Bab 3

1261 Words
** Saat ini Celine Bersama temannya Oliv dan Kia, mereka bertiga berada di salah satu mall, dan lagi duduk santai disebuah cafe yang terbilang makanan dan minuman disitu sangat murah dan enak. “Cel leher kamu kenapa merah begitu? Terus wajah kamu pucat kayak lagi ketakutan” Tanya Oliv sambil memperhatikan wajah dan leher Celine. “Aku tidak apa-apa kok Liv, lagi kurang enak badan saja. Kayaknya bentar lagi aku mau pulang saja” ucap Celine berbohong kepada temannya. “Kamu pasti kecapean kerja, makanya kalau kerja itu jangan terlalu dipaksakan” ucap Kia sambil minum lemon tea ditangannya. Celine hanya tersenyum mendengar ucapan temannya. “Aku pulang sekarang ya, hari ini juga kami mau mencari paman. Karena mulai kemarin belum pulang juga kerumah” ucap Celine lalu Celine berdiri ingin pergi. “Yasudah kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabari kami” ucap mereka perhatian. “Iya pasti itu, bye” Celine mulai melangkahkan kakinya untuk pulang kerumah. ** Diperjalanan pulang Celine masih teringat dengan ucapan Robert tadi kepadanya, perempuan yang hampir dibunuh oleh Robert adalah Celine. Baru kali ini aku melihat laki-laki tampan tapi berhati iblis, tunggu. Sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu tapi dimana? Aku tidak bisa mengingatnya.batin Celine. Mudah-mudahan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, sangat takut dan jijik kepada laki-laki seperti itu. batin Celine lagi tanpa terasa scoopy yang ia pakai sudah sampai didepan rumah pamannya. ** Celine langsung berjalan menuju rumah dan melihat Angel, Sanas dan juga pamannya diruang keluarga. “Paman sudah pulang?” tanya Celine lalu duduk di kursi yang masih kosong. “Wajah paman kenapa? Dan badan paman juga kenapa seperti ini? Terluka dimana-mana, apa yang sebenarnya terjadi?”tanya Celine khawatir. “Oh ini tadi malam paman kecelakaan, tapi tidak parah buktinya paman baik-baik saja” Ucap William berbohong. “Apa kita perlu kerumah sakit paman?”tanya Celine lagi. “Pamanmu tidak apa-apa kok Cel, kamu pergi istirahat saja tante lihat wajahmu pucat” Ucap Angel memperhatikan wajah Celine. "Yasudah Tante aku istirahat dulu" pergi ke kamarnya. “Bu, Ayah, Sanas pergi keluar dulu ya, mau jumpa sama teman-teman” Sanas izin kepada ayah dan ibunya. “Kamu hati-hati ya sayang” jawab Angel sambil tersenyum kepada putrinya. Ketika diruang tamu hanya tertinggal Angel dan William, tiba-tiba wajah William berubah menjadi serius dan langsung bicara kepada Angel. “Bu, kita kekamar dulu, ada yang ingin aku bicarakan dan ini benar-benar sangat penting” ajak William lalu berjalan kearah kamar mereka yang ada dilantai dua. Sesampai dikamar, William langsung mengunci pintu dan mendudukkan Angel diatas sofa. “Ada apa yah? Kok serius banget” tanya Angel penasaran. William mulai menceritakan kemana dia pergi tadi malam, kenapa tidak pulang dan apa penyebabnya. “Astaga ayah, kenapa ayah melakukan itu? Sudah dari dulu ibu ingatkan jangan suka minum ke bar dan main judi, lihatlah hasilnya sekarang, kamu disiksa oleh bos mu, dan aku yakin bos mu meminta rugi yang besar kepadamu. Dari mana kit cari uang sebanyak itu” Angel mulai emosi mendengar pengakuan William. “Tenang dulu bu, aku belum menceritakan semuanya” William mencoba menangkan Angel yang sudah emosi tinggi karena pengakuannya. “Bagaimana bisa tenang yah, kalau ayah tidak berubah dari dulu sampai sekarang” ucap Angel makin meninggi walau William sudah mencoba untuk menangkannya. “Tadi pagi asistennya Robert berbicara serius kepadaku, dia akan bertanggung jawab atas masalah ini, tapi dia mau Celine akan menjadi taruhannya” William bercerita lagi sambil menggenggam tangan Angel supaya lebih tenang. Angel sangat syok mendengar ucapan William, betapa teganya William mempertaruhkan Celine keponakan kandungnya kepada orang yang tidak baik. “Aku tidak setuju yah, mending kita jual saja rumah ini dari pada mempertaruhkan Celine, apa ayah sudah tidak punya hati?” ucap Angel menantang kemauan William. “Apa yang sudah disepakati oleh tuan Robert dan asistennya Jack tidak bisa lagi diganggu gugat bu” ucap William frustasi. “Besok malam temani ayah untuk bertemu dengan tuan Jack asistennya Robert” ucap William lalu pergi begitu saja dari kamar. ** Sedangkan dikediaman Liam Robert Vincent, Michella, Robert, dan juga Jack sedang duduk bersantai dipinggir kolam taman di samping rumah. Ketika orang itu lagi asik dengan air dikaki mereka dan segelas minuman ditangan mereka masing-masing. Michella memecahkan keheningan karena sudah hampir 5 menit lebih mereka bertiga hanya diam dan menikmati senja di sore hari. “Tadi pagi mendung tapi kenapa sore ini jadi panas ya?” ucap Michella. “Ya begitulah cuaca tidak bisa diperkirakan 100%, paginya mendung sorenya panas banget” jawab Robert. “Kakak, ada yang mau Michella tanyakan, kakak kapan sih menikah? Michella lihat kakak tidak pernah membawa satupun perempuan ke rumah ini”. Uhukkkkk……Uhukkkkk…. Robert yang saat ini sedang minum langsung tersedak gara-gara pertanyaan Michella. “Kakak kalau minum hati-hati dong jadi tersedak kan” ucapnya kesal. Saat ini Jack sedang menahan tawanya yang sudah ingin pecah, tapi karena takut bosnya akan marah maka Jack bersikap untuk tenang. “Jangan menanyakan perempuan dengan kakak, kakak tidak suka perempuan” jawab Robert dingin. “Astaga….. jadi kakak sukanya sama laki-laki?” tanya Michella dengan tangan yang menutupi mulutnya. “Heh Michella kakak juga tidak suka laki-laki, pertanyaan kamu ya” Robert kesal dengan pertanyaan adiknya yang tiba-tiba itu. “Berarti kakak tidak punya hati dong atau mati rasa? Tapi kalau mati rasa kakak kan tidak pernah pacaran atau dekat hm” tebak Michella yang heran dengan kakaknya. “Entahlah, mungkin seperti itu” jawab Robert cuek supaya Michella tidak memperpanjang pertanyaannya. Sebenarnya Robert kadang tertarik sedikit-sedikit dengan perempuan tapi ketika mengingat mamanya yang meninggalkan papanya, otak Robert langsung dipenuhi dengan kebencian dan pikiran negatif. Jack memandang Michella dengan senyum manis yang ada dibibirnya, Jack merasa ada peluang untuk membuat Robert bisa menikah dengan cara memaksanya, siapa lagi kalau bukan Michella yang akan memaksa Robert untuk segera menikah. Karena Robert sudah mulai kesal, Robert memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mungkin akan bersantai di kolam renang miliknya. “Kakak mau ke kamar dulu” ucap Robert dan langsung melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan Michella dan Jack. “Ada apa sih kak?” tanya Michella dengan suara yang pelan seperti berbisik kepada Jack. “Kakak punya ide, bagaimana kalau kamu paksa kakak kamu untuk menikah. Kasian dia mulai tua tapi belum juga punya pasangan” berbisik ditelinga Michella. “Emangnya aku paksa dengan siapa kak? Michel juga tidak tau siapa perempuan yang kakak suka” ucap Michella. “Kakak sudah menemukan perempuan yang baik untuknya, nanti kakak yang akan pilih perempuannya, kamu hanya urus bagian memaksa di Robert yang muka datar dan kejam itu, hahahha” bisik Jack sambil tertawa kecil. Plakkkkkk…. Tamparan keras mendarat dengan sempurna dibahu Jack. “Kok jadi kakak yang dipukul?” tanya Jack kebingungan. “Kakak ku itu tidak kejam, dia laki-laki paling baik masa kamu bilang kejam” bela Michella yang tidak terima jika Jack mengatai Robert kejam. “Ya…. Ya…….kamu yang menang, jadi bagaimana rencana kita?” Jack memperjelas rencananya kepada Michella. “Oke, dalam satu minggu ini Michel akan tinggal disini sebelum kembali ke Swiss, Jadi Michel akan berusaha membujuk kakak” ucap Michel lalu segera meninggalkan Jack sendirian ditepi kolam renang. Kakak sama adiknya sama saja, kalau mukul sakit banget tidak berkira-kira. gumam Jack. Hm…. Tapi manis sih. gumam Jack lagi lalu dia juga beranjak pergi kearah dalam rumah. ** Beberapa hari sudah berlalu tapi Michella selalu gagal dengan rencananya agar kakaknya menikah karena Robert selalu mempunyai alasan saat Michella memaksanya mencari pendamping hidup. Pagi ini saat dimeja makan, ketiga orang itu sedang sarapan roti, sebelum berangkat kerja Michella kembali membicarakan itu kepada kakaknya. bersambung......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD