Pria itu bernama Davindra Adinegara, pria 39 Tahun berstatus duda. Davin memimpin sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang Sumber daya mineral, media massa dan investasi.
Davin adalah pria di balik suksesnya sebuah stasiun televisi, Davin juga sukses mengembangkan bank swasta yang bisa bersaing dengan bank-bank milik negara.
Setelah membayar Shanaya seharga 1 Miliyar pada Galih, Davin mengajak Shanaya untuk duduk di Lounge hotel.
Shanaya tampak gugup dan canggung. Dia mencoba mengendalikan pertanyaan-pertanyaan liar yang berputar di dalam benaknya.
Apa maksud dari pria ini? Kenapa dia mau membayar 1 Miliyar? Apa tujuannya? Apa yang sebenarnya dia inginkan? Lalu bagaimana nasibku setelah ini?
"Saya Davindra, orang-orang biasa memanggil saya Davin." Davin memperkenalkan diri pada Shanaya dengan wibawa yang ia jaga baik.
Walaupun dia berhadapan dengan wanita berpakaian seksi, tapi dia tidak jelalatan sama sekali.
"Sa-saya, Shanaya, Pak." Shanaya juga memperkanalkan diri dengan suara terbata.
"Kamu akan dibantu oleh salah satu kuasa hukum saya untuk mengurus perceraian. Kamu tak punya pilihan lain, kamu harus bercerai dari k*****t itu!" ucap Davin.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak sebelumnya. Tapi, bagaimana bisa saya membalas semua kebaikan Anda? Lalu, bagaimana dengan uang 1 Miliyar yang sudah Anda serahkan pada Mas Galih? Dengan cara seperti apa saya bisa melunasinya?"
"Mudah saja."
"Mudah? Bagaimana, Pak? Uang 1 Miliyar itu teramat sangat banyak bagi saya, bekerja siang malam sepanjang tahun pun belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu."
"Menikah lah dengan saya!"
Mata Shanaya terbeliak! Dalam satu malam saja, Shanaya sudah dibawa mengitari wahana roller coaster sebanyak 3 kali. Sungguh, malam ini adalah malam yang penuh dengan kejutan.
"Saya single. Saya memiliki seorang putra yang masih duduk di bangku SMA. Saya harap kamu mempertimbangkannya dengan matang tapi dalam waktu yang singkat. Setidaknya sampai sidang perceraian kamu selesai." Davin masih tampak tenang dan santai. Berbanding terbalik dengan Shanaya.
Shanaya masih bengong dengan mulut agak menganga saking terkejutnya dengan apa yang Davin katakan barusan.
"Bukan sebagai simpanan, Shanaya! Kamu tak perlu risau, saya akan menikahi kamu, saya akan menjadikan kamu sebagai istri yang sah."
Shanaya masih terbungkam, belum tahu harus bicara apa.
"Untuk sementara waktu, saya akan memberikan kamu tempat tinggal. Jangan pernah temui lagi suami kamu, separuh diri kamu sudah menjadi milik saya saat ini!" tegas Davin.
"T-tapi, kenapa saya, Pak?" Shanaya mulai bersuara lagi.
"Kenapa kamu? Saya belum tahu jawaban pastinya.Tapi melihat kamu dikhianati oleh suami kamu sendiri, membuat hati saya tergerak untuk menolong. Kamu butuh tempat berlindung, right?"
Shanaya mengangguk pelan. Ya! Memang benar, Shanaya memang membutuhkan tempat berlindung saat ini. Bukan tidak mungkin kalau suatu saat nantu Galih akan kembali dan menjual dirinya lagi.
"Kamu sudah mendapatkan tempat berlindung yang kamu butuhkan!" ucap Davin, "Yaitu saya!" pungkasnya.
Shanaya tak tahu harus senang atau sedih. Di malam yang sama, ia telah dikhianati oleh suaminya tapi kemudian diselamatkan oleh pria titisan Dewa, dan pria itu bernama Davindra Adinegara.
Di saat Shanaya kembali bengong karena kebingungan dengan perasaannya, Davin membuka jas miliknya lalu dia beranjak dari kursinya, berjalan ke belakang Shanaya lalu memakaikan jas itu pada tubuh Shanaya sehingga Shanaya menoleh secara spontan.
Dari jarak yang semakin dekat, dua pasang mata bertemu dan sungguh Shanaya terbius di momen itu!
Duda tampan ini memang sempurna! Tampan, gagah, kaya raya, superior dan gentle! Apakah Shanaya memiliki alasan untuk menolak ajakan menikah darinya?
"Setelah ini, tolong jangan berpikir untuk memakai pakaian seperti ini lagi! Jangan biarkan mata liar lelaki melihatnya!" bisik Davin. Jantung Shanaya berdegup kencang, kencang tak karuan.
"Ba-baik, Pak ...."
"Mari saya antar kamu ke tempat tinggal sementara untuk kamu," ajak Davin.
"B-baik, Pak ...."
Setelah obrolan selesai, mereka pun pergi meninggalkan hotel yang menjadi saksi jungkir baliknya hidup Shanaya dalam semalam.
Dijual suami, lalu dibeli oleh seorang duda tampan.
*
*
Satu bulan kemudian, Shanaya resmi bercerai dari Galih. Dengan bantuan seorang kuasa hukum, Shanaya bisa menyelesaikan urusannya tanpa bolak balik ke pengadilan.
Tapi di sidang terakhir, Shanaya terpaksa harus hadir dan akhirnye bertemu lagi dengan Galih dan keluarganya.
Keluarga Galih malah menyalahkan Shanaya sebagai wanita tak tahu malu. Mereka menuduh Shanaya tak mau menolong Galih yang sedang terlilit hutang. Mereka mencari-cari alasan untuk mencaci maki Shanaya.
"Mentang-mentang sudah dibeli 1 Miliyar, tega-teganya kamu meninggalkan Galih di masa terpuruknya ini, Naya! Awal-awalnya saja sok polos, ternyata mau juga ya dibeli sama orang asing? Dasar murahan!" ujar Gina, kakaknya Galih yang memiliki lidah tajam setajam silet.
"Mata dan hati Mbak Gina sudah tertutup rapat! Padahal sangat jelas kalau di sini yang bersalah adalah Mas Galih! Sadarkah Mbak? Bukan aku yang ingin dijual, tapi Mas Galih sendiri yang memaksa untuk menjual saya. Kenapa malah saya yang disalah-salahkan?" Shanaya memberanikan diri untuk membela diri.
"Halaaah! Cuma gitu aja kok marah! Tapi bagus sih, biarlah si Galih lepas dari w************n sepertimu! Kelak dia akan mendapatkan istri baru yang 100 kali lipat lebih baik dari kamu!"
"Semoga saja, saya akan bantu mendo'akan," ucap Shanaya dengan sarkas.
Halaman gedung pengadilan mendadak panas dengan ocehan-ocehan Gina. Ucapannya berbelit dan dia sangat berupaya untuk menjatuhkan mental Shanaya.
"Jika Anda mau, saya bisa menuntut wanita itu dengan pasal berlapis. Yaitu pasal penghinaan dan fitnah, dan juga perbuatan tidak menyenangkan," bisik kuasa hukum Shanaya yang sangat gemas dengan sikap Gina.
"Tidak perlu, Pak. Kita abaikan saja, tidak usah menbuang waktu dan energi untuk berurusan dengan mereka," jawab Shanaya. Kali ini dia tegas dan mengangkat kepalanya tanpa takut sedikit pun.
"Selamat menikmati hidup barumu sebagai keset orang kaya ya, Naya! Jangan mimpi kamu bisa mengubah nasib dengan modal menjual nasib buruk!" seru Gina dan terus menyerukan ujaran kebencian walaupun Shanaya sudah pergi menjauh bersama dengan kuasa hukumnya.
Tak masalah bagi Shanaya, yang pasti sekarang ia sudah terbebas dari keluarga toxic suaminya! Dan hari ini sampai 100 hari ke depan, saat masa idahnya selesai, Shanaya akan mempersiapkan dirinya untuk diperistri oleh seorang Davindra Adinegara.
Shanaya akan menyiapkan seluruh jiwa dan raganya. Mungkin ini lah cara Tuhan mengubah nasib miris Shanaya dan jalannya adalah bertemu dengan Davindra.
*
*
"Apa? Papa mau mau nikah lagi? Serius? Yang benar aja, Pa?" Seorang anak remaja berseragam putih abu tampak protes pada Davin.
"Ya. Bersiaplah, besok papa akan membawa calon ibu sambung kamu ke mari," tukas Davin dengan santai.
"No! Aku menolak pernikahan papa dengan siapa pun itu! Pokoknya aku nggak mau punya ibu tiri!