Sidang perebutan hak asuh anak berlangsung pada babak baru. Mantan suami Soogi meminta untuk mendengar pendapat buah hatinya itu. James ingin mengetahui langsung bagaimana perasaan buah hatinya itu tentang keinginannya apa ia ingin tinggal bersama sang ayah atau ibunya.
Sebenarnya, sejak permintaan gila dari mantan suaminya itu membuat Soogi merasa cemas. Apalagi ia tau kalau buah hatinya itu memang sangat menyayangi sang ayah dan it membuat ia begitu cemas kalau Jijji pada akhirnya akan memilih untuk tinggal bersama sang ayah dibandingkan dirinya.
Hari ini Tae menyempatkan waktu untuk mengantarkan Soogi dan Jijji ke pengadilan. Sejak
pengakuan Namjun tempo hari BTL memutuskan untuk libur terlebih dahulu. KArena kantor Bhome masih dipenuhi oeleh wartawan dan itu mengganggu mobilitas para artis. Sehingga manager memutuskan agar BTL istirahat dan menunda comeback mereka.
Perjalanan yang mereka lalui berlangsung hening. Soogi duduk di samping Tae, sementara Jijji di kursi belakang juga hanya terdiam. Yang ibunya katakan adalah sang ayah yang ingin berbicara, hanya itu dan itu membuat dirinya kebingungan. Sementara Soogi juga tak bisa menjelaskan lebih banyak lagi.
Soogi menatap dari kaca dashboard. "Jijji-ya?" sapanya.
Jijji menoleh, menatap sang ibu yang kini berpaling dan menatapnya. "Ya ibu?"
"Nanti Jijji cuma perlu jawab apa yang Jijji rasain ya. Jangan takut, jawab sesuai hati aja." Soogi menjelaskan dengan lembut.
"Jijji jangan takut ya?" Ucap Tae menyemangati.
Tak menjawab lebih banyak gadis cantik itu hanya mengangguk. Sebenarnya, ia sudah merasa takut sejak sang Ibu memintanya untuk ikut ke pengadilan. Sebagai seorang anak tentu saja hal ini membuat Jijji merasa ketakutan dan berpikir tentang apa yang salah pada dirinya sehingga sang Ibu mengajaknya untuk menghadiri sebuah persidangan.
Setelah pembicaraan singkat itu mobil terus melaju dalam keheningan tak ada lagi pembicaraan di antara ketiganya. Sampai akhirnya mereka memasuki halaman gedung pengadilan mobil itu berhenti di parkiran tepat di dekat pintu masuk.
Tae berjalan masuk menemani kedua orang itu ke dalam gedung pengadilan. Pria itu mengenakan pakaian lengkap dengan topi, masker dan Hudi yang menutupi wajahnya sehingga tak ada yang mengenalinya. Tentu akan berbahaya jika sampai ada yang mengetahui jika salah satu anggota BTL yang datang ke pengadilan siang itu. Pria itu mengirim ke arah Soogi yang terlihat begitu cemas, Iya kemudian menggenggam tangan wanita itu. Seolah memberikan isyarat agar Soogi tidak cemas.
Mereka berjalan di lorong kemudian menuju ke sebuah ruangan. Tae duduk menunggu di luar, Soogi berjalan masuk ke dalam menemani gadis kecilnya. Ada seorang psikolog anak yang menemani Jijji. Dania juga yang akan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
Soogi merapikan pakaian Jijji. "ibu tunggu di ruangan sebelah. Jangan cemas."
Anak itu mengangguk memberikan keyakinan pada sang Ibu bahwa ia akan baik-baik saja. Tentu saja reaksi yang ditunjukkan Jijji menjadi penilaian sang psikolog anak.
Setelah hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan. Nona Ah mengajak anak itu untuk berbicara dan mengobrol sebelum ia menanyakan pertanyaan utama. Pertanyaan tentang siapa yang lebih dipilih oleh Jijji untuk mendapatkan hak asuhnya. Tentu saja pembicaraan ini dilakukan agar keduanya lebih akrab dan sang anak bisa lebih terbuka mengatakan apa yang menjadi keinginannya. Ibu atau Ayah yang akan ia pilih untuk menjadi seseorang yang bisa merawatnya kelak.
"Apa Jijji senang tinggal sama ibu?" Tanya Nona Ah kepada gigi dengan lembut ya bahkan membelai rambut anak itu
Tanpa berpikir panjang Jijji mengangguk. Tentu saja anak itu begitu bahagia meskipun sang Ibu cerewet tetapi selalu memberikan perhatian dan apapun yang terbaik yang bisa Ia berikan untuk buah hatinya itu.
"Apa alasan kamu senang tinggal sama ibu kamu?"
"Jijji sayang ibu," jawab Jijji.
"Jijji sayang Daddy?"
Jijji juga mengangguk dengan cepat.
"Tapi Jijji cuma mau sama ibu. Jijji nggak mau sama Daddy dan ibu tiri." Jijji menjawab Iya terlihat cemas dengan jawabannya.
"Apa ibu cerita tentang ibu tiri?" Nona Ah bertanya lagi iya berpikir kemungkinan kalau Soogi mengatakan sesuatu yang buruk mengenai ibu tiri dan itu membuat Jijji enggan tinggal bersama sang ayah.
Jijji berpikir sesaat. "Ibu bilang nggak semua ibu tiri jahat. Tapi Jijji cuma mau sama ibu. Bibi, apa Jijji harus milih tinggal sama siapa?" tanya Jijji mulai terdengar ketakutan.
Perempuan itu membelai rambut Jijji lembut ia berharap agar gadis cantik di hadapannya lebih tenang. "Sekarang coba Jijji cerita semua yang Jijji rasain ke ibu atau Daddy."
Jijji terdiam sesaat, ia mengatupkan kedua tangannya dan memainkannya, ia jelas gugup dan takut. Sementara Soogi berusaha keras menahan amarahnya untuk tak segera memukul wajah mantan suaminya itu. Karena keras kepalanya, Jijji terpaksa mengikuti sesi tanya jawab lebih cepat.
"Jijji sayang ibu. Karena ibu juga sayang sekali sama Jijji. Ibu sengaja bangun lebih cepat dan tidur lebih lama cuma demi sama Jijji. Ibu juga, rela bolak balik kantor cuma untuk jemput Jijji. Iji sering di telepon bos karena pulang lebih cepat untuk nemenin Jijji. Ibu udah kerja keras buat aku supaya bisa sekolah di sekolah musik terbaik di Seoul. Bibi, dulu aku selalu nangis setiap kali ibi nggak ada waktu Jijji kebangun di malam hari. Tiap Jijji lihat ibu ada di sana, di luar kamar Jijji. Kerja keras ngerjain semua tumpukan kertas yang banyak banget. Ibu kerja saat Jijji tidur, dan dia sengaja buka kamarnya dan kamarku supaya ibu bisa kerja sekaligus perhatikan Jijji yang lagi tidur. Siapa yang bisa lebih baik daripada ibunya Jijji? Siapa yang lebih bisa mengerti dan perhatian seperti Shin Soogi? Bi, kalau ini masalah beasiswa," Jijji terdiam suaranya terdengar bergetar. Wajahnya telah memerah menahan tangisnya. Jijji bener nggak mau hixhix —Jijji cuma mau ibu, ti-dur sama ibu, sara-pan sa-ma ibu, dian-tar ibu sekolah, ter-ta-wa sama ibu melakukan semua hal sama perempuan yang paling Jijji sayangi di dunia."
Di ruang lain Soogi pun tak bisa menahan tangisnya. Ia bahkan kini sudah berjalan cepat menuju tempat di mana Jijji berada. Berdiri di depan pintu sambil berusaha menyeka air matanya. Tentunya terharu ia tak menyangka jika Jijji memperhatikan itu semua. Tae mengikuti wanita itu sejak ia berjalan keluar lalu memeluk Soogi dari samping. Sejujurnya beberapa bulir air mata telah menetes haru mendengar pernyataan Jijji yang jelas begitu menyayangi sang ibu.
Orang tua mana yang tidak terharu dan bahagia mendengar apa yang dikatakan Jijji barusan. Pengakuannya tentang betapa ia menyayangi dan menyukai segala hal yang dilakukan bersama ibunya adalah hal terindah dari banyak hal yang pernah Soogi dengarkan. Ia merasa terharu dan bahagia menyebabkan air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.
Sementara itu James menyerah setelah pernyataan yang ia dengar. Jelas sekali bawa anak perempuannya itu lebih memilih tinggal bersama sang Ibu dibanding dengan dirinya. Pria itu kemudian berjalan keluar dengan lemas meninggalkan ruangan.
Pintu terbuka menunjukkan sosok cantik yang berjalan ke luar dengan memegangi sebuah coklat yang diberikan oleh nona Ah. Coklat diberikan agar gigi bisa kembali merasa bahagia dan moodnya bisa kembali baik setelah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada sesi tanya jawab tadi.
"Ibu!" Teriak Jijji kemudian berjalan cepat menghampiri sang ibu
Soogi menundukkan tubuhnya, memeluk anak kesayangan itu erat-erat, seraya Iya kecuki wajah buah hatinya itu berkali-kali. Soogi menatap pada manik mata Jijji, terlihat kalau ia sudah tak terlihat ketakutan seperti saat pertama kali datang tadi
"Jijji ya, terima kasih. Ibu sayang sekali sama Jijji." Soogi katakan itu.
"Aku juga Terima kasih sama ibu karena udah sayang sama aku, Jijji juga sayang ibu." Ucapnya riang. Jijji menatap Soogi, "ibu nangis?" Tanyanya.
Soogi menggelengkan kepalanya Ia tak ingin anaknya merasa bersalah atau sedih karena melihatnya menangis. Meskipun jelas tangisannya kali ini bukan tangisan karena ia merasa sedih atau terluka. Melainkan karena ia merasa begitu bahagia dan terharu atas pengakuan sang anak yang ia dengar tadi.
"Uljima ibu." Ucapnya lagi.
(Jangan nangis)
"Iya sayang."
Tae sejak tadi memerhatikan keduanya Ia juga ikut merasakan haru dan bahagia yang dirasakan wanita yang ia cintai yang ia yakini berhasil mendapatkan hak asuh anaknya. Tentu saja keyakinan itu ia dapatkan setelah tadi melihat pengakuan Jijji dan apa yang dikatakan mengenai kebahagiaannya Karena melakukan banyak hal bersama sang ibu. "Ayo kita pulang," ajak Tae.
Ketiganya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Jijji berada di antara keduanya tangannya menggenggam tangan sang Ibu dan tangan Tae. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.