagi soal Reiner.
Sekarang Shanaya sedang membayangkan apa yang akan terjadi setelah acara akad ini selesai.
Acara dilanjutkan dengan acara sesi photo sementara para saksi menikmati sajian yang disiapkan oleh para chef profesional yang Davin undang langsung untuk acara ini dan untuk acara nanti malam.
"Selamat ya, Pak. Do'a terbaik untuk Pak Davin dan istri," ucap asisten Davin yang bernama Bani.
"Selamat dan semoga Reiner segera momong adik, aamiin," goda Jena kemudian.
Shanaya hanya tersipu malu sementara Davin hanya tersenyum tipis.
"Setelah ini kalian istitahat saja, dan 1 jam sebelum acara nanti malam, pastikan semuanya siap tak ada yang kurang," perintah Davin pada orang-orang kepercayaannya itu.
"Siap, Pak! Tenang saja, Pak Davin tak perlu mencemaskan urusan itu!" tegas Bani dan Jena mengiyakan.
Davin melirik ke arah Shanaya dan memberi isyarat yang tersirat lewat sorot mata untuk segera pergi ke kamar pengantin. Shanaya semakin deg-degan, dia benar-benar masih bingung dengan apa yang akan terjadi kemudian. Terlebih, walaupun Shanaya sudah pernah menikah, tapi Shanaya tak pernah melewatkan sebuah pertautan raga dengan Galih. Bersama Davin akan menjadi pengalaman pertama baginya.
"Permisi semuanya," ucap Shanaya malu-malu.
"Selamat menikmati waktu istirahat ya," ucap Jena sambil mengerlingkan matanya pada Shanaya seraya tersenyum menggoda.
Shanaya hanya tersenyum kagok, lalu ia pergi mengikuti langkah Davin menuju ke kamar utama yang ada di lantai 2 rumah.
Davin menggandeng tangan Shanaya dan Davin merasakan tangan Shanaya begitu basah berkeringat.
"Are you okay?" tanya Davin sambil menoleh ketika keduanya berjalan menyusuri anak tangga.
"B-baik, Mas." Shanaya terpantau masih gugup.
"Santai saja," ucap Davin sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Entahlah, Shanaya tidak yakin dia bisa santai-santai saja. Apalagi saat mereka tiba di ruang kamar.
Shanaya merasa takjub karena kamar yang akan ia tempati bersama Davin adalah kamar yang luas dengan desain interior dan furniture-furniture mahal yang menawarkan kenyamanan.
"Selamat datang, ini kamar barumu, Shanaya."
Shanaya mengedarkan matanya ke setiap sudut kamar dan ia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Ketika Shanaya mengagumi ruang kamar itu, Davin justru sedang memandangi dan mengagumi kecantikan Shanaya yang hari ini tampil anggun dalam balutan kebaya putih dengan riasan wajah yang semakin memancarkan kecantikannya. Davin pun tak menyangka kalau ia memungut istrinya dari tangan seorang pria b******k di malam itu.
"Apa kamu tahu, Mas? Luas ruangan ini lebih luas dari rumah masa kecilku, siapa yang menyangka kalau saat ini, aku berada di dalam sebuah istana luas nan megah ini," ungkap Shanaya dengan mata berbinar-binar.
"Nikmatilah, mulai sekarang, ini semua menjadi milikmu juga," ucap Davin lalu maju dua langkah kemudian memberikan pelukan dari arah belakang sehingga membuat aliran darah Shanaya terasa kian deras.
"Hm, M-mas ...." Suara Shanaya terbata dan bergetar.
"Bisakah kita memulainya, Shanaya?" tanya Davin berbisik lembut ke arah telinga Shanaya sehingga embusan nafasnya berhasil membuat Shanaya semakin larut.
"Aku tak bisa menunggu hingga malam nanti, aku mau sekarang," bisik Davin lagi lanjut mengecupi leher Shanaya.
Shanaya tak punya waktu untuk mengelak, ia harus siap sedia untuk melayani!