Love 43

1086 Words
Comeback BTL seperti biasa selalu menyajikan sesuatu yang diterima dengan baik oleh para penggemar dan juga pecinta musik dunia. Seminggu ini mereka kembali menjalani rutinitas promosi dan juga jumpa fans tak banyak menghabiskan waktu di rumah. Jadwal mereka penuh selama 3 bulan ke depan termasuk beberapa undangan dan kunjungan yang akan mereka jalani ke luar negeri. Setelah 2 minggu mereka kini mendapatkan libur selama 3 hari, tentu saja kesempatan ini tak akan dilewatkan begitu saja bagi para member. Semuanya memilih untuk beristirahat pagi kecuali Tae, pagi pagi sekali Iya telah bersiap untuk datang ke rumah kekasih hatinya. Sudah 14 hari ramainya ia tak bertemu dengan Soogi, Jijji dan juga calon bayi yang gini berada di dalam kandungan Soogi. Sebenarnya desas-desus mengenai isu bahwa beberapa member BTL yang kini tengah berkencan bukan hanya sang leader sudah beredar di masyarakat. Kali ini Tae memilih tak peduli, seharusnya itu menjadi hal wajar mengingat usianya yang kini telah menyentuh kepala tiga. Selama lebih dari 20 tahun Ia sudah berkarya menjadi seorang musisi, menjaga image-nya dan juga grup, lagi pula ya merasa tak ada salahnya jika saat ini Ia memutuskan untuk berkencan. Bukankah di usianya sekarang ya sudah pantas untuk menikah? Jalanan pagi ini di Seoul cukup padat. Pagi ini sepertinya banyak masyarakat yang ingin menyempatkan waktunya untuk berlibur setelah rutinitas padat mereka di hari sebelumnya. Perjalanan ke rumah Soogi yang biasanya hanya membutuhkan waktu selama sepuluh menit ini memakan waktu sedikit lebih lama. Tae menghentikan mobil tepat di depan rumah, lalu memarkirkan seperti biasa dan segera berjalan masuk ke dalam. Pria itu mengetuk pintu, kini terlihat Jijji yang membukakan pintu. "Masuk Om," Jijji mempersilahkan. Tae berjalan mengikuti Jijji menuju ruang makan. Di sana ada Soogi yang tengah menyiapkan sarapan. Tae berjalan mendekat Ia lalu memeluk Soogi dan mengecup kening wanitanya. Tae menatap ke arah Jijji, ia lalu mengacak rambut gadis kecil itu dan ber-tos ria. Tentu saja pria itu merasa bahwa ia juga harus memberikan perhatian yang sama kepada Jijji. "Ibu kita ke rumah imo Reya yuk." Jijji mengajak sang ibu untuk menemui Reya. Ia merasa kangen dengan sang tante karena beberapa minggu ini mereka tak bertemu. "Iya, kita sarapan dulu ya," ajak Soogi. Ketiganya kemudian sarapan bersama. Hari ini Soogi memasak masakan sederhana yaitu nasi goreng kimchi dengan omelet telur. Meskipun sederhana kedua orang yang kini duduk di hadapannya makan dengan lahap. Siapa lagi kalau bukan Jijji dan Tae. Rasanya melihat ketiganya kenyamakan bersama seperti melihat keluarga utuh. Kebahagiaan ketiganya terpancar tanpa perlu dibicarakan. Terlihat bahwa mereka saling mengasihi menyayangi dan peduli satu sama lain. Setelah sarapan Tae yang berinisiatif untuk merapikan meja dan juga menyusun piring kotor ke mesin pencuci piring. Sementara Soogi, duduk di meja makan Ayah mengambil ponselnya dan kini berusaha untuk menghubungi sahabatnya. Jijji sejak kemarin sebenarnya sudah mengajak sang ibu untuk berkunjung. Hanya saja saat itu bukan hari libur Jadi Soogi tak mengabulkan permintaan buah hatinya itu. Nomor yang anda tuju tidak terdaftar. Betapa terkejutnya Soogi, mendengar jawaban dari nomor Reya. Membuat ia mengulangi panggilannya sekali lagi, dan jawabannya tetap sama. "Tae, coba kamu telepon Reya." Soogi meminta. Siapa tahu ya salah menyimpan nomor dan meminta kekasihnya itu untuk. Tae mengambil ponsel dari saku celananya kemudian Reya, sambil berjalan menuju arah Soogi. Tae menatap Soogi terkejut. "Kok nomor tidak terdaftar?" Tanya Tae yang kemudian mencoba menghubungi sekali lagi. Dan jawabannya masih sama. Jijji yang berada di meja makan menatap kedua orang dewasa di hadapannya dengan heran. "Kenapa Bu?" "Kayaknya nomor HP imo nggak aktif gimana kalau kita langsung ke rumahnya aja?" Ajak Soogi yang segera dijawab anggukan langsung oleh Jijji. Kini ketiganya segera berjalan keluar untuk menuju rumah Reya. Perjalanan memakan waktu tak lama sampai mereka tiba di depan Reya. Pagar rumah Itu tergembok rapi jelas tak ada orang di dalam. Namun, karena merasa penasaran Tae tetap berjalan turun kemudian mengecek gembok yang berada di pagar. Jijji mengikuti Tae, ia berjalan ke sisi kanan dan kiri rumah Reya. "Enggak ada orang." Tae mengucapkan itu pada Jijji. Setelahnya ia mengajak kembali ke dalam mobil. Tae menatap Soogi yang masih berusaha menghubungi Reya. "Kemarin masih aktif kok. Pasti ada sesuatu, dari dulu dia tuh kayak gini. Kalau ada masalah pasti pergi. Apa sih masalahnya?" Gumam Soogi kemudian melirik Tae. Tae memilih diam, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa pria itu tahu sesuatu. "Kita ke coffe shop-nya imo aja yuk Bu siapa tau ada di sana?" Saran Jijji sebenarnya gadis kecil itu juga sudah merasa cemas karena tak berhasil menemukan Reya. Tae segera kembali mengemudikan mobilnya untuk menuju cafe shop milik Reya. Perjalanan kali ini terasa sedikit lama karena perasaan ketiga orang itu yang mulai khawatir. Apalagi sejak tadi Soogi harus berusaha menghubungi Reya meskipun informasi yang ia dengar dari Balikpapan adalah bahwa nomor yang ia hubungi adalah nomor yang tak terdaftar. Sampai di cafe shop mereka bertiga segera berjalan masuk Ahreum berjalan dan menyambut. "Selamat datang," sapa Gadis itu sopan. "Reya ada di sini ahreum-aa?" Soogi bertanya. Ahreum gelengkan kepala. "Untuk sementara semua hanya berkaitan dengan cafe ini. Berada di bawa tanggung jawab aku. Aku juga nggak tahu ada apa dan cuman menerima perintah dari Reya eonni." Tae menatap gadis di hadapannya. Dalam hatinya ia meyakini bahwa Ahreum mengetahui di mana Reya saat ini hanya saja yang enggan untuk mengatakannya. Atau bisa saja Gadis itu dilarang Reya untuk mengatakan di mana keberadaannya saat ini. "Kamu tahu kan di mana dia sekarang?" Tae bertanya. Ahreum gelengkan kepala. "Aku juga nggak tahu di mana eonni sekarang. Semalam dia bilang untuk sementara tanggung jawab cafe untuk aku dan Yuna yang mengurus sampai waktu yang nggak ditentukan. Pagi tadi aku juga sudah nyoba menghubungi eonni. Tapi nomornya enggak terdaftar. Eonni nggak bilang apa-apa, saat aku tanya dia cuman jawab bawa semua baik-baik saja dan dia akan menghubungi aku lagi nanti." Soogi menghela napas. Iya tak tahu apa yang terjadi kini sejuta pertanyaan muncul di pikirannya mengapa sahabatnya itu kini memilih pergi lagi. Pasti ada sesuatu yang besar yang ia sembunyikan seperti saat itu yang bahkan sampai saat ini ia tak tahu alasannya mengapa Reya memilih pergi. Padahal saat itu tinggal sedikit lagi sampai ia menuju debutnya. Saat itu Reya jelas melepaskan impiannya yang telah Ia pupuk bertahun-tahun. Menjalani hari yang berat sebagai seorang trainee, latihan dan juga tekanan yang ia terima seharusnya bisa membuahkan hasil yang baik. Apalagi Soogi tau kalau sahabatnya itu mempunyai kemampuan yang mumpuni di bidang musik. Dan kini Gadis itu memilih pergi lagi, entah ia kapan kembali. Soogi menatap Tae, yang terus saja menghela napas berat. "Kamu tau sesuatu Tae?" Tae menoleh. "Aku akan kasih tau nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD