Ibu Sambung yang Baik

1016 Words
Davin mengabaikan penolakan dari Reiner, putranya. Keesokan harinya, Davin membawa Shanaya ke kediamannya yang berada di sebuah kawasan elit. Rumahnya terletak paling ujung jauh dari cluster terdekatnya. Davin memang sengaja membeli lahan yang luas untuk ia jadikan batas antara dirinya dan para tetangga. "Kita masuk ke sebuah gerbang perumahan elit, tapi kenapa menuju rumah Anda harus melewati hutan pinus seperti ini, Pak?" tanya Shanaya yang merasa heran karena Davin membawanya ke sebuah jalanan sepi jauh dari pemukiman. "Rumah saya yang paling ujung, di ujung jalanan sepi ini," jawabnya sambil fokus mengemudi. Shanaya masih sangat segan, tetap saja ia merasa kalau Davin terlalu tinggi untuk dirinya, tapi mau menolak pun rasanya sayang sekali, Shanaya tak ingin melewatkan kesempatan untuk diperistri oleh duda konglomerat itu. Dan sesampainya di kediaman Davin, Shanaya untuk kesekian kalinya dibuat berdecak. Gerbang besar terbuka dan di balik gerbang itu tersembunyi sebuah rumah yang berada di tengah-tengah halaman yang luas dan asri. Di beberapa sudut terdapat pohon-pohon rindang sehingga memasok oksigen yang melimpah, sudah pasti Shanaya akan hidup bahagia jika ia sudah resmi menjadi istrinya Davindra. "Setelah sah menjadi istri saya, kamu juga akan tinggal di sini," ucap Davin setelah memarkir mobilnya di halaman yang luas itu. "Saya belum bisa membayangkannya, Pak ...." Shanaya masih terlihat takjub. "Tak usah dibayangkan lagi, karena semuanya akan segera terealisasi." "Tapi izinkan saya untuk bertanya sekali lagi, Pak." "Silakan." "Kenapa saya? Padahal Anda menemukan saya dalam keadaan tidak baik, padahal saya ini seperti barang dagangan yang ditawar-tawarkan. Sementara Anda adalah orang hebat yang sudah pasti akan sangat mudah menemukan calon istri yang ideal untuk Anda," tanya Shanaya dan selanjutnya ia mengungkapkan rasa insecurenya walau secara tidak langsung. "Kenapa kamu? Karena saya merasa kamu cukup ideal untuk saya!" tegas Davin. "Tapi saya tak punya latar belakang keluarga yang baik untuk Anda perkenalkan pada keluarga besar Anda nanti." "Saya tidak mengharapkan apa pun! Saya hanya menginginkan kamu untuk menjadi istri saya! Apa itu tidak cukup jelas, Shanaya?" Ketegasan Davin membuat Shanaya tak berani untuk banyak bertanya lagi. Shanaya pikir, itu adalah sebuah penegasan kalau Davin memang bersungguh-sungguh, tak ada maksud lain dari keputusan Davin untuk menikahinya. "Mari kita temui Reiner. Satu hal yang harus kamu, Reiner sedikit keras, saya mohon kamu bersabar saat menghadapinya," ucap Davin lalu ia turun dari mobil lalu selanjutnya membukakan pintu mobil dan menyambut Shanaya dengan uluran tangannya. Dengan sangat yakin, Davin menggandeng Shanaya masuk ke dalam rumah, di pelataran rumah, keduanya disambut oleh beberapa ART yang berjejer rapi di depat pintu utama. Shanaya menyapa mereka dengan senyum terbaiknya dan para ART itu juga membalas senyuman Shanaya dengan senyuman penuh rasa hormat. "Rein ada di dalam 'kan?" tanya Davin pada salah satu ART-nya. "Ada, Pak. Sejak tadi hanya mengurung diri di kamar. Tadi sempat menanyakan kunci motornya, saya jawab saja kalau kunci motornya diambil oleh Anda," jawabnya. Davin sengaja menyita kunci kendaraan milik Reiner agar Reiner tidak pergi ke mana-mana. "Tolong panggilkan Rein, saya tunggu di rumah utama," titah Davin. "Baik, Pak." Davin dan Shanaya melanjutkan langkah memasuki foyer yang menjadi penghubung ke setiap ruangan di rumah besar itu. Baru sampai di sana saja, Shanaya tak berhenti berdecak, apalagi saat ia diajak memasuki ruangan lainnya. "Rumah Anda, sangat luar biasa, Pak." Shanaya bergumam penuh rasa kagum, matanya tak berhenti beredar mengamati setiap sudut ruang. Davin tak banyak bicara, ia menanggapi kekaguman Shanaya dengan santai. Sesampainya di ruang utama, Davin mempersilakan Shanaya untuk duduk sambil menunggu Davin turun dari kamarnya. Beberapa pelayan langsung datang untuk menyajikan minuman dan suguhan untuk Shanaya. "Jangan merasa sungkan, kamu akan jadi bagian dari rumah ini juga secepatnya." "Baik, Pak." "Dan ingat, setelah kita menikah, kamu tak bisa memanggil saya dengan sebutan 'Pak' lagi!" "Baik, saya mengerti." Shanaya masih terlihat kaku, dia masih terpaku dengan debaran hebat yang bergejolak di dalam hatinya. "Itu dia Reiner!" Shanaya menoleh ke arah seorang remaja lelaki yang muncul dengan wajah super jutek. Dialah Reiner Putra Adinegara, putra tunggal Davindra Adinegara dari pernikahan pertamanya. "Ha-halo, Reiner," sapa Shanaya berusaha selepas mungkin. Reiner sama sekali tidak merespon, dia hanya berdiri angkuh di hadapan sang papa dengan calon mama tirinya. "Duduk, Rein!" perintah Davin. "Banyak tugas sekolah yang harus aku selesaikan! Kalo mau bicara sesuatu, ya udah bicarakan aja sekarang!" ketus anak 17 Tahun itu. "Rein!" Davin meninggikan suaranya. "Oke! 5 menit!" Reiner duduk dengan terpaksa. Shanaya mengamati sikap Reiner dan dengan mudah Shanaya bisa menyimpulkan kalau Reiner tidak welcome terhadap dirinya. 'Wah, bisa jadi tantangan nih. Papanya super baik tapi anaknya judes banget!' batin Shanaya. "Rein, kamu memang anak papa, papa tau kalo kamu sulit untuk menerima pilihan papa untuk menikah lagi tapi sikap kamu ini tak akan mengubah keputusan yang sudah papa buat!" ujar Davin, Reiner bergeming dan bertahan dengan wajah super juteknya. "Ini Shanaya, calon mama kamu, tolong hormati dan hargai dia," ucap Davin lagi. Tak sedikit pun Reiner mempedulikan keberadaan Shanaya. Reiner tetap diam dan hening. "Kami akan menikah akhir minggu ini, bersiaplah." "What? Akhir minggu ini?" Barulah Reiner bereaksi dan Reaksinya tetap tidak terlalu baik. "Ya!" "Papa terlalu sat set!" dengus Reiner kesal. "Memangnya kenapa? Bukannya ini bagus? Jadi lelaki itu harus gerak cepat, jangan plin plan, apalagi papa sudah menemukan perempuan yang papa yakini bisa jadi mama yang baik buat kamu," tukas Davin masih dengan sikap yang santai. "Nggak! Sekali lagi aku tegasin, di dunia ini nggak ada mama yang benar-benar baik! Apalagi cuma mama sambung! Mustahil! Kata-kata Papa tuh bullshit banget!" "Rein! Jaga kata-katamu!" tegur Davin karena Reiner semakin berani melontarkan kata-kata kasar yang tidak sopan. Shanaya hanya menyimak dan keyakinannya kembali pasang surut. Apa ia bisa menghadapi remaja judes ini saat nanti ia sudah resmi jadi anak sambungnya? "Ya udah lah, terserah! Terserah Papa! Silakan menikah, bawa orang asing ke rumah ini! Tapi jangan paksa aku untuk menerima!" seru Reiner lalu ia beranjak pergi. "Rein! Reiner!" seru Davin dengan suara lantang penuh kemarahan. "Sudah, Pak. Biarkan saja, mungkin ini memang tidak mudah untuk Reiner, beri dia waktu, saya juga akan berusaha menunjukkan kesungguhan saya. Bukan hanya jadi istri Anda saja, tapi saya juga akan berusaha menjadi mama yang baik untuk Reiner." Davin menatap Shanaya dan ucapan Shanaya telah menyentuh perasaan Davin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD